
"sudah makannya? mau tambah?" ucap Dion seolah memberikan perhatian padaku.
"tidak" jawabku
"kalau gitu aku mau nanya lagi" ucapnya
"kamu itu lagi interogasi aku ya" tanyaku
hahaha di tertawa kecil, menampakan mata sipit yang mengecil saat dia tertawa.
"ya bisa dibilang begitulah... nda.. kamu bisa kenal Syaif dimana?"
"dikenalin teman"
"teman.? teman yang mana?" tanyanya
"teman kuliahku" jawab singkat ku
"memang aku seintrovert apa sampai punya teman aja dirasa aneh bagimu.?" sambungku
"gak nda... aku kira salah satu sahabatmu, terus gimana ceritanya sampai menikah?"
"ya jodoh mungkin"
"kalau jodoh ya harusnya gak cerai dong nda"
"nda kamu masih cinta gak sama si Syaif itu?"
"duh... Dion... kamu nanya apa sih, gak tau apa aku hampir mati gara-gara dia"
"kamu cinta banget berarti sama dia.?"
"gak, aku sedih aja.. ternyata aku gak seberguna itu buat laki-laki, semuanya berpaling dariku, Vicky juga sama dulu waktu pacaran"
"kamu trauma gak buat nikah lagi?"
hahaha kali ini aku bahkan tertawa geli mendengar pernyataan konyol Dion.
"aku gak benci sama pernikahan, tapi aku benci sama laki-laki, semuanya sama aja" ucapku lantang
"gak ko... pasti nanti akan ada, semuanya hidup berpasangan nda, termasuk kamu, mungkin sekarang jodoh kamu lagi ada didekat kamu, tapi kamu belum sadar dan dia juga belum sadar.. sabar... semuanya kan akan indah pada waktunya" ucapnya
"aku malas carinya, kalaupun iya ada, biarkan dia yang cari aku. Aku lelah menjadi Hawa yang selalu mencari Adam" jawabku
"kalau gitu kamu lebih baik menikah dengan orang disekitarmu, seperti kamu yang memilih clbk dengan Vicky, itu memang cocok buat seorang introvert sepertimu"
"siapa Syaif.?"
"mmm bisa jadi, tapi saya saranin ya orang yang kamu kenal aja, jangan orang yang baru kenal, biar kamu gak ngerasa asing dan harus dari awal lagi untuk mengenal baik buruknya dia"
"sudahlah Di... bahkan aku tidak berfikir sejauh ini, kehamilan ini saja sudah membuatku pusing"
"assalamualaikum" seru ibu mertuaku yang sudah kembali dari perburuan sarapannya.
Memaksa kami menghentikan sebuah obrolan yang isinya hanya percakapan yang kurasa bodoh untuk dibahas.
Ibuku terlihat kian akrab dengan Dion, bercengkrama dengan sebuah selipan candaan kecil disetiap obrolan nya.
Aku yang hanya memperhatikan mereka dengan sepotong donat ditanganku yang sedang kunikmati hanya ikut tersenyum tanpa terlibat percakapannya.
Aku memperhatikan ponselku yang sepi tak bernotif pesan maupun panggilan.
Tak seperti pagi yang biasanya diributkan oleh grup sahabatku.
Kenapa Ririn dan Anna memilih keluar dari grup. Siapa yang harus kutanyakan? apa aku harus tanya langsung pada mereka?.
Mengingat betapa kasarnya kalimat Ririn yang ia lontarkan padaku.
Buruk memang, tapi dia benar..
Aku memang beban bagi semuanya, bukan depresiku yang menjadikan masalah dari semuanya, justru Akulah yang jadi sumber masalah utama.
*Apa aku harus pergi.? meninggalkan semuanya, meninggalkan para sahabat ku.?
tuhan.... tolong buat aku menghilang...
***
__ADS_1
✓Halo..
✓Al...
✓gimana Di.?
✓its so hard Al
✓maksudnya.?
✓gimana lu sama Anna.?
✓udah pisah rumah gua, sesuai rencana lu.. malah ada masalah inti yang bisa dijadiin tameng gua, ternyata Anna ketemu Dimas di Rs kemarin
✓oh.... baguslah...
✓kenapa sih Di...? gak semangat banget, lu gimana, lancar gak rencana kita.?
✓rencana mah lancar, gua udah nyingkirin Ririn, Juna sama Raka.. dijamin lah mereka pasti bakal ninggalin Dinda, belum lagi Dinda yang berfikir ingin pergi ke Makassar untuk memulai hidup baru
✓Makasar.? bagus... nanti gua bakal sekolah disana agar lwbih dekat dengannya
✓Al...
✓iya.?
✓yakin lu mau cerein Anna dan balik lagi sama Dinda.?
✓yakin lah... gua udah muak banget sama Anna, dia benar-benar istri yang buruk Di... kalau dibandingin sama Dinda, beuhhh jauh banget
✓kalau lu bandingin terus emang jauh lah, minimal lu bersyukur aja dulu
✓lu belum tau aja jadi suaminya Anna
✓Al.. Dinda rapuh banget, kalau iya lu nanti balik sama Dinda, jangan sekali-kali bikin Dinda stres, udah cukup pengkhianatan yang dia rasakan selama ini. Mencintainya gak cukup Al, kamu punya tanggung jawab lebih untuk mental Dinda..
