Kisah Jandaku

Kisah Jandaku
Part 51


__ADS_3

"pagi Al..." ucapku


"Dinda... kamu ko duduk disini sih" Al yang terkejut melihatku duduk di sofa menonton tv


"capek tiduran terus, aku lapar.. bisakah aku dapat makanan?" rengek ku


"mm harusnya udah dikirim makanannya, mungkin rada telat, sebentar aku cari di kulkas barang kali ada cemilan" Al berlalu menuju kulkas


"nih nda... lumayan ada buah.."


Aku tersenyum dan langsung meraih buah apel dan memakannya lahap.


"pelan-pelan nda... kaya gak makan seminggu aja" ledek Al


Aku tidak menghiraukannya, kumakan habis apelku dan meraih kembali buah anggur yang masih segar terlihat


"kamu.... baik-baik aja kan nda?" tanya Al ragu


"emang aku kenapa hahaha kamu lucu banget deh.." jawabku tertawa sambil menyantap buah anggur


"tadi malam kamu tidur apa gak?"


"buat apa tidur kalau untuk bangun, kamu ini gimana"


Tok tok tok suara pintu berbunyi "permisi mau menghantarkan makanan" suara petugas dari balik pintu


"iya masuk aja" ucap Al sedikit berteriak


"ini makanannya... permisi" ucap petugas meletakan makanan dimeja dan pamit meninggalkan ruangan


"ah... akhirnya datang juga, sini-sini Al aku mau makan" ucapku girang


"kamu masih lapar?"


"iyah hahaha... rasanya benar kata kamu, aku belum makan seminggu" ucapku yakin


Al menatapku yang sedang makan hanya terdiam, "ada yang aneh sama Dinda, kenapa perubahan suasana hatinya begitu cepat" ucap Al dalam hatinya


"nda.."


"mmmm....."


"kalau udah boleh pulang, kita ke dr.lala yuk, aku antar yah"


"ah... iya dr.lala, aku nanti kesana deh, dah lama aku gak main... tapi gak usah... gak usah antar aku, kan ada Vicky yang antar..." Aku terdiam mendengar perkataanku sendiri dan menghentikan aktifitas makanku, kujatuhkan ayam goreng yang berada di tanganku ke piring


"tapi Vicky udah gak ada... aaahhh.... Vicky udah gak ada... aku sama siapa nanti... Al.. aku nanti sama siapa, Vicky gak ada" aku menangisi diriku sendiri


"nanti aku antar nda.." Al yang menepuk pundakku


"gak mau, kata Vicky aku gak boleh dianter sama siapapun kecuali Vicky.. gak boleh .. gak boleh... " aku masih menangisi diriku


"gak apa-apa vicky pasti ngizinin kok aku antar kamu" ucap Al mendekat padaku


"aaaahh... kepalaku..... aaaawww.... "


"nda... kamu kenapa? nda.. ayo tiduran aja" ucap Al merangkulku dan menuntunku untuk tidur di ranjang


"aaaawww..... sakittt...!!!!!!!" ucapku berteriak


"sakittttt......!!!!!!!!"

__ADS_1


"nda.. tenang nda tenang... sus... susss tolong sus...." Al berteriak


"nda please tenang...."


"Sakit... aaaaaaw.. kepalakuu... Al... sakittt....!!!"


"SUUUSSSS....!!!!"


"iya dr.Al kenapa?" ucap seorang suster berlari datang ke kamar perawatan


"ambil obat penenang sekarang..!!!"


"baik dok" Susterpun berlari kembali


"nda... tenang... "


"SAKIIITTTTT AL.. SAKITTT"


"iya iyaa aku tau... susterr....!!!!"


"ini dok"


"YA KAMU MASUKIN CEPAT...!!"


"baik dok..." ucap perawat dan memasukan obat penenang dalam bentuk injeksi di selang infusku..


akupun menghentikan teriakan ku, tubuhku seketika lemas tak berdaya, dan akupun tudak dapat mendengar apapun dan tidak melihat apapun, aku dibuat pingsan oleh obat yang diberikan suster padaku.


suster dan Al membantu membenarkan posisi tidurku, sampai akhinya beres suaterpun meninggalkan kami berdua.


"Dinda... tidak kusangka depresimu kambuh" ucap Al menatapku


"jun gawat..."


"kenapa?"


"depresi Dinda kambuh... kayanya dia tadi malam gak tidur, tadi pagi dia happy banget ketawa girang, makan pun lahap, tapi seketika langsung histeris saat dia bahas Vicky"


"kok kayanya sih... sebenernya lu itu jaga Dinda apa gimana sih??!!"


