Kisah Jandaku

Kisah Jandaku
Part 93


__ADS_3

"Juna.." sapa Ririn, menghentikan langkahnya


"apa?"


"kasih tau Al dulu kalau ada Dimas, dari pada nanti brantem di dalem" ucap Ririn


"iya gih" ucap Anna


"hadehhh.. lu juga sih Na, yaudah bentar"


Juna masuk kedalam ruangan sendirian


"mana yang lain?" tanya Raka


"diluar" jawab Juna


"ya suruh masuk lah Juna" ucap Al


"Al.. Anna datangnya sama Dimas lu gak apa-apa kan?" tanya Juna ragu


"astaghfirullah Anna..." ucap Raka menggelengkan kepalanya


"kita langsung keruangan Vicky aja" ucap Al bangkit dari duduknya,


Membuka pintu ruangannya dan melihat Anna dan Dimas dengan tatapan dingin.


Al tak menyapanya, dan bahkan mengabaikan kehadiran mereka.


Al berjalan dengan para sahabatnya mengekor dibelakang mengikuti langkahnya.


Saat masuk kedalam lift suasananya pun tetap hening, tak ada yang berbicara, benar-benar sangatlah horor.


Juna Ririn dan Raka hanya saling menatap, seolah berbicara dengan bahasa mata mereka.


Dan Anna, masih dengan posisi nyamannya, yaitu bersembunyi dibalik tubuh Dimas.


Sampailah di kamar Vvip no 3, dimana kamar perawatan Vicky berada.


Semuanya masuk satu persatu.


Al mencoba membangunkan Vicky yang sedang tidur.


"ky.. bangun, anak-anak mau jenguk nih" ucap Al menggoyangkan bahu Vicky.

__ADS_1


Vicky membuka matanya, menyapu pandangannya ke arah dimana semua sahabat Dinda berdiri. memaksakan bibirnya untuk tersenyum menyapa semuannya.


kondisi Vicky masih jauh dari kata sembuh, kakinya yang tergantung dengan gips terpasang di kaki kanannya, kepala yang dibalut dengan perban, tangan kanan yang disanggah oleh rompi penyanggah tangan patah, dan juga leher yang masih dipasangkan sebuah bantuan agar Vicky dapat menegakkan kepalanya.


Al menaikkan kasur Al agar bisa terlihat setengah duduk untuk dapat bisa berkomunikasi dengan baik.


"ky... masyallah seneng banget gua bisa liat lu lagi, sehat-sehat ya ky" ucap Raka mendekati Vicky dan duduk dikursi, Vicky tersenyum


"ky... bagi resep napa, bisa-bisanya dengan keadaan kaya gini, lu masih aja gitu keliatan keren" ledek Nuna yang duduk di ujung ranjang Vicky


"husss... sembarangan" Ririn memukul bahu Juna


"ky, kamu tuh beruntung banget loh dengan kecelakaan kaya gitu kamu bisa selamat, banyak-banyak bersyukur ky, apa lagi kamu sekarang dah sehat, maaf ya gak sempet banget jenguk kamu,menjadi ibu dan sahabat itu susah banget bagi waktunya.. maaf ya" ucap Ririn mengelus kaki kiri Vicky yang tertutup selimut


"gua ingat banget, pas awal lu masuk ICU, dokter bilang nyawa lu cuma sebatas dibantu oleh alat pernafasan doang loh, tapi lihat deh, takdir Allah emang beda dari prediksi manusia" ucap Raka


"waktu awal kita bagi tugas ya ka, lu ngurus Vicky, gua ngurus Dinda.. beuh.. Dinda sempet panik dan ngamuk loh, kewalahan tau gua ngurus Dinda.. tapi ya gak lama sih, pas dr.Lala sama Al dateng terus Dinda disuntik penenang, ya tenang beneran tuh bocah"


"hah masa sih Jun... duh gua jadi tambah gak enak banget nih gak jenguk kalian sama sekali" ucap Ririn


"ky... maaf ya, ini semua karena aku, kalau aku gak telfon Dinda, kalian pasti gak kecelakaan, aku emang bodoh, maafkan aku ky" ucap Anna


