
Hari ini hari yang dinantikan oleh ku, berlibur bersama sahabatku, menghirup udara segar, membebaskanku dari rasa penat dan kesendirianku. Melangkah bernafas untuk hidupku.
Barangku sudah siap, 1 koper kecil bewarna biru milikku, ku tarik menuju keluar rumah.
"pagi.."sapaan seseorang dari luar gerbang rumahku yang kecil
Terlihat seseorang tersenyum manis padaku, dengan bersandar di kap mobil depannya, memegang ponsel dan memakai kacamata hitamnya.
"Juna...?"
"yuk.. berangkat.." ucapnya
"katanya semua kumpul di stasiun?"
"terimakasih udah jemput ya Juna... harusnya kamu bilang gitu nda" sambil mendorong jarinya di dahiku "masuk" dia membuka pintu mobilnya untukku.
Ku tengok sekumpulan ibu-ibu yang sedang berbisik memandangiku " ah.. abaikan" ucapku "makasih...." aku berlalu masuk, dan koperku di taruh Juna di bagasi belakang
"kenapa kamu bawa mobil Jun? nanti bermalam di stasiun gak apa-apa mobilnya?" tanyaku
"nanti ada anak buahku yang ambil ko, aman.. kamu seneng banget memikirkan hal-hal yang gak berguna, pakai seftbellnya nanti ada polisi, jangan bikin aku repot deh" ucapnya
Akupun tak mau banyak tingkah, aku menurutinya dan berdiam dengan melihat pemandangan sepanjang perjalanan, meski pemandangannya hanya sekedar kendaraan yang berjalan dan melawan arah bersamaan.
(Distasiun Kejaksan)
Anna dan Al sudah datang lebih dahulu di stasiun, tampak duduk besebelahan, dengan tangan Anna melingkar di lengan Al, menyandarkan kepalanya di bahu bidang suaminya nyaman.
Seseorang datang duduk di sebelah Al, memegang ponselnya untuk melakukan panggilan yang sepertinya tidak dijawab, mukanya panik tak beraturan.
"kamu Syaif ya?" tanya Al datar, Anna mengangkat kepalanya dan menengok ke seseorang yang disapa oleh Al
"ah.. kenapa harus ketemu sama lu disini sih, menyebalkan.." Syaif menggeser duduknya ke sisi kursi tunggu penumpang menjauh dari Al
"itu mantan suaminya Dinda kan mas?" tanya Anna
"iya, orang yang udah nikung Dinda" ucap Al yang masih menatap Syaif yang sibuk dengan ponselnya
"dia gak nikung mas, kan kamu yang ninggalin Dinda" ucap Anna
"gak usah dibahas" ucap Al kesal memilih melanjutkan membaca koran yang disediakan pihak stasiun
Anna terus memandang ke arah Syaif, seolah berfikir sejenak dan kemudian memberanikan diri untuk bertanya.
"Syaif... maaf, apa kamu tau kabar Dinda? Suaminya meninggal dan sekarang Dinda jadi janda lagi!" ucap Anna membesarkan nada suaranya agar terdengar Syaif yang duduk di sisi kursi.
Pertanyaan seberani itu, tanpa basa-basi, jangankan Syaif, Al yang mendengarnya pun ikut terkejut.
"apa..?" tanya Syaif kaget
__ADS_1
"hai-hai.... cie mesra banget sih, lagi jadi pengantin baru lagi ya hahaha, dah lama disini?" sapaan Ririn yang datang bersama suaminya meleburkan suasana tegang
Anna tersenyum manis, meletakan kepalanya kembali pada pundak Al.
"bisa kita bicara sebentar, siapapun asal bukan dia" ucap Syaif yang tadi duduk disisi kursi kini sudah berdiri di sebelah Ririn, mata dan wajahnya menunjuk Al
"Syaif bukan sih?" tanya Ririn penasaran
"bisakah saya dapat info tentang Dinda dari anda?" tanya Syaif
"ah... Dinda.. kamu gak tau ya... baik apa yang mau kamu tanyakan?" tanya Ririn
"Benarkah Vicky meninggal?"
