
ruang rapat kantor Dinda
"baiklah, rencana tindak lanjut kita kedepan untuk akreditasi puskesmas adalah kaji banding ke puskesmas percontohan yang ada di jakarta pusat, tolong di data siapa saja penanggung jawab yang akan mengikuti kaji banding ini.. lusa kita berangkat subuh ya, biar sampai sana pas jam pelayanan puskesmas, jadi kita enak lihat contoh pelayanan disana" ucap tegas kepala puskesmas
"baik bu..." seru seluruh karyawan di ruang rapat
"tolong persiapkan transportasi dan juga konsumsi, karena kita akan pulang pergi jadi tidak usah cari penginapan" tegas kepala puskesmas
"bu.. apa setelah kaji banding usai, boleh kami pergi sebentar untuk belanja oleh2 buat orang rumah, yaaaa walaupun kesana buat kerja tapi beli cemilan sebentar gak apa-apa kan bu?" tanya temanku ida.
"boleh dong.. nanti kita sampai jam 8 pagi, terus kaji banding kurang lebih 3jam saja kok, sisanya terserah kalian kemana, yang pasti kita jam 4 sudah kumpul di bus untuk pulang" jawab kepala puskesmas
"oke bu, siap" seru seluruh karyawan
"wah.. kemana ya din enaknya kita di jakarta ngabisin sisa waktu... disana ada tempat enak apa ya buat wisata" tanya temanku nana
"rumah mertuaku" jawabku tersenyum
"kamu mau ke mertua? serius? tanya nana penasaran
aku mengangguk dan tersenyum
Mungkin beberapa jam menghabiskan sisa kesempatan yang ada untuk membuat kejutan kedatanganku pada Vicky akan membahagiakannya, biarlah aku tak usah mengabarinya, biarlah ini menjadi kejutan buatnya..
***
rapat kaji banding telah usai, aku bergegas menelfon Vicky untuk mengetahui keberadaannya
✓halo sayang..
✓hai a, aa lagi apa?
✓lagi mau cari makan sama anak-anak, kamu lagi apa?
✓aku juga mau cari makan, aa makan dimana emang?
✓mungkin di Plasa Indonesia
✓wah.... pasti restoran mahal ya a..
✓iya, restoran ****** emang mahal-mahal, untungnya aa di traktir, eh nanti aa telfon lagi ya sayang aa mau nyetir dulu
✓iya a.. hati-hati ya..
__ADS_1
Restoran ***** baiklah aku akan pesan taxi online dan bergegas kesana
***
"kamu pesan apa ky..? " tanya lia teman wanita Vicky
"ini aja nih, steak ya, minumnya ini dan tambahan ini juga" ucap Vicky menunjuk menu makanan
"eh kamu harus benar-benar menepati janjimu hari ini yah ky, aku gak akan ngebiarin kamu lolos dari aku malem ini" ucap lia tegas
"harus banget ya?" jawab Vicky
"iya lah... kita harus begadang semalaman awas aja kalo coba berani kabur, aku udah nunggu lama untuk moment ini" tegas lia
"pesanannya tuan, pesanannya nyonya, silahkan menikmati, apabila ada kekurangan tolong panggil kami kembali, saya permisi terimakasih" ucap pelayanan mengantarkan pesanan dan meletakannya di meja
"waaaahhhh.... stroberinya cerah banget warnanya kamu mau? aaaaaa" tanya lia menyodorkan satu buah stroberi untuk disuapi
"apaan sih li, gak ah" jawab Vicky
"aaaaaaaaaa.... AAAAAAaaaa...!!!" lia melotot pada Vicky
Vicky pun pasrah dan menerima suapan Lia
Byurrr.....tess tess tess. sebuah air tumpah di atas kepala Vicky
"maaf saya terpeleset" ucapku ketus dengan menatap tajam wajah Vicky
Vicky yang sedang mengelap wajahnya yang dibantu oleh lia mengenali suaraku, dan langsung menatap wajahku tanpa bisa bekata apapun, dia kaget melihat kehadiranku terlebih dengan disertai guyuran air di kepalanya..
