
Ragu aku melanhkah masuk menuju stasiun kejaksan ini, kukumpulkan segala tekad yang aku punya, bersiap menghadapi pertemuanku dengan Syaif. Menghela nafas panjang dan memaksakan diriku untuk tersenyum.
"nda.. are you oke?" tanya Juna membuka pintu mobilku
"ah.. iya.." aku menganggukan kepalaku, menandakan bahwa aku baik-baik saja
"kamu setegang itu bertemu dia, aku jadi paham kenapa kamu depresi kala itu, tenanglah.. dan berhenti bersikap tegang begitu, ada kami disisimu sekarang" ucapnya tersenyum padaku
**
"mah.." sapaan Syaif padaku, mendekatkan dirinya padaku, hampir mencoba memelukku, aku memundurkan langkahku tanda menolak tindakannya
"hai" ucapku, aku benar-benar mengatakan itu padanya. Juna menatapku tersenyum
"mamah baik-baik saja kan?" tanya Syaif menatapku khawatir, aku mengangguk dan memaksakan diri untuk tersenyum tanda mengiyakan.
"kenapa gak bilang sama papah?" Syaif meraih tanganku "jangan memaksakan diri, aku tau senyuman mana yang tulus dari wajahmu, aku mengenalmu bertahun-tahun lamanya" ucapnya mengelus punggung tanganku, menarik tanganku mendekati kursi penumpang dan menyuruhku duduk.
"ini semua salah aku, perceraian kita membuat kita sama-sama terpuruk, tapi aku gak menyangka kalau kamu lebih menderita dibanding diriku" dia membandingkan kenyataan meninggalnya Vicky dengan kenyataan pahit kebohongan Dewi perihal anak.
"iya.. ini semua memang selalu jadi salahmu" ucapku melepaskan tanganku dari genggamannya. Sahabatku fokus melihat kami berbicara dengan membuka kupingnya lebar agar dapat mendengar pembicaraan kami.
"maafkan aku mah, kesalahanku emang gak bisa dimaafkan meski dengan hukuman berat sekalipun, membuat kehidupanmu menderita bahkan sampai sekarang" dia menundukkan kepalanya
"lupakanlah dan jangan membahasnya lagi, sudah susah payah aku mencoba melupakannya" ucapku jelas..
"Mas Syaif....!!" seseorang berteriak datang, Syaif yang menoleh ke arah teriakan tersebut kemudian berdiri.
Wanita itu berlari mendekati Syaif dan kemudian memelukknya erat "maaf telah membuatmu khawatir" ucapnya yang masih memeluk Syaif tanpa balasan darinya.
"kamu kenapa mas?" dia bertanya karena sadar pelukannya tidak mendapatkan balasan. Dia menoleh ke arahku, seperti mengenaliku dia terkejut melihatku "mba Dinda ya?" sorot mata yang tidak suka atas kehadiranku.
"mah kenalkan ini Rika" ucap Syaif berbalik menoleh kearahku, akupun bangkit dari dudukku mengangkat tangan untuk berjabat dengannya
"Dinda.." ucapku menyodorkan tangan
__ADS_1
"iya aku tau.. hai mba Dinda aku Rika pacarnya mas Syaif" ucapnya girang meraih tanganku.
Entahlah, saat ini rasanya bingung harus menunjukan ekspresi seperti apa, aku hanya terdiam memikirkan kata apa yang tepat untuk aku ucapkan
"kita bording, keretanya hampir tiba" ucap Juna mendekat membuatku terkejut dan melepaskan tanganku yang sedang berjabat dengan Rika
Akupun membungkuk kan tubuhku tanpa pamit pada mereka, tapi tanganku diraih oleh Syaif. Menatapku penuh arti, menahan kesedihannya entah atas dasar apa.
"Rika.. kita tidak akan menikah sebelum kupastikan Dinda menemukan kebahagiaan nya" ucapnya lantang dan tegas berbicara kepada Rika tapi tetap dengan menatap mataku.
Kenapa bisa dia berkata seperti itu di hadapan kekasihnya, dan apa maksud dari perkataannya. Belum sempat aku bertanya padanya tentang kejelasan kalimat yang dia lontarkan, lengan yang dipegang Syaif dilepas paksa oleh Juna dan kini dia menggenggam tanganku erat.
"jangan mencobanya kalau memang mau membuatnya bahagia" ucap Juna memelototi Syaif kemudian berlalu menarik tanganku.
Aku dan teman-teman ku melakukan bording tiket kereta kami, Syaif masih dalam posisi yang sama, diam mematung menatapku, sedangkan Rika mematung menghadapkan pandangnya pada Syaif.