"iya, 2 minggu lebian gitu deh, kecelakan di Tol Cipali, apa kamu gak tau beritanya, sampai masuk berita Tv nasional kok, kecelakaan beruntun" jelas Ririn
"Dinda.. gimana keadaanya sekarang, apa dia baik-baik saja, Dinda dimana?" tanya Syaif antusias
"mmm... baik... baik ko, nanti juga datang, kami mau liburan untuk menghiburnya" jawab Ririn
Al hanya diam membaca korannya, Anna hanya memperhatikan percakapan Ririn dan Syaif, sedangkan suami Ririn memilih keluar untuk merokok
Wajah Syaif yang gagah tadi terlihat pias, wajahnya menunjukan kesedihan yang mendalam, jelas terlihat di wajahnya. Istri yang sangat ia sayangi, yang selalu dibanggakannya dimanapun berada, yang ia ceraikan meski hatinya memberontak menolaknya. Kini hidup menderita untuk kedua kalinya, kehilangan seseorang yang ia kasihi. Syaif mengetahui betapa sayangnya Dinda terhadap Vicky, dan betapa perhatiannya Vicky pada Dinda. Kehilangan Vicky pasti akan membuat Dinda terpuruk. Itulah yang Syaif pikirkan tentangku.
"Syaif.. kenapa kamu gak balik lagi aja sama Dinda, kan kamu udah cerai sama Dewi ? anak itu bukan anak kalian kan? Aku loh yang nolong lahiran saat itu sama Dinda, jadi aku tau semuanya" ucap Anna
"diamlah" ucap Al yang tetap pada pandangannya terhadap koran yang dia baca
"Juna kenapa belum dateng ya, bukannya rumahnya deket dari sini, jangan-jangan dia masih tidur... aduh.... coba di telpon" ucap Ririn
"bentar" Anna mengeluarkan ponselnya
✓Juna dimana..?
✓Dihatimu
✓Juna..!!!
✓Dijalan
✓ih buruan
✓iya sabar sih.. abis ngambil paket, bawel
✓dih, keretanya setengah jam lagi, sempat-sempatnya ngambil paket dulu
✓paket penting ini, yang harus dijaga bahkan dengan nyawa lo sendiri
✓dih lebay.. ini Dinda juga belom dateng, pada ngapain sih, buruan aku mau telpon Dinda dulu
__ADS_1
✓ya..
"Anna mau telpon kamu nda" ucap Juna
"kenapa gak sekalian bilang kalau kita bareng sih?" tanyaku, yang sedang meraih pinselku dalm tas yang sudah berbunyi
✓Dinda... dimana?
✓dijalan
✓buruan
✓sebentar lagi na, mungkin 5 menit lagi
✓ada yang nungguin kamu
✓siapa?
✓Syaif
✓hah??
✓Syaif baru tau kabar kamu, jadi dia nungguin kamu sekarang
✓bisa suruh dia pulang aja gak sih
✓kenapa? orang cuma mau berbelasungkawa doang masa gak boleh
✓aku...
✓buruan
✓iya....
Syaif masih duduk di kursi, kini bersebelahan dengan Ririn, sambil sesekali mengecek ponselnya. Entah ekspresi apa yang sedang dia tampilkan sekarang. Tadi terlihat sangat semangat menanyakan kabar Dinda, kemudian dia bersedih saat mengetahui nya, dan sekarang dia sedang terlihat panik sembari terus memandang layar ponselnya tidak memainkannya.
Ririn bermain ponsel nya, Al duduk tenang di sebelah Ririn dengan tetap fokus pada korannya, sedangkan Anna sedang bersandar dengan nyaman di bahu Al suaminya.
Aku yang mengetahui bahwa kehadiranku di stasiun telah dinantikan oleh Syaif bingung. Memikirkan kata apa yang tepat untuk menyapa seorang mantan suamiku, karena terakhir kali kami bertemu, terdapat masalah besar yang membuat Vicky sangat marah saat itu, dan mengakibatkan perkelahian antara Vicky dan Syaif.
"kamu kenapa?" tanya Juna yang menengok ke arahku dan mengembalikan pandangannya fokus menyetir "kok kaya yang bingung? lagi mikirin sesuatu yang gak penting lagi?"
Aku menghela nafas panjangku "Syaif menungguku di stasiun" Aku terdiam "Juna.. apa yang harus dikatakan saat bertemu dengan mantan suami, agar suasananya tidak canggung?"
"hah..? kenapa jadi nanya aku sih? apa aku terlihat berpengalaman? ya mana aku tau"
"ah.. iya maaf"
"mungkin hai, boleh juga"
__ADS_1
"baiklah.. itu terdengar normal" ucapku tapi tetap memikirkan tentang hal yang akan terjadi nanti