Kisah Jandaku

Kisah Jandaku
Psrt 32 (ijab kabul)


__ADS_3

(di mobil)


"kamu gak apa-apa kan sayang?" meraih tanganku dan mencium punggung tanganku


"gak a aku gak apa-apa" aku tersenyum


"jangan pergi sendirian lagi aa mohon"


"tapi aku kan ke dr.lala"


"tapi lihatlah kejadian sekarang, aa bakal jadi suami kamu, jadi turuti lah perintah aa yang satu ini, demi kebaikanmu oke..?" jelas Vicky padaku


"iya a..." aku menjawab malas


Vicky menghentikan mobilnya di pinggir jalan.


"kenapa berhenti? mau kemana?"


"sini" Vicky menarik badanku dan memelukku


"aa sayang sama dinda, aa khawatir sama dinda, aa takut tadi dinda kenapa-napa jangan pergi sendirian ya sayang aa mohon" ucapnya lirih di telingaku


"iya aa, nanti dinda minta di antar kalau kemana-mana" jawabku yang sekarang membalas pelukannya


"i love you sayang" Mmuach... Vicky mencium keningku


**


Hari ini kami sekeluarga pergi ke tempat dimana akan berlangsungnya pernikahan aku dan Vicky besok.


Ternyata pernikahanku dilangsungkan di Resort Ade Irma yang pernah kami kunjungi saat itu. Tempat dimana Vicky pertama kali menciumiku.



Di Sana aku melihat WO sedang mempersiapkan segala keperluan dekorasi tempat pernikahan kami.


Aku ayah ibu dan juga keluarga kakakku di fasilitasi 3 kamar resort.


Aku tidur dengan 3 ponakan ku, ibu dan ayah, mba lilis dan suaminya.


Sebelum tidur aku mengajak keponakanku untuk berkeliling resort, mereka merengek dibelikan ice cream dimalam hari ini.


"mau kemana sayang" ucapan Vicky mengejutkanku


"ini anak-anak minta ice cream" jawabku


"hai tuan putri tuan putrinya om, kalau mau ice cream telpon aja orang resort nya jangan malah pergi nyari sendiri, yukk masuk lagi" ajak Vicky menggiring keponakanku kembali memasuki kamar


"udah om telpon, kalian disini aja nanti ada yang anterin oke" ucap Vicky


"oke om" jawab ponakan ku kompak


"sayang..." Vicky meraih tanganku


"iya a....?"


"disebelah ada kamar kita loh buat besok.." godanya tersenyum

__ADS_1


"terus kenapa?" ucapku meledek


"gak penasaran gitu mau liat.." ucapnya tersenyum lebar


"gak, kan paling sama aja kaya kamar ini, gak akan jauh beda kan?"


"iya sih.. tapi kita gak bermalam disini besok" ucapnya


"lah..kenapa?"


"terlalu ramai, cari yang sepi.." ucapnya yang masih tersenyum


"terus nyewa kamar yang disebelah buat apa?"


"buat kita bermesraan setelah akad, lumayan ada waktu beberapa jam sebelum resepsi" godanya padaku mencubit hidungku


"aa mesum ah mulai... sana gih dah malam nanti besok kesiangan, udah hapal ijab kabulnya?" tanyaku


"udah lah...aman.. pasti lancar kok, kamu deg degan gak?"


Aku tersenyum padanya mengangguk-anggukkan kepalaku "iya a, banget"


"si ganjen... aku kira kamu yang udah nikah bakal biasa aja"


"bukan masalah pernah atau gak pernah aa, ini kan momentum yang paling bersejarah, wajar kalau gugup"


"kok aa biasa aja ya nda, malah rasanya senang aja, damai gitu?"


"masa sih..? mungkin besok pas ijab kabul"


"gak ah... aa kan cool"


"yaudah nanti kalau orang resort udah nganterin ice creamnya dikunci pintunya"


"iya aa"


**


Hari yang Kinanti kan telah tiba..


Hari pernikahanku dan juga Vicky.


Aku di rias sejak pagi buta, kulirik baju kebaya putih yang akan aku kenakan tergantung di sudut kamarku. Kebaya yang sangat indah, dan pas saat aku kenakan.


Aku memakai riasan adat jawa, dengan rambut yang disanggul dengan aksesoris bunga melati yang segar membuatku terlihat begitu cantik..


Acaranya kini sudah dimulai, tapi aku masih di dalam kamar menunggu waktu yang sudah ditetapkan saat aku harus keluar.


Sekarang aku ditemani oleh Anna dan Ririn yang tampak cantik dengan setelan kebaya sederhana..


