
Pintu UDG dibuka oleh seseorang dari dalam, semua mata sahabatku tertuju padanya.
"keluarga ibu Dinda" ucap Suster tersebut yang berdiri memegang sebuah dokumen ditangannya dan menyapu pandangannya.
Para sahabatku serentak berdiri menghampiri suster tersebut.
"iya gimana sus, Dinda gimana?" tanya Al
"penjahitan lukanya sudah selesai dok, keadaannya pun stabil, tapi saat ini pasien belum sadarkan diri karena efek bius yang dilakukan, mungkin 2 atau 3 jam kedepan pasien akan sadar" jelas sang suster
"lalu bagaimana dengan bayinya?" tanya Juna
"belum dilakukan USG pak, oh iya ini ada dokumen untuk pendaftaran rawat inap ibu Dinda, setelah selesai nanti ibu Dinda akan dipindahkan ke kamar perawatan, tapi sebelumnya kami akan membawa ibu Dinda ke bagian kebidanan untuk tindakan USG" icap suster
Seperti biasa Raka dengan sigap langsung mengambil dokumennya. "dimana bagian pendaftaran rawat inapnya sus?" tanya Raka
"dilantai 2 dekat mini market, bapak bisa tanyakan security-nya disana jika ada kendala saat mencari ruangan pendaftaran"
"ok baik, Al.. hayu temenin gua" ucap Raka mengajak Al yang dirasa Raka Al lebih mengerti tentang Rumah sakit dibandingkan dengan yang lain.
"Jun.. titip Dinda" ucap Raka, Juna pun mengangguk.
Raka, Al dan Anna pun berlalu meninggalkan UGD, tersisa Juna dan Nabil yang tak pernah lepas menatap pintu kaca UGD.
"kalian bisa masuk kalau mau" ucap Suster
"oh ya.. makasih sus, hayu mas" ajak Juna, Nabilpun mengangguk dan mengikuti langkah Juna di belakangnya.
Juna dan Nabil mendekati ku, tampak raut wajah sedih yang ditunjukan oleh Juna saat melihatku terbaring tak berdaya.
Baju putihku benar-benar berubah menjadi kecoklatan karena noda darah yang telah mengering.
infus terpasang di kedua tanganku kiri dan kanan, satu untuk nutrisi dan satunya transfusi darah.
Selang oksigen terpasang rapih dihidungku, kepalaku yang setengah rambutnya sudah hilang dicukur oleh petugas medis untuk memudahkan penjahitanpun tampak jelas terlihat.
Nabil menutupi mulutnya terkejut melihatku, seorang wanita yang tadinya masih berpenampilan sempurna disampingnya kini sudah tak berdaya dan berantakan terbaring di tempat tidur.
Juna mendekat, menarik kursi dan duduk didekatku.
"Dinda..." ucapnya lirih dengan menahan air matanya agar tidak jatuh memegang bahuku.
"nda..." sapa Nabil yang memegang kakiku.
Mereka mencoba menyapaku, membangunkanku yang masih terbius oleh obat.
"everything is gona be ok nda.. ada kita disini, kamu jangan mikir yang gak-gak ya, lukanya udah diobatin kok, sebentar lagi juga kamu sembuh, cuma jahitan kecil di kepala, sabar ya" ucap Juna yang kini mengelus kepalaku tetap dengan suara getir menahan tangisnya.
__ADS_1
"kenapa lukanya gak di perban sus" tanya Nabil kepada suster yang sedang melakukan tindakan pada pasien di sebelahku.
"oh.. itu masih baru pak, masih basah.. masih kami observasi jahitannya. nanti akan ditutup jika sudah masuk ruangan perawatan" ucap jelas suster
"oh...." ucap Nabil yang sedari tadi memperhatikan luka jahitanku yang sangat terlihat karena sebagian rambutku sudah botak.
"nda.. aku minta maaf atas perlakuan Mayang ke kamu ya nda, aku nyesel banget gak bisa cegah kejadian ini, maaf juga untuk malam itu, aku bodoh banget, pasti kamu kesusahan menahan rasa canggung kamu ke aku ya nda" ucap Juna memegang tanganku
"Jun.. kayanya Dinda gak bakal denger deh" ucap Nabil
"gak apa-apa mas, nanti saya ulang kalimatnya saat Dinda sadar, saat ini hanya itu yang mau saya katakan" ucap Juna
"mmm... Jun, kayanya gua balik dulu deh, mau ganti baju gak nyaman banget ini" ucap Nabil
Bukannya tadi dia bangga sama bajunya yang kena darah Dinda sampai nolak buat ganti baju ya, kenapa sekarang malah samapai mau pulang buat hanya sekedar ganti baju doang.
