Kisah Jandaku

Kisah Jandaku
Part 78


__ADS_3

"hei.. ada yang sakit?" ucap Juna


"gak.. aku kenapa?" tanyaku lemah


"kamu ingat di datangi mayang?" tanya Juna


"hmmm" aku mengangguk


"Mayang dorong kamu, terus kamu jatuh dan kena batu, jadi kepalanya dijahit. maaf ya nda, gara-gara aku jadi kaya gini" ucapnya


Aku melepaskan tanganku dari genggaman Juna, meletakkannya di atas perutku


"perutku sakit" ucapku


"sakit? yang mana? aku panggil dokter ya"


"gak usah.. kayanya aku mau mens deh" ucapku


Juna yang mendengar perkataanku diam, dan kemudian Raka masuk tersenyum padaku.


"nda.. gua punya kabar, insyaallah jadi kabar baik dari yang terbaik buat lu ya" ucap Raka berdiri di sebelahku


"apa?" tanyaku penasaran


"rambut lu sebagian jadi botak nda hahaha" Raka tertawa lepas.


Aku reflek memegang kepalaku, benar saja sebagian kulit kepalaku langsung tersentuh oleh jariku..


"yah... botak dong gua, kabar buruk itumah Raka... ih" ucapku kesal


"gak apa-apa kok, masih cakep.. ka lu serius dong, gimana sih" ucap Juna kesal


"hahaha iya iya... biar suasananya cair aja Jun" Raka duduk di sisi ranjangku memegang kakiku yang di selimuti


"nda.. emang ada kok kabar baik buat lu"


"apa?" tanyaku ketus


"nda.. kamu hamil" ucap Raka


"apa?" aku terkejut


"iya hamil, selamat yaaa... usianya 6 minggu, bu bidan gimana sih sampai gak sadar kalau hamil hehehe" ucap Raka yang masih mencairkan suasana agar tidak tegang seperti wajah Juna.


"ka.."


"hmmm"


"gua bingung"


"kenapa?" tanya Raka

__ADS_1


Kini Anna dan Al masuk kedalam ruangan.


"aku harus seneng apa sedih?" ucapku


"ya seneng dong nda, kalau kamu sedih anakmu juga sedih" jawab Raka


"nda.. selamat ya.. semoga bayinya sehat dan persalinannya nanti lancar" ucap Al


"iya.. wah.. aku keduluan ya nda, padahal yang ngebet dulu aku.. selamat ya" seru Anna


Semua sahabatku memasang wajah penuh kebahagian terkecuali Juna yang masih tegang.


Akupun membalas senyuman mereka, berusaha mengikuti susana agar mereka merasa nyaman.


Mereka sibuk berdebat menebak jenis kelamin anakku.


Kini duniaku berpindah haluan kembali.


Dari seorang yang kehilangan suaminya saja, menjadi seorang ibu hamil yang ditinggal meninggal suaminya.


Lihatlah betapa tuhan merencanakan sesuatu cobaan yang begitu matang padaku.


Apakah anak ini merupakan cobaan juga untukku?


Tuhan... engkaulah yang paling mengetahui bahwa saat aku kehilangan anakku itu karena aku lalai terhadapnya, mengurusnya sendirian karena Syaif berada di luar kota.


Dan sekarang harus mengurusi anak kembali, sendirian..., terlebih ini karena ayahnya telah meninggal.


aa.. Dinda hamil a... impianmu untuk segera memiliki anak telah terkabul, aku telah memberikanmu seorang anak a, tidakkah kau akan kembali untuk bersama-sama membesarkannya.


kenapa tuhan memaksa Dinda untuk menjadi kuat disaat Dinda masih rapuh atas kepergian mu a...