"gak apa-apa na, ini bukan salah kamu, itu terjadi karena emang posisinya serba salah, namanya tabrakan beruntun, kalau kita gak nabrak depan ya ditabrak dari belakang" jawab vicky lemah


"Al lu baik-baik saja kan?" tanya Vicky


"apaan, ini?" jawab Al menunjuk perutnya


"ya aman lah.. gak seberapa sakitnya, daripada diselingkuhin" ucap Al


"Al aku minta maaf" ucap Anna


"sorry Al, gua gak berfikir panjang saat itu" ucap Dimas


"pisaunya anda bawa dari luar loh, itu membuktikan kalau anda itu memang niat" ucap Al


"hei hei hei..." ucap Raka


"tapi niat awal gua gak gitu, itu hanya untuk jaga-jaga diri" ucap Dimas


"ya tetap saja salah, lu jangna mancing emosi gua disini ya, kalau lu tetep kaya gini mending gua lapor polisi aja biar kelar dan tau aiapa yang salah disini" ucap Al


"tapi Al.. kamu kan KDRT sama Anna, itu juga tindakan kriminal" ucap Ririn membela

__ADS_1


"yaitukan karena kelakuannya" ucap Al


"sabar Al.. sabar" ucap Juna


"ini tuh gara-gara lu Jun"


"kok gua?"


"lu yang maksa gua kawinin Anna kan?"


"tapi pada akhirnya lu yang ambil keputusan sendiri Al" ucap Juna


"dah.. udah.. udah... kalian kenapa jadi ribut sih, please ya, ini tuh rumah tangga kalian, oke Al, Anna emang salah karena udah selingkuh dari lu, tapi lu juga salah dalam bertindak kepada Anna, harusnya sebagai kepala keluarga lu bisa lebih bijak untuk menyelesaikannya, dan lu Dimas.. lu adalah orang yang paling salah disini, mau lu tuh apa sih, semua ini gak akan terjadi andai saja lu datang waktu pernikahan. jadi tolong ya, gak usah dibahas lagi, karena kalian punya kesalahan kalian masing-masing" ucap Raka menengahi


"mereka bukan hanya selingkuh Raka... tapi mereka tidur bareng, dan gak sekali dua kali ka.. lu bisa bayangin gak sih jadi gua, gua udah rela buat nikahin dia dan apa balasannya. ke gua" ucap Al


"iya aku yang salah, aku memang yang salah, aku minta maaf Al.. aku minta maaf" ucap Anna menngis


"dah lah... dengan kamu datang membawa si brengsek ini juga sudah membuktikan kalau kalian emang niat buat bikin saya hancur" ucao Al


"wah.... sudah ramai ternyata" sapa dr.Lala yang baru masuk


"eh dokter dah datang, masuk dok, silahkan duduk" ucap Raka mengarahkan sahabatnya duduk di sofa dan kursi.


Anna menghapus air matanya, suasana yang tadinya menegangkan mencair seketika kedatangan dr.Lala


Al, Ririn dan Raka duduk di sofa, Anna dan Dimas duduk di kursi,Juna masih tetap berada disisi ranjang Vicky.


Dan dr.Lala duduk dikursi sebelah Vicky


"oke... kita pelan-pelan saja ya, mengingat kondisi Vicky yang belum sepenuhnya pulih, jadi kita mulai dari awal. apapun yang saya katakan jangan dipotong dulu kecuali saat saya bertanya tolong kalian jawab, dan saya mohon.. untuk perhatikan dan dengarkan saya baik-baik" ucap dr.Lala membuat mereka tegang


"kenapa mukanya tegang gitu, santai saja.. ini kan bukan ujian" ledek dr.Lala mencair kan suasana


"Vicky... kamu baik-baik saja?" tanya dr.Lala


"iya dok" jawab Vicky tersenyum


"baik kalau gitu... jangan terkejut ya ky, kenyataan emang pahit, tapi tidak tau apa-apa jauh lebih menyakitkan. Vicky... maaf membuatmu bersedih. Depresi yang pernah Dinda alami telah kambuh, dan malah jauh lebih parah dari sebelumnya.


istrimu..... telah beranggapan bahwa kamu sudah meninggal"


ucap dr.Lala yang bukan membuat Vicky terkejut, tapi semuanya

__ADS_1


__ADS_2