
"aku mau cerai" ucap Anna menundukan kepalanya, tegas namun lirih diucapkan
"apa kamu yakin?" tanya Al yang duduk dengan menyilang kan tangannya pada dadanya
Anna mengangguk-anggukkan kepalanya
"na.. apa kamu pernah atau sempat mencintaiku?" tanya Al
Anna menggelengkan kepalanya
"aku mau berterimakasih padamu atas bantuanmu menyelamatkan nama baikku dan keluargaku saat pernikahan itu, tapi aku minta maaf atas segalanya, minta maaf telah memaksamu hadir dalam hidupku, dan juga maaf telah menyakitimu"
Al menghela nafas panjangnya "kamu tau gak, aku telah menyelamatkan dirimu dan keluargamu, tapi sekarang kamu malah merusak nama baik keluargaku. kita baru menikah 4 bulan dan kita bercerai, apa kata orang-orang na..?"
"Al apakah kamu mencintaiku?" tanya Anna menatap mata Al
Al pun kini menatap mata Anna, mereka saling pandang dan berdiam menunggu jawaban Al, Al menunduk dan menghela nafasnya. dan dia Menggelengkan kepalanya seraya menjawab bahwa ia tidak pernah mencintai Anna.
"kita itu sahabat Al, aku tau kamu hanya mencintai Dinda, dan tidak akan berubah meski aku mencoba menjadi istri yang baik untukmu"
"tapi aku lagi coba menyesuaikan hatiku padamu na.. pernikahan gak selucu itu, aku udah berjanji dihadapan tuhan untuk menjagamu"
"aku minta maaf Al, aku menyesal telah menyeretmu masuk kedalam hidupku, harusnya saat itu ku biarkan saja pernikahanku gagal, aku seharusnya tidak memaksamu untuk menikahiku, aku egois Al maafkan aku"
"terus ketika kita bercerai kamu balik sama Dimas?"
Anna mengaggukan kepalanya
"astaga Anna.... setega itukah... aku memang tidak mencintaimu, dan kamu juga gak cinta aku, tapi apakah kamu tidak memikirkan perasaanku sama sekali?"
"justru itu Al... perceraian adalah jalan untuk kita menuju kebahagiaan kita"
"kebahagiaanmu?"
"tidak Al kita... aku sama Dimas dan kamu sama Dinda, aku akan membantumu untuk bersama Dinda lagi"
"hahhh.... Anna Anna.. sejauh itukah pikiranmu? Dinda lagi terpuruk sekarang, apa pantas membicarakan itu sekarang?"
__ADS_1
"pelan-pelan Al... setidaknya kita berusaha, dengan apa yang dialami Dinda dan kamu aku tau kalau sebenarnya kalian itu berjodoh, hanya saja jalan kalian terlalu rumit"
"aku gak bisa berkata-kata lagi sama pikiran kamu na, kamu emang bukan ibu yang baik buat Akbar.. baiklah mari kita bercerai, silahkan kamu yang ajukan sendiri, aku malas"
"Al... aku mau hubungan kita baik-baik saja, aku mau kita sahabatan kaya dulu"
"na... aku gak tau... kenapa kamu suka sekali memaksa seseorang untuk mengikuti kemauanmu?"
