
Saat ini adalah saat yang paling bersejarah dalam hidupku. Seakan-akan hidupku dimulai sejak kematian Vicky datang.
Mempunyai teman dengan niat yang baik tapi tindakannya salah, mempunyai teman yang selalu menemani tapi menging kan lebih dariku.
Seakan kehidupan marah padaku, ujian ku kali ini benar-benar sangat hebat sejauh aku hidup.
Lihatlah betapa lemahnya aku sekarang. Berbaring dikelilingi petugas medis yang sedang menangani lukaku. Lebih sakit dibanding saat kecelakaan bersama Vicky.
Sekali lagi aku masuk rumah sakit dengan drama yang mendampingiku.
tapi seperti biasanya juga, sahabatku mendampingi diluar mendukung kesembuhan ku.
**
"mas.. maaf ya jadi kaya gini" ucap Raka
"ah.. gak apa-apa ka, gua malah seneng bisa bantu Dinda, walaupun rada panik di awal hehehe gak punya pengalaman sama cewe yang sakit soalnya, ah... hidupku ini seperti sia-sia saja" Nabil tersenyum melihat langit-langit Rumah sakit
"mas.. mau ganti baju dulu gak, darahnya banyak sekali" tanya Raka
"gak usah ka, ini bukti tanda kepahlawanan ku hehehe"
"ah.. baiklah"
"eh.. Dinda itu baik ka, lucu juga, makasih ya udah ngenalin gua ma Dinda" Nabil menepuk bahu Raka
Raka tersenyum mendengar nya "wah.. mas Nabil kayanya mulai suka sama Dinda ya mas, bagus deh" ucap Raka
"semoga jodoh ya ka, jadi gua gak capek-capek nyari isteri, baru kenalan ma cewek satu langsung cocok haha" ucap Nabil
"titip Dinda kalau iya serius ya mas" ucap Juna
"doain aja Jun.. semoga jodoh, bakal gua jaga dan bikin lu tenang ko" jawan Nabil
"semoga beneran jodoh ya mas" ucap Anna girang
"amin" jawab Nabil
"mas.. Akbar tadi telfon nanya kapan kita sampai dirumah"ucap Anna pada Al
"kita pulang setelah Dinda baikan ya" jawab Al
__ADS_1
"mau nungguin sampai sehat gitu?" tanya Anna
"gak.. minimal Dinda siuman lah" jawab Al
"gua reschedule tiket ya, masih bisa ko.. tapi kayanya Ririn sama Dadang mah jadi pulang kan mereka" seru Raka
"batalin aja semua, biar dia bingung di sana terus beli tiket sendiri.! enak aja masih mau nikmatin fasilitas persahabatan padahal dia sendiri gak bisa disebut sahabat" jawab Juna
"Keluarganya ibu Dinda" seru suster di pintu UGD
Seluruh sahabatku berdiri dan mendekat.
"Gimana Sus..?" tanya Juna penasaran
"mmm keadaan masih stabil, pasien sedang tidak sadarkan diri karena di bius atas tindakan penjahitan luka di bagian kepalanya. Tapi sejauh ini kondisinya stabil, tapi pasien mengeluarkan banyak darah. saya mau tanya apakah ada yang bersedia donor jika dibutuhkan. golongan darah pasien O?" tanya suster
"saya O sus, boleh ambil darah saya silahkan" ucap Nabil
"saya juga O" seru Raka
"baik.. nanti kita coba cari di PMI terlebih dahulu, jika dirasa kurang baru kami kabari lagi ke keluarga pasien, oh iya suami pasien siapa ya?"
Sahabatku saling menatap
"eh.. ini dr.Al ya... senang bisa bertemu dengan anda dok, saya adalah pengikut anda di Instagram dan sering menghadiri seminar anda"
"ah.. iya terimakasih, kalau boleh tau kenapa cari suaminya?" tanya Al
"saya mau menanyakan tanggal mens terakhir pasien dok"
"HPHT...? apa Dinda..." Al berfikir dengan pikiran yang dia tolak sendiri
"bukannya sekarang Dinda lagi mens ya, soalnya tadi kelihatannya tembus saat aku gendong" seru Nabil
"awalnya kami juga berfikiran begitu, tapi karena darahnya terus keluar dan banyak kami berinisiatif untuk melakukan test pack terhadap pasien dan hasilnya positif. Dari pembesaran perutnya diperkirakan usia kehamilannya masuk di usia 5 minggu, tapi untuk memastikan Jadi kami menanyakan tanggal mens terakhir pasien untuk menghitung usia kehamilannya" jelasnya
"astaga...." ucap Raka
Para sahabatku terkejut dengan keterangan suster yang mereka dengar.
"tapi suaminya meninggal 15 hari yang lalu sus, kami tidak tau kapan mens terakhir nya"
__ADS_1
"oh.. begitu ya.. berarti akan dilakukan USG untuk lihat perkembangan janinnya apakah masih ada atau sudah keluar, kalau begitu saya permisi"
"Dinda hamil...." Ucap Anna lemas tak percaya
"gila... gila... gila.... apa lagi ini tuhan... apa yang bakal kita lakuin sekarang" ucap Raka lesuh berjongkok di lantai meremas rambutnya
"Mayang emang anjing... bukan hanya Dinda yang dia lukai tapi bayinya juga.. kurang ajar, gua gak bakal tinggal diam kalau ada anak-anak yang jadi korbannya" ucap Juna
"gimana caranya kita kasih tau Dinda, apa dia bakal seneng sama kehamilannya atau malah bersedih.. Agghhh.... bingung gila" ucap Al
"tapi tetap aja kalau kita gak kasih tau itu lebih salah" seru Anna
"Vicky.... ini gimana ky, gua baru paham kenapa lu nyuruh kita jaga Dinda. ternyata bukan Dindanya saja tapi anaknya juga" ucap Raka
"apa kita harus kasih tau keluarga Dinda?" tanya Anna
"jangan dulu, kita tunggu keputusan Dinda untuk kali ini" jawab Raka
"gua gak bisa bayangin gimana caranya Dinda bisa ngelewatin kehamilannya sendirian" ucap Al
"Dinda harus cepat menikah" ucap Juna
"bener..!!" seru Anna
"tapi apa gak keliatan seperti buru-buru, aku takut orang bakal nyangka kalau itu bukan anak Vicky, dan malah fitnah Dinda berselingkuh keren usia kehmilannya lebih lama dibandingkan kematian Vicky." ucap Al
"aagghhh... benar juga" ucap Raka
"mas" ucap Raka mengarahkan pandangannya pada Nabil mengharapkan ada sebuah kalimat reapon darinya. tapi Nabil hanya tersenyum tak mengeluarkan sepatah katapun dari mulutnya.
Seorang janda dua kali yang mempunyai penyakit mental, mana ada yang mau mendekatiku atau bahkan terfikir untuk menikahiku, terlebih sekarang aku sedang mengandung anak dari suamiku terlebih dahulu.
Untuk bertanggung jawabkan hal yang bukan tanggung jawabnya adalah berat bagi seseorang.
**
Hai pembaca.. 👋
Apakah tulisanku rasanya seperti sedang menonton sinetron? ðŸ¤
Semoga selalu jadi favorit pembaca hingga setia menunggu datangnya up ya.
__ADS_1
Kalian bisa lihat Novelku yang lain dengan membuka profilku ya.
Terimakasih semua