Kisah Jandaku

Kisah Jandaku
Part 50


__ADS_3

sore hari ibu dan ayahku datang, begitupun kakakku dan keponakanku. Mereka datang untuk menghiburku, mencoba tegar dengan tidak menampakkan wajah sedih di depanku. Ayah dan ibuku mengajakku untuk pulang ke Makasar, tapi aku hanya diam tak menjawab.. entah mengapa sulit sekali rasanya berbincang santai dengan keluargaku, aku tidak mempunyai luka ditubuh ku, punggungku pun hanya cidera ringan dan keadaanku baik-baik saja, tapi entah mengapa rasanya lemas hingga berbicara pun aku lemah..


"tante... ini liat aku gambar ate hehehe" salah satu keponakanku berumur 6 tahun menyodorkan gambarnya padaku. Gambar sederhana diriku yang sedang tersenyum dibawah pohon lengkap dengan awan dan mataharinya. Aku hanya tersenyum padanya


"dah yuk pulang... biarin ate tidur dulu" ucap kakakku kepada anak-anaknya


"kaka pulang ya te.. kamu istirahat, yang sabar yang tenang, ini udah jalan yang terbaik versi Allah, kamu harus terima" ucap kaka ipar ku, akupun mengangguk mengerti


"nak.. ayah ibu mau keluar sebentar yah, orang tua Vicky mau ketemu katanya. Dinda istirahat yah, nanti ayah kesini lagi" ucap ayahku, akupun mengangguk kembali


Mereka pergi meninggalkanku, ku tatap gambar diriku yang tersenyum "bisakah aku tersenyum seperti ini setelah kejadian naas ini menimpaku,..? Vicky.... bagaimana caranya aku hidup tanpa dirimu a... kenapa kamu hadir hanya untuk pergi, bertahun-tahun kamu menantikaku, dan saat sudah seperti ini kamu malah tinggalin aku..." Aku menangis tersedu.. mengingat semua segala kenanganku bersama Vicky.. belum bisa menerima kematian Vicky


"Dinda..." Juna berlari ke arahku, memelukku menenangkanku..


"udah nda... sabar.."


"kenapa tuhan jahat jun... apa dosa terbesarku selama ini sebenarnya, kenapa hidup aku kaya gini, anakku pergi, syaif pergi, dan vickypun pergi, tuhan mau aku hidup seperti apa jun... aku gak ngerti.." aku mengangis tersedu


"gak nda.. kamu pasti kuat, nanti ya nda.. gak semua pertanyaan ada jawabnnya sekarang... sabar ya nda... tenang.."


"kenapa aku gak ikut mati aja sih jun.. kenapa harus Vicky.. kamu lihat betapa hancurnya orang tuanya menerima keadaan anak satu-satunya meninggal??"


"terus... menurut kamu, kamu gak berharga untuk hidup? kamu gak mikirin sesedih apa keluarga kamu? sahabat kamu? aku? kamu gak mikirin itu... gak ada yang bisa milih kematian dinda... sadar dinda istighfar, ini udah jalannya, kematian vicky adalah takdirnya, umurnya memang sudah di tulis sebelum dia lahir didunia.. kita semua hidup untuk menunggu kematian, semua punya waktunya masing-masing" jelas Juna sedikit bernada tinggi padaku, aku paham sikapnya padaku hanya bertujuan untuk aku menyadari dan menerima kematian Vicky, tapi tetap saja sulit rasanya


Aku masih menangis di pelukan Juna.. menumpahkan segala rasa yang kupendam saat bersama keluargaku, kini aku sudah tidak tahan, aku menangis sepuasnya di pelukan Juna.. baju Juna basah oleh air mataku, Juna yang di pelukku dengan erat hanya bisa mengelus lembut rambutku dan menyemangatiku dengan berkata "sabar... tenang.. sabar..."


Lama rasanya aku berada dipelukan Juna, hingga tangisankupun mereda, entah karena diriku sudah mulai tenang atau entah karena aku yang kelelahan menangis..


"nda..." ucapan seseorang menyadarkanku bahwa aku sedang berada di pelukan Juna


"ah.. maaf Juna.." aku melepaskan pelukanku pada Juna dan menengok ke arah suara namaku disebut


"Al.. kamu udah gak pakai baju rumah sakit?"


"Aku dah kelar perawatannya, aku mau pindah ke kamar ini jagain kamu, Jun.. balik gih, biar Dinda gua yang jaga, Lu dah dari kemarin disini, istirahatlah" ucap Al


"tapi lu gak apa-apa..? kan lu baru sembuh?"

