
Taxi sudah sampai dirumah sakit, aku digendong oleh Nabil menuju UGD.
Kepalaku terluka dan tak hentinya mengeluarkan darah dan sangat terlihat di kemeja Putih panjang selutut yang aku kenakan.
Dan baju Nabil, tentu saja terdapat noda darahku.
"pak tolong pak" ucap Nabil meletakan tubuhku di ranjang UGD"
"silahkan bapaknya daftar dulu, biar mbanya saya tanganin disini"
"iya, tapi tolong teman saya ya pak"
"baik mas"
**
"maaf sus saya mau daftar teman saya yang baru masuk UGD tapi saya gak pegang KTP dia, tapi nanti dibawain kok"
"baik, pasiennya atas nama siapa pak?"
"Dinda sus... Dinda Lestari"
"umur berapa pak?"
"27 tahun sus"
"alamatnya dimana pak?"
"di Cirebon sus, luar kota"
"baik, pasien pakai umum atau asuransi pak?"
"umum saja mba"
"baik pak, silahkan ke meja kasir untuk biaya pendaftarannya"
"sus, kalau saya sudah daftar teman saya pasti langsung ditangani kan? darahnya banyak sekali soalnya"
"sebelum bapak mendaftar pun pasien sudah kami layani pak"
"baiklah kalau gitu, terimakasih sus"
"sama-sama pak"
"mas Nabil" sapa Raka
"ah... syukurlah kalian datang" ucap Nabil lega
"Dinda dimana mas?" tanya Anna panik
__ADS_1
"didalam tapi belum bisa diliat kayanya, saya ke kasir sebentar" jawab Nabil
"biar saya yang bayar mas" ucap Raka mengambil struk pembayaran administrasi di tangan Nabil
"Dinda...." ucap Juna melihat dari balik pintu kaca yang terlihat bahwa diriku telah ditangani, diikuti dengan yang lainnya
"mas Nabil bisa ceritakan kejadian lengkapnya?" Tanya Anna
"sudah mas, ini" ucap Raka memberikan kertas pembayaran.
"jadi cewe itu marah-marah gitu, bilang kalau Dinda lagi godain Juna, dia maki-maki Dinda kalau dia pelakor terus dia tampar Dinda, jambak rambutnya dan terakhir ngedorong sampai Dinda jatuh kena tanggul laut"
"Astagaa... Dinda.." ucap Ririn menangis
"Anjing...!! Mayang benar-benar tidak bisa dimaafkan" ucap Juna memukul tembok kesal
"ini coba jujur, siapa yang kasih Mayang informasi yang gak bertanggung jawab kaya gitu?" Raka meninggikan suaranya bertanya, tapi semuanya diam saling menatap satu sama lain.
"apa begini cara persahabatan kita, hanya sebatas ini kalian melindungi satu sama lain? ... Al.. kamu tau kejadian malam itu, apa kamu pelakunya" tanya Raka meraih kerah baju Al
"lalu untuk apa aku susah payah menolongnya" jawab Al menapis tangan Raka
"LALU SIAPA ANJING, GAK ADA YANG BOLEH PULANG KECUALI ADA YANG NGAKU....!!!!" Juna membentak berteriak tak peduli bahwa tempat ini adalah rumah sakit. tapi tetap saja mereka diam.
"Anna...!! gua tau kalau lu cemburu sama Dinda apa lu yang kasih tahu Mayang?" tanya Raka mendekati Anna
"aku ..... aku yang udah kasih tau ke mba mayang" ucap salah satu di antara mereka dengan nada ketakutan
"APA...!!! MAKSUD LO APA NJING..!!!"
"jaga ucapanmu...!!!" ucap mas Dadang menghadang Ririn yang kini didekati oleh Juna
"aaaghhh....dari awal lu tuh emang rese tau gak Rin, BANGSATT...!!!!" Juna lagi-lagi memukul tembok
"aku cuma mau yang terbaik bagi kalian, kan kamu sendiri yang bilang kalau mau perbaiki hubungan kalian bukan kamu yang harusnya di ajak bicara, tapi Mayang" jawab Ririn di balik tubuh suaminya.
Semuanya terkejut dan memasang wajah kesal pada Ririn.
