Kisah Jandaku

Kisah Jandaku
Part 53


__ADS_3

"Dinda.....," tokk tokk tokk teriak Anna dibalik pintu kamarku


Kubuka pintuku perlahan, Anna langsung memelukku "Dinda.. aku sayang kamu..." Anna menangis


"Sudah lah na.. aku baik-baik saja" jawabku lemas


"benarkah?" Anna menghentikan tangisannya menatapku, Aku menganggukkan kepala


"wah... luar biasa, sini aku mau cerita" Anna mengandeng tanganku berjalan menuju sofa balkon kamarku


"aku mau cerai sama Al, dan nikah sama Dimas" seru Anna girang


"oh ..... " jawabku datar


"Dinda..... harusnya kamu seneng dong dengernya, aku happy banget ini, aku cerainya baik-baik ko sama Al, dan oh iya Dimas udah mualaf kemarin, pas aku kasih kabar kalau aku mau cerai sama Al" seru Anna


"iya.. aku berbahagia untukmu" ucapku masih datar


"Dinda..... kamu masih sedih ya, jangan dipikirin terus dong, kan ada aku sama anak-anak... jangan sedih ya ada kita disini" Anna memelukku


"aku bingung sama sistem hidup kamu na, aku tambah pusing dengernya. apa Al sebaik kamu keadaannya sekarang?" tanyaku penasaran


"cieee..... khawatir ya... kayanya kalian emang jodoh" ucap Anna menggodaku


"Anna....!!!" ucapku tegas


"Al baik-baik saja nda, kita udah saling memaafkan. jangan dipikirin yah Alnya... hihihi" Anna tersenyum lebar


"kamu happy banget kayanya"


"justru itu kamu juga harus ikut happy" ucap Anna


"Din.. na... hahhh capenya..." ucap Juna dan Ririn yang baru datang dan langsung duduk di sofa


"wah... kalian udah dateng" ucap girang Anna mendekati Ririn, sedangkan Juna memilih pindah ke ranjangku dan membaringkan tubuhnya disana


"apa ini" aku menunjuk sebuah kantung plastik yang diletakan Ririn

__ADS_1


"ikan..." singkat Ririn


"kita mau bakar-bakaran, yeeee pasti seru..." ucap girang Anna


"haduuuhhhh... harusnya aku taruh di dapur kenapa aku bawa sini, Anna kamu yang bawa turun gih aku capek banget ini" ucap Ririn menyuruh Anna


"iya iya.... mau sekalian aku bersiin gak ikannya?" tanya Anna


"iya sekalian sana..."


"okey..." ucap Anna berlalu meninggalkan kamarku


"nda... aku turut berduka yah" ucap Ririn


"iyah" jawabku singkat


"jangan samain sama pas kamu kehilangan anakmu ya nda, kali ini kamu punya kami. jadi kamu gak sendirian, dan kami gak akan biarin kamu sendirian, jadi jangan pernah berfikir kamu sendirian paham?" jelas Ririn


"iya Rin... makasih ya" Aku meneteskan air mataku


"jangan nangis, gak boleh sedih lagi yah" ucap Ririn menggenggam tanganku


Kkrrrooookkkk.... krrrooookkkk....


"aaaahhhh..... si Juna ngerusak suasana aja deh, sempat-sempatnya tidur di waktu sakral kaya gini" ucap Ririn kesal melirik Juna yang tidur berbaring dikasurku


Aku tersenyum melihat Ririn kesal, mereka memang selalu bertengkar. Sahabatku... kalian sungguh mewarnai kanfas hidupku sekali lagi.


***


malam haripun tiba... setelah beribadah dan memanjatkan tahlil untuk Vicky kami langsung mengeksekusi ikan yang di bawa Ririn dan Juna di halaman belakang rumahku.


Ibu dan ayah tidak ikut gabung karena pergi ke rumah kakakku untuk bermain dengan keponakanku selagi temanku ada untuk menemaniku di rumah.


Melihat canda tawa Ririn, Anna dan Juna membuatku sejenak melupakan kesedihaknku atas ketidak hadiran Vicky, seandainya saja Vicky disini pasti acara ini lengkap..


Tak sadar waktu sudah menunjukan pukul 8 malam tapi ikannya belum juga matang karena pembuatan arang yang tak kunjung menyala. Melihat satu-satunya laki-laki disini, Juna memang payah dalam hal ini. Dia tidak bisa menyalakan arangnya.

