
"dih.. nih orang aku kira udah balik" ucapku yang mengeringkan rambutku dengan handuk
"tuh kan cantik kalau udah mandi... mmm.. wangi lagi" ucapnya mengendusku
"dih... apaan, kopinya dah abis, kamu gak kerja?"
"itulah enaknya jadi pebisnis nda, aturan gua yang punya"
"iya iya bos iya..." ucapku berlalu meninggalkannya yang kini berada di ruang tv dan menuju ke dapur
"Dinda.." ucapnya mengikuti langkahku
"apa?" jawabku malas
"masih suka inget Vicky gak?"
"masih lah, gak akan pernah aku lupain"
"kalo syaif inget gak?"
"mmm... gak terlalu"
"berarti udah gak inget dong, jadi harusnya Vicky juga bertahap harus dilupain juga nda"
"kok kamu ngomong gitu sih Jun, jahat tau kesannya, aku cinta banget sama Vicky" ucapku lesuh
"aku cuma mau kasih kamu kenyataan nda, bahwa hidup yang masih terjebak dimasa lalu itu gak baik" ucapnya yakin
"aku gak lagi terjebak Jun, aku cuma lagi berduka, mana ada istri melupakan suaminya yang meninggal hanya dengan hitungan minggu, aku emang pernah depresi Jun, tapi aku gak segila itu" ucapku kesal
"hahaha bagus lah... aku cuma mau kamu mulai move on"
"belum kepikiran cari gantinya Jun"
"dih.. siapa juga yang suruh kamu move on dengan cara cari gantinya. ge er... kamu itu kan bisa menyibukan harimu dengan kegiatan apa gitu biar gak bengong, udah mah sekarang nganggur"
"oh hehhe.. iya nanti aku mau ngobrol sama Al, minta loker sama dia"
"ohh bagus lah... sementara sampai kamu belum dapet kerjaan kamu boleh kok main ke kantor ku"
"gak ah nanti ganggu kamu"
"kan aku suruh main, bukan suruh gangguin aku, kamu lagi godain aku ya nda.. ciee.. kayanya efek nonton film semi hahaha...."
"dih.. Juna apaan sih"
Ting.. Tong... suara bell menghentikan obrolan kami.
"bentar, buka pintu dulu" ucapku berlalu meninggalkan Juna
**
"eh Al..? masuk Al, tumben"
__ADS_1
"iya aku mau mampir sebentar"
"oh... eh ada Juna juga kok di dalem, yuk..." ajakku
"Dinda..." Al menahan langkahku dengan memegang lenganku
"Juna gak lagi deketin kamu kan? maksud aku kamu gak apa-apa kan? eh gimana sih, maksudnya Juna sama kamu gak lagi deket kan?"
"kamu ngomong apa sih Al" aku berusaha melepaskan tanganku , yukk masuk.." ucapku
"nda.. aku tuh khawatir sama kamu, kita kan tau Juna dari dulu tuh doyan banget sama cewe"
"ya terus, kamu kira aku gampangan gitu? bisa dipake kaya cewek-cewek Juna yang lain?"
"maksud aku bukan gitu, aku cuma takut kamu diapa-apain nda. aku percaya sama kamu, tapi aku gak percaya sama Juna"
"bukannya aku sama Juna tuh sama-sama sahabat kamu ya, gak boleh tau memihak.. yaudah aku ngerti maksud kamu, aku gak apa-apa dan gak ada apa-apa. yuk masuk gak enak diliat tetangga Al" ucapku menarik tangannya.
