Kisah Jandaku

Kisah Jandaku
Part 40


__ADS_3

*stasiun Gambir Jakarta Pusat


"Ahh.. akhirnya sampai juga di stasiun, hampir aja aku buat keributan di klinik gara-gara Al dan Syaif, dari pada harus memilih mending naik taxi online aja, beres"


"keretanya 2 jam lagi, mmm lapar... aku makan dulu aja kali ya"


"Dinda...." sapaan seseorang


"Al....?? ngapain sih ngikutin aku kesini?"


"hooss hosss.... aku... gak ngikutin kamu.. hoss hosss... aku mau pulang kan tadi udah aku tawarin bareng kamu gak mau" Al yang menyadarkan tangannya di tembok dan membungkukkan badannya mengatur nafasnya karena berlari


"oh.. jadi kamu naik kereta juga? ya maaf aku gak tau"


"iyah.. gara-gara syaif aku jadi gak bisa jelasin panjang sama kamu, hoosss hoss" ucap Al terbata-bata


"duhh... al... minum dulu yuk, aku juga lapar, biar sekalian makan akunya" ajakku


"yuk..hoss hoss."


*di tempat makanan siap saji Stasiun Gambir


"gimana kabarnya Anna al.?" tanyaku


"entah lah... kadang aku suka curiga kalau dia masih berhubungan dengan Dimas, apa kamu tau din, atau Anna pernah cerita gitu ke kamu masalah dia dan Dimas?" tanya Al


apa yang harus aku jawab, sebenarnya aku tau semua tentang Anna dan Dimas, dan aku tau Anna salah dengan masih berhubungan dengan Dimas, tapi aku juga gak mau jadi penyebab Al tau kalau Anna masih berhubungan dengan Dimas, biarlah ia mengetahui nya sendiri, atau lebih baik Al tidak tau sama sekali, dan Anna menyudahi hubungannya


"hei... din... kok bengong sih?"


"ah.. maaf tadi kamu nanya apa?"


"Anna cerita gak ke kamu tentang Dimas?" tanyanya


"ahh.. mana aku tau" mungkin itu jawaban yang paling aman


"aku tau aku salah din, tapi aku masih menyukaimu, mencintaimu, dan mengharapkan mu.. tapi.. tapi.. tenang.. aku gak punya niat jahat kok, aku cuma belum move on aja, aku masih di tahap berusaha menyukai Anna, kamu paham kan pernikahan aku kan dadakan kaya gitu, maaf kalau aku lancang sebelumnya udah ngomong kaya gini yang buat kamu kaget" jelas Al


Kaget apanya, ini sih bukan kaget, tapi bikin suasana jadi canggung.. aku harus jawab apa, menyebalkan sekali sifat keterusterangan Al ini, suka sekali bicara tanpa basa-basi..


"Dinda..."

__ADS_1


"yah..?"


"kamu denger aku kan?"


"denger... cuma aku bingung jawabnya, aku takut salah jawab"


"gak apa-apa aku kan gak nanya, aku cuma ngasih penjelasan sedikit, oh iya maaf juga waktu itu aku nampar kamu, sumpah demi apapun aku nyesel senyesel-nyeselnya, maafin aku ya din" ucapnya


"gak apa-apalah, lupain aja, mungkin udah jalannya" aku tersenyum padanya


"bisa gak sih jadi orang jangan terlalu baik gini, kalau kamu kaya gitu terus kapan aku move on nya" ledek Al


"Al...." aku memukul lengan Al


"hahaha iya iya maaf, yaudah abisin makanannya nanti keburu keretanya dateng, sayang yah kita gak satu gerbong, semoga aja nanti bangku sebelah kamu kosong jadi aku bisa..."


