
Lingkaran pertemanku kini telah menjadi sebuah bencana yang menghantam keras hatiku.
Ririn memaksaku membuka mata akan sikapnya padaku, seseorang yang kujadikan panutan sebagai seorang sahabat yang tak pernah melupakan tugasnya pada keluarganya.
Lihatlah betapa menyedihkannya kisah percintaanku dan juga persahabatan ku.
Seolah tak mengindahkan diriku yang sedang rapuh, menghujaniku dengan segala kejadian yang tak terduga. Membuat nya seakan-akan tak berdaya melawan segala kedzoliman yang dibuat seseorang.
"bentar ya nda" ucap Dion pergi meninggalkan ruanganku, berlari mengejar Ririn dan Dadang yang sedang bergegas meninggalkan Rumah sakit dengan rasa kesal dihatinya
"hei tunggu" ucap Dion yang kini sudah dapat melihat bayangan Ririn dan Dadang
"anda mau apa.?" seru Dadang yang telah menghentikan langkahnya
hoss...hoss.. suara nafas berat Dion mengiringi kedatangannya setelah berlari.
Fyuh... Dion meghela nafas panjang untuk mencoba mengatur kadar oksigen dalam tubuhnya agar dapat berbicara dengan tenang.
"maaf.." ucapnya
"untuk apa.?" tanya Ririn
"telah berbohong padamu dengan mengucapkan bahwa aku adalah calon ayah dari bayi Dinda." jelas Dion yang kini sudah tenang dari nafas beratnya
"emang Dinda beneran hamil.?" tanya Ririn
"iya.. 6 minggu usia kehamilannya, yang tadinya hampir keguguran karena pendarahan yang dialaminya usai kecelakaan yang dialaminya oleh Mayang dan dari kamu..!" ucap tegas Dion
"apa..!!"
"dan ketika saya sudah meminta maafmu, izinkan saya meminta tolong padamu sekarang" seru Dion memasukkan tangannya kedalam kantung celananya
"apa.?" tanya Ririn
"tolong.. dewasalah dalam bersikap kepada Dinda, jika melihat bahwa Dinda adalah sahabatmu dirasa sulit bagimu, maka lihatlah dia sebagai seorang pasien yang depresi" ucap Dion
"hah... lagi-lagi itu yang dijadikan tameng, denger ya.. entah kamu baru kenal Dinda berapa lama, tapi aku kenal baik dengannya, dia suka memanfaatkan situasi" ucap Ririn
"jangan anggap remeh penyakit depresi, saya sudah mempelajari rekam medis Dinda, tak ada yang janggal dengannya. Semuanya sesuai dengan gejala, sebab akibat dan juga prilakunya. Dinda sempat melakukan percobaan bunuh diri, dan akan dilakukan nya lagi jika dia merasa tertekan, merasa bersalah,Merasa putus asa, rendah diri, dan tidak berharga. memgakibatkan susana hati yang buruk, sedih berkelanjutan yang menjadikannya rasa cemas dan khawatir. Dan kamu.... sudah berhasil membangunkan hal itu semua, dan berhasil menggagalkan misi persahabatan kalian untuk menjaga Dinda"
"apa Dinda sekarang kena serangan panik lagi?" ucap Ririn mulai khawatir
"apapun yang terjadi, jangan pernah muncul dan berkomunikasi lagi dengannya selain untuk meminta maaf dengan tulus padanya, tidak kah ada rasa iba yang kau tanamkan dalam benakmu melihat betapa menyedihkannya kisah yang dialami oleh sahabatmu itu... berdoalah agar karma tak datang padamu dengan cepat... permisi" ucapan Dion seolah menampar Ririn dan Dadang yang sedari tadi diam mematung.
Tak menyadari bahwa air mata Ririn telah jatuh di pipinya, rasa sesal yang amat mendalam yang dirasakan Ririn kini tak tertampung lagi, Ririn tak kuasa melangkahkan kakinya untuk masuk melihat penderitaan Dinda yang kini sedang mengalami serangan panik.
Ririn ketakutan.. kakinya lemas tak dapat menopang tubuhnya, dan ambruk ke lantai duduk termenung melihat kepergian Dion yang berlari.
"kamu kenapa?" tanya Raka yang mendapati Dion telah menata nafasnya karena berlari
hosss...hoss.... hehehe "abis melakukan misi balasan" ucapnya bangga
"apa..?" tanya Raka
"adalah.. Dinda tidur?" tanya Dion
"iya, pusing kayanya... gua rasa Dinda udah ada perkembangan, sekarang dia udah bisa mengatur emosinya, kejadian kaya gini pasti buat dia shyok dan juga pasti kena serangan panik, tapi lihatlah... dia memilih tidur untuk mehilangkan pusingnya, padahal keluhan utamanya itu adalah sulit tidur bahkan untuk dimalam hari" jelas Raka menatap Dinda yang tertidur pulas
"usaha kalian gak sia-sia berarti" timpa Dion
__ADS_1
"mmm gua beli makan dulu ya, mumpung Dinda tidur, titip Dinda lagi" seru Raka
"iya, kali ini kalau ada temen Dinda yang bikin dia pusing lagi, langsung gua tindak aja lah, dari pada bikin pusing Dinda" ucap Dion
"sip... makasih ya.. gua tinggal bentar" ucap Raka
(apartemen Juna Mayang)
Tok tok tok... suara pintu kamar Juna, Mayang yang sedang mabuk tetap mencoba membujuk Juna untuk keluar.