"kamu sangat cantik Dinda...Vicky akan senang melihatmu" ucap ririn tersenyum


"tuhan tidak tidur Dinda,.. Tuhan memisahkan mu dengan Syaif untuk disatukan dengan Vicky yang lebih baik darinya" ucap Anna


"terimakasih telah menemaniku di detik-detik pernikahanku ya kalian" kamipun saling memeluk


"permisi... hayu mba Dinda sudah waktunya untuk keluar" ucap panitia WO yang mendatangi kamarku

__ADS_1


Aku berjalan menuju meja akad bersama dengan Ririn dan Anna di sampingku.


Aku melihat Vicky yang berdiri di sebelah meja akad menungguku datang tersenyum lebar melihat kedatanganku.


Dimeja Akad sudah berada ayahku, pihak KUA dan juga para saksi dari pihakku dan juga pihak Vicky.


Aku menyapu pandangnku ke sekeliling tempat ini. Semua yang duduk hanya keluargaku dan juga keluarga Vicky, tidak lupa Sabahat ku Raka, Al dan Juna di sana.


Aku tersenyum manis saat berjalan menuju meja akad, semua sepasang mata memperhatikanku, dan itu membuatku tersipu malu. Untunglah ada Anna dan juga Ririn disebelahku yang membuatku percaya diri saat melangkah maju.


Setibanya di meja akad aku duduk disebelah Vicky, berhadapan dengan ayahku yang akan menikahkan kami.


Dipasangkannya sebuah selendang putih oleh mba lilis di kepalaku dan juga kepala Vicky.


"bismillahirrahmanirrahim... Ananda Vicky apakah siap menikah dengan anakku Dinda" Tanya ayahku


"insyallah saya siap pak" jawab Vicky tegas


"Anaku Dinda yang ayah sayangi, apakah Dinda bersedia menikah dengan Vicky?" tanya ayahku dengan mata berkaca-kaca


"Insyallah dinda siap yah" jawabku


Ayahku menyodorkan tangannya, dan dengan sigap Vicky meraihnya. Kulihat ayahku mulai menangis, sama percis seperti saat ia menikahkanku dengan Syaif, entah kenapa ayahku selalu bersedih saat momentum seperti ini.


Dan Vicky yang tadinya bersikap tenang pun mulai terlihat gugup, pandangannya terhadap ayahku yang sedang menangis membuatnya lemah.


ayahku menangis dan pihak KUA yang ada di sebelahnya menepuk-nepuk punggung ayahku. Ayahku menyeka air matanya dan mencoba bersikap tegar.


Dengan nada bergetar ayahku mulai berucap


"bismillahirahmanirahim... atas izin allah hari ini, Ananda Dzavicky Dzikri bin Sofyan Dzikri saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan anak kandung saya Dinda Lestari binti Raharja dengan mas kawin berupa emas logam mulia seberat 25gr dibayar tunai"


"Saya terima nikahnya Dinda Lestari binti Raharja dengan mas kawin tersebut dibayar tunai..!!"


"sah..."


"sah.."


"sah..."


"Alhamdulillah hirabilalamin"


Ayahku berdoa setelahnya.


Hampir sebagian keluargaku yang menyaksikan proses ijab kabul ini menangis. Suara ayahku yang masih bergetar saat berdoa membuat yang mendengarnya ikut menangis, tak terkecuali diriku.


Air mataku terus menetes, kulihat Vicky pun ikut meneteskan air matanya yang langsung diseka olehnya.


"sekarang kalian sudah sah menjadi suami istri" ucap pihak KUA


Aku menyalami tangan Vicky, dia tersenyum padaku dan akupun membalas senyumannya.


Di pegangnya kepalaku, Vicky berdoa sambil memejamkan matanya. Doa untuk istri setelah melakukan ijab Kabul.


Acara ijab kabul ini benar-benar sakral dan hikmad. Saat acara sungkeman tangisan ku semakin menjadi dibuatnya, kupeluk erat orang tuaku dan juga mertuaku.


orangtuaku membisikannku berharap agar aku bahagia bersama Vicky dan juga hidup dengan langgeng. Sedangkan mertuaku membisikanku untuk menitipkan Vicky padaku dan juga berharap kami hidup bahagia.

__ADS_1


Acara ijab kabul yang benar-benar menguras emosi kesedihanku. Acara yang benar-benar indah, Acara yang hanya dihadiri oleh keluarga ini membuat acara ini lebih fokus.


Aku sangat bahagia, terimakasih atas acara ijab kabul yang indah ini tuhan...


__ADS_2