
**
telpon Vicky
✓hari ini makan siang sama siapa? sama Al lagi?
✓ gak a, hari ini aku izin, aku lagi dijalan mau ke rumah sakit
✓siapa yang sakit?
✓aku..
✓kamu kenapa?
✓ gak apa-apa aa... hari ini jadwalku kontrol aku mau ke dr.lala psikiater ku
✓oh...mau aku antar?
✓gak usah, konsulnya ini sangat privasi jadi gak boleh bawa orang hehe
✓ yaudah, kabarin kalau ada apa-apa
✓ iya a
✓bye..
tutt.tutt..
Hari ini jadwalku menemui dr.lala.
Aku bergegas menemuinya.
Banyak hal yang akan aku ceritakan padanya.
Dia pasti akan menyimak ceritaku ini.
Benar saja, Dia senang dengan ceritaku.
Dia tersenyum lebar dan sesekali tertawa mendengar ceritaku.
Aku bencengkrama dengan dr.lala lama saat itu, karena aku pasien terakhir dokter jadi waktu kami untuk ngobrol tiada batas.
Dan tidak lupa aku memintanya untuk memberikan saran atas lamaran Al dan Vicky padaku.
"saya bahagia atas cerita indah mu dinda, untuk masalah lamaran itu juga baik untuk mu. hubungan baru akan membuat hidup kamu mempunya lembaran baru" serunya padaku
"tapi dinda... lukamu disini belum sembuh" kini dia menunjuk dadaku
"jika kamu belum siap jangan di paksakan, nanti hatimu remuk saat kamu tidak bahagia atas keputusanmu, pikirkan baik-baik yang terbaik buat kamu, dan jikalau pada saatnya kamu sudah siap, pilihlah seseorang yang membuatmu yakin bahwa bersamanya kamu akan bahagia dinda" ucapannya jelas padaku
aku mengangguk mengerti "tapi kalau kata dokter siapa yang lebih baik untukku?" tanyaku penasaran
"hmmm... kayanya Vicky memperlakukanmu lebih baik dibanding Al" ucapannya membuatku tersenyum lebar
"dinda... apa kamu sudah mulai tidur tanpa minum obat?"
"iya dok, bahkan tidurku nyenyak" jawabku girang
"wah... hebat... ini resep obatnya, yang ini diminum jika kamu merasa cemas saja, jika tidak ya jangan diminum, dan yang ini untuk jaga-jaga kalau kamu sulit tidur" jelasnya padaku
"wah..obatnya cuma 2"jawabku senang
"iya... terus kamu sudah tidak saya jadwalkan untuk kontrol ulang, kembalilah jika kamu mau saja" ucap dr.lala
"siap dok, makasih ya dok" aku menyalaminya dan pamit pergi
__ADS_1
**
Aku kini pergi ke rumah Anna, melihat persiapan pernikahannya
"Anna"
"Dinda....." jawab Anna memeluku
"Cie...penganten lagi di pingit yah..." godaku
"iya nih, aku juga puasa loh.. eh gimana kabar Al?" tanya Anna
"ko nanya Al sama aku sih?" tanya ku penasaran
"ya kan terakhir ketemu kalian lagi bersama, apa kalian jadian?"
"enggak!" ucapku tegas
"oh.. soalnya dia bilang sama aku kalau dia masih cinta sama kamu"
"hah.. kapan?" tanyaku penasaran
"hmmm kapan ya... oh iya waktu di rumah sakit, waktu kamu pergi makan sama Akbar, dia curhat gitu sama aku kalau sebenernya masih cinta sama kamu terus mau lamar kamu buat jadi ibunya Akbar" jelas Anna
"oh... pantesan dia kemarin lamar aku ke rumah"
"oh ya... lamar kamu, serius??" tannyanya antusias
"iya.."
"terus kamu terima lamarannya?"
"enggak na, aku belum siap untuk menikah" jawabku
"iya sih aku tau posisi kamu, yaudah nda jangan dipaksain kalau belum siap, aku pengen liat kamu bahagia" ucap Anna
"Vicky...? mantan pacar pertama kamu itu nda? seriussss?" tanyanya lebih penasaran
"iya"
"kamu pacaran sama dia sekarang?"
