Kisah Jandaku

Kisah Jandaku
Part 90


__ADS_3

Al berjalan menyusuri lorong rumah sakit menuju ruangan direktur.


Mengengelurkan ponselnya dan menghubungi seseorang sambil berjalan gagah dengan jas putih dokter yang dia kenakan..


✓halo...


✓Di... bisa kah Dinda pulang saat ini saja?


✓kenapa?


✓Juna akan ke Rumah sakit


✓Saya baru mau buka poli


✓usahakan sebelum jam jenguk siang Dinda udah pulang


✓ternyata Juna menghiraukan saranku


✓bergegaslah..


✓oke


Dion yang duduk dimeja kerjanya, meraih telpon kantor di sampingnya.


Menghubungi perawat agar masuk keruangannya.


"ya dok gimana?" ucap perawat yang masuk ke ruangan Dion


"saya mau visit dulu, tunda buka poli" ucap Dion


"baik dok"


***


Diruanganku yang hanya ada aku, ibu mertuaku dan juga seorang perawat wanita yang sedang mengganti perban lukaku.


"permisi...ada dokter visit dulu ya bu.." ucap salah satu perawat yang masuk dengan rombongan beserta dokter yang ku kenal, Dion


"Dok.. ini ibu Dinda, kecelakaan dengan luka di kepala 2 hari yang lalu, penjahitan kulit luar saja, hasil Rontgen kepala baik tak ada pendarahan, keadaan umum composmentis, tanda-tanda vital baik, luka jahitan kering, mempunyai riwayat penyakit medis berupa depresi yang sedang dalam pengobatan psikiater di rumah sakit domisili ibu Dinda, tidak ada riwayat penyakit berat dok, hasil lab normal, dan terdapat alergi obat jenis sulfa" ucap perawat menjelaskan pada Dion dengan memberikan sebuah berkas padanya.


"oke...bu Dinda.. gimana, sekarang ada yang dirasa?"


ucap Dion mencoba profesional dengan memanggilku secara formal.


"tidak ada dok" jawabku yang sedang diperiksa pernafasannya oleh Dion dengan stetoskopnya


Dion melihat luka yang belum ditutup perban itu..


"wah.. lukanya kering, nanti siang up jahitan aja, terus bu Dinda boleh pulang ya" ucap Dion


"benarkah?" padahal tadi pagi aku merengek pulang padanya, tapi tak digubris.


"jangan terlalu banyak bermain ponsel dan juga berinteraksi dengan orang lain, cukup istirahat dirumah, jaga kondisi ibu seperti kegiatan yang dibatasi dan pola makan yang baik" jelas Dion


"baik dok" jawabku


"nanti akan ada obat yang harus dihabiskan seperti antibiotik yang akan saya sesuaikan dengan alerginya, dan untuk kandungannya, kedepannya rutin diperiksa ya" ucap Dion


"baik dok"


"bantu kepulangan ibu Dinda" ucap Dion pada perawat


kemudian para rombongan dokter dan perawat yang sedang visit itu meninggalkan ruanganku.


"selamat ya bu, sudah boleh pulang.. kalau begitu nanti saya keluar dulu untuk mengambil peralatan up jahitan ibu dan infus ibu ya, nanti saya balik lagi" ucap Perawat.


"oke, makasih ya sus" ucapku


Setelah melepaskan benang jahitan dan juga infusku, sang suster berkata padaku agar pulang saat setelah makan siang.


Administrasinya akan diurus dalam beberapa jam kedepan.

__ADS_1


***


(ruang direktur rumah sakit Al bekerja)


"pagi dok"


"pagi Al.. duduk" ucap sang Direktur.


Djoko namanya, salah satu dokter senior di Rumah Sakit Al bekerja, dan dijadikan Direktur sejak 3 tahun yang lalu


"terimakasih dok" jawab Al yang duduk dihadapan dr.Djoko


"gimana, lantai 2 aman.?" tanya dr.Djoko menanyakan lokasi dimana tanggung jawab Al berada


"aman dok, Alhamdulillah.."


"kalau keluarga gimana, sehat.?"


"sehat dok Alhamdulillah"


"langsung saja ya Al, saya gak suka basa basi.. kenapa kamu pulangin Anna.?"


Pertanyaan dr.Djoko yang membuat Al terkejut


hah.. apa..? kenapa bisa dr.Djoko tau akan hal itu.?


"Al...!!"


"ah.. iya dok, maaf... hhmm ada sedikit masalah yang harus diselesaikan dengan cara introspeksi dok" jawab Al mencari aman


"Ayah Anna adalah seseorang yang telah berjasa dihidup saya. Awalnya, saat saya melihat Anna yang selalu sendiri dan tidak pernah membawa seseorang untuk dikenalkan kepada orang tuanya, saya berniat ingin melamar Anna untuk anak saya, tapi saya kaget bahwa Anna ternyata sudah punya pacar di Jakarta, jadi saya mundur untuk melamarnya, dan saya lebih kaget lagi saat tiba-tiba kamu yang menikahi Anna"


Al hanya terdiam terkejut tak mempunyai jawaban apapun.


"saya kecewa sama kamu Al, kalau urusan rumah tangga sekecil itu kamu gak bisa atasin, bagaimana dengan pasien-pasien mu.?


