
"ka.. gua ke toilet dulu ya" ucap Anna yang tiba-tiba berdiri dari duduknya kemudian pergi.
Raka yang tak menghiraukannya tetap sibuk dengan ponselnya.
Dan Dimas, tentu saja ikut bangkit dan kemudian mengikuti langkah Anna dari belakang, seolah tau bahwa perginya Anna adalah sebuah kode untuk mencari ruang aman untuk mereka berbicara.
Sampai pada disebuah sudut rumah sakit, di depan pintu toilet umum rumah sakit. Anna berdiri menunggu Dimas.
"hai sayang" sapa Dimas membuka masker dan juga tutup kepalanya, memperlihatkan jelas wajah Dimas yang berseri memandang Anna dengan senyumannya
"kamu kenapa bisa disini sih?" tanya Anna menarik tangan Dimas agar lebih mendekat dengannya
"namanya juga jodoh.. pasti ketemu aja walaupun nomorku kamu blok" jawab Dimas
"kita udah berakhir mas, kita udah gak ada hubungan apa-apa lagi" seru Anna berbisik
"berakhir gimana? aku gimana?" tanya Dimas
"cari wanita lain mas, pasti ada yang lebih baik dari aku" jawab Anna
"ya aku gak mau na..!!! ketika aku nyari yang sempurna, aku bakal kehilangan yang terbaik, yaitu kamu na" jawab Dimas
"aku udah selamatin kamu dari kasus kemarin dengan kembali pada Al mas, kalau gak, kamu tuh bisa dilaporin ke polisi, perselingkuhan kita juga akan dilaporkan" seru Anna
"aku gak takut, walaupun kita harus bersama dipenjara aku bersedia dengan senang hati" jawab Dimas
"tapi aku gak mau..!" Anna tegas dan melotot pada Dimas, melepaskan lengan Dimas yang sedari tadi masih di pegang Anna
"yaudah.. yaudah.. semuanya udah beres kan? kita bisa balik lagi kaya dulu kan?" tanya Dimas yang kini memegang kedua bahu Anna
"aku gak bisa mas, aku udah milih Al sekarang, mending kamu move on dari aku mas" seru Anna
"na..!!" suara seseorang mengejutkan Anna.
Dengan segera Anna menepis tangan Dimas yang berada di bahunya ketika Anna tau bahwa Juna melihat tindakan tersebut.
"eh.. junn" ucap Anna terbata-bata bingung untuk berkata
Mampus gua.. Juna kok bisa kesini sih, kalau dia lapor ke Al gimana ini. Anna
"lu Dimas kan?" tanya Juna pada Dimas
"iya..... lu Juna ya...wah lama juga ya gak jumpa, terakhir waktu di Dieng ya.. seneng bisa liat lo disini" Dimas tersenyum menyodorkan tangannya pada Juna.
Tapi Juna enggan meraih tangan Dimas, pandangannya langsung berubah dingin pada Anna, membuat Anna menundukan kepalanya.
Dimas yang paham bahwa jabat tangannya tak di sambut oleh Juna pun menurunkan tangannya.
kemudian Juna memilih masuk kedalam toilet dan meninggalkan mereka berdua.
"Dimas... please... disini juga ada Al, aku mohon sama kamu jangan deketin aku lagi ya, kita udah berakhir" ucap Anna
"gak bisa berakhir gitu aja na..buka blok nomor gua, kalau gak mau gua ke rumah lu" Dimas tersenyum sinis kemudian memakai penutup kapalanya kembali dan pergi meninggalkan Anna.
hah... gimana ini, apa yang harus gua lakukan.. ya tuhan.... Anna
Anna masih berdiri di luar toilet menunggu Juna keluar.
"Juna.." Anna menarik lengan Juna saat Juna keluar toilet
"apaan?" tanya Juna ketus
"jangan bilang Al" ucap Anna memelas, tapi tak dihiraukan oleh Juna.
Juna berjalan menuju UGD, diikuti oleh Anna dibelakangnya yang masih merengek pada Juna.
"Juna...".. rengek Anna, tapi Juna tetap diam berjalan
__ADS_1
"Juna...." rengek Anna kembali, menggoyangkan lengan Juna
"lu diem disini, Raka lagi ambil barang Dinda di mobil, bentar lagi Dinda mau masuk ruang perawatan" ucap Juna
"Juna.. jawab dulu"
"apa sih.."
"jangan bilang Al ya kalau tadi ada Dimas"
"bodo amat Anna... bodo amat.. gua bukan Ririn yang ngurusin rumah tangga orang, mau gua ngeliat lu lagi tidur sama Dimas juga bodo amat na, terserah lu pada deh" ucap Juna
"ah... yaudah yaudah.. makasih ya"
"tapi kalau Al nanya ya gua jawab"
"Juna....!!!"
"berdoa aja semoga dia gak nanya" ucap Juna meninggalkan Anna dan masuk kembali ke ruangan UGD.
Anna tampak kesal dan tak puas atas pernyataan Juna yang menggantung.
***
Rasanya seperti orang yang tidur tapi mengetahui situasinya. Rasangnya ingin memanggil seseorang tapi sulit sekali rasanya bibir ini bergerak. Tubuhku serasa berat untuk sekedar menggerakkan jariku.
