Kisah Jandaku

Kisah Jandaku
Part 85


__ADS_3

"ya jadi ceritanya tuh..." aku memandang ke arah Dion yang ternyata sedang memperhatikan


"aa ketuk pintu itu" aku menunjuk kearah pintu


"masuk terus senyum, bawa bunga ditangannya buat Dinda"


"kaya gini.?" potong papah Vicky menunjuk bunga yang Dion berikan


"hhmm kurang lebih iyah" ucapku ragu


"terus terus..." ucap ibu mertuaku antusias


"ya nyapa Dinda, nyemangatin Dinda bahwa Dinda kuat dan segala macam terus bilang kalau anak ini perempuan yang wajah dan rambutnya percis kaya Dinda mah" ucapku sedikit mencuri pandangan ke arah Dion


Bukankah itu adalah tindakanku, sebenarnya siapa yang dibicarakan Dinda. Dion


"terus.?" tanya Raka yang ternyata ikut penasaran


"terus bilang kalau dia iri, karena kalian para sahabatku yang baik-baik ini bisa ada disini. makasih ya.." ucapku menatap dan tersenyum pada Raka


"wah... tebakanku sama dong sama Vicky hahaha bagus bagus" seru Raka


"Alhamdulillah kalau memang perempuan, dari semenjak aa lahir, mamah ingin sekali anak perempuan, makasih ya sayang.. sudah memberikan mamah cucu, semoga kamu sehat terus ya nak" ucap ibu Vicky


"kalau gitu, anak ini sepertinya emang buat mamah dan papah" ucapku


"maksudnya gimana nak?" tanya ayah Vicky


"aa bilang, anak ini kado terindah buat mamah papah... mungkin aa ingin anak ini diberikan sama mamah papah" ucapku


"kok gitu... terus kamu gimana?" tanya ibu Vicky


"aku mau ke Makasar mah, mencoba hidup yang baru, bangkit dan bersemangat kembali, bukan karena Dinda tidak inginkan anak ini... hanya saja Dinda lebih ikhlas kalau mamah papah yang urus sepenuhnya anak Dinda dan aa... jadikanlah anak ini sebagai pengganti aa buat mamah dan papah.. tapi tenang... Makasar Jakarta kan hanya 2 jam mah, Dinda akan sering-sering main ke Jakarta.. mungkin satu atau dua kali dalam sebulan"


"kamu yakin akan ninggalin anak ini nda?" tanya Dion


"bukan ninggalin Di, lebih tepatnya memberikan hak asuh saja, tak ada istilah ibu menelantarkan anaknya disini.. Aku hanya merasa bahwa dirikulah yang telah membuat aa pergi, jadi Dinda mau gantiin aa dengan anak ini" ucapku


"nak... kenapa ngomong gitu sih, aa pergi atas kehendak Allah bukan karena Dinda" ucap ayah Vicky


"nda... apa kamu yakin atas keputusan kamu ini?" tanya mamah


"iya mah.." ucapku yakin

__ADS_1


"apa kepalanya baik-baik saja? dimana papah bisa bicara sama dokter kamu ya nda?" tanya ayah mertuaku


"Dinda baik-baik saja pah.. nih dokternya" aku menunjuk kepada Dion


"Saya Dion pak, dokter Dinda yang kebetulan teman Dinda, mari kita keluar untuk berbicara" ucap Dion mengajak kedua mertuaku untuk keluar


"nda.. kamu apa-apa an sih?" ucap Raka


"aku gak apa-apa ka...." ucapku yakin


(di luar ruangan)


"menantu kami baik-baik aja kan dok?" ucap khawatir mertuaku


Dion tersenyum terkesima atas perhatian kecil mertuaku yang khawatir


"Dinda baik-baik saja tante, hanya saja sepertinya Dinda masih tertekan atas kematian suaminya, sedang merasa bahwa dialah penyebab kematian suaminya, emosinya masih labil" ucap Dion


"iya dok, saya kaget Dinda berbicara seperti itu tentang anaknya" ucap ayah Vicky


"Dinda menunjukkan bahwa dia belum siap menjadi ibu kembali, bukan karena dia tidak bahagia, dia hanya ketakutan untuk menjaga seorang anak kembali, traumanya sudah sembuh memang, tapi masih membekas seiring kejadian mengurusi anak sendirian lagi terulang" ucap jelas Dion


"lalu kami harus bagaimana dok" tanya ibu mertuaku


"dampingi masa kehamilan Dinda, Dinda tidak boleh sendirian.. ada kalanya rasa khawatir Dinda akan bayinya bisa muncul, sehingga akan membahayakan sang bayi.. kali ini adalah beberapa tindakan tidak fokus Dinda pada kehamilannya, saya minta untuk benar-benar jangan membiarkan Dinda sendirian, apalagi disaat Dinda sudah melahirkan dan menjadi ibu kembali" ucap Dion