__ADS_1


30 menit kemudian Al datang bergabung dengan kami, dia baru saja pulang dari seminarnya di hotel Prisma. Tapi itu yang aku tau, karena sebenarnya Al baru saja selesai menemui dr.lala untuk membahas tentang diriku.


Al membawa snack dan minuman soda kaleng untuk kami. Al mengambil alih tugas menyalakan arang untuk membakar ikan, dan jelas saja arangnya langsung menyala. Dan Juna pun memuji Al.


Aku melihat Anna dan Al, aku tidak percaya mereka bisa melupakan pernikahan mereka dan kembali pada peran sahabatnya. Mereka seperti pasangan yang profesional, tidak ada hal pribadi yang mengganggu mereka saat ini. tampak seperti tidak ada masalah sedikitpun.


Juna masih tetap suka menggoda Anna sebagai mantan pacarnya dulu, dan kini Al sedikit memberitahu tentang rahasia Anna yang tidak kami ketahui dan membuat Anna malu.


Dari semua sahabatku hanya Ririn yang paling beruntung dalam rumah tangganya, dia memiliki suami dan anak-anak yang baik. Suaminya pun masih mengizinkan Ririn untuk bermain bersama kami meski tak meninggalkan pekerjaan rumah terlebih dahulu sebelum kesini.


Raka juga punya keluarga yang harmonis, bayi kecil yang baru terlahir didunia melengkapi kesempurnaan keluarganya, hanya saja Raka tidak selalu berada di dekat keluarga karena dia bekerja di Jakarta, tapi sepertinya sebentar lagi dia akan pindah kesini.


Juna dengan rumah tangganya yang bebas juga tampak happy-happy saja, meski Mayang tidak pernah mendampingi Juna dan lebih memilih sibuk dengan pekerjaannya sebagai model, dan Juna yang sibuk dengan bisnisnya. Bahkan untuk bertemupun mereka nyaris sulit. Saat ini saja terakhir Juna bertemu Mayang adalah saat kami main ke rumahnya di Wonosobo, sekitar 5 bulan yang lalu mereka bertemu. Tapi dibalik itu mereka mempunyai komitmen yang kuat, dan memiliki visi misi yang sama. Aku berharap mereka dapat melewatinya


Kenapa mereka bisa sebahagia itu, sedangkan aku sulit untuk tersenyum sekalipun.. apa yang salah dariku, aku ingin tersenyum seperti mereka..


"nda... sini makan" seru Ririn melambaikan tangan padaku


"wahhh sudah matang ya?" tanyaku melihat seekor ikan bakar dipiring


"iya sini duduk" Anna menepuk-nepuk bangku disebelahnya


Aku menuju bangku yang dituju oleh Anna, tapi kakiku tidak sengaja tersandung kaki Anna "Aaaahhhhh...." aku hampir terjatuh, tapi tubuhku disanggah oleh Al, sehingga Al merangkul tubuhku


"ciee cie.... tapi aku masih istrinya loh hahaha" ledek Anna


"ah.. maaf Al.." ucapku menegakkan tubuhku


"gak apa-apa, hati-hati yah, duduk gih makan" ucap Al manis


"awass...awas... panas..." Juna berteriak membawa ikan bakar di alat penjepit pembakaran ikan menuju meja "wahhh... mantap... hayo makan kempong (lapar) gua" ucap Juna yang duduk dan mengambil nasi


kami menunggu giliran untuk bergantian mengambil nasi dengan piring yang dipegang masing-masing, tapi alih-alih Al yang lebih dahulu mengambil nasi setelah Juna, Al malah memberikan nasinya padaku


"nih buat Dinda..." aku langsung menengok ke arah Anna, tapi Anna diam saja tidak bereaksi, meski dia tau Al memberikan piringnya padaku tapi Anna bersikap biasa saja " makasih" ucapku pada Al


"yeee... makan makan..." ucap girang Anna

__ADS_1


Anna kenapa tidak marah saat Al memberikan nasi padaku, padahal tadi saat aku terjatuh dan ditangkap Al dia berkomentar meski dengan meledek dia menegaskan bahwa dia masih istrinya, tapi sekarang dia malah bersikap biasa saja " ada yang aneh" ucapku dalam hati


__ADS_2