Kisah Jandaku

Kisah Jandaku
Part 98


__ADS_3

(FLASH BACK)


Dinda sibuk menulis, dan Dion hanya menatap Dinda duduk di sofanya.


Tok..tok..tok.. suara pintu berbunyi, kemudian mencoba membukanya tapi tidak bisa karena dikunci oleh Dion.


Dion yang menyadarinya bahwa ada seseorang dibalik pintu langsung menghampirinya. Membuka kunci pintu kemudian membukanya dan keluar dari ruangan.


"oh.. ada dokter ya" ucap Nabil yang datang dengan sebuah buket bunga ditangannya dan juga kotak makanan untuk Dinda.


"pasien sedang dalam penanganan medis dan risak bisa diganggu, anda siapa kalau boleh tau?" tanya Dion


"ah.. saya keluarganya dok" jawab Nbil tersenyum


"oh.." ucap Dion


"jadi saya gak bisa masuk ya dok?" tanya Nabil


"iya, Dinda sedang dalam penanganan medis, masalahnya kan mental, jadi Dinda butuh berkonsentrasi yang penuh" jawab Dion


"ah... kalau gitu, boleh saya titip dokter saja makanannya buat Dinda?" tanya Nabil


"boleh" jawab Dion


"ini dok, makasih ya dok.. saya akan tunggu disini saja" ucap Nabil


"pulang saja, penanganannya akan seharian disini. Nanti kalau sudah pun saya akan konfirmasi, toh disini ada ibu mertyanya kan?" tanya Dion


"ah... gitu ya... baiklah, saya permisi dok" ucap Nabil


"iya" jawab Dion, melihat dan menunggu kepergian Nabil dari jangkauan ruangan Dinda, kemudian masuk kembali ke kamar


"hei... nda... cape gak nulisnya, nih aku bawain makanan" ucap Dion mencoba membuka kotak makanan yang isinya adalah buah-buahan


"Bunganya cantik" ucap Dinda menatap bunga yang tergeletak di meja


"wah... kamu suka ya, nih buat kamu juga" ucap Dion girang memberikan bunganya pada Dinda


"wangi" seru Dinda menciumi bunga


"iya dong, aku suapin ya.. aaaaaa..."


Dinda menggelengkan kepalanya, menolak tindakan Dion.


"aku udah baik loh bawain kamu buah, masa kamu nolak rezeki sih. kamu jahat ih" ucap Dion memalingkan wajahnya, meletakkan garpunya pada wadahnya.


"Nabil" ucap Dinda menunjuk kotak buah tersebut


apa dia tau kalau ini dari Nabil ya.


"Nabil gak ada, dia gak akan datang lagi kesini. Dia gak mau ngurus kamu, sekarang kamu cuma punya aku, jadi makan ya aaaaaa...." jelas Dion


Dinda menggeleng.


"kenapa lagi?" tanya Dion


"gak lapar" jawab Dinda singkat


"oh... yaudah aku simpan disini ya, kalau kamu mau kamu bilang saja" ucap Dion


"coba sini aku lihat, kamu nulis akunya gimana?" tanya Dion mengambil buku Dinda

__ADS_1


"bagus... lanjutin ya, aku mau kamu jauhin teman-teman kamu. gak usah nulis tentang mereka lagi kalauemang mereka jahat padamu, kamu hanya harus fokus padaku saja. Dan buatlah kita menjauh dari mereka, mungkin pergi bersama atau apalah, asal kita berduaan saja" ucap Dion


"iya" jawab Dinda


"anak pintar" ucap Dion mengelus kepala Dinda


"sakit?" tanya Dion mengarah pada kepala Dinda yang terluka.


Dinda menggeleng


"vicky..." ucap Dinda lirih


"suamimu?" tanya Dion menghentikan gerakan tangannya yang mengelus kepala Dinda.


Dinda mengangguk mengiyakan.


"bukannya kamu fikir dia meninggal?


maka teruskanlah saja" ucap Dion


"kamu bilang dia disini" seru Dinta terbata-bata


"iya.. dia memang ada disini, dihatimu kan?" tanya Dion memainkan rambut Dinda, menggulungnya dengan jarinya


"kamu bilang dia akan datang" ucap Dinda masih dengan suara yang terbata-bata


"iya... dia kan bisa saja datang dalam mimpimu atau yang lainnya" ucap Nabil yang masuk memainkan rambut Dinda


"lanjutkan saja nulisnya ya" ucap Dion


Tok...tok...tok... suara pintu berbunyi kembali


"isssshhhh... siapa lagi sih, mengganggu saja" ucap Dion kesal berjalan ke arah pintu dan membukanya kemudian keluar ruangan, tak membiarkan orang lain masuk.


