
"Aku ke bawah dulu ya, Kak. Aku tunggu...." kata Shevi.
"Ya...." jawab Byan yang masih merasa dongkol sambil mengusap wajahnya kasar.
Shevi turun dan menuju dapur lagi. Di atas meja makan sudah ada dua gelas orange jus. Shevi lalu duduk di kursi meja makan menunggu Byan turun.
"Mbak Shevi tadi kok lama banget. Nasi gorengnya kan jadi dingin. Apa mau Bibi buatkan yang baru lagi???" tanya Bi Sumi yang berdiri di samping Shevi sambil menuangkan air putih ke dalam gelas. Pandangannya tertuju pada leher Shevi yang ada beberapa bekas tanda merah. Bi Sumi pun tahu itu apa, karena dia juga pernah muda.
Wahhhh,,, jangan-jangan, tadi aku mengganggu pasangan muda ini..... Batin Bi Sumi.
Setelah beberapa saat, Byan turun sambil membawa jas di tangan kanannya. Byan terlihat sangat rapi. Dia memakai kemeja merah maroon yang dipadukan dengan dasi warna blush pilihan Shevi.
"Suamiku keren........" puji Shevi.
"Dari dulu..." jawab Byan dengan narsisnya lalu duduk. Mereka mulai menyantap sarapan paginya.
"Ini benar kamu yang masak, yang???" tanya Byan setelah mengunyah satu sendok nasi goreng buatan Shevi.
"Hm'm......." jawab Shevi.
"Lumayan...." kata Byan. Byan makan dengan lahapnya. Walaupun tidak seenak masakan Bi Sumi, tapi dia tetap menghargai masakan Shevi.
"Kak, aku mulai hari ini sudah berangkat kuliah." ucap Shevi setelah selesai makan.
"Tapi hari ini kan kontrol lagi, yang..." kata Byan mengingatkan Shevi.
"Iya, aku ingat. Nanti sepulang kuliah aku langsung ke rumah sakit." ucap Shevi.
"Aku nanti akan pulang cepat untuk mengantarmu." kata Byan menawarkan.
"Tidak usah, Kak. Kamu kan lagi sibuk banget. Lagian kemarin-kemarin kamu selalu menemani aku. Nanti aku akan minta Reni menemaniku." ujar Shevi.
"Benar tidak apa-apa??" tanya Byan.
"Iya......" jawab Shevi meyakinkan suaminya.
"Nanti kamu pakai mobil yang satunya. Kunci mobil ada di atas nakas." kata Byan.
__ADS_1
"Ok......!!!" balas Shevi.
Byan meraih gelas yang berisi orange jus lalu meminumnya sampai habis. Byan berdiri dan mendekati Shevi.
"Aku berangkat, yang. Nanti kamu hati-hati dan jangan lupa kabari aku kalau sampai di rumah sakit." ujar Byan sambil menunduk mencium kening Shevi.
Pandangannya mengitari ruangan, memastikan ada Bi Sumi atau tidak. Setelah dirasa aman, Byan mengangkat dagu Shevi dan kembali mencium bibir istrinya itu. Shevi membelalakkan matanya karena kelakuan Byan yang tidak melihat situasi.
"Yang, tato di leher kamu banyak juga...." bisik Byan sambil tersenyum di telinga Shevi setelah menyudahi ciumannya.
Shevi memukul lengan Byan karena ini pasti ulah suaminya tadi. Shevi menutupi lehernya dengan kedua tangannya. Dia sangat malu karena pasti Bi Sumi juga melihatnya tadi.
"Iiiihhhhh,,, gitu aja malu." goda Byan.
"Cepat berangkat sana!!! Menyebalkan.....!!!" Shevi mendorong suaminya sampai pintu depan.
"Laptopku kelupaan, yang. Tolong ambilkan di ruang kerjaku! Sekalian bawa juga dokumen-dokumen yang ada di samping laptopku! Aku tunggu di mobil ya???" ucap Byan meminta tolong pada istrinya.
Shevi kembali masuk ke dalam rumah menuju ruang kerja Byan. Dia mengambil laptop dan dokumen yang dimaksud oleh Byan. Shevi keluar dan tak lupa menutup pintu ruang kerja Byan.
"Biar saya saja yang mengantarnya ke depan, Mbak Shevi." kata Bi Sumi yang melihat Shevi akan keluar lagi.
"Ini...." Shevi menyerahkan ke Byan..
"Ok. Terima kasih sayang." ucap Byan sambil menerimanya lalu menaruh di kursi sampingnya.
Byan menutup pintu mobilnya. Kaca mobilnya lalu dibuka.
"Aku berangkat. Baik-baik di rumah..." pesan Byan lalu melajukan mobilnya perlahan. Shevi melambaikan tangannya.
Saat Shevi membalikkan badannya, Byan menghentikan mobilnya.
"Sayang......" panggil Byan.
Shevi menoleh ke arah Byan.
"Iya, kenapa?" tanya Shevi.
__ADS_1
"Sini...." Byan melambaikan tangan kanannya menyuruh Shevi mendekat padanya.
"Isssshhhh, apa lagi sih???" gerutu Shevi lalu berjalan menghampiri Byan.
Setelah Shevi berdiri di samping pintu mobil, Byan menjulurkan tangannya.
"Kenapa??? Tangannya sakit???" tanya Shevi menggoda suaminya. Sebenarnya dia tahu maksud Bya
"Cium tangan suami dong...." jawab Byan. Shevi tersenyum lalu mencium punggung tangan Byan.
Setelah mobil Byan berlalu, Shevi kembali masuk untuk bersiap pergi kuliah lagi. Dia masuk ke dalam kamar mandi dan berdiri di depan cermin.
"Ini gue nutupinnya pakai apa coba??? Kalau sampai terlihat, gue bisa jadi bahan ejekan nantinya." ujar Shevi yang berbicara sendiri di depan cermin. Dia juga membuka kancing bajunya.
"Ini tambah banyak lagi. Suami gue ganas banget......" ucapnya. Shevi lalu mandi. Selesai mandi, dia mencari bajunya di dalam almari.
"Pakai ini sepertinya akan tertutupi....." Shevi lalu memakai baju dengan kerah yang menutupi sebagaian lehernya. Karena masih terlihat, dia tak kehabisan akal. Dia tambal menggunakan plester.
"Naahhhhhhhh, beginikan beres...." ucapnya.
Kampus,
________
Shevi yang baru saja keluar dari mobil langsung di peluk oleh Reni.
"Lepasin, Ren!!!!" Shevi mencoba melepaskan dirinya dari pelukan Reni yang sangat erat.
"Gue kangen banget sama lo, Shev." kata Reni yang terlihat girang karena Shevi kembali kuliah. Selama Shevi tidak ada, dia merasa sangat kesepian karena biasanya kemana-mana mereka berdua.
"Ayo masuk....." ajak Shevi merarik tangan Reni.
"Shev, leher lo kenapa di plester- plester gitu?? Kak Byan melakukan KDR ya???" tanya Reni kepo.
"KDR apaan??? KDRT maksud lo???" tanya balik Shevi.
"Kekerasan Di atas Ranjang....." jawab Reni.
__ADS_1
"Otak lo ngeres....." Shevi menoyor kepala Reni. Mereka pun masuk ke dalam kelas.