
(grup wa)
✓(Raka)
gaes ke Bogor apa ke Bandung weekend?
✓(Ririn)
Bandung aja, Bogor macet dih
✓(Raka)
sama aje dolom...
✓(Ririn)
gua vote Bandung.. yang laen mana? bubar z lah sepi mah
✓(Juna)
gua kemana aja siap 👍
✓(Ririn)
colek @Al @Anna @Dinda...
✓(Dinda)
nginep atau gimana?
✓(Raka)
lah... lu belum dikasih tau anak2? pada gak beres
✓(Dinda)
iya
✓(Raka)
berangkat sabtu pagi nginep di vila semalem, besok balik lagi
✓(Ririn)
hahha.. gak sempet bos maap
✓(Juna)
gua dah bilang jeh nda.. bocah kah kapribe
✓(Dinda)
yaudah iya..
✓(Raka)
harus fix sekarang mau kemana Bandung atau Bogor?
✓(Ririn)
padahal aku pengen ke jogja eh.. terakhir SMA kesono
✓(Raka)
Ririn...!!!!!
✓(Ririn)
Bandung ka... Bandung...
✓(Dinda)
Bandung boleh..
✓(Raka)
Anna Al mana sih? Bandung aja ya..
✓(Ririn)
yaa Bandung
✓(Raka)
__ADS_1
gua reservasi Vila sekarang ya.. Juna gantian lu yang atur transportasi..
✓(Juna)
ahsiap....!!!👍
✓(Ririn)
tuhan.... kasih rezeki yang banyak terus buat dua orang ini Tuhan... efeknya bukan main terhadap kami 🙏
✓(Juna)
bayar pake cium... 😍
✓(Ririn)
najis...!!!
*✓(Raka)
Bandung Vilanya penuh, geser Bogor berarti
✓(Ririn)
yahhhh 😭
✓(Juna)
pastiin dulu nyet, hampir gua pesen travel Bandung
✓(Raka)
iya dah ... pasti pasti.. Bogor vila dimana2 ada
ehh... bentar.....
vilanya jelek dapetnya...
mau ke Jakarta aja gak? pulau seribu?
✓(Juna)
wah mantap tuh... keren .. boleh
✓(Ririn)
✓(Raka)
ok fix... see u in Jakarta gaes, gua stand by disini ya*
***
Di Rumah Al dan Anna
Anna dan Al kini tengah sarapan bersama dengan Akbar. Seperti biasa, tanpa adanya kecanggungan dalam diri Anna, layaknya keluarga yang harmonis mereka saling melempar senyum satu sama lain.
"kok bisa yah mereka baik-baik saja" ucap berbisik asisten rumah tangga Al
"ssstttt... nanti kedengaran, kita kan gak boleh bahas masalah kemarin"
"tapi yah bibi rasa mba Anna benar-benar keterlaluan, masa udah selingkuh, selingkuhannya dateng nusuk perut mas Al, terus sekarang malah biasa aja gitu sikapnya, kaya yang psikopat gak sih?"
"mungkin mas Al udah maafin mba Anna, soalnya tadi gak sengaja aku sama Akbar liat kamar berantakan banget, baju berserakan kaya yang lagi......." jari telunjuk suster saling bersentuhan 👉👈
"masa....? kok ya bisa mas Al setegar itu, sabar menerima"
"Assalamualaikum...." sapa seseorang yang datang
"eh... ada oma sama opah.. salim nak" ucap Al pada Akbar
Al dan Anna pun ikut menyalami kedua orang tua Al
"kamu sehat nak?" ucap opah tertuju pada Anna
"sehat pah Alhamdulillah" jawab Anna
"opah seneng liat kalian rukun, damai, bahagia kaya gini, semoga Akbar cepat diberi adik ya" ucapnya
"mmm papah udah makan? tanya Al mengalihkan pembicaraan
"sudah... kamu mau berangkat kerja?"
"iya, nanti jam 9 saja pak, Al siap-siap dulu ya, titip Akbar sebentar, na... yuk bantu mas siap-siap" ajaknya pada Anna
__ADS_1
"iya mas..." jawab Anna mengikuti langkah Al
** (di dalam kamar)
"kamu disini dulu yah, setidaknya sampai mamah papahku pulang" ucap Al
"emang kamu gak bilang tentangku dan perceraian kita?"
"belum... aku gak bilang apa-apa sama mereka, aku takut mereka sedih"
"kalo gitu justru aku yang ngerasa sedih Al, aku itu udah jahat, kenapa sih kamu masih nutupin aib aku?"