__ADS_1


"gak apa-apa, luka dikit doang.. gih balik, Raka juga tadi udah cabut ke Jakarta, gak sempet pamit karena gak mau ganggu kamu sama keluarga jadi dia titip salam aja buat kamu nda" ucap Al, akupun mengangguk mengerti


"oke deh.. titip Dinda ya bro.. ntar juga orang tua Dinda balik ko" ucap Juna


"gak.. mereka dah gua suruh pulang juga, kesian abis perjalanan jauh dari makasar, udahh tenang aja kenapa sih... Dinda aman sama gua.."


"iya Jun.. aku gak apa-apa ko, aku malah gak enak ngerepotin kalian. pulang gih istirahat, makasih ya atas segalanya, makasih juga buat Raka yang ngurusin pemakaman Vicky"


"iya santai... gua balik ya nda... Al.."


"iya hati-hati"


"nda... "


"ya Al..."


"sabar yah... aku pernah kehilangan Hesti.. jadi aku tau rasa yang saat ini kamu alami, kalo ada apa-apa kamu punya aku disini"


"ini semua gara-gara kamu tau gak?"


"maksudnya?"


"tapi Anna yang telpon kamu, bukan aku... nda.. aku juga gak tau bakal kaya gini kejadiannya maafkan aku, aku salah"


"yaudah lupain aja lah... aku mau tidur"


"makan dulu nda.. aku suapin yah"


"aku dah sembuh Al... aku bisa sendiri.."


"iya iya.... aku siapin bentar"


"Anna dimana Al..?"


"di rumah Ririn..."


"di rumah Ririn? Al jujur deh, kamu abis ngapain Anna, aku ingat kalo Anna minta tolong saat itu?"

__ADS_1


"nda.. nanti lagi aja yah ceritanya, kamu itu lagi di keadaan tidak baik-baik saja, aku janji kok kalau keadaan udah tenang aku bakal cerita ke kamu"


"tapi Anna baik-baik aja kan?"


"hmm... yaudah aku cerita intinya aja yah, Anna ternyata masih berhubungan sama Dimas dan sampai berhubungan badan, aku marah din, aku sempet mukulin Anna dan ngurung Anna di kamar mandi semalaman, pas pagi hari Dimas datang kerumah dan menusukku dengan pisau, mangkanya aku ada disini, tapi tenang yah, Anna dan aku hanya lagi butuh waktu buat ngobrolin kelanjutannya, mangkanya gak sama-sama"


"astaga Al... semarah itukah sampai kamu ngelakuin hal itu ke Anna..?"


"iya aku khilaf, aku ngurung Anna supaya kejadian Hesti gak keulang lagi, hal itu lebih baik buat Anna untuk bisa merenungi kesalahannya"


"hesti...? kenapa dia..?"


"gak apa-apa, makan gih makanan rumah sakit tambah gak enak kalau dingin"


"Al... beredar rumor tentang kematian Hesti di grup anak IPS SMA kita, mereka bilang hesti bunuh diri, apa benar?"


"astaga nda... gak ko... dah nanti aku ceritain yah.. makan-makan nda... serius deh aku bakal ceritain, tapi gak sekarang yah. aku mau kamu fokus ke kesehtan kamu, oke?"


"mmm... aku minta maaf ya Al"


"minta maaf buat apa?"


"sebenernya aku tau kalo Anna masih berhubungan sama Dimas, tapi Vicky larang aku buat ngomong ke kamu, dia bilang aku gak boleh ikut campur masalah rumah tangga orang lain"


"iya gak apa-apa nda.. toh sekarang aku dah tau dari mulut Anna sendiri"


"tapi aku gak tau kalau mereka sampe berhubungan badan"


"iya iya... udah jangan dipikirin yah.. cepetan abisin makannya, ngobrol aja. Abis itu minum obat terus tidur, jarang-jarang loh ada dokter yang ngerawat pasien 24 jam gini" ucapnya dengan menempatkan tangannya pada pipiku mengelus dengan jempolnya


"Al..." aku menurunkan tangannya


"ah... maaf..." alih-alih menyesal, dia malah tersenyum padaku.


Setelah makan akupun minum obat dan bersiap untuk tidur, Al kini membaringkan tubuhnya di sofa dengan menutup wajah dengan lengannya..


Ku tatap langit-langit ruang perawatan, entah apa yang aku pikirkan, aku hanya diam melamun. sepertinya pikiranku kosong, akupun tidak dapat berfikir. Rasa kantukpun tidak datang padaku.

__ADS_1


"Aku sangat mengenal kondisi ini, apakah insomniaku kambuh? apakah depresiku akan datang kembali? tidak... gak boleh... aku harus kuat, Vicky bilang aku udah sembuh, bukan.. bukan... ini bukan gejala awalku.. aku hanya tidak mengantuk saja, iya benar.."


__ADS_2