
*30 menit kemudian
Dinda mengalami shock berat, dia menangis histeris dalam ruang perawatan. Tidak ada yang bisa menahan Dinda, sehingga Dindapun diberikan obat penenang melalui suntikan.
"gimana keadaan Dinda dok?" ucap Al kepada dokter lala (psikiater Dinda) yang kebetulan bekerja di rumah sakit tersebut.
"baik... sudah jauh lebih tenang, saya sudah berbicara dengannya, tolong beri dia sedikit waktu untuk istirahat, agar dia dapat menerima segala keadaan ini" jelas dr.lala
"baik dok.. terimakasih telah mampir"
"sama-sama dokter Al, saya gak nyangka teman Dinda adalah dokter Al.. senang bisa bertemu dengan dokter" ucap dr.lala
"ah...rupanya dia membicarakan ku pada konsultasinya bersama anda ya?"
"tidak banyak, hanya saja saya paham.... kematian Vicky benar-benar membuat Dinda terpuruk, melihat perkembangan yang sudah dicapainya sekarang, saya takut hal buruk terjadi padanya, maka dari itu tolong beritahu perkembangan Dinda padaku dok, atau tolong motivasi Dinda agar datang ke kantorku" jelas dr.lala
"baik dok... saya akan bujuk dia untuk datang menemui dokter"
"baik saya permisi dr.Al , sampai jumpa" ucap dr.lala berlalu.
"om tante.. sebaiknya pulanglah saja untuk beristirahat, biar Dinda kami yang temani" ucap Juna menawarkan diri pada orang tua Vicky
"orang tua Dinda sedang dalam perjalanan kesini, pesawatnya akan berangkat dari makasar 1 jam lagi, mungkin sore ini sudah sampai, kami titip Dinda ya nak, nanti malam om kesini untuk bertemu orang tua Dinda" ucap ayah Vicky
"baik om hati-hati di jalan ya" ucap Juna dan Al
Orang tua Vicky pun meninggalkan rumah sakit, mereka tidak berpamitan denganku terlebih dulu, karena mendengarkan instruksi dari dr.lala
"lu kenapa gak bilang dulu sih kalau mau rahasiakan kematian Vicky ma Dinda" ucap Al memukul bahu Juna
"lu nya aja yang main ceplas-ceplos "
"ya mana gua tau kalo Dinda belum tau"
"kalau dia udah tau, dia gak bakal setenang tadi, hahhh .... dah dah.. gak beres emang, terus lu gimana sama Anna?"
__ADS_1
"bingung gua, Anna benar-benar berengs** "
"jaga ucapanmu...!"
"lu masih bela aja, harusnya emang lu yang nikahin Anna bukan gua, nyesel gua jadinya begini, lu sih maksa gua nikahin tuh anak, jadi begini kan gua"
"ya sorry... gua juga gak nyangka Anna bisa gitu, oke gua salah, Anna juga salah, Gua pribadi dan juga mewakili Anna minta maaf sama lu, tolong lu jangan besarin masalah ini yah please.. gimana pun Anna sahabat kita, dan juga istri lu"
"ya tuhan jun... lu tuh nyaris ada di posisi gua, coba lu bayangin jadi gua... gila aja sih jun, kalo sekedar komunikasi sih fine, tapi ini mereka tidur di belakang gua, masa gua diem aja, apa kata keluarga gua Jun, dan apa kata anak gua?"
"iya gua paham.... tapi ada satu hal yang harus lu inget, Menikah itu nasib, Cinta itu takdir, Lu bisa nikah sama siapa aja yang lu pilih, tapi cinta gak akan bisa lu kendaliin, sekeras apapun lu menerima pernikahan, hati lu tetep tertuju pada satu nama, Anna masih cinta sama Dimas, dan gua juga yakin lu masih cinta sama Dinda kan?"
"tapi gua gak selingkuh sama Dinda..!!!!"
"suami istri itu cerminan, apa yang lu lakuin itu juga yang bakal dilakuin istri lu, perihal lu gak selingkuh tapi Anna selingkuh itu hanya endingnya, awalnya kalian sama saja, sama-sama masih memikirkan orang lain meski sudah menikah"
"tapi jun... lihat keadaan gua sekarang? gua ditusuk jun, itu udah tindakan kriminal, gua gak bisa tinggal diem"
"bukannya kamu juga mukulin Anna ya? itu juga tindakan kriminal..!!"