"na.. kamu itu masih istri aku, terlepas aku lebih menyukai Dinda dibanding kamu, kamu tetap istri aku"
"Al...."
"please aku mohon na..." Al menggenggam tangan Anna
"jangan memohon padaku Al, aku akan melakukannya tenanglah.."
**
Hari ini aku disibukkan dengan menemani ibu ku yang berbelanja kebutuhan rumah dan juga oleh-oleh yang akan dibawanya ke Makassar.
Iya.. ibu dan ayahku akan kembali ke Makasar, mengingat bisnis yang ditinggalkan ibu dan ayahku disana tidak terurus, mereka memilih untuk kembali setelah memastikan keadaanku baik-baik saja.
**
Keesokannya aku dan kakakku mengantarkan orang tuaku ke bandara di Majalengka.
"nak... kalau ada apa-apa kabari ayah ya nak, kapanpun kamu siap untuk pulang ke Makasar, saat itu juga ayah langsung jemput" ucap ayahku memelukku
"Dinda... hati-hati ya dirumah, kalau bisa sering-sering main ke rumah kak Lilis, atau Lis kamu sering-sering mampir kerumah"
"iya..." jawab kakakku
"ibu ayah hati-hati ya, kabarin kalau sampai" ucapku
"oh iya salam buat teman-teman mu juga ya, hati-hati juga kamu nanti ke pulau seribunya"
"wiiihhhh... jalan-jalan bae.." ledek kakakku
"mumpung ada donatur kak" jawabku
"Raka ya... bos Telkom***"
"hahaha iya.. sama Juna juga, dia bos distro"
"kamu jangan lama-lama menganggur nak, ndak baik" ucap ayahku mengalihkan
"nanti Dinda coba tanya Al yah, untuk lowongan di Rumah sakit" jawabku.
"apa gak capek kalau dirumah sakit" tanya ibuku
"nanti mau rayu Al supaya bisa shif pagi aja hehe" jawabku
"yaudah.. nanti ayah bantu telpon Al, udah ya ayah sama ibu berangkat dulu, Lis titip Dinda dan anak-anak"
"iya yah"
**
Hari ini masih hari rabu, menunggu waktunya berkumpul bersama sahabatku di hari sabtu sungguh terasa amat lama.
Hari ini aku tengah bersiap untuk mendatangi pemakaman. Tempat bersemayamnya suamiku "hei Dzavicky Dzikri, Dinda mau datang ya" ucapku di depan cermin.
Tidak lama aku sampai, karena memang rumah keluarga Vicky hanya tetangga desaku, pemakamannya pun dekat sini.
Tapi aku tidak mengunjungi rumah orang tua Vicky. Karena memang mereka tidak disana, tapi sudah pulang ke Jakarta.
"Assalamualaikum a... Dinda datang a" ucapku mengelus Nisan kuburan Vicky
"aa apa kabar...? aa pasti baik-baik saja disana, Dinda juga disini baik-baik saja.. aa waktu itu sempat menitipkan Dinda ke Juna dan Raka, dan itu berhasil a, mereka semua selalu ada di sisi Dinda, Al Anna dan Ririn pun ikut andil dalam menemani Dinda.." Aku menyeka air mataku yang menetes
"a... tidak ada satu detikpun Dinda lupain aa.. waktu kita memang sedikit ya a, aa harusnya saat itu ajak Dinda, biar Dinda bisa ikut, bisa sama-sama aa terus, kalau disini Dinda malah sendirian" aku menangis tersedu
"aa... Dinda sayang aa... sayaaaaang banget, aa adalah anugerah terbaik yang Allah kasih buat Dinda, aa tunggu Dinda ya disana, Dinda pasti secepatnya akan nyusul aa gimanapun caranya, Dinda maunya sama aa, gak mau yang lain"
Setelah mengaji yasin di kuburan Vicky aku pun duduk termenung menatap nisan Vicky, lama aku duduk di sini. Ada rasa nyaman meski tempat yang ku datangi ini adalah pemakaman. 3 jam tak terasa kulalui, hari mulai sore dan mataharipun siap untuk menenggelamkan dirinya.
"aa.. Dinda pulang dulu yah, nanti Dinda main lagi kesini, oh iya nanti hari sabtu Dinda izin main sama anak-anak ya a. i love you a, Assalamualaikum" Aku mencium nisan Vicky
***
__ADS_1
Saat aku yang pulang dari pemakaman dengan sepeda motor maticku, aku terkejut melihat seseorang yang sedang menunggu di depan gerbang rumahku. Setengah duduk bersandar di mobil SUV warna merahnya.
"Raka..." sapaku