Anna sudah seperti anak saya sendiri, jangan pernah kamu berani untuk menyakitinya"


"sudah.. saya gak mau tau alasan kamu, bagaimanapun dan apapun masalah dalam rumah tangga, kamu tetaplah yang bersalah, karena kamu adalah kepala keluarganya, terlepas bagaimana cara kamu menikah dengan Anna, itu adalah pilihan kamu sendiri, dan kamu harus bertanggung jawab atas hal itu"


"baik dok" hanya itu yang dapat Al ucapkan


"saya mewakili orang tua dari Anna, menunggu kabar baik dari kalian 24 jam dari sekarang, pikirkan baik-baik kedepannya untuk hubungan kalian dan juga masa depan untuk kamu sendiri"


"baik dok" menjawab tertunduk


"kalau gitu silahkan lanjutkan perkerjaanmu dan ingat perkataanku"


"baik dok.. saya permisi"


Al kembali keruangannya, tampak wajah kesal darinya. Menjambak rambutnya sendiri dengan kedua tangannya.


Aagghhh.... sial.... Anna benar-benar gila..


Bisa bisanya dia ngadu ke dr.Djoko ...


Agghhhhh..... dan kenapa gua gak tau kalau mereka kenal... aggghhh brengsek....


dr.Djoko adalah ketua IDI di Cirebon, bisa mati karirku dibekukan olehnya ...


Agghhhh.... brengsek...!!!!!


***


"gimana udah ready.?" tanya Dion yang masuk keruanganku


"sudah nak" jawab ibu mertuaku tersenyum manis


"yuk" ajak Dion


"kemana?" tanyaku heran

__ADS_1


"pulang lah... katanya mau pulang" jawab santai Dion


"tapi Juna mau kesini katanya, bisa kita tunggu dia dulu.?" tanyaku


"nda... tidak bisakah kamu menjauhi masalah lagi kali ini?"


"maksudnya?"


"jika Mayang tau Juna kesini dia akan marah, nanti salah paham lagi, nanti masalah baru lagi, nanti akan ada yang terluka, kamu gak mau kan?"


"iya sih.. yaudah nanti aku kasih kabar aja"


"lebih baik kamu gak usah hubungin Juna lagi nda... ingatlah bahwa Mayang pasti sedang memantau pergerakan Juna, bahkan sampai komunikasinya denganmu"


"benarkah.? kalau gitu baiklah, aku akan berkabar dengan Raka saja, soalnya Anna dan Ririn keluar dari grup dan blok aku"


"mereka blok kamu?"


"iya.." jawabku singkat


"Raka sudah aku hubungi, kamu tenang aja, mari kita pulang.. kamu gak usah pikirin Anna dan Ririn ya nda"


"iya" jawabku


Ibu mertuaku hanya diam mendengar peecakapanku dengan Dion, tampak penasaran tentang apa yang kami bicarakan, dan ada masalah apa tentang aku dan para sahabatku.


Seperti ingin bertanya tapi segan terhadapku.


"kita mampir kesini dulu ya" ucap Dion menghentikan laju mobilnya


"mau kemana?" tanya ibu mertuaku yang duduk di belakang kursi kemudi


"beli nomor baru buat Dinda bu..." jawabnya


"nomor baru?" tanyaku yang duduk disebelah Dion


"kan kamu yang bilang kalau kamu ingin punya kehidupan yang baru, mari kita buka dengan mengganti nomor telponmu"


"iya sih, tapi kan nanti, kalau aku sudah melahirkan dan berada di Makasar"


"lebih cepat lebih baik, akan lebih bagus untuk ketenanganmu dan kesehatanmu.. lagi pula kita lihat seberapa kerasnya sahabatmu mencarimu nda..."


"ko gitu?"


"yang tulus akan mencari dan yang dengki akan menghilang... biarkan hukum alam yang menjawab semuanya"


"tapi nanti aku gak bisa komunikasi sama mereka, terus aku bakal kesepian" jawabku sedih


"gak boleh ngomong gitu....


jangan menghina perjuangan keluarga yang ingin melihatmu bahagia nda....


hidupmu bukan hanya sekedar sahabat, ada keluarga yang sayang padamu dengan tulus dan apa adanya,


tau kah kamu bahwa keluarga adalah tempat kita pulang dan menjadi diri kita sendiri,


tidak peduli betapa menyedihkannya kita, mereka tetap menerima dan menjaga kita tanpa pamrih"


"astaghfirullah... iya Di... aku ganti nomor saja".


"aku pinjam ponselmu ya, biar aku yang urus, kamu disini saja.. gak lama kok, paling 5 menit"


"iya" aku memberikan ponselku masih dengan ragu-ragu


"ikhlas ya nda" ucap ibu mertuaku memotivasi diriku


"iya mah" aku melepaskan ponselku, memberikannya pada Dion.


mungkin ini jalan terbaik bagiku untuk menjauhi Juna, agar Juna dan Mayang dapat hidup bahagia, Al juga akan tidak bisa menghubungiku, jadi hal itu akan meredamkan rasa cemburu Anna padaku.


Tak mengapa aku tak berkabar dengan Ririn, karena diapun menutup akses komunikasinya kepadaku, tapi Raka... kelakuan Anna dan Ririn sudah menjadikan sakit dihatinya, bagaimana jika perginya diriku menambah sakit hatinya ? apa aku akan jadi orang jahat baginya..?

__ADS_1


Raka... semoga kamu punya sosmed yang bisa aku hubungi.


__ADS_2