"kenapa lu malah jadi ngancem gua sih...!!!"
"terus dimana mereka sekarang, bukannya mereka hutang maaf padaku"
"gua yang nyaranin buat mereka gak nemuin lu dulu, gua mau kalian ketemu saat kalian udah meredakan emosi kalian"
"jadi mereka berduaan gitu sekarang???? sedangkan gua sendiri gitu??"
"Anna dirumah Ririn, Dimas gua gak tau, mungkin balik ke Jakarta, tenangkanlah saja dulu pikiranmu Al"
"juna....!!" teriak Raka berlari Hosss hosss... "giamana... hoss hosss... Dinda... hoss hoss... gimana?"
"deuhh... duduk ka, ngapain pake lari-larian sih?" Juna menyodorkan botol air mineral untuk diminum Raka
"gua tadi denger kabar kalo Dinda udah tau Vicky meninggal?" tanya Raka
__ADS_1
"yaitu tuh... temen baek lu... " ucap Juna melirik Al
"iyaa maaf... gua gak tau rencana kalian" ucap Al
"yaudah lah mau gimana lagi, toh nantinya juga dia bakal tau.. BTW thanks ya udah sigap kasih kita info tentang kecelakaan mereka" ucap Raka
"iya sama-sama..." ucap Al mengacungkan jempol
"pemakamannya udah beres?" tanya Juna
"Aman... dah kelar semua, dah gua urus juga buat tahlilannya selama 7 hari kedepan, jadi orang tua Vicky tinggal jalaninnya aja, segala persiapannya dah ada yang urus" ucap Raka yang masih menata nafasnya
"baguslah... gak nyangka gua, perkataan Vicky di rumah makan seafood yang bilang buat nitip Dinda sama kita bakal kaya gini" ucap Juna sambil menatap kaca kecil di pintu yang transparan hingga terlihat tubuh Dinda yang sedang berbaring
"iya... ternyata bukan hanya sekedar instruksi buat kita, tapi itu permintaan terakhirnya buat kita Jun" ucap Raka yang kini bangkit dari duduknya ikut menatap pintu ruang perawatan
"hhhmmm.." Juna mengehela nafas panjang "baiklah kalau gitu, mari kita jaga Dinda, apapun yang terjadi kita harus ada disisinya" ucap Juna yakin
"bener Jun.. gua bakal ngajuin pindah devisi buat balik ke Cirebon, Lu jadi kan buka cabang bisnis lu di Cirebon?"
"jadi... malah untuk saat ini gua udah mutusin kalo gua gak buka bisnis cabang gua di Cirebon, tapi gua mau mindahin kantor pusat bisnis gua yang ada di Wonosobo ke sini, dengan itu gua bisa ada di sisi Dinda" ucap Juna
"kita akan jaga Dinda mulai sekarang" ucap Al
Juna dan Raka kompak memalingkan wajahnya menatap Al
"hah... yang bener aja, belum apa-apa lu udah bikin masalah sekarang, urus aja dulu urusan lu sama Anna, kalo dah kelar baru lu bisa fokus" ucap Raka kesal
"iya..." jawab Al
(Dinda... bertahanlah, aku berjanji pada diriku, bahwa aku akan selalu berada di sisimu) ucap Al dalam hatinya
Saat di tempat makan seafood Vicky mengulang kata menitipkan aku pada Juna dan Raka memang membuatku sedikit protes padanya saat itu. Aku berfikir bahwa kekanak-kanakan sekali perkataan Vicky kala itu, aku tidak menyangka bahwa itu merupakan sebuah pesan terakhirnya.
Saat pamitan bersama orang tua Vicky, ia berkata untuk jangan sedih jika Vicky pergi dan harus bahagia. Vicky berkata "nanti juga dinda kabarin kalau ada apa-apa" aku ingat kata-kata itu, seakan dia tau, bahwa ia tidak akan berkomunikasi lagi dengan orang tuanya.
__ADS_1
Diperjalananpun dia berkata bahwa aku harus bahagia dengan melakukan hal yang aku mau. Aku harus mandiri dan gak boleh bersedih...
Tuhan..... kenapa aku tidak menyadari semua itu...