"titipkan... sulit memang mempunyai menantu dengan riwayat kesehatan mental, sabarlah.. kematian suaminya memang berupa ujian besar bagi semuanya, karena akan lebih baik jika suaminya ada disini" ucap Dion


"tapi ini sudah jalan dari yang maha kuasa, annaku sudah tenang disurganya" ucap Ayah mertuaku


"saat tadipun dia menceritakan sebuah mimpi yang sebenarnya adalah halusinasi nya tentang Vicky... karena yang diceritakan Dinda adalah saya yang datang membawa bunga, bukan Vicky" ucap Dion membuat terkejut mertuaku


"Astaghfirullah.."


"apa sebaiknya Dinda menikah lagi saja dok?" tanya ibu mertuaku


(Di mobil)


Al menepikan mobilnya tepat berada di depan kediaman orang tua Anna.


"turunlah, dan pikirkan segala hal hanya tentang keutuhan rumah tangga kita" ucap Al


"kamu beneran aja sih kesini tuh" ucap Anna

__ADS_1


"saya kan sudah bilang untuk kita saling introspeksi"


"kan di rumah juga bisa"


"tapi kita harus berpisah untuk bisa fokus saling introspeksi"


"halah... bilang aja kamu mau pergi ke Jakarta jenguk Dinda"


"astaga... apa sih isi kepala kamu tuh"


"aku paham kok, biar kamu lebih leluasa menghubungi Dinda kan? lebih enak memang kalau gak ada saya..!" ucap Anna meninggikan suaranya


"bukannya kamu yang bilang mau menghubungi Dimas karena dia lebih bisa menghargai mu dibandingkan saya?"


"tapi kenyataannya memang dia lebih baik darimu, lebih menyayangi dan mencintaiku"


"na..! kita menikah karena keadaan bukan karena cinta, kamu jangan bandingkan hubungan kamu yang sudah terjalin karena cinta dengan hubungan kita yang terjalin karena keadaan, dimana proses mencintai dan menyayangi masih berjalan"


"kamu itu kan gampang buat jatuh cinta, orang kamu aja bisa kok berpaling dari Dinda untuk bersama Hesty, kenapa sekarang gak bisa untuk cepat mencintaiku"


"jangan bandingin itu dong, beda cerita... saat itu saya masih belum dewasa, saat itu saya disilaukan oleh sosok Hesty yang cantik dan berprestasi, tanpa saya sadari bahwa saat saya memilih yang sempurna ternyata saya kehilangan yang terbaik, karena gak ada yang sempurna di dunia ini" ucap Al


"terus sekarang kamu masih mengakui bahwa Dinda yang terbaik kan? dan lebih baik dariku jadi kamu susah buat cinta sama aku.?"


"Dinda... Dinda... Dinda... bahkan Dinda tidak melakukan apapun padamu dan juga pada diriku, kenapa senang sekali rasanya dirimu mengkambing hitamkan dirinya..?"


"ya emang dianya aja yang kecentilan, nyari aja perhatian kalian kaum laki-laki dengan bersikap lemah lembut khas janda gatel diluar sana"


"Anna... dia sahabat kamu, sahabat kita, bisa-bisanya kamu ngomong kaya gitu sih.?"


"kenapa emang? saya tau dia cantik dan punya body yang bagus.. tapi sayang gak punya etika"


"etika jelek yang mana yang telah Dinda perbuat hingga kamu sebegitu gak sukanya sama Dinda? kasih saya contoh"


"dengan berniat bekerja di rumah sakit bersamamu, dia itu bukan niat bekerja, tapi buat godain kamu..!" ucap Anna


"astaga.... Anna... entah saya yang salah sebagai suami yang tidak bisa mendidik kamu atau memang kamunya yang sulit untuk memperbaiki diri....


Asal kamu tau na...


kalau memang Dinda punya niat godain saya atau niat ingin memiliki saya, dari awal atau bahkan sampai sekarangpun dia masih punya kesempatan itu, tapi dia gak mempergunakannya.


Dia bahkan tidak menerima lamaranku na,

__ADS_1


dan juga setelah apa yang kamu perbuat dia berkata padaku untuk memafkanmu dan melanjutkan pernikahan denganmu karena menurutnya perceraian adalah hal terburuk, dia juga mengkhawatirkan dirimu, dia takut kamu sedih hancur dan lain-lain, tapi lihatlah balasan darimu padanya.. kamu memang sagabat yang buruk na, bahkan sifat burukmu itu juga kamu bawa kerumah tangga kita...


turunlah... pikirkan segalanya"


__ADS_2