"Punya hak apa kamu dalam rumah tangga orang??" Tanya Raka yang tak percaya atas apa yang dia dengar
"dari awal aku tau kalau Juna suka sama Dinda, aku berusaha pisain tapi gak bisa, dan yang bisa cuma istrinya sendiri" jawab Ririn
"tapi kamu liat kan cara Mayang pisahin mereka, sekarang jadinya gimana?" Tanya Al menatap penuh Ririn
"ini hanya salah paham, tolong tenang dulu ini rumah sakit, kita bisa bicara baik-baik" ucap Dadang menenangkan
"gimana caranya kami tenang kalau teman kita sendiri yang mengakibatkan kelacauan ini dengan sadar, Ririn lu tuh anjing tau gak?" ucap Juna
"Rin.. kan gak semuanya juga harus di ceritakan ke mba Mayang" ucap Anna, Ririn tak henti-hentinya menangis ketakutan dibalik tubuh suaminya
__ADS_1
"gak beres lu Rin... sumpah gua gak kepikiran banget kalau lu sampe kaya gini" ucap Raka yang duduk lemas dan memegang kepalanya dengan kedua tangannya.
"Rin apa kamu gak kasian sama Dinda, lihatlah hasil dari perbuatanmu!" ucap Al
"aku minta maaf, aku gak tau kalau jadinya bakal kaya gini. Aku cuma kasih tau seadanya doang dan aku juga nyesel Al" jawab Ririn
"BANGSAT....!!!! Dang, kalau lu gak mau istri lu gua tabok mending bawa pergi dia dari sini" ucap Juna melotot
"gak mau, aku mau ketemu Dinda.. aku mau minta maaf"
"pergilah... kamu harus lewatin mayat kita dulu kalau mau ketemu Dinda" ucap Al mengancam
"Anna... aku juga liat Al meluk Dinda malam itu" ucap Ririn setengah berteriak agar terdengar Anna.
"BRENGSEK...!!! BERANINYA KAMU MASIH MENGURUSI RUMAH TANGGA ORANG... PERGI GAK GUA BILANG..!!!"
"kita pulang dulu ya" ucap Dadang kepada istrinya dan Ririn menggeleng menolak
"situasinya gak bagus, mereka harus tenang dan kamu juga harus tenang, kita pergi dari sini ya, nanti kalau sudah kondusif baru kita bicara sama Dinda langsung" ucap Dadang dan kini Ririn mengangguk setuju
"Dadang.." tahan Raka "ini kunci mobilnya, kalian mau ambil barang kan? dan gak usah kasih kuncinya kesini lagi, titipkan saja di security-nya, saya malas liat istri kamu.!" ucap Raka
"Raka..." ucap Lirih Ririn yang kini berlalu dengan suaminya.
"aaaghhhh..... dia itu dari awal emang udah mencurigakan, sok bijaksana ngatur-ngatur hidup orang mentang-mentang lebih tua dan lebih dulu menikah, merasa dirinya lebih paham dari kita, taunya malah kaya asu" ucap Juna kesal
"mas.. kamu meluk Dinda?" tanya Anna penasaran
"aku bisa jelasin.. malam itu aku gak bisa tidur na, aku keluar terus liat kalian bertiga di sisi pantai, saat berjalan mendekat aku kaget liat Juna mencium paksa Dinda, refleks aku tarik Dinda dan aku langsung bawa Dinda ke teras Homestay kita, Dinda kumat na.. dia panik, dan dia gak ada obat, jadi aku peluk dia supaya dia tenang, gak ada maksud lain" ucap Al yang didengarkan oleh Anna dengan serius menatap Al
"syukurlah kalau Dinda gak sampai kumat depresinya.. yaudah aku percaya kamu kali ini" jawab Anna
"lagian bisa-bisa nya anda mencium paksa Dinda" ucap Nabil yang sedari tadi memilih diam
"kan gua mabok, mana gua tau" jawan Juna
"perasaan seseorang akan muncul dan cenderung akan diungkapkan ketika dia tidak sadarkan diri, apa kamu emang suka sama Dinda?" tanya Al
"astaga.... oke gua ngaku, gua emang suka sama Dinda, siapa yang gak suka sam gadis seperti dia Al, gua gak munafik" jawab Juna
"tapi kamu punya istri Juna..." ucap Anna
"justru itu na... gua udah tahan buat gak ngungkapin nya ke Dinda, gua diem aja.. mana gua tau kejadiannya bakal kaya gini" jawab Juna kesal pada dirinya sendiri
"sebenernya Dinda udah baik-baik saja dan lupain kejadian malam itu karena tau kalau kamu juga bakal lupa, biar suasana pertemanan kita tetap normal tanpa ada rasa canggung. Tapi gak disangka Ririn liat kalian dan lapor sama Mayang" Seru Al
"udah udah.... persahabatan kita emang udah gak sehat kalau kaya gini... Jun gua kecewa sama lu, gua kan udah bilang kalau kita diamanatin buat jaga Dinda bukan buat miliki Dinda" ucap Raka yang bangkit dari duduknya
"gua juga gak punya niat buat miliki Dinda ka, itu semua diluar kendali gua, gua pertahanin perasaan gua dalam-dalam ka. gak ada maksud apa-apa gua" jawab Juna memegang lengan Juna
__ADS_1