
Tubuh lemasku dibawa petugas kesehatan memasuki ambulans, kudengar suara nyaring ambulans mengiringi perjalananku, aku yang hanya dapat melihat langit-langit mobil ambulans hanya terdiam terpaku karena punggungku yang kurasakan sakit.
Kini aku di bawa ke rumah sakit, Rumah sakit Swasta di cirebon. Diletakkannya tubuhku pada kasur saat turun dari ambulans, kulihat lampu yang berjejer rapih di langit rumah sakit ini. silau rasanya...
Aku diperiksa dengan cekatan oleh para tenaga medis disini, seketika kutengok sisi kanan dan kiriku, menyapu segala ruangan untuk mencari seseorang yang ingin ku lihat, Suamiku... Vicky...
Entah mengapa, sulit sekali rasanya mengeluarkan suaraku, dan seketika obat dalam bentuk injeksi masuk, seketika mataku terpejam..
***
"Dinda...." suara lirih memanggilku berbisik di telingaku, dengan sentuhan tangan lembutnya di bahuku "Dinda...."
Aku membuka mataku, melihat lampu di atap ruangan perawatan, dan menengok mencari suara tersebut... Juna berada di sampingku
"Syukurlah kamu udah sadar, aku ambil minum dulu ya" Juna mengambilkan segelas air untukku, mencoba memberikan minum padaku dengan bantuan sedotan yang di arahkan ke mulutku
"aku panggil perawat dulu ya, bilang kalo kamu udah sadar" ucapnya berlalu meninggalkanku, kusapu pandanganku lagi, hanya hordeng putih tinggi sebagai tirai pemisah antara diriku dan pasien lainnya yang kulihat, sekali lagi.. aku mencoba mencari keberadaan sosok suamiku.
"selamat sore ibu Dinda, saya periksa tanda-tanda vitalnya terlebih dahulu ya bu"
Seorang perawat memeriksa keadaanku.
"ibu dinda, semua pemeriksaan tanda vital ibu normal ya bu, hasil lab ibu juga tidak ada kendala lainnya, hanya saja tulang punggung ibu mengalami cidera ringan, dengan istirahat kondisi ibu akan jauh lebih baik, apa ada yang mau ditanyakan lagi bu?" ucap jelas perawat
"Suami saya mana?" ucapku lirih..
Perawat melirik Juna
"ada nda... disebelah, tidur lagi gih istirahat, apa mau makan?" ucap Juna mengambil alih jawaban perawat
"aku mau liat Vicky" ucapku
"iya tapi makan dulu, Vicky belom bisa di jenguk, kamu juga gak bisa bangun ke kursi roda kan? dah aku suapin, makan dulu" ucap Juna tegas
"baik, saya permisi dulu" ucap perawat berlalu
"apa kondisi Vicky baik? dia luka apa? terakhir aku lihat lengannya sobek, dan mengeluarkan banyak darah" ucapku
"iya.. mangkanya belom bisa dijenguk, tapi keadaannya lebih baik kok, dia udah baikan, hanya saja lagi tidur gak sadar" ucap Juna menjelaskan
"terus kapan bisa dijenguknya?"
"besok, tapi itu juga kalau kamu udah fit, mangkanya hayuu Aaaaaaa makan" Juna menyodorkan sendok padaku
__ADS_1
"hei..."ucap seseorang mengejutkan kami
"Al..." ucapku
"gimana keadaan kamu din?" tanya Al
"baik... kamu kenapa pakai baju rumah sakit? kamu sakit?" tanyaku yang masih menguyah makanan suapan Juna
"aku ada insiden sedikit, jadi harus dijait" jawabnya
"dijahit kok di infus?"
"mmm biar tenganya full hehehe, kamu beneran gak apa-apa?"
"gak apa-apa ko Al..."
"mmm nda...aku turut berduka cita yah atas kematian Vicky"
Seketika hening kurasa, tubuhku yang tadinya mencoba mengumpulkan tenaga seketika hilang lemas tak berdaya, terdengar suara dengung di telingaku, airmataku tertampung di bola mataku, jatuh tumpah karena penuh sesak.
"apa kamu bilang...???meninggal? suamiku?? Juna...apa bener yg dibilang Al... Juna jawab... Juna....!!!!??? .Kenapa.. kenapa kamu gak bilang Juna, kenapa??" Aku menarik kerah baju juna berteriak histeris menyebut nama suamiku "gakk... Vicky... gak... jangan tinggalin aku... jangan...!!! Vicky...!!!!!!" hick hick aku menangis tak tertahankan, kucoba tubuhku untuk turun dari ranjang tempat tidur, tetapi ditahan oleh Juna
"kamu masih sakit nda" ucap Juna
Juna memelukku, meski aku memberontak Juna tetap mengeratkan pelukannya padaku
"gak... gak boleh... jangan tinggalin aku a... jangan tinggalin aku...."
