Kisah Jandaku

Kisah Jandaku
Part 68


__ADS_3

"kamu tau rasanya membunuh diri sendiri tanpa harus mati?" ucap Nabil, aku menggeleng kan kepalaku tanda tak mengerti


"saat kamu diam-diam mencintai seseorang yang tidak pernah cinta sama kamu"


"wah..." aku tersenyum takjub.


Nabil pintar sekali dalam memainkan kata-kata "dari pada kamu ambil pendidikan akuntansi lebih baik kamu ambil sastra tau, itu lebih cocok sama kamu" ucapku


"hahaha.. kamu gimana aku terus yang cerita, ya... meski aku udah tau semua dari Raka sih, tapi tetap aja rasanya lebih enak dengar cerita langsung dari narasumbernya" ucapnya menggeser posisi duduknya menghadapku menunggu jawaban


"kalau udah tau baguslah, gak usah cerita lagi.. gimana kalau jawab pertanyaan kamu aja?" tawaranku pada Nabil


"ah.. baiklah.. dibanding Syaif aku lebih tertarik ke Vicky sih, gak apa-apa kan?"


"wah... kamu sampai hapal namanya ya",


"hehe.. kisahmu bagus, aku harus buat jadi Novel kalau kamu mau"


"berhentilah membual dan cepatlah bertanya?"


"gimana caranya kamu bisa ketemu lagi sama Vicky dan langsung mantap untuk memutuskan menikah dengannya, sedangkan yang ku tau bahwa Move on yang terbaik adalah menemukan cinta yang lebih besar dari sebelumnya, apakah cinta pertamamu memang begitu besar?" tanya jelas Nabil membulatkan pandangannya


"Dulu aku sama dia masih bocah, masalah besar bisa dilewatin masalah kecil malah di bikin putus dari cinta pertamaku..


Sialnya pas dewasa baru tau kalau aku juga cinta pertamanya..tapi fix gak bisa bersama karena masing-masing udah punya pasangan, aku kira kisahnya berhenti, tapi yang lebih menyakitkan adalah ternyata selama ini kita saling nunggu tapi gak tau sama sekali, sampai akhirnya aku nikah sama Syaif... dan saat bercerai kita dipertemukan lagi di acara reuni, jadi kaya lebih menggali dan mengulang perasaan yang terpendam aja sih, mangkanya proses keputusan buat nikah laginya cepat" jelasku


"wah.. berat kalau gitu"


"apanya?"


"move on dari Vicky" ucapnya menyenderkan tubuhnya, aku tersenyum melihatnya


"tapi ya gitu, ternyata dia hanya hadir padaku bukan takdir untukku... pada akhirnya kita gak bisa bersama juga, bahkan kini selamanya"


"ketika cinta udah dikalahkan sama takdir yakin aja nda itu jalan yang lebih baik, yakin aja dulu.. jalaninnya nanti" ucap senyum Nabil


"iya iya penyair" ucapku


"enak ya jadi kamu, punya segudang pengalaman. jadi bisa menempatkan emosi meski aku tau luka kamu belum sembuh" ucapnya memandangku. Aku hanya tersenyum


"tuh kan.. lihat senyumanmu.. bisa-bisanya tercipta di masa-masa berkabung mu, aku salut padamu. Pertahankan, jangan mau kalah sama keadaan" ucapnya membuatku berfikir sejenak.


"siapa dia, bisa sepaham itu atas perasaan seseorang" ucapku dalam hati.


Aku memang tidak yakin bisa move on dari Vicky, kehilangannya memang masih menimbulkan luka dihatiku yang masih basah, tapi juga memaksakan diriku untuk tidak terbawa suasana berkabung ku. karena aku mengingat setiap kata yang dia ucapkan di hari itu, bahwa aku tak boleh bersedih dan harus bahagia walau tanpanya

__ADS_1


**


"Dinda sama Nabil cepat akrab juga ya" ucap Ririn yang sedang menikmati bungkusan snack ditangannya


"mungkin pribadi Nabil emang humble jadi asik aja gitu jadi teman ngobrol" jawab Anna


"semoga ada titik terang buat kisah Dinda"


"Amin.. biar cepat nikah dan hidup bahagia lagi" jawab Anna


"Dinda mana?" tanya Juna


"lagi sama Nabil, diem kamu jangan kemana-mana" ucap Ririn mencurigai Juna ingin merusak percakapan antara aku dan Nabil


"ishhh... ka.." sapa Juna "sini.." memanggil Raka yang tengah ngobrol dengan Al dan Mas Dadang


"apa?"


