Kisah Jandaku

Kisah Jandaku
Part 86


__ADS_3

Mengalami peristiwa hidup yang traumatis membuat sebuah cerita kehidupanku semakin rumit, aku membebankan semua orang disekelilingku. Menjadikan diriku objek bongkahan es yang tak boleh rapuh dan mencair.


"harusnya aku yang pergi ya ka, bukan Vicky.. kalau Vicky yang hidup, dia akan bahagia bersama orang tuanya, menikah kembali dan berbahagia dengan anak-anaknya, lihatlah saat aku yang hidup, aku hanya beban yang teramat sangat bagi orang-orang disekelilingku bahkan kepada anakku yang belum lahir" ucapku pada Raka yang tak dibalas dengan satupun kalimat darinya


Kedua mertuaku masuk kembali keruanganku dan tetap bersama Dion yang menemaninya.


Tampak raut wajah yang berbeda dibandingkan saat mereka masuk keruanganku pertama kalinya, menyambut kehamilanku dengan penuh kegembiraan.


Kali ini, senyuman mereka terlihat berat memaksa.


"sayang.. coba tanyakan cucu mamah, dia mau makan apa.? atau mau apa.?" tanya ibu mertuaku


"gak mah, Dinda mau tidur saja ini sudah malam.. dan Ka.. Di.. kalian pulang saja, disinikan sudah ada mamah dan papah" ucapku menyuruh mereka pergi


"kamu gak apa-apa kita tinggal?" tanya Raka


"gak apa-apa... lagian jam besuk sudah berakhir.. tolong akhiri tugasmu sampai disini ka, biarkan aku sendiri disini. Aku baik-baik saja, dan terimakasih untuk segalanya" ucapku


"om.. tante.. kita pamit ya" ucap Raka


"terimakasih atas segalanya, kamu memang anak yang baik Ka, lamaran Vicky di Bali, honeymoon di NTT, kecelakaan Vicky, pemakaman Vicky, sampai kebahagiaan Dinda sampai saat ini pun semuanya kamu yang urus, semoga rezeky kamu lancar, dimudahkan segala keinginan dan segala urusan hidupmu didunia maupun di akhirat kelak. Salam untuk keluargamu, panjang jodoh dan sehat-sehat semuanya ya Ka" ucap ayah mertuaku


Raka... sosok sahabatku yang tak pernah lelah menemaniku, tak pernah pamrih dan tak pernah mengeluh.


Ini bukan karena aku, Raka memang baik kepada semua orang.


Saat usaha Juna jatuh, Rakalah yang merangkul Juna hingga Juna sukses seperti sekarang.


Saat kami kehilangan sosok Al yang memilih menjauhi kami saat bersama Hesty, Rakalah yang berjuang untuk tetap dapat berkomunikasi dengan Al hanya untuk mengetahui kabarnya.


Pada saat usaha suami Ririn jatuh, Raka pula yang membantu menanamkan modalnya pada Dadang.


Dan pada saat ibu Anna sakit keras, Raka lah yang berdiri digaris depan mengurusi segala asuransinya hingga ibu Anna sembuh total.


Raka tidak pernah berkata apapun, bahkan mengucapkan bahwa dia menyayangi kamipun tidak pernah dia sampaikan.


Tapi perlakuan hangatnya kepada kami sudah cukup membuktikan bahwa bukan hanya sayang, tapi dia mencintai kami.


Dari perlakuan besarnya hingga perlakuan kecilnya seperti memberikan minuman pada aku dan Vicky saat duduk dipelaminan yang sibuk melayani para tamu.

__ADS_1


"minum dulu, nanti kalian sakit" ucapnya kala itu padaku dan Vicky


Dan dengan adanya kejadian ini..


Aku tau bahwa hati Raka hancur, Raka telah dibunuh oleh ekspetasi nya sendiri.


Yang mengharapkan para sahabatnya berlaku tulus seperti dirinya.


Kejadian ini sukses mematahkan hatinya.


Entah apa yang terjadi kedepannya pada persahabatan kami.


Karena sebenarnya peran utama dipersahabatan kami adalah Raka.