"sabar dinda... ada aku disini, sabar...." ucap Juna menenangkanku mengelus puncak kepalaku yang kini sudah lebih tenang
Juna memelototi Al, Al yang sadar telah berbuat salah dengan memberitahu atas kematian Vicky pada Dinda pun hanya terdiam melihat Dinda berada di pelukan Juna.
"tapi aku mau liat Vicky Juna..."
"maaf dinda... tapi Vicky sudah dikebumikan"
"aaaaaahhhhhh gak.... kenapa... kenapa kalian sejahat itu... kenapa gak ada kesempatan buat aku ketemu Vicky untuk yang terakhir, kenapa kalian jahat, gakkk.... gak boleh... Vicky.......jangan tinggalin aku...."
"maafin aku dinda..."
"gak mau... aku mau liat Vicky.. aku mau pulang... aku mau pulang... tolong bawa aku pergi dari sini..."
"Dinda...." panggilan suara yang ku kenal
__ADS_1
"mamah....." ibu Vicky memelukku, menenangkanku dengan pelukan hangatnya, menangis bersamaku
"mamah aa mana... aa mana...?"
"aa udah gak ada nak, kamu yang sabar ya" ucap ayah Vicky
"gak boleh... aa gak boleh ninggalin dinda, aa udah janji sama dinda.. gak mau pah, dinda gak mau ditinggal aa... gak mau"
"sabar sayang...." ucap mamah Vicky yang dengan air matanya yang deras mengalir tidak bisa berkata-kata, hanya memelukku dengan erat
"aa udah gak sakit lagi nak, kasian aa kalau harus nahan sakitnya. aa sekarang udah tenang, udah bahagia disana"
"tapi dinda gak mau ditinggal pah... dinda sayang aa... kenapa aa pergi"
"Allah lebih sayang aa dibanding kita nak, papah dan mamah juga sedih kehilangan anak satu-satunya, tapi takdir memang mengharuskan kita untuk mengikhlaskannya, karena semua adalah titipan"
"kenapa gak nunggu dinda... dinda mau liat aa pah...."
"maaf nak, tapi menunda nya malah membuat jasad Vicky lebih kasihan"
"aa.... kenapa tinggalin dinda... aa..."
"maafin mamah nak"
"aa....."
Vicky.... Suamiku.... meninggalkanku didunia ini, pergi menuju surganya, sepintas aku membayangkan kenanganku bersama Vicky.. Cinta pertamaku saat masih duduk dibangku SMP, kami sekelas saat itu, sedang menghabiskan sisa kehadiran kami disekolah untuk menuju jenjang SMA.
Vicky yang selalu mendampingiku disetiap ujian sekolah, yang selalu pulang berjalan bersamaku. Vicky yang saat SMA tidak sekelas lagi bersamaku, memandangku dari kejauhan, bermain bola di lapangan basket dengan anak-anak IPS, yang selalu kuberikan kembali bajunya yang kecil saat dirampas oleh ketua dekan osis saat razia seragam.
Yang selalu kuselamatkan dari denda yang di akibatkan keterlambatannya datang ke sekolah, Vicky yang selalu ku beri info saat mau ada inspeksi/razia kelas oleh anggota osis. Dan selalu tersenyum manis tanpa mengucapkan terimakasih padaku atas segala bantuan ku padanya.
Vicky yang marah atas tidak diberitahunya ia tentang putusnya aku dengan Al, Vicky yang marah pula atas perceraianku. Dan Vicky yang 5 bulan terakhir ini selalu berada di sisiku.
Ku ingat betapa banyaknya darah yang keluar saat itu, lengan yang robek, tubuh yang kaku dan mata yang sudah terpejam. Kuingat betapa sulitnya evakuasi tubuh Vicky kerana terjepit badan mobil, Kakinya yang tampak tak bertulang tergulai saat di angkat. Aku paham betul sesakit apa yang Vicky rasakan saat itu..
Menikah dengan Vicky adalah hal yang indah buatku, mencintainya, menyayanginya, dan mengasihinya.. kenapa kebahagiaan ini harus berakhir di waktu yang sesingkat ini, semarah itukan Allah saat aku menolak untuk mendampingi Vicky di Jakarta.. Jika aku mengetahui akan hal ini, tidak akan pernah kusia-siakan waktu bersama Vicky, Aku ingin menjadi parasit dengan menempel padanya sampai waktunya tiba dia meninggalkanku.
Dan kini aku hanya bisa menyesalinya...
Selamat tinggal suamiku...
Dzavicky Dzikri
__ADS_1