"itu si Nabil aman?"


"aman lah... lu kira gua sembarangan nyari orang"


"kok perasaan gua gak enak ya" ucap Juna menatap ku dan Nabil yang sedang tertawa


"Juna cemburu ya.... dih... Juna..." ledek Anna


"soalnya dia nyangkanya gua suka Dinda"


"tapi emang bener kan Jun, keliatan tau" jawab Anna


"Juna..?" bentak Raka


"kaga ka.. kaga... ya kali gua selingkuh, gak mungkin dong ah" jawab Juna


"pala lu Jun.. Jun.." seru Ririn yang tak percaya atas jawaban Juna


"kita disuruh jagain sama Vicky Jun bukannya miliki" ucap tegas Raka mengingatkan


"dih.. iya ka.. paham gua.. aman.. apaan si" jawab Juna kesal, dan menoleh kearahku dan Nabil duduk.


"itu si Nabil bukannya keliatan kaya om om gak sih" Ucap Anna memandang Nabil


"iya.. berapa umurnya ka?" Tanya Ririn


"36 tahun.. masih muda lah gak tua-tua banget, kategori dewasa lah" Jawab Raka mengambil Snack di tangan Ririn

__ADS_1


"ih tua Raka... lu gimana sih" Seru Juna kesal


"gak ah, pas kok.. beda 8 taun doang, itu yang namanya mapan dulu baru nikah tau.. lagian kan walaupun tua tapi masih bujangan" Jawab Anna


"tapi gak jamin dia perjaka dong" jawan Juna


"dih.. emangnya dia kamu, nikah hamil duluan..!" jawab Anna


"ngaca na, kamu juga gak perawan nikah sama Al"


"ih... Juna nyebelin..!" jawab Anna kesal


"udah udah berisik ..!!" ucap Ririn merelai


**


"Raka mana villa nya?" tanya Anna


"disini gak ada Villa adanya home stay..oh iya Al sama Anna Home Stay kalian di sebelah kiri ya .... oke gaes happy weekend" Raka berteriak memasuki rumah panggung di pesisir pantai pulau tidung ini.



Anna dan Al memilih untuk terpisah dari kami, karena saat ini mereka adalah pasangan yang lagi dimabuk cinta. liburan ini dijadikan mereka sebagai masa honeymoon yang ke dua.


"eh, itu jembatan cinta namanya, kalian bisa ngelewatinnya bersamaan. Mitosnya pasangan yang berjalan bersamaan bakal langgeng" ucap Nabil menunjuk jembatan, kamipun berbalik menghadapkan pandangan menuju jembatan cinta itu.


"gaes aman.. bersih kok" ucap Raka yang sudah berada di dalam Rumah panggung yang akan kami tempati.


"sini kopernya, kamu gak bisa dorong koper di pasir kaya gini" ucap Juna mengambil koperku tanpa menunggu jawaban ku lebih dahulu, berlalu meninggalkanku "cepat masuk, istirahat, nanti kulitmu rusak"


Nabil yang menyaksikan kejadian itu Menghela nafasnya panjang. "Juna baik ya nda?"


"ah.. iya biasalah" aku mencoba mencairkan suasana


"nda.."


"ya bil.?"


Nabil tersenyum "gak apa-apa, masuklah" ucapnya. Akupun berlalu


"nda.."


"apa lagi?"


"kamu mau gak jadi teman aku?" Tersenyum menyodorkan tangannya mengajak ku untuk berjabat tangan.

__ADS_1


Dari caranya dia mencari kesempatan untuk ngobrol aku udah paham kalau Raka bohong. Dia pasti mengikuti kami kesini karena sengaja, dia adalah utusan Raka untuk mendekatiku.


Nabil.. bisakah kita hanya berteman saja, jangan pernah mencoba hal yang gak bisa aku janjikan dari awal ini. Kamu punya kehidupan yang lebih baik, jangan sia-sia kan waktumu hanya denganku.


__ADS_2