
Aku dibawa oleh Al setengah berlari menuju halaman Homestay Al dan Anna..
Tangan Al masih menggenggam erat tanganku yang sedang bergetar ketakutan.
"tenanglah aku akan ambil minum, kamu tunggu disini" Al berlalu meninggalkanku duduk di kursi masih dengan tubuh yang bergetar.
"minumlah" Al menyodorkan sebuah air minum putih dalam gelas kaca panjang. Dan aku meminumnya.
"Kamu gak apa-apa kan, tenanglah.. apa kamu bawa obat? ah..obat mu habis kan? itulah kenapa aku menyuruhmu untuk pergi ke dr.lala, kenapa kamu tidak memikirkan dirimu sendiri selagi kami semua memikirkan semua hal tentangmu..!" Al kesal setengah berteriak yang aku rasa dia akan membangunkan Anna di dalam.
"maaf.." jawabku masih bergetar dan menangis
"jangan minta maaf, tenangkanlah dirimu... apa kau panik sekarang?" bertanya dengan nada lembut. Aku mengangguk kan kepala tanda mengiyakan, masih dengan keadaan bergetar dan juga menangis.
Al tiba-tiba memelukku "tenanglah... Seorang yang depresi hanya butuh untuk merasa tenang" ucapnya yang kini memelukku erat, membenamkan wajahku pada dadanya.
Pelukan yang pernah aku rasakan saat masa kuliah dulu bersamanya. Tidak berubah dan masih hangat seperti dulu.
Meskipun aku tidak membalas pelukannya aku juga tidak menolak pelukannya, Al tetap memelukku sampai merasa bahwa aku sudah tenang dengan tubuh yang tak bergetar dan tak menangis lagi.
Perlahan tubuhkupun mengikuti hatiku yang hangat, getarannya kini berubah menjadi debaran jantungku, dan tangisanku kini berubah dengan wajah panas ku.
Aku tersadar dan mendorong tubuh Al perlahan-lahan tidak menunjukan bahwa aku menolak pelukannya sekarang.
"makasih ya Al, aku sudah tenang sekarang" ucapku
"baguslah.. apa kamu mau minum lagi?" ucapnya dan aku menggelengkan kepalaku
"lakukan lah hal positif jika kamu tidak mau tidur, jangan malah gabung sama orang yang lagi mabuk, itu bahaya.. entahlah apa yang terjadi jika aku tidak datang" ucap yang kini duduk menghadap pantai.
"iya.. maaf"
"lupakan apa yang Juna lakukan padamu, dan jangan berbicara pada siapapun tentang hal ini apa lagi tentang Juna mencium mu, pura-pura saja tidak terjadi apa-apa"
"gimana caranya, bahkan untuk bertemu Juna saja rasanya tidak sanggup"
"Justru itu kamu jadi lemah dan depresi, lawan semuanya nda, kamu kan orang yang kuat. jangan kalah... kalau sudah begini nanti yang ada persahabatan kita malah jadi canggung, aku yakin kok Juna gak sadar dan gak akan ingat kejadian malam ini besok"
"serius dia gak bakal ingat?"
"iya.. tapi biasanya apa yang dikatakan orang yang lagi gak sadar itu benar, baguslah setidaknya dia bisa mengungkapkan perasaan nya padamu, lalu bagaimana denganmu, apa kau juga suka padanya?"
"Dia temanku Al mana mungkin"
"Aku juga dulu teman kamu"
"jangan disamakan dong... terlebih Juna itu sudah menikah, aku bahkan tidak berfikir sejauh itu terhadap Juna meski dia orang yang baik"
__ADS_1
"kamu tau gak kalau kamu itu jahat"
"kenapa? aku kenapa?"
"kamu terlalu baik dan tidak pernah menolak laki-laki yang mendekatimu, sehingga mereka menaruh harapan padamu. Jika kamu tidak mau maka ketika mereka mendekat tolaklah mereka atau dengan gestur tubuhmu. Mereka akan bisa membaca dan menyudahinya"
"bagaimana caranya menolak sesuatu yang sama sekali belum memulai, apakah terlihat aku terlalu percaya diri menyimpulkan bahwa laki-laki itu menyukaiku tanpa mereka mengatakannya"
"iya juga sih... ah... pokoknya jagalah dirimu, sekarang kamu sendirian"
"iya aku tau aku sendirian"
"nda..."