Tapi aku mendengar, aku mendengar suara alat-alat rumah sakit yang begitu nyaring.
Aku juga dapat mendengar samar suara Al berdebat dengan seseorang yang entah apa yang mereka bicarakan.
Sekuat tenaga aku ingin memanggil mereka, sampai satu suara keluar dari bibirku..
"mmmm....." aku hanya dapat meraung
"nda.. kamu udah sadar?" suara asing yang kudengar
"nda.. coba yuk gerakin tangannya, bisa kok.. pelan-pelan ya" ucap sang dokter padaku
Aku mencoba keras, sepenuh tenaga dan keyakinan yang kuat.
Pada akhirnya aku dapat menggerakkan jariku, lalu tanganku, lalu kakiku dan juga menggerakkan kepalaku.
Mataku pun sudah mulai dapat ku buka, meski tak sepenuhnya terbuka.
Dan suaraku kini kembali utuh sepenuhnya, serta pendengaran yang sudah jelas.
"Al.." ucapku
"hei.. ya nda. aku disini. kamu udah sadar? sabar ya, bentar lagi juga efek biusnya hilang" Al mendekat padaku memegang telapak tanganku
"Di... kita pindah sekarang aja ke kamar perawatan ya" ucapnya
"ok, lis siapin, terus bawa sekarang" ucap sang dokter yang kini sudah ku kenali
"nda.. kita pindah ke kamar perawatan ya" ucap Juna mendekat padaku memegang tanganku di sebelah kanan bersebrangan dengan Al
"Juna..." sapaku yang hanya baru dapat mengucap satu kalimat
"iya nda..sakit ya? mana yang sakit? ini sakit gak?" tanya Juna mengelus kepala ku
"mmm" jawabku lemah
Sebenarnya apa yang terjadi denganku, dan kemana Nabil dan Mayang? apa kami kecelakaan? ah.. kepalaku sakit..
Seorang suster membantuku mempersiapkan pemindahanku ke kamar perawatan.
aku dipindahkan ke kasur lain, kemudian mulai didorong oleh dua orang suster keluar dari UGD.
__ADS_1
Juna berada disampingku, tak pernah lepas memegangi tanganku, melangkah mengikuti kecepatan kasur yang di dorong oleh suster.
Kini kami sudah masuk ke kamar perawatan, aku dipindahkan lagi ke kasur lain, dan kini sudah dirapihkan oleh suster.
Matakupun sedikit demi sedikit sudah dapat terbuka dengan lebar.
"nda..." sapa Raka mendekat duduk di tepi ranjang memegang kakiku yang diselimuti
"ka.." jawabku
"nda.. ada yang sakit gak? pusing gak?" tanya Juna
"gak.." jawabku
"nda.. kamu tadi jatuh, kepalanya kena batu jadi harus dijahit" seru Raka
"nda.. aku minta maaf ya, karena Mayang kamu jadi kaya gini" ucap Juna
Karena Mayang? jatuh?
"Mayang mana?" tanyaku
"nda.. kita ke perawatan dulu ya, tinggal bentar"ucap Al padaku "na, ka ikut gua ya.."
Anna, Raka dan Al pergi keluar kamar, dan tersisa Juna yang duduk di sebelahku, tersenyum manis padaku.
**
Diluar ruangan Anna, Al dan Raka masih berdiri di luar kamarku, berbohong padaku mengatakan bahwa mereka mau ke ruang perawatan.
"Ka.. Dinda hamil" ucap Al
"terus Dinda udah tau?" tanya Raka
"justru itu.. gak tega aku bilangnya" seru Al
"tapi kepalanya gak apa-apa kan?" tanya Raka
"gak apa-apa aman.. cuma kehamilannya lemah, tapi udah masuk obat penguat sih" jawab Al
"berapa bulan Al?" tanya Raka
"6 minggu, berarti 1 bulan 2 minggu" jawab Al
"biar nanti gua yang bilang pelan-pelan ma Dinda" ucap Raka
"Keluarganya gimana?" tanya Al
"kita nanya dulu ke Dinda kalau itu, gak berani mutusin gua mah" ucap Raka
"kan ada keluarga Vicky di Jakarta, apa lagi... hamilnya Dinda pasti jadi kabar baik banget buat mereka" seru Al
"mmm iya sih.. kalau kalian mau balik, balik aja biar gua ma mas Nabil disini, besok juga kan lu harus masuk kerja Al" ucap Raka
"ya ntar maleman lah gampang.. tapi lu gak apa-apa kita tinggal?" tanya Al
"aman.. dari pada gua di apartemen juga sendirian,disini ada temen sakit, ya biar gua yang jagain lah, minimal sampai keluarga Dinda pada dateng" jawab Raka
"sipp.." seru Al
"gua masuk ya" ucap Raka berlalu meninggalkan Anna dan Al
"kamu kenapa?" tanya Al pada Anna yang sedari tadi diam termenung
"hei..." Al menepuk bahu Anna yang tak merespon pertanyaan Al
"ah... gak mas gak apa-apa" jawab Anna kelagapan
__ADS_1
"tegang banget sih mukanya, gak usah terlalu dipikirin, Dinda gak apa-apa kok.. sini" Al mengelus kepala Anna dan kemudian merangkulnya