"enggak Anna..... aku ketemu dia waktu reuni, terus sampai sekarang deh .. dia suka ajak aku jalan, udah 2 minggu ini aku di ajak ke tempat-tempat romantis" ucapku tersenyum
"ih..... so sweet... aku seneng kalau kamu seneng na, siapa pun nanti pasangan kamu aku harap kamu bahagia" ucap Anna memeluku
"aku juga mau ah ke tempat-tempat romantis kaya gitu sama Dimas nanti"
"iya na romantis banget, bakal so sweat deh pokoknya, Vicky cium aku disana Upss..." aku menutup mulutku
"Cie.... hhaahaha dinda" goda Anna
"Anna" akupun tersipu malu menutup mukaku
**
Kini tibalah hari yang dinanti-nanti kan oleh kami.
Pernikahan Anna.
Kami sudah berada di rumah Anna sejak pagi buta.
Aku memakai setelan kebaya abu-abu sama dengan Ririn.
Al Juna dan Raka menggunakan jas adat jawa lengkap dengan blangkon dikepalanya.
__ADS_1
Anna kini sudah bersiap, dia begitu cantik dengan balutan kebaya putihnya, rambutnya disanggul dan dihiasi mahkota cantik di kepalanya, tidak lupa bunga melati menghiasinya menjulur ke pundaknya.
"masyaallah... calon bini orang cantik banget" goda Juna
"jangan di ledekin, kalau Anna ngambek nanti make upnya rusak" Ucap Ririn menepuk pundak Juna
"Anna kamu cantik" ucapku
" makasih dinda... Al aku cantik gak?" ucap Anna
"Cantik dong... kaya bidadari jawa.. selamet ya Anna" ucap Al memeluk Anna
"gaes.. tiket kebali besok ready yah. kita berangkat jam 9 malam dari sini" ucap Raka memberi pengumuman
"mantap... cusss berangkat" ucap Juna
**
waktu kini menunjukan pukul 8 pagi, semua sudah bersiap sekarang kecuali Anna yang sedang panik memegang ponselnya
"Anna, penghulu sama ustad yang mau mualafin Dimas udah dateng, Dimas nyampe mana?" tanya ibu Anna
"iya mah, nanti Anna telpon Dimas" jawab Anna
Anna terus menghubungi Dimas tapi tidak di angkat sampai jam 9 pun tiba
"Anna... sayang sudah waktunya akad, Dimas dimana?" tanya ayah Anna sekarang yang masuk ke kamar
"gak tau pah, Anna telpon tapi gak di angkat-angkat" jawab Anna panik
"mungkin macet pak, tunggu sebentar nanti juga datang kok, terlambat sedikit gak apa-apa kan?" ucap Raka mencairkan suasana
"Anna coba kamu kirim pesan aja, siapa tau ponsel Dimas rusak jadi gak bisa angkat telpon" ucap Ririn
Waktu kini menunjukan pukul 10.30 tapi Dimas tak kunjung datang, telponnya tidak di angkat begitupun pesan Anna yang tidak dibalas
"brengsek.. orang nikahan malah terlambat" ucap Juna kesal
"macet Juna.." ucap Raka
"ya kasih kabar kek apa kek" kesal Juna
"Anna punya nomor keluarganya?" tanya Al
Anna menggelengkan kepalanya.
Anna terus menelpon Dimas tanpa henti.
semua orang panik, orang tuanya bolak-balik ke kamar Anna untuk menanyakan kabar kedatangan Dimas. para undangan pun kini mulai menanyakan kapan acaranya akan mulai karena waktu kini menunjukan pukul 11.00
✓(Dimas)
Aku tidak akan datang Anna, Aku tidak bisa menikahimu, maafkan aku Anna
Anna terjatuh saat membaca pesan Dimas, badannya lemas dan air matanya menetes.
Ririn meraih ponsel Anna, dia pun sama terkejutnya dengan Anna, Ririn memberikan ponselnya pada kami menyuruh kami membacanya..
"oh... tuhann..... apa-apaan ini.. brengsek" ucap Juna kesal memukul tembok keras
Anna menangis histeris, kamipun menenangkannya.
ayahnya mengetuk pintu lagi, Juna membukanya sedikit
"Penghulunya udah mau pulang katanya, gimana ini" ucap ayah Anna
__ADS_1
" sebentar lagi pak, tunggu 15 menit lagi, suruh penghulu bersiap" ucap Juna
Aku tidak mengerti apa maksud Juna mengatakan itu, sedangkan kita tau bahwa Dimas tidak akan datang