"iya dok, saya mertuanya" jawab ibu Vicky


"saya sudah bilang tadi sama yang mas-mas, kalau Dinda sedang mendapatkan penanganan medis tentang mental, jadi butuh privasi dan juga konsentrasi. Kalau kalian bolak balik kaya gini, gimana Dinda cepat mendapatkan kesembuhan" ucap Dion kesal memegang kepalanya


"aduh.. iya dok maaf, saya cuma mau ngecek keadaan Dinda saja dok, apa sudah makan atau mandi gitu, saya mau membantunya" jawab ibu Vicky


"Dinda sudah mendapatkan perawatan, kita sudah urus semua itu, jadi keluarga tidak usah khawatir, ada kami didalam" ujar Dion


"oh ramean ya dok, maaf ya dok, silahkan lanjutkan" ucap ibu Vicky menunduk kemudian berlalu meninggalkan Dion.


Seperti biasa, Dion melihat dan memperhatikan keluarga Dinda untuk memastikan sudah pergi jauh dari jangkauan Dinda.


Hmmm.... kalau kaya gini....


"sus... kamu kapan jadwal cek tensi pasien" ucap Dion memanggil suster yang kebetulan lewat dihadapannya


"setengah jam lagi dok" jawab perawat perempuan tersebut


"sekarang aja, sana ambil tensinya" ucap Dion


"baik dok" ucap suster berlalu meninggalkan Dion untuk mengambil peralatan.


Dion kembali masuk ke dalam, tapi kini dengan tidak menutup pintunya. Membuat pintu kamar terbuka lebar, agar perawat dapat masuk tanpa harus membuka pintu terlebih dahulu.


Dion kembali duduk di sofa, menatap Dinda yang sedang serius menulis dengan senyuman bangga.


"finally kamu sama saya nda" ucap Dion

__ADS_1


Perawat datang, dan langsung memeriksa tanda tanda vital Dinda.


Keadaan fisiknya semua normal.


Luka dikepalanyapun sudah mulai dilepas jahitannya dan sudah tidak ditutupi oleh kasa.


"semuanya normal dok" ucap sang perawat pada Dion


"bagus kalau gitu, kamu boleh pergi biar obatnya saya yang bantu kasih minum" ucap Dion


"baik" jawab perawat yang begegas membereskan alat pemeriksaannya dan pamit pada Dinda.


"sus..." sapa Dion, menghentikan langkah perawat yang sebentar lagi mrnjangkau pintu untuk keluar


"iya dok, ada yang bisa saya bantu?" tanya perawat


"Pasien adalah teman saya, jadi saya mohon jangan buat rumor yang berlebihan diluar sana" ucap Dion yang mengetahui bahwa perawat tersebut mencurigai Dion


"baik dok" jawab perawat, kemudian pergi melewatinya.


Sesampainya dipintu kamar, perawat terkejut dengan kedatangan seseorang yang sudah berdiri di pintu masuk.


"apa ini kamar Dinda?" tanya nya


"iya dok" jawab perawat wanita itu


"Al..?" sapa Dion yang berdiri dari duduk santainya terkejut


"lah... Dion..? ko bisa disini?" tanya Al mendekat dan merangkul Dion.


Sahabat yang sudah lama tak bertemu


"ah... ini kebetulan Dinda pasienku, ah iya gua internship disini" ucap Dion


"oh ya? udah ambil spesialis aja nih keren, gua masih umum aja.. eh bentar, pasien? emang lu ambil spesialis apa?" tanya Al


"kejiwaan" jawab Dion


"ah... gitu, kolaborasi sama dr.Lala dong?"


"iya Al, lu gimana sehat?"


"sehat gua Alhamdulillah, terus Dinda gimana keadaannya?"


"tuh... lagi gua kasih terapi, dia lagi gemar menulis" ucap Dion menatap Dinda


"oh... nda..." sapa Al, melamgkahkan kakimya tapi dihentikan oleh Dion yang menagan lengannya


"kalau bisa, berikan dia waktu untuk konsentrasi Al, maaf bukan apa-apa, tapi itulah prosedurnya" ucap Dion


"oh... gitu ya, oke deh sorry" ucap Al berbisik, berharap suaranya tak mengganggu konsentrasi Dinda


"kalau gitu gua buka poli dulu ya, nanti malam pasca tutup gua kesini lagi" ucap Al


"gak usah repot-repot Al"


"gak repot lah... oh iya, kita berteman baik kok sekarang mah, aman Di.. bahkan waktu itu gua sempet lamar Dinda loh, cuma ya belum jodoh kali ya jadi susah, kalau gitu gua cabut ya, titip Dinda" ucap Al


"pasti" jawab Dion


Terlalu banyak pengganggu, terlebih Al disini. Dia lebih berbahaya dibandingkan suaminya yang masih tidak sadarkan diri di ICU.

__ADS_1


Terus lah berada ICU, dan akan kupastikan Dinda menjauh dari Al. Dion


__ADS_2