Kisah Jandaku

Kisah Jandaku
part 39


__ADS_3

"terimakasih telah menjadi narasumber kami dok, hati-hati dijalan dan salam untuk keluarga" ucap salah satu staf klinik


"sama-sama" mengulurkan tangan untuk bersalaman


Al sedang berada di klinik untuk menjadi salah satu narasumber sebuah seminar yang di adakan di klinik tersebut, ketika berjalan keluar Al melihat Syaif duduk di bagian pendaftaran administrasi UGD klinik tersebut.


"syaif..? sepertinya benar itu syaif, dia ngapain disini.." ucap Al dalam hati dan kemudian melangkah maju untuk menghampirinya


belum sampai di meja pendaftaran syaif sudah berlalu tanpa melihat Al.


"harusnya jangan dibawa kesini dong, harusnya langsung ke rumah sakit jiwa aja ya hahaha meresahkan sekali pasien seperti ini" ucap staf klinik berbisik dengan rekannya


Al mendengarnya, dengan aksesnya sebagai seorang dokter langsung menanyainya tanpa ragu.


"permisi, orang yang barusan kenapa?" tanya Al penasaran karena melihat syaif yang panik


"oh itu dok nganter istrinya" jawab nya


"istrinya..? " Al yang kaget karena mengetahui bahwa Syaif sudah bercerai dengan dewi


"dengan apa?" tanya Al penasaran


"suspek kejiwaan kayanya dok, saya juga gak paham, datang udah panik gitu, yg dikonsultasikan juga dr.gilang spesialis kejiwaan, dan lagi dijalan dok, sebentar lagi sampai" jelas sang suster


"kejiwaan? panik?...." Al berfikir ...


"siapa nama pasiennya?"


"mmmm atas nama nyonya Dinda Lestari dok"


Al yang mendengarnya langsung berlari ke arah ruang UGD


Didapatinya seorang yang ia cintai, Dinda..


Dinda yang sedang terbaring tertidur di kasur observasi yang di temani Syaif yang duduk di sisi tempat tidur Dinda..


Al mendekati tempat tidur Dinda, kini Al dan Syaif saling menatap tapi tidak saling menyapa,


"suster.... suster..." Al berteriak memanggil


"iya dok, ada yang bisa di bantu" jawab salah satu perawat klinik


"saya mau tau hasil keadaan pasien atas nama Dinda dan observasi nya, cepat" Al tegas


"baik dok sebentar" Suster berlari mengambil dokumen di meja perawat


"Atas nama Nyonya Dinda dok, pasien mengalami serangan panik dok, dengan keluhan pusing sesak dan jantung berdebar, tapi hasil pemeriksaan tekanan darah normal dok, detak jantung serta pernafasannya pun stabil, therapy yang sudah diberikan dokter UGD frans adalah penenang dok sekitar 15 menit yang lalu, itupun atas saran dokter pribadi nyonya Dinda yang dikonsultasikan dr.frans via telpon dari suami nyonya dinda, sekarang keadaan pasien sudah mulai tenang dan dapat beristirahat seperti sekarang" ucap suster menjelaskan


"panggil dr.frans kesini, bilang saya mau bicara" perintah Al tegas


"baik dok" suster pun berlalu


"belum cukupkah kamu membuatnya menderita?" Al setengah berteriak kepada Syaif

__ADS_1


Syaif yang sedari tadi menatap Al, kini membuang pandangannya menatap Dinda yang terbaring lemas


"selamat sore dokter Al" ucap Dokter UGD


"bagaimana dengan pasien ini?" ucap Al to do point


"pasien panik dok, saya sudah berkolaborasi dengan psikiater nyonya Dinda di Cirebon, saya diberitahu tentang riwayat medisnya dan saran pemberian obat, tadi sih pasien tidak setenang ini dok, setelah kita berikan penenang barulah pasien dapat beristirahat" jelas dr.frans


"kenapa dia bisa kambuh" Tanya Al


"kami belum menganalisanya dok, karena pasien belum dapat di anamnesa"


"kenapa kamu tidak menanyainya" ucap Al memandang ke arah Syaif


"beliau tidak tahu dok, karena beliau hanya mengantarnya saja" ucap dokter frans


Al terdiam, mencoba memahami kejadian ini dan Syaif pun tetap pada kebisuannya


"baik terimakasih dok, silahkan melanjutkan pekerjaan lainnya" ucap Al


"sama-sama dok, saya permisi"


"hah...baiklah... tolong beritahu saya apa yang anda ketahui tentang ini, dan bagaimana Dinda bisa bersama anda?" tanya Al penasaran dengan kedua tangannya yang berada di pinggang


"apa hak anda untuk mengetahui segala hal tentang Dinda, anda bukan siapa-siapanya Dinda" jawab Syaif tegas tanpa mengalihkan pandangannya dari Dinda


Al yang kesal mendengar jawaban Syaif tidak bisa membalas pernyataan Syaif.