"apa yang kamu katakan mas?" ucap Rika kesal
"maafkan aku Rika, semuanya berbeda cerita sekarang" ucapnya tanpa mengalihkan pandangnya padaku
**
"nda.. kamu gak apa-apa kan?" tanya Ririn mendekat
"kenapa semua orang menghawatirkan ku, aku gak apa-apa hei kalian" aku melemparkan senyuman termanisku
"cih, baiklah... aku senang, keretanya udah datang" ucap Ririn menoleh ke arah rel kereta, bersiap dengan barang bawaannya dan berdiri menyambut kedatangan kereta kami.
Al dan Anna duduk bersama, begitupun Ririn dan suaminya, dan aku... tentu saja dengan Juna, karena siapa lagi yang bisa ku ajak untuk duduk bersama kecuali dia.
"perasaan aku gak enak sama mantan mu itu, hah... ku kira dia lebih tampan dariku hingga dapat menggantikan posisi Al saat itu, ternyata dia tak setampan yang kuduga selama ini, ahhh... dia merusak ekspetasi ku" ucapnya menyandarkan bahunya mencari posisi nyaman di sebelahku
Aku meresponnya dengan memandangnya, tapi tak menjawab pernyataan nya. "jam berapa kita akan sampai" ucapku mengalihkan
"jam 10.. hah.. menyebalkan.. lihatlah betapa noraknya Al dan Anna, seperti anak ABG saja" Juna melirik ke kursi yang di duduki Al dan Anna.
__ADS_1
Aku pun ikut memandangnya, melihat bangga atasnya, tersenyum penuh kebahagiaan mengetahui bahwa mereka baik-baik saja setelah masalah besar menimpa mereka "baguslah.. ikatan pernikahan mereka kuat, aku bahkan iri melihatnya, aku tidak sekuat Al saat tau Syaif meniduri wanita lain"
"kenapa terdengar seperti kamu menyesal menceraikan Syaif ya?" tanyanya menghadap ke arahku
"masa..? ah.. begitu ya" aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal "tapi bukankah lebih baik saat itu jika aku memaafkannya dan melupakan kejadian itu, biar bisa seperti mereka saat ini, dan juga Vicky tidak usah bertemu denganku, jadi dia masih hidup saat ini" ucapku masih menatap Al dan Anna
"beda cerita nda.. kalau mantanmu kan ada anak, jadi mereka harus menikah, kalau Anna gak ada anak, jadi bisa cuma ninggalin Dimas aja"
"tapi kan ternyata dia bukan anak Syaif?"
"hah... apa...? menyebalkan... kenapa terdengar seperti pembelaan kepadanya" ucapnya kesal "tetap saja dia taunya saat anak itu lahir kan? sedangkan si PSK itu tetap merengek meminta tanggung jawab Syaif, mau kamu dipoligami olehnya, meski hanya sampai anak itu lahir kamu kira lebih menyedihkan mana harus bercerai atau harus berbagi suamimu, dan mengapa kamu jadi bodoh begini?"
"ahh... iya maaf" ucapku tersadar dan kini menyadarkan bahuku pada kursi melepaskan pandanganku dari Al dan Anna
"setelah pertemuanmu dan Syaif jangan berani meski hanya memikirkannya..!"
"kenapa?" aku menatap wajah Juna menunggu jawaban
"aku gak suka sama dia"
"apa hubungannya denganmu?" masih antusias menunggu jawaban Juna
"ah.. aku malas.. kamu hari ini bodoh, aku mau tidur"
"cih..."
Al dan Anna benar-benar mengingatkanku pada aku dan Syaif, begitu marahnya aku saat itu sampai aku langsung mengusirnya saat itu juga. Tak pernah menoleh kearahnya meski dia memohon padaku. sifat keras kepalaku saat itu tidak bisa aku tahan, salah satu sifat jelek yang membunuh perlahan emosi dan jiwaku sendiri, menjadikan otakku berfikir keras tak beraturan hingga membuatnya depresi.
iya.. dia membuatku depresi, aku tidak akan melupakan penderitaan itu.
Juna benar-benar tertidur kali ini. Dan aku hanya melihat pemandangan dari luar jendela. Perjalanan Cirebon menuju Jakarta, Aku sangat tidak sabar untuk sampai dan bermain bersama ombak laut.
Laut menjadikan sejarah dikehidupanku, laut pernah menjadi saksi kisah cintaku dengan Vicky, menyatakan perasaannya dan juga melamarku. Semuanya terkait dengan laut.
Kenapa semua kenangan tentang Vicky selalu ada di benak ku dan membuayku merindukannya, kemana perginya kenanganku dan Syaif. Bukankah lebih banyak aku menghabiskan waktuku bersamanya di banding Vicky.
__ADS_1
"ah.. kepalaku mulai pusing lagi" ucapku dalam hatiku, menyandarkan kepalaku mencari posisi nyaman, menatap langit-langit gerbong kereta ini dan menunggu kapan waktunya tiba.