"sayang... buka dong" ucap manja Mayang
Tetapi tak dihiraukan Juna, yang memilih untuk beristirahat di ranjangnya setelah seharian bergulat dengan rasa lelahnya.
Setelah menerima panggilan dari Al, Juna melakukan panggilan pada Raka
✓halo..
✓ka.. Dinda gimana
✓aman.. lagi tidur, tadi ada Ririn kesini
✓lah.. ngapain lagi
✓minta maaf, nangis-nangis.. tapi ujung-ujungnya malah kaya asu
✓maksudnya
✓iya bilangnya yang penting minta maaf, urusan dimaafin gak terserah, terus dia nuduh kalau Dinda tuh manfaatin depresinya biar kita jagain dia gitu, terus ya lu bayangin sendiri deh
✓anjing emang si Ririn, si Dadangnya ada gak sih
✓suami takut istri itu mah, bukan sayang istri
✓yaudah gua makan dulu ya
✓lu dimana
✓dikantin
✓lah Dinda sama siapa?
✓sama Dion, yang dokter itu loh temannya Al
✓wah.. gak beres lu ninggalin Dinda ma tuh orang
✓lah kenapa, baik kok.. eh dia tadi bilang sama Ririn kalau dia calon ayahnya bayi Dinda coba hahaha ada aja penambahan masalah
✓anjing...!!!
✓hei.. Juna... ih kok malah mati sih
Juna dengan amarahnya, bangkit dari ranjangnya menuju tepi jendela melihat jalanan kota di balik jendela besar apartemen nya.
Mencoba menghubungi ponsel Dinda tapi tak ada jawaban..
Juna tetap menghubungi Dinda, seolah mempunyai niat untuk membangunkan Dinda yang tertidur.
Sudah 7 kali panggilan tapi tak dijawab, Juna kesal... mencoba menenangkan dirinya dengan mengatur nafas dan fikiran yang positif.
__ADS_1
"bismillah" ucapnya kembali menekan ponselnya menghubungi Dinda,
✓halo..
ah.. kenapa bisa dia yang angkat sih. Juna
✓kenapa lu yang angkat.?
✓Dinda tidur, lu berisik tau gak
✓keluar dari ruangan Dinda sekarang.!
✓kok nyolot sih
✓lu ngapain disitu.?
✓berdiri..
✓gua minta tolong ya sama lu, tolong tinggalin Dinda sekarang
✓kenapa.?
✓Dinda butuh istirahat
✓tapi seorang pasien depresi yang lagi sakit gini gak boleh sendirian, itu akan berakibat buruk. Jadi harus ditemani
✓kan ada Raka..!
✓Raka lagi makan...
✓jujur aja ya lu ma gua sebagai cowo, niat lu tuh apa sih.? lu itu dari tadi kan dikamar Dinda.? lu juga sempat bicara yang gak-gak sama Ririn kan.?
✓jadi lu udah tau ya, hmm kenapa gak di aminin aja.?
✓bangsat..!!!
✓gak boleh nyolot
✓jangan ganggu Dinda...!!!
✓gua gak ganggu, dan Dinda juga gak ngerasa keganggu, dia malah lagi tidur nyeyak sekarang
✓kalau gitu jangan deketin Dinda, atau punya niat apapun ke Dinda
✓hahahaha.... emang lu siapa ngelarang gua.?
heh... lu denger ya, yang harusnya gak ganggu Dinda itu elu, lu gak sadar juga semua ini karena elu..! semua ini terjadi saat lu punya perasaan sama Dinda, dan itu salah bos.. lu udah punya bini...
lu deketin Dinda, lu sok jagain Dinda, hei bos.. itu salah.. hal itu malah bikin perasaan lu mendalam ke Dinda, harusnya lu jauhin Dinda setelah sadar kalau lu punya rasa sama Dinda, dan bini lu juga salah.. semuanya itu karena lu berdua, jadi please jangan jadi beban hidupnya Dinda lagi lah..
✓Beban hidup lu bilang.?
✓iya elu... jangan bikin Dinda berfikir keras untuk tetap bersikap biasa aja ke elu setelah kejadian ini ya bos, susah menetralisir sikap dia, semuanya bakal jadi simalakama buat Dinda, kalau lu deketin Dinda, seorang Dinda gak akan ngindarin sahabatnya, dan kalau Dinda jauhin elu, itu seperti pembenaran bahwa benar kalian berhubungan.. yang paling bener adalah elu yang jauhin Dinda, lu selesain urusan lu sendiri. pikirin rumah tangga lu, pikirin istri lu.. kenapa harus lu pikirin wanita lain.
✓aaaghhhh......!!!!!
Tut..Tut... panggilan diakhiri oleh Juna.
Perkataan Dion benar-benar menampar Juna.
__ADS_1
Juna kesal dan membanting ponselnya. BBRAAkkkkk....!! ponsel Juna jatuh lebur