"nda... bangun nda.. Dinda... Dinda Lestari.. ayu bangun, aku disini sadarlah" ucap Al halus di dekat telinga Dinda


Dinda yang mendengar suara Al terbangun dari tidurnya, memegang kepalanya dan mencoba untuk duduk yang di bantu oleh Al, Syaif yang tadinya duduk kemudian berdiri dengan niat membantu dinda, tetapi sudah didahului oleh Al.


"ahh... kepalaku sakit sekali"


"kepala? masih pusing yah, aku ambil minum dulu yah" ucap Al yang kini duduk di sisi tempat tidur menyapu pandangannya mencari segelas air, tetapi air tersebut sudah di tangan Syaif, dan Syaif pun siap untuk memberikannya pada dinda.


"diminum dulu mah" ucap Syaif menyodorkan sebuah gelas dan merangkul pundak Dinda.


Al yang terdiam hanya menatap kejadian yang tidak menyenangkan hatinya ini dan bernapas panjang menyaksikannya.


"Al kamu ko bisa disini?" tanyaku


"aku lagi ada seminar, kamu ngapain di jakarta, kenapa bisa sama dia?" tanya Al penasaran


"aku... tadi aku lari dan gak sengaja nabrak Syaif"


"kamu ngapain lari-lari sih?" tanya Al


"aku... tadi.. mmm.. aku.."


"bisa gak, kalau gk bikin dinda pusing dengan menjawab pertanyaan gak jelas kamu?" ucap Syaif tegas


"kamu gimana mah, apa yang dirasa? apa yang sakit?" tanya Syaif

__ADS_1


"aku gak apa-apa kok, makasih ya udah bawa aku kesini"


"selamat sore, eh ada dr.Al, senang bertemu dengan anda dok" sapa drgilang, dokter spesialis kejiwaan klinik tersebut


"sore dok, sama-sama saya juga senang bertemu senior seperti anda" jawab Al menjabat tangan dr.gilang


"ini pasien atas nama nyonya Dinda?" tanya dr.gilang


"iya dok kebetulan kerabat saya" jawab Al


"ahh.. kebetulan, sekarang keadaannya sudah baik dan sudah stabil, saya sudah meresepkan obat untuk nyonya minum, dan oh iya untuk suami nyonya Dinda tolong jaga baik-baik ya jangan bikin nyonya Dinda banyak pikiran. kalau sudah dirasa enakan nyonya Dinda bisa pulang" ucap dr.gilang


"tapi dia bukan siaminya dok" ucap Al dengan tangan di dahinya


"oh.. maaf kalau gitu" dr.gilang merasa canggung


"baik dok terimakasih" jawab Al


"yasudah saya ke yang lain dulu ya dok, mari" ucap dr.gilang


"aku udah gak apa-apa ko, aku mau pulang saja.. ah ini jam berapa?" tanyaku panik


"jam 7 mah" jawab Syaif


"astagaaa jam 7"


bagaimana dengan rombonganku.. ahh tidak..


dimana ponselku, aku harus menelfon rekan kantor ku


✓ halo... kamu dimana?... apa,.. kalian ninggalin aku?.. ahh iya sih... yaudah yaudah aku nanti balik sendiri aja.. maaf ya sempet bikin kalian nunggu.. iya hati-hatilah..


"karena mereka taunya aku ketemu sama Vicky jadi mereka kira aku akan menginap di sini dan pulang bersama Vicky.. hahh masuk logika sih pemikiran mereka, sekarang aku benar-benar harus pulang sendirian" keluh Dinda


"biar papah anterin ya mah" tanya Syaif


"apaan sih.. udah gila ya, dari pada sama kamu mending sama saya, karna saya memang mau pulang dan arah kita sama" jawab Al ketus


"kamu bukan siapa-siapa nya Dinda" jawab Syaif sinis


"emang kamu siapa? gak tau diri... hah Dinda.. kenapa kamu gak telfon Vicky aja sih?" ucap Al


"mm tadi udah sempat ketemu sama Vicky cuma dia sibuk, aku gak enak kalau ganggu dia, gak apa-apa kok aku naik umum aja" jawabku


"yaudah kalau gitu papah antar mamah ke stasiun yah" ucap Syaif


"hei yaa yaaa... bisa-bisanya mencuri kesempatan, Vicky akan marah kalau tau kamu bawa Dinda" ucap Al setengah berteriak


"terus apa bedanya dengan anda?" jawab Syaif sstengah berteriak juga


"sudah-sudah, kalian ini bisa gak sih gak bikin keributan di sini" ucap diriku melerai


"kalau gitu kamu pilih, mau aku yang antar atau orang yang udah pernah bikin kamu depresi ini yang antar kamu din?" tanya Al

__ADS_1


__ADS_2