**
"eh ada Al" ucap Juna menyambut kedatangan kami
"lu ngapain disini?" tanya Al
"lu ngapain disini?" tanya balik Juna
"dih.. kalian apaan sih, duduk Al... Al itu gak sengaja mampir Jun, terus.. Juna ini abis nganterin aku balik Al" ucapku menjelaskan
"emang kamu abis dari mana?" tanya Al
"kamu ngapain ke kantor Juna" tanya Al penasaran
"kan dia opening, aku gak sendirian kok, ada Raka juga. lagian ke kantor Juna itu ide Raka"
"Raka juga ikut nginep" tanya Al semakin penasaran
"kagak.. dia balik, jadi cuma ada gua ma Dinda berduaan di kamar kantor gua, mau ape lu?" ucap Juna
"Juna...." ucapku memukul lengannya
"kamu tidurnya minum obat dulu gak?" tanya Al
"iya" jawabku singkat
Al menghela nafasnya "lain kali kalau kamu mau tidur tapi ada lawan jenis didekatmu, sebisa mungkin jangan minum obatnya nda, itu bisa berakibat buruk kalau ada yang manfaatin situasi karena kamu terlalu lelap"
"maksud lu gua ngapain Dinda gitu, parah lu Al" ucap kesal Juna
"gak ada yang tau kan?" ucap Al menatap tajam Juna
"udah... udah... kalian apaan sih.. gak ada yang terjadi antara gua ma Juna Al, apaan sih lagian juga mikirnya jelek gitu, mending kalian pada pulang aja deh, aku pusing liatnya" ucapku kesal
"nda.. kok kayanya aku suka sama kamu ya" ucap Juna yakin dihadapanku dan Al
__ADS_1
"Juna apaan sih" ucapku memelototinya
"dinda... aku mau cerai sama Anna, nanti kita lanjutin lamaran yang kemarin kita tunda ya" ucap Al meraih tanganku
Aku terdiam, bingung dengan keadaan ini, "apa-apaan ini, Juna menyatakan perasaannya dan Al ingin memilikiku lagi, apa yang akan terjadi" ucapku dalam hati
Aku benar-benar pusing, aku sedikit oleng, aku yang berada di samping Al di tangkap tubuhnya saat aku merasa oleng.
"aku pusing" ucapku
"dinda..." teriak seseorang yang datang
"nda kamu gak apa-apa?" tanya Juna
"kalian abis ngapain, kenapa Dinda jadi pusing, awas biar aku aja" Ririn mengambil alih rangkulan Al padaku
"kita ke kamar aja ya nda... kayanya kamu butuh istirahat deh" Ririn membawaku ke kamar
"kalian diem disini, ada yang mau aku obrolin" ucap Ririn berlalu meninggalkan Juna dan Al
Ririn datang kerumahku karena dikabari oleh Anna yang tau bahwa ada Juna dan Al di rumah Dinda. Anna takut jika sesuatu hal buruk akan terjadi, maka dari itu Anna yang tidak bisa datang karena harus menemani Akbarpun menelpon Ririn.
"nda.. kamu tiduran aja ya disini, biar aku yang ngobrol ma anak-anak, kamu mau minum obat atau gimana?"
"obat pusingku habis Rin, aku mau minum obat tidur aja, nanti kalau kalian mau pulang dan aku gak bangun, kamu kunci aja pintunya dari luar terus simpan di bawah lap kaki ya, aku ada kunci lagi kok" ucapku
"ini bukan obatnya?"
"iya"
"nih minumnya..."
"makasih ya Rin"
"kamu mau aku temenin dulu atau gimana?"
"gak usah, aku mau tidur aja rin kepalaku pusing"
"yaudah, aku turun ya, kalau ada apa-apa panggil aja, kita dibawah"
"iya rin.."
"kamu yang tenang ya, jangan dipikirin apa yang Al sama Juna bilang"
"tetep aja kepikiran Rin"
"gak.. gak... dah biar aku handle mereka, kamu tidur ya"
"iya Rin"
Ririnpun berlalu meninggalkanku sendirian di kamarku. Tuhan.... apa yang harus kuperbuat setelah mendengar ini semua, apa yang akan Anna katakan, apa yang akan Mayang katakan, apa yang akan tetanggaku katakan. Dinda sang pelakor, apakah itu yang akan terucap dari sebagian orang yang tidak mengetahui jelas kisahku.
Kenapa Juna menyukaiku, kenapa Al ingin menikahiku, kenapa tuhan..
__ADS_1
"aa... dinda kangen aa" ucapku lemas menangis