"bisa apa? jangan macem-macem deh, kita udah nikah satu sama lain, jangan bikin judul buat bahan ghibah orang-orang" ucapku ketus


"hahaha iya iya siap bu bidan, timbang mau jagain doang gak boleh, pelit hahaha" seru Al menertawai ku


"Dinda...." suara seseorang mengagetkan kami


"aa..?" jawabku terkejut


"sudah makannya?, apa saya mengganggu?" tanya Vicky


"ganggu apaan, untung lo dateng, lo tuh kemana aja sih istri dijakarta bukannya ditemenin malah jadi sendirian gini, ditinggal rombongan gara-gara masuk UGD" ucap Al


"apa??.. kamu masuk UGD? kapan? kenapa?" tanya Vicky panik


hah... selera makanku hilang seketika meskipun tadinya aku merasa lapar.. apa dia tidak tau betapa terguncangnya aku melihatnya bersama wanita lain, dan bermesraan dengannya..menyebalkan


"aku ke tolet dulu" ucapku ketus


"aa antar"


"gak usah" ucapku


"lo lagi berantem ya ma dinda?" tanya Al


"dinda kenapa masuk UGD? kenapa gak telfon gua?" tanya Vicky sedikit berteriak

__ADS_1


"yaaa... santai aja nanyanya.. gua juga gak tau pasti kenapa, yang jelas gua lagi seminar di klinik, pas kelar seminar gua gak sengaja liat Syaif, gua kepoin dia bawa siapa, ternyata administrasinya dia cantumin bahwa dia bawa istrinya, gua tambah penasaran, lah malah gua ketemu Dinda, parah tuh si Syaif ngaku-ngaku haha" jelas Al


"Syaif.... " Vicky mengepalkan tangannya


"Dinda kena serangan panik, mungkin depresinya kambuh.. lu tau gak sih Dinda ada di jakarta, dan mungkin dia cerita apa gitu ada masalah apa sampe kambuh gitu" tanya Al penasaran


Vicky berfikir sejenak, mengingat kejadian tadi siang, tapi kenapa ada Syaif, dan kenapa dia yang bawa Dinda ke UGD, sebenarnya Dinda kena serangan panik karna masalah tadi siang atau karna bertemu dengan Syaif, jika memang karena Syaif, tak akan kubiarkan dia lolos dariku


"keponya sampai diklinik aja, dari sini biar gua yang urus Dinda, lagian kenapa harus ada kalian berdua sih, kenapa juga sekarang lo bisa sama istri gua" tanya Vicky


"ya gua mau balik, Dinda mau balik.. tadinya malah mau di anter Syaif pulang tapi Dinda bilang mau naik umum pulangnya, tapi eh jangan mikir yang gak-gak, gua udah beli tiket dari jauh hari ya jadi jangan salah paham, ntar disangka gua ngikutin bini lo, dinda juga kesini naik taxi online gak sama gua" jelas Al


"lo gak mau makan?" tanya Vicky


"gak, gua minum aja makasih" jawab Al


"kalo gitu gak ada urusan lagi kan buat duduk disini, biar Dinda jadi tanggung jawab gua sekarang" seru Vicky


"sial... iya iya saya pergi, salam buat Dinda" Al berlalu meninggalkan meja


*beberapa menit kemudian


Vicky masih duduk dimeja makan tadi, ah.. aku harus apa, rasanya ingin mengambil tas kemudian lari darinya, tapi apa tidak kekanak-kanakan, rasanya masih sakit mengingat kejadian tadi, apa aku bersikap cuek saja ya


aku pun berlalu meninggalkan toilet dan mendekati meja makan, aku mengambil tasku dan bersiap pergi, tapi tanganku di tahan Vicky


"mau kemana?" tanyanya


"aku mau pulang" jawabku ketus tanpa memandanganya


"aa mau bicara, ada hal yang harus dijelaskan" seru Vicky


"gak bisa a, keretanya hampir datang" jawabku


"tiket kereta kamu udah aa buang, jadi kamu ikut aa pulang sekarang" ucapnya


membuat mataku membulat, apa yang dilakukannya, dibuang..? tiketku..?


"mmm lepasin a, kalau gitu aku mau beli tiket lagi" ucapku


tapi tanganku ditarik olehnya, membuatku tertarik dan menjatuhkan badanku pada dadanya, dia memelukku... erat..

__ADS_1


"aa minta maaf atas apa yang kamu lihat, dan aa akan menjelaskan apa yang harus kamu dengar" ucapnya berbisik di telingaku sambil memelukku


__ADS_2