Kisah Jandaku

Kisah Jandaku
Part 42


__ADS_3

2 hari berlalu di rumah kediaman keluarga Vicky, aku bahagia disini, orang tua Vicky hampir sama seperti keluargaku, senang bercanda tapi juga memegang teguh sopan santun.. dirumah ada asisten rumah tangga, jadi aku tidak melakukan terlalu banyak pekerjaan.. sesekali aku menyirami tanaman punya ibu Vicky.


Ayah Vicky bekerja dari pagi sampai sore atau kadang malam baru pulang, ibunya sekarang sedang membuka usaha toko sembako di pasar, jadi diapun sibuk dengan aktivitas nya dan pulang sore hari.


Vicky yang datang kejakarta hanya karena alasan penyelidikan kasus dia hanya keluar rumah jika ada panggilan sidang saja karena sebagai saksi, sisanya dia bekerja dirumah melalui laptopnya, jadi aku banyak menghabiskan waktu bersamanya di rumah, menemaninya dan melayaninya..


Aku kira dia sibuk karena kasusnya, kalau tau dia seperti ini dari dulu saja aku mengikutinya kesini, hehehe..dasar Dinda..


"sayang hari ini kasusnya kelar, bapak udah dapat vonis 5 tahun" ucapnya


"wah..lumayan lama ya a, semoga yang terbaik deh buat bapak" jawabku


"iyah... kamu siap-siap gih, kita berangkat sore"


"bukannya besok a?"


"bukan ke cirebon, tapi aku mau ajak kamu jalan-jalan, sedih aku liat kamu ngabisin waktu dirumah aja" ucapnya mencubit pipiku


Padahal aku bahagia meski dirumah saja asal bersama dengan Vicky, tapi mendengar Vicky mengajakku jalan-jalan aku juga sangat menyukainya.


Aku yang setiap harinya memakai baju Vicky karena tidak membawa pakaian, sekarang aku disuruh Vicky untuk memesan baju di online shop. "masa mau pakai baju aa terus, jadi sebenarnya kamu suka sama bajunya apa orangnya" ledek Vicky dengan menyanggah dahunya dengan tangannya

__ADS_1


"dua-duanya, hehehe" aku mendekatinya lalu melingkarkan tanganku di lehernya dan duduk di pangkuannya."dinda sayaaaaang banget sama aa" ucapku mengecup pipinya.


Tidak kuasa atas tingkahku Vicky langsung menciumk bibirku, teruss teruss dan teruss... sampai pada akhirnya kami di ranjang dan memadu kasih bersama.


***


Sore hari kami pergi dari rumah entah kemana aku akan dibawa Vicky. gaun dari online shop tidaklah buruk, aku dipuji cantik oleh suamiku kali ini.


Ternyata aku dibawa ke restoran ***** di mall Plaza Indonesia, tempat aku bertemu dengan Vicky dan mantannya.


"kenapa kesini sih?" ucapku kesal


Aku yang mengerti perkataannya hanya diam, dan terus mengikuti langkahnya dengan merangkul lengan Vicky.


kami duduk dekat jendela dengan pemandangan taman mall yang luar biasa cantiknya. waktu masih menunjukan jam 4 sore hari, tadi siang kami sengaja tidak makan karena akan ke sini. jadi pemandangan langit yang jingga membuat taman lebih cantik dari biasanya, mungkin jika malam hari akan jauuh lebih cantik dan mengundang nuansa romantis.


"silahkan pak pesanannya, jika ada kekurangan bapak dan ibu bisa panggil kami, permisi.." ucap pelayan restoran yang membawakan pesanan makanan yang sudah di reservasi oleh Vicky terlebih dahulu via telpon.


"wahhh... enak a.." ucapku girang


"iyaaa.. sok abisin, kalau perlu nanti di bungkus" ucapnya tersenyum melihatku makan

__ADS_1


"ah aa ini memalukan, masa di restoran semewah ini ngebungkus makanan hahaha, ya kali mereka nyediain kertas nasi hahaha" ucapku meledek


Vicky tertawa kecil mendengar perkataanku, " oh iya sayang.. aku mau bicara serius sama kamu" ucapnya


"serius...? ada apa a..?" ucapku kaget


"mmm minum dulu gih, sini-sini" Vicky mendekat padaku dan mengelap bibirku dengan tisu " enak sih enak tapi makannya biasa aja dong, sampe belepotan begini" ujarnya meledek


"hehehe... aa mah ... makasih sayang" jawabku " mau bicara serius tentang apa?"


"mmm gini sayang.. aa mau tanya, kamu udah siap belum untuk memiliki anak dariku, eh ... tapi aa gak maksa loh, semua keputusan dari awalpun aa gimana mau Dinda, aa cuma memastikan keadaan Dinda untuk memiliki anak, kalau aa tau Dinda siap atau gak kan nanti kita bisa bicarain kedepannya bakal gimana, kalau Dinda siap hayuk kita program, tapi kalau Dinda belum siap hayuk kita melakukan KB," jelasnya padaku


"dinda sih siap aja a, siapa yang gak mau punya anak, apalagi anak dari aa, suami yang baik dan sayang sama Dinda.. cuma mungkin Dinda nanti gak mau sendirian a, Dinda mau ada yang menemani, entah aa entah keluarga entah suster, pokoknya siapapun itu asal Dinda gak sendirian, soalnya Dinda dulu kehilangan anak Dinda karena Dinda sendirian mengurus anak sakit, Dinda telat membawa anak Dinda ke rumah sakit karena tidak ada yang mengantar, kalaupun pergi berdua pun tidak ada yang memegangi anak Dinda" jawabku termenung sedih mengingat anakku terdahulu


"aa gak akan kemana-mana, aa akan selalu ada disamping Dinda, terlebih jika kita punya anak, kalianlah prioritas aa, nantipun aa akan sediakan suster untuk anak kita, bukan untuk mengurusnya memang, tapi untuk membantumu saja. karena tugasmu bukan hanya anak, tapi ada aa dan juga pekerjaanmu, sejauh ini aa mengucapkan rasa syukur dan terimakasih Dinda telah siap menjadi ibu untuk anak aa, makasih ya sayang" Vicky meraih tanganku dan mengecupnya, akupun tersenyum padanya.


Malam harinya aku diajak pergi ke puncak bogor, disana ada kafe yang pemandangannya adalah lampu-lampu kota yang berada di dataran rendah, seperti biasanya, Vicky suka sekali membawaku ke tempat-tempat romantis seperti ini. aku bahagiaaa banget dan ngerasa beruntung banget bisa menikah dengan Vicky, cinta pertamaku dan aku berharap inipun menjadi cinta terakhirku.


Malam ini kami tidak pulang, kami menyewa sebuah vila yang ada disana. kami menghabiskan malam yang indah bersama, memadu kasih layaknya oengantin baru yang tiada hentinya bercinta tanpa mengenal lelah.


Menyentuh setiap inci tubuhku, menciumiku dengan kasih dan memelukku dengan sayang.. ah.. Vicky.. semua perlakuanmu padaku tidak akan pernah akan hilang dari ingatanku, yang terbaik hanya kamu, hanya kamu... aku mencintaimu ... sangat mencintaimu ...

__ADS_1


__ADS_2