"hhmmm"
"aku minta maaf dulu meninggalkanmu dengan pergi bersama Hesti"
"ah... aku bahkan tidak sempat menanyakan alasanmu karena sudah di block denganmu ya"
"aku emang sejahat itu dulu, aku minta maaf"
"lupakanlah aku juga sudah lupa, jangan membuka luka yang sudah sembuh Al"
"setiap hari bertemu dengan Hesti membuatku hilang akal"
"Melepaskan yang baik demi yang lebih baik gak semulus yang aku harapkan"
"Al..."
"ya..?"
"Rumor itu... tentang Hesti.. apa boleh aku mendengar cerita darimu?"
"Dia gak bunuh diri nda, kami bertengkar hari itu,dan sampai akhirnya dia pergi ninggalin rumah dan kecelakaan, dan luka lebamnya diakibatkan oleh kematiaannya. Jadi bukan kecelakaannya yang mengakibatkannya meninggal, tapi dia terkena serangan jantung saat kecelakaan".
"Ah... aku turut berduka ya Al..."
"tak apa... karena dari itu aku tau rasanya jadi kamu saat kamu kehilangan Vicky."
"iya.. makasih ya"
Beberapa saat kemudian aku memilih untuk pulang ke Homestay ku dan Al mengantarku sampai depan rumah, Aku melihat Juna dan Raka masih terbaring di dekat api unggun. Al berkata untuk mengabaikannya dan membiarkannya. Al akan menemani Raka dan Juna menjaganya agar tidak mendekati api unggun dan juga mencegahnya untuk masuk kerumah dan membuat kegaduhan di dalam rumah.
Aku masuk dalam kamarku, menguncinya rapat-rapat agar siapapun tidak bisa masuk ke dalam sini.
**
__ADS_1
Pagi hari telah tiba, kami melakukan sarapan dan kemudian akan disusul dengan kepulangan kami.
Aku sarapan duduk di apit oleh Nabil dan Raka si sebelahku.
"good Morning gaes... wih sarapannya berat amat, kopi dong kopi" ucap Juna yang baru datang duduk di sebelah Al
"Dinda.. kamu ninggalin kita ya, ih jahatnya" aku menatapnya dan tersenyum paksa
"ya bagus lah.. ngapain juga nungguin kalian tepar, aneh.. yang ada bahaya tau" ucap Ririn
"ih.. aku sama Raka gak ngapa-ngapain kok, yakan nda?"
"hmmm iya, hanya saja cuacanya dingin jadi aku masuk" ucapku menatap Al lalu menunduk
"tuh kan... gua mah maboknya gak rese tau.. oi kopi oi, lama..!" ucap Juna
"apa terjadi sesuatu?" Nabil berbisik padaku. Aku menggeleng kencang
"harusnya kamu ikut masuk saat aku masuk" ucapnya sambil mengambil sayur untukku
"makasih" hanya itu yang terucap dari bibirku.
Sarapanpun telah selesai, kini kami telah bersiap untuk melakukan perjalanan pulang.
Saat dikapal aku lebih memilih untuk mengobrol dengan Nabil kembali dibandingkan bergabung dengan sahabatku. Sungguh aku sedang benar-benar menghindari Juna.
"nda.. kamu gak apa-apa, beneran gak terjadi apapun tadi malam?" menatapku menunggu jawabanku
Aku lupa kalau Nabil pintar dalam membaca situasi dan perasaan orang. semakin aku jawab tidak ada semakin dia curiga.
"iya.. tapi aku gak bisa cerita mas, ini cuma masalah persahabatan di antara kami.. tolong jangan membahasnya, aku tau kamu mengerti situasi tapi bersikaplah biasa saja demi kenyamanan para sahabatku, kumohon"
"ah.. pintar sekali kamu memohon, baiklah buat dirimu senyaman mungkin" dia tersenyum padaku.
**
Saat ini kami telah sampai di pelabuhan, Nabil langsung menarik tanganku.
"Dinda sama aku ya, kalian duluan aja nanti kita ketemu di stasiun masih ada waktu 3 jam lagi untuk keretanya datang" ucapnya berbicara pada sahabatku
"cie... yaudah gih hati-hati" ucap Ririn
"tapi kamu pakai rok, kita udah pernah bahas ini loh" ucap Juna
"aku sudah membeli kannya celana dan juga jaket untuknya, jadi tenanglah dia aman bersamaku, titip koper Dinda ya.. bye gaes" Ucap Nabil menarik tanganku berlalu meninggalkan mereka, dan aku hanya tersenyum paksa dan mengikuti langkahnya.
Dan Juna tampak kesal dengan apa yang terjadi, terlebih dia dititipkan membawa koperku.
__ADS_1