"hahaha pokoknya kalau laki-laki lu harus kasih PS ma gua ya ka" ucap Al


"sok, berani gua.. orang ini cewe kok, beliin gua sepedah ya" ucap Raka


"deal...!!! hahaha" ucap Al menjabat tangan Raka


"eh.. kalian gak mau cari makan dulu? udah siang, lunch yuk" ajak Al


"eh iya.. sekalian lu mau di beliin apa nda? barangkali ngidam apa gitu, si Nina dulu ngidamnya parah banget soalnya, apa aja dibeli" ucap Raka


"sama.. almarhum juga gitu, udah tengah malem, aneh-aneh pula mintanya, haduh..." ucap Al mengeluh


"gak.. aku gak mau apa-apa, kalian mending pulang aja ke Cirebon, kasian Akbar dirumah sendirian" ucapku


"kamu gak apa-apa kita tinggal?" tanya Al


"ya gak apa-apa lah.. emang aku anak kecil, aku malah gak enak kalau kalian stay disini, padahal aku gak kenapa-kenapa" ucapku


"apanya yang gak kenapa-kenapa, udah botak begini masih bilang gak apa-apa..!" seru Juna kesal

__ADS_1


"Juna..." ucap Raka menegur


"hmm.. aku beneran gak apa-apa, nanti aku coba hubungin mertuaku disini, kalian pulang aja. termaksud kamu ya ka, jangan mentang-mentang kamu stay di Jakarta terus jadi alesan buat disini" ucapku memperingatkan


"nda.. tapi kan" ucap Juna


"udah deh.. kalian itu kan punya keluarga, aku tuh cuma sekedar teman kalian, pulang ya.. aku malah gak nyaman kalau kalian disini terus" ucapku


"yaudah oke.. kita pulang malem ya" ucap Al


"kalau kalaian pulang malam, kapan kalian istirahatnya? besok kan kalian kerja, please dong jangan bikin aku malah kepikiran" ucapku


"iya sih ada benernya, kalian pulang aja gak apa-apa... tapi tenang... gua perginya nanti ko, kalau keluarga Vicky udah disini, ok?" ucap Raka memberi solusi


"yaudah.. kalau gitu gua cari tiket dulu ya" ucap Al


"gak usah, pakai mobil gua aja, jam segini gak ada tiket kereta... nanti minggu depan gua balik pakai umum aja" ucap Raka


"serius?"


"iya.. bawa aja, aman kok abis ganti oli, gua ada motor disini buat ngantor" seru Raka


"yaudah... nda disini ada si Dion, dia dr.penyakit dalam sekarang, nanti aku titipin kamu ke dia ya, mungkin dia bakal sering jenguk kamu disini, gak apa-apa kan.?" ucap Al


"iya.." ucapku


"nda.. sumpah ya, gua gak tega banget ninggalin lu dengan keadaan begini. tapi gua janji gua bakal balik lagi kesini dengan segera, ada yang mau gua selesaikan terlebih dahulu" ucap Juna


"iya Juna... kamu jangan marah sama mba Mayang yah, kan cuma salah paham, aku juga gak apa-apa, kalau gak kaya gini aku malah gak tau kalau aku hamil"


"tapi sumpah, gua minta maaf banget ya nda atas perlakuan Mayang ke lu"


"gak apa-apa Juna... serius deh.."


Sebenarnya gua juga mau minta maaf kalau gua udah nyium lu, tapi Al bilang kalau hal itu gak usah dibahas, lebih baik lu taunya kalau gua gak tau apa-apa, semoga lu tetap kaya gini ya nda, gak canggung sama gua. Juna


"oh iya Ririn mana? mas Nabil?" tanyaku


"Ririn pulang duluan anaknya nangis kasian" ucap Raka


"kalau Nabil pulang, katanya mau ganti baju. udah deh nda.. lu jangan deket-deket lagi sama dia, dia itu gak baik buat lu" ucap Juna


"emang kenapa?" tanya Al


"ya.. dikala Dinda kesusahan begini dia malah balik coba, untuk dua orang itu ya nda, Ririn dan Nabil, mending lu gak usah ladenin mereka lagi deh, gedeg banget gua" ucap Juna


"ishh.. gak boleh gitu... Anna.. kamu kenapa? diem aja?" tanyaku mendapati Anna yang melamun


"ah.. gak.. gak apa-apa, aku kayanya cuma gak enak badan aja deh" jawab Anna


"oh ya? kecapean kali kamu tuh" ucap Al memeriksa dahi Anna dengan telapak tangannya mencoba mengukur suhu badan Anna

__ADS_1


"mungkin" ucap Anna


"nda....., kita balik ya. lu sehat-sehat disini, kalau ada apa-apa kabarin ya" ucap Juna


__ADS_2