***


"gak usah pesen ojol, gua aja yang antar" ucap Dion mengetahui bahwa mobil Raka dipakai Al dan Anna ke Cirebon


"gak apa-apa?" tanya Raka memastikan


"lu sudah cukup lelah memikirkan orang lain dan melupakan dirimu sendiri, jangan selalu bertanya seperti itu, semuanya akan baik-baik saja Ka, berhentilah khawatir bahwa orang disekitarmu merasa tidak nyaman" ucap Dion


"yaudah, yukk ... sekalian ada yang mau gua omongin, mungkin kita berhenti di salah satu kafe dulu nanti"


"tentang apa?"


"Dinda"


***


Disebuah kafe dengan keramaian para muda-mudi yang berkumpul menikmati secangkir kopi dan ditemani iringan band, duduk Dion dan Raka disudut kafe outdoor dengan pemandangan jalanan ibukota yang ramai.


"mau ngomongin apa tentang Dinda?" tanya Raka langsung tanpa basa-basi


"kehamilannya memanglah kado terbaik bagi orangtua Vicky, tapi baginya ini adalah awal kejiwaannya akan terganggu" ucap Dion membuat Raka berfikir keras


"maksud lu apa?" tanya Raka menegangkan kedua alisnya menunggu jawaban Dion


"Dinda sudah mulai berhalusinasi, dan juga merasa bersalah atas kematian Vicky hingga dia ingin memberikan anaknya. ini juga dipacu karena rasa takut tidak bisa mengurusi anaknya sendirian. Ka.. dia baru tau kehamilannya belum 24 jam tapi sudah menunjukkan gejala depresi, coba bayangkan bagaimana 9 bulan kedepannya" ucap Dion mejelaskan yang disimak dengan baik oleh Raka yang mendengarkan tanpa memotong ucapannya

__ADS_1


"belum ditambah saat melahirkan... saat anaknya belum lahir saja dia menunjukkan hal bahwa dia tidak menerimanya apalagi saat anak itu hadir Ka, baby blues akan berkolaborasi dengan depresinya kelak" jelas Dion


"lalu apa yang akan terjadi?" tanya penasaran Raka


"dia akan mengalami gangguan jiwa.!"


BBRAAAKKK.....!!!!!!! Meja kafe di gebrak keras oleh Raka


"hati-hati dalam berbicara ya, jangan karena anda seorang dokter jadi bisa seenaknya, Dinda punya psikiater, kami akan membawanya kesana" ucap Raka menunjuk wajah Dion


"kami..? siapa? para sahabat Dinda.? para sahabat yang bukannya membahagiakan Dinda tapi malah membuat luka baru dihati Dinda"


"apa.?"


"tidakkah kalian berfikir sejauh itu... masalah Dinda semakin rumit sejak kalian hadir, seharusnya kalian hanya bertemu di reuni saja tidak usah lanjut bertemu lagi"


"Dinda.. ditakdirkan untuk bertemu Vicky di reuni itu, tapi kalian mendominasi pertemuan mereka"


"tapi kita juga yang menyatukan mereka di Bali"


"mereka akan tetap bersatu, jika tidak ada Al yang melamar Dinda, tidak ada pertengkaran Al dan Anna yang mengkibatkan Vicky mengalami kecelakaan"


"itu takdir Di.. kamu gak berhak menyalahkan orang atas kematian seseorang"


"saya yakin kamu tau Juna menyukai Dinda, semua orang tau meski hanya melihat tatapan mata Juna pada Dinda, tapi kamu... memilih menutup mata dan telingamu selagi keadaan dirasa masih baik-baik saja bagimu, karena itulah kamu berani meninggalkan Dinda di ruko Juna yang mengakibatkan istrinya salah paham, dan saat kejadiannya jadi seperti ini. Kamu baru memaki Juna yang menyukai Dinda, padahal kamu dapat mencegahnya di awal"


"kamu juga paham kalau persahabatan kalian memang tidak sehat sejak Anna mulai cemburu pada Dinda, dan Ririn yang menasehati Juna dan Al tentang rumah tangga mereka saat di rumah Dinda"


"dari mana lu tau segala hal itu.?" tanya Raka


"gak penting gua tau dari mana.. yang penting adalah lu jangan egois, jangan merasa bahwa semuanya akan baik-baik saja, kalau lu gak mampu, lu masih punya waktu sekarang"


"maksudnya"


"untuk berhenti mencoba membahagiakan Dinda, tinggalin Dinda dan biarkan Dinda menemukan kebahagiaannya sendiri. Dinda lebih baik menderita karena ditinggalkan oleh kalian dibandingkan menderita karena masalah yang akan timbul jika kalian tetap disisinya"


****


"

__ADS_1


__ADS_2