kini kami saling menatap, selayaknya mata kami yang berkomunikasi, kami saling diam mematung
"kepleset apanya jelas-jelas kamu sengaja, kamu ini kurang ajar" tanggan lia yang akan menamparku di tahan oleh Vicky
"tidak apa-apa, dia bilang tidak sengaja" ucap Vicky yang masih memegang tangan lia tapi berbicara dengan tidak melepaskan pandangannya dariku
"dia..? baik terimakasih" aku berlalu meninggalkan mereka
"heiii yaaaa terimakasih apanya, harusnya kamu minta maaf heiii dasar wanita sinting" teriak lia
"lia..!!!" tegas Vicky
"selamat siang pak Dzavicky.." suara seseorang memecahkan suasana panas ini
__ADS_1
"oh, pak Anwar mari silahkan duduk" ucap Vicky yang sedari tadi memang menunggunya
"anda mau kemana pak Dzaviky? bisakah kita langsung ke topik pembicaraan, setengah jam lagi saya masih ada klien yang harus ditemui, jadi tolong mempersingkat waktu" ucap pak Anwar pengacara kasus yang mencegah Vicky pergi meninggalkan meja
"baik pak" jawab Vicky yang kini duduk kembali di kursinya, kemudian menoleh ke arah aku pergi tapi tidak menemukanku
***
sementara itu aku yang setengah berlari mencoba pergi keluar mall ini dengan air mata yang sekuat mungkin aku tahan agar tidak jatuh di tempat umum seperti ini..
Bughghhh.... "awww" aku tidak sengaja menabrak seseorang
"maaf saya tidak sengaja" aku menundukan badanku
"mamah..."
"Syaif...maaf yah aku gak sengaja" jawabku kaget melihat sosok kehadiran Syaif
"gak apa-apa, kamu gak apa-apa kan? kamu ngapain disini" tanya Syaif yang kini memegang kedua pundakku
Aku mengangkat kepalaku, dilihatnya mataku yang berkaca-kaca oleh Syaif..
Syaif langsung kaget melihatnya
"mah, kamu kenapa, sini ayo kita cari tempat duduk dulu" ucap Syaif yang kini menarik tanganku
kini kami duduk disebuah taman mall, dan kini aku tidak bisa menahan air mataku, aku menyeka air mataku
"kamu mau aku temenin aja apa mau cerita, mungkin saja aku bisa bantu masalah mamah" ucap Vicky mengelus punggungku
"ah.. dadaku... ishshh kepalaku, pusing banget.. oh obatku" aku mecari obatku di tas tapi tidak ketemu, aku baru sadar kalau obatku habis, sudah lama aku tidak menebus obatku "ahh.. tidak ada, gimana ini..." aku mulai panik
Syaif yang kini telah mengetahui betul kondisiku bangkit dari duduknya mengambil tasku dan membuka ponselku
"siapa nama doktermu di daftar kontak?" tanya Syaif
"dokter lala" jawabku sambil memegang dadaku yang terasa sangat kencang denyutan jantungnya
✓halo dok, saya syaif.... saya lagi sama dinda.. sepertinya dinda kena serangan panik, obatnya tidak ada jadi apa yang harus kami lakukan dok....sepertinya sekitar sini ada kok dok.... baik dok segera saya lakukan... baik saya tunggu dok, saya akan telfon dokter lagi saat sampai... terimakasih dok..
"mah, ayo ikut aku" ajak syaif yang kini memapah diriku
Aku yang mulai lemah rasanya berat untuk membawa diriku sendiri di atas kedua kakiku ini, rasanya lemas sekali
__ADS_1
Aku dibawa ke sebuah klinik, aku dibaringkan di tempat tidur, samar kudengar percakapan syaif dengan dokter dan sesekali menelfon dokter lala untuk memberitahu riwayat medisku pada dokter di klinik ini..
Badanku lemas, pandanganku kabur, dadaku masih sesak dan jantungku berdetak begitu sangat cepat, dan kepalaku... rasanya hampir pecah menahan sakitnya..