"maaf Al... tapi aku beneran sayang sama kamu, walaupun hanya sebagai sahabat.. kita semua sahabatan please jangan putus silaturahmi"
"iya iya... mari kita bercerai secara baik-baik"
"makasih ya Al" Anna tersenyum lebar "aku juga mewakili Dimas untuk meminta maaf padamu, situasi nya sulit untuk Dimas berfikir jernih saat itu, kami minta maaf"
"aku juga na... aku salah karena melakukan hal yang tidak terpuji padamu, aku menyesal telah melukaimu juga.. mari saling memaafkan" Al menyodorkan tangannya pada Anna
Anna tersenyum lebar dan menggapai tangan Al "terima kasih Al" kini Anna menangis
"jangan nangis, kita lagi di tempat umum"
"Jun... Rin.. sini" Al melambaikan tangan pada Juna dan Ririn
"kelar?" tanya Juna
"iya.. makan yuk gua belum sarapan ini" ucap Al
"jadi kalian baikan kan?" tanya Ririn penasaran
"emang kita musuhan? aman" jawab Al
"mantap.. pernikahan emang banyak lika-liku nya yah, tapi bertahan itu keren" Ucap Juna mengacungkan jempol
"keren palalu... kita mau cerai" ucap Al sinis
"hah...? serius?" terkejut Juna dan Ririn
"iya.. kita udah mutusin kalau kita mau jadi sahabat lagi kaya dulu, mari kita sama-sama terus yah.. saling menyemangati satu sama lain" seru Anna girang
__ADS_1
"gila sih kalian.... bisa rukun gitu meski memutuskan bercerai.. baiklah emang benar, kita adalah sahabat, dan seterusnya bakal kaya gitu... aku bangga punya sahabat kaya kalian" Ucap Ririn
"kalian sepemikiran gak sama aku kalau Al sama Dinda sebenernya berjodoh" ucap Anna
"iya bener, dua kali loh kalian dipertemukan dengan status sigle apa kalian gak sadar kalau Allah sebenernya kasih kalian kode?" ucap Ririn
"dah jangan bahas... kita punya misi yang lebih penting dari pada nyomblangin gua ma Dinda, dinda kayanya mulai depresi lagi, Juna larang gua kasih tau keluarganya, jadi ini misi kita para sahabatnya" ucap Al
"iya bener... lu kenal sama psikiater Dinda kan Al? lu bisa galih informasi dari dia terlebih dahulu, apa yang harus kita lakukan" ucap Juna
"gimana kalau kita ajak Dinda liburan lagi kaya waktu itu, Dinda kayanya happy banget dan sempet bisa tidur nyenyak kan?" ucap Ririn
"wah... liburan emang menyenangkan" girang Anna
"baiklah.. aku akan koordinasi Raka, dah makan dulu kita isi otak dulu biar bikin strateginya bagus" ucap Juna
***
Hari ini dokter memberitahukan bahwa aku bisa pulang, dan melakukan rawat jalan untuk kedepannya. Keluargaku menyiapkan segala bentuk administrasi dan juga barang-barang ku.
Aku pulang di antar oleh ibu dan ayahku, para sahabatku belum datang, mungkin akan diberitahu orang tuaku bahwa aku sudah tidak dirawat lagi via telpon.
Kini aku kembali kerumahku, kekamar diriku, kamar yang membuatku nyaman untuk berfikir jernih. tempat dimana terdapat kenangan manisku bersama Vicky.
Tubuhku sehat, tapi rasanya malas untuk berbincang dengan orang tuaku, aku hanya dikamar mengurung diriku, menonton Tv dan juga membaca buku di balkon kamarku. aku hanya keluar kamar untuk makan saja kemudian kembali lagi ke kamarku.
malam hari orang tua Vicky datang ke rumahku, masuk ke kamarku, menanyai kondisiku dan juga menyemangatiku.
Sambil menangis orang tua Vicky menyodorkan sebuah amplop coklat padaku, isinya adalah dokumen terkait kematian Vicky dan hasil autopsi nya.
Ada juga dokumen kepemilikan aset dan harta Vicky, sertifikat Rumahnya dan juga surat-surat kendaraan Vicky.. dan tidak lupa ATM dan buku tabungan Vicky
Semua diberikan padaku, orang tua Vicky bilang, bahwa itu adalah hakku. Mereka mengikhlaskan segalanya untukku karena hanya aku sekarang anak mereka, mereka memintaku untuk tinggal dirumah Vicky agar mereka masih merasakan bahwa mereka masih mempunyai anak.
Hal ini adalah situasi yang sangat sulit bagiku. Satu sisi orang tuaku memintaku untuk pulang ke Makasar, tapi satu sisi mertuaku memintaku menggantikan peran Vicky untuk mereka. Apa yang harus kuperbuat...
"Vicky.... kamu dimana... aku harus apa sekarang?"
__ADS_1