"oh.. sok.." ucap singkat Juna yang tidak melepaskan pandangannya terhadapku
"salam buat Raka dan yang lain ya, nanti berkabar kalau butuh atau ada apa-apa" ucap Nabil menepuk punggung Juna
"hmm.." jawab Juna
"nda.. gua balik dulu ya, cepet sembuh.. maaf gak bisa nemenin lama" ucap Nabil dan kemudian berlalu meninggalkanku dan Juna.
Dia gak cocok buat kamu nda, laki-laki yang mau senengnya aja, saat kamu susah dia malah pergi. kamu jangan sama dia ya nda, nanti aku carikan lelaki yang lebih baik darinya. Juna
Apa bayinya masih ada?
Sial... kenapa juga harus ada bayi yang jadi korban sih, Mayang pasti menyesal jika tau Dinda sedang hamil.
Nak... maafkan kami yang telah lalai padamu.
5 minggu pasti kamu kecil banget ya, saat gua tau Mayang hamil aja saat usianya masuk 5 bulan. ini kamu baru satu bulan, pasti kecil banget dan rapuh juga. ah... bertahan ya nak, tetaplah hidup meski seseorang telah menyakitimu. Juna
"permisi.. dengan pasien ibu Dinda ya?" tanya suster
"oh.. iya sus" jawab Juna yang kini bangkit dari duduknya
"mau ada dokter visit ya pak" ucap Suster
"oh iya sus" jawab Juna sopan.. Duh Al kemana sih, gua kaga ngarti ini kalau ditanya-tanya
✓halo
✓Al.. lu dah beres belom
✓belom kenapa, ngantri nih
__ADS_1
✓ini gua udah di dalem, katanya mau ada dokter visit, gua kudu apa
✓udah masuk ke dalem
✓iya
✓yaudah gua balik
✓buruan, dokternya dah keliling ini
✓iya
"ka.. gua balik ke UGD ya mau ada dokter visit, lu disini selesein. minta aja kamar kelas satu atau gak VIP biar nyaman" ucap Al
"ibu Dinda.." ucap petugas pendaftaran memanggil
"ah tuh tuh..." ucap Raka maju mendekat meja pendaftaran
"Sus.. kelas satu ya.. kalau penuh vip gak apa-apa" ucap Al
"eh dokter Al ya" ucap petugas pendaftaran menyapa dan tersenyum.
"iya.. harus deposit dulu gak?"
"iya dok"
"Na.. pakai ATM kita aja dulu, kamu urus ya aku kebawah dulu" ucap Al bergegas meninggalkan Anna dan Raka.
"atas nama ibu Dinda ya.. estimasi kamar perawatan kelas satu semalam 600.000 dan untuk VIP 1.200.000, pihak keluarga mau yang mana?" tanya petugas pendaftaran
"na.. yang mana?" tanya Raka
"ah... yang kelas satu aja lah ka" jawab Anna
"yaudah, mana ATM nya?" tanya Raka
"ah.. bentar" Anna mengambil dompetnya dan mengambil kartu ATM yang kemudian diberikan ke petugas pendaftaran.
"baik.. untuk deposit awal kami bebankan biaya sejumlah 5.000.000 terlebih dahulu, dimana pembayaran seputar kamar rawat inap, tindakan UGD, pengobatan, perawatan dan lain-lainnya akan di hitung keseluruhan total biayanya saat pasien pulang" jelas petugas pendaftaran
"biayanya bisa lebih dari dana depositnya ya sus?" tanya Anna
"bisa jadi bu, atau mungkin tidak.. jika biaya total dibawah angka deposit yang sudah masuk, otomatis akan dikembalikan bu, dan jika kurang keluarga tinggal menambahkan" ucap Petugas
"yang penting teman saya sembuh" ucap Raka
"baik pak, kami lakukan semaksimal mungkin, kalau gitu tanda tangan disini untuk persetujuan ya pak, disini dan disini juga" ucap petugas menunjuk selembar kertas yang harus di tanda tangani Raka.
__ADS_1