"ya gua tidur Jun, mana gua tau kalo Dinda kaga tidur"


"orang sakit tuh dijaga bukan sekedar nemenin, gak becus banget sih, terus abis itu gimana ceritanya?"


"ya udah dikasih obat penenang"


"kalo dilihat dari background Dinda, gua sih yakin banget hal ini bakal terjadi.. kalo bisa keluarga Dinda jangan sampe tau.. biar depresi Dinda kita yang tangani, kita harus kompak buat sembuhin dia, gimana pun caranya" ucap Juna yakin


"iya... bener apa kata lu.. "


"Anna sama Ririn bentar lagi dateng, lu udah siap kan ketemu Anna?"


"hmmm... iya.. gua dah siap"


"apa rencana lu?"


"ya kalau emang Anna bahagianya sama Dimas gua bakal lepas dia Jun"


"bagus... gimana pun dia sahabat kita, kita juga harus jaga dia seperti kita jaga Dinda sekarang, gua salut sama kelapang dadaan lu bro.."


"ya mau gimana lagi... Anna gak bakal bisa bahagiain anak gua kalau dia sendirinyapun gak bahagia dalam pernikahan ini"

__ADS_1


"Assalamualaikum..." sapa orang tua Dinda yang datang


"walaikumsalam" ucap Al dan Juna berbarengan


"Dinda belum bangun?" tanya ayahku


"tadi udah bangun yah, udah sempet makan juga, tapi belum minum obat keburu tidur" ucap Al


"owalah.. belum minum obat kok malah tidur.. makasih ya nak Al sudah temani Dinda malam ini" ucap ibuku


"iya bu.. sama-sama"


"ya sudah, nak Al pulang saja, gantian sama ayah ibu yang jaga Dinda"


"Al sama Juna lagi nunggu kedatangan Anna dan Ririn yah" ucap Juna


"oh.. mau pada jenguk yah.. bener itu, biar rame juga, Dinda pasti senang"


"assalamualaikum..." suara salam terdengar dipintu masuk, Anna dan Ririn sudah datang


"walaikumsalam.. masuk nak, apa kabar kalian, lama yah gak berjumpa" ucap ibuku menyapa Anna dan Ririn


"iya bu.. ibu dari Makasar yah.. pasti capek" ucap Anna


"gak.. udah istirahat semalam dirumah, dibantu sama nak Al yang jagain Dinda disini semalaman" ucap ibuku


"oh... gitu ya" ucap Anna melirik Al, Al yang paham bahwa mendapatkan lirikan Anna pun bergerak menuju kamar mandi


"kami turut berduka cita ya bu atas kematian Vicky" ucap Ririn


"iya Rin... yah mau gimana lagi, namanya umur gak ada yang tau ya Rin, mungkin sudah nasib Dinda jadi janda lagi" ucap Ibuku menghela nafasnya


"kami berencana membawa Dinda ke Makassar, tapi sepertinya Dinda belum mau, ayah minta tolong bujuk dia supaya mau ikut kami yah" ucap ayahku


"iya yah.. isnyaallah kami coba bujuk Dinda"


30 menit beralalu dengan obrolan santai para sahabatku dan orang tuaku, tapi aku belum tersadar dari efek obat penenangku..


"oh iya kayanya kita pamit dulu deh bu.. nanti kita balik lagi besok kalau memang Dinda masih di rawat" ucap Juna


"iya makasih ya sudah jenguk Dinda.. nanti kalau Dinda sudah bangun ibu kasih tau dia kalau kalian kesini" ucap ibuku


***


"Al... lu mau ngobrol sama Anna di temenin kita atau berdua aja?" tanya Ririn


"giamana Anna aja" jawab Al


"kalo menurut gua lu selesein berdua aja dulu deh" ucap Juna


"gak bisa.. aku takut Anna kenapa-kenapa" ucap Ririn ketus


"yaudah.. kita bareng aja.. kita ke tempat yang sama, tapi di meja yang berbeda, itu bisa bikin privasi buat Anna dan Al berbicara tapi juga tidak lepas dari pengawasanmu Rin.. gimana?" ucap Juna menawarkan


"yaudah gua setuju" ucap Al


"oke OTW..." ucap Juna


"kita naik mobil lu aja Jun" ucap Anna


"dih siapa juga yang bawa mobil, gua bawanya motor, mau lu pada jadi cabe-cabean bonceng tiga?, kita naik bareng mobil Al aja, yuk" ucap Juna

__ADS_1


__ADS_2