✓gak Di... gua gak bakal khianati Dinda lagi..
✓gua serius Al
✓ya gua juga serius... terus lanjutin rencana kita, lu gak usah mikir macem-macem,
✓apaan sih Di... kan lu yang bilang kalau Dinda harus punya pegangan hidup kembali
✓iya.. tapi gak mesti kamu
✓maksudnya.?
✓kamu udah punya istri
✓kan mau gua cerein
✓nanti Anna akan jadi masalah buat Dinda
✓gak akan... kita akan hidup di Makassar
✓fikiran Dinda akan tetap tertinggal disini, hidupnya tak akan tenang
✓maksud lu ngomong gitu apaan sih.?
✓bagaimana jika gua aja yang dampingin Dinda.?
✓apa*.?!!!!
***
Matahari pagi menyilaukan Juna dari jendela apartemen nya yang tak ditutup oleh Juna, memaksa membuka mata Juna untuk terbangun.
Juna terduduk di ranjangnya yang besar, meregangkan otot tubuhnya yang kaku.
mengambil ponselnya lalu membaca pesanku di grup.
"Apa-apaan ini.. kenapa Anna dan Ririn left saat Dinda kirim pesan, brengsek...!!!" ucap kesal Juna
(Juna)
hei Din.. gua dah di rumah, how do feel now.? semuanya baik-baik saja kan.?
__ADS_1
Sebuah pesan dikirimkan sebagai balasan pesanku di grup chat.
(Al)
Aku bahkan sudah di Rs, kamu cepat pulih ya. nda.. berkabar jika sudah waktunya kamu pulang ke Cirebon
Sebuah pesan dari Al menyusul balasan Juna dibawahnya.
(Juna)
gua masih di Jakarta biarin Dinda pulang sama gua aja.. nanti siang gua ke Rs ya nda. mau dibawain apa.?
Membaca pesan Juna membuat Al kesal
"sial.... apa sih yang dikatakan Dion sampai Juna tidak berubah fikiran untuk menjauhi Dinda, Brengsek...!!!" ucap Al kesal meremas tumpukan kertas di atas meja kerjanya.
Tok..tok.. tok.. sura pintu ruangan kerja Al berbunyi
"masuk" ucap Al
"permisi dok, ada panggilan dari direktur.. beliau menghimbau untuk dokter datang keruangannya" ucap perawat
"oh ya..? tumben... baik saya akan kesana sekarang" ucap Al bergegas
***
"good morning" sapa Mayang saat pintu kamar terbuka
"Are you alright.? Mayang mengikuti langkah Juna dibelakangnya mengekor
Juna tak menghiraukannya, Juna terus berjalan menuju meja makan dan mengambil sebuah minuman.
"Sit down, I want to have a serious talk with you!" (duduk, saya mau bicara serius denganmu) ucap Juna tegas
"if you want to discuss Dinda, you better go" (kalau kamu mau bahas Dinda, kamu lebih baik pergi) ucap Mayang meninggikan suaranya
"ok...if you want that.... kalau kamu gak mau bahas Dinda, kita bahas tentang kita sekarang!! Dengarkan aku baik-baik....
you are a bad wife.!!!
kamu tidak pernah memperdulikanku, memperhatikanku bahkan mencintaiku"
"what..? wait..!!"
"no...listen to me..!!!
Rumah tangga itu bukan hanya tentang bagaimana kita berbagi kasur, rumah tangga adalah bagaimana kita menemukan kebahagiaan bersama"
"but we have agreed to have a long distance relationship right?.?" (tapi kita udah sepakat untuk LDR kan)
"yes...
tapi lihatlah kita... kamu bahagia dengan duniamu tanpa melibatkan aku, dan akupun bahagia dengan kesendirianku tanpa kamu."
"so.?"
"mari kita bercerai saja..!!"
"WHAT...!!!!!
kamu gila Juna...!! bagaimana dengan anak kita, bagaimana dengan aku?"
"kau kan sudah bahagia, berikan anakku padaku"
"never..!!"
"bagaimana caramu membesarkannya? dengan cara seperti ini? membiarkannya melihatmu berpesta minuman keras dan narkoba dengan pasangan lawan jenis... No... gua gak akan biarkan itu..! anakku perempuan, jangan kamu rusak masa depannya..!!!"
"dia masih dibawah umur.. dan aku berhak atasnya, and you know that"
"aku akan memberikan apartemen ini padamu"
hahaha "no... I want all your property if you still want a divorce from me ..! (aku ingin semua harta kamu kalau kamu tetap ingin bercerai dariku)
"gak semudah itu Mayang, kamu pikir aku bodoh..!! selamat bertemu dipengadilan Mayang" ucap Juna berlalu meninggalkan Mayang.
Mayang mengejarnya, mencoba menahan Juna pergi, tapi Juna tak bergeming.
__ADS_1
Tenaganya lebih kuat dibandingkan wanita dengan kesadaran ya g belum pulih sepunuhnya.
"NO...!!!! JUNA...!!!!! NO...!!!"