Kisah Jandaku

Kisah Jandaku
Part 84


__ADS_3

Sebuah mobil Fortuner hitam milik Raka yang di kendarai oleh Al dan Anna, melaju cepat di jalan tol cipali arah Cirebon.


Saling terdiam, Al fokus pada jalanan dan Anna pun fokus pada jalanan dari balik jendela mobil seolah menikmati pemandangan hamparan sawah yang tak terlihat jelas karena gelapnya malam.


"kamu tuh masih ada niatan buat deketin Dinda.?" ucap Anna tiba-tiba dalam keheningan yang tercipta, sukses membuat Al terkejut dengan pertanyaan Anna


"gak usah nyari masalah deh.." jawab malas Al


"kok masalah sih, aku kan cuma nanya"


"tapi pertanyaan kamu itu bakalan jadi topik perdebatan diantara kita"


"kamu juga tadi tiba-tiba nanyain Dimas, terus kita debat aku fine aja, kenapa kali ini mau bahas Dinda kamu sewot"


"aku nanya Dimas karena ada feeling aja, dan ternyata benar kan kalian ketemuan"


"tolong bedain ketemuan sama ketemu dong Al, kan gak sengaja"


"tapi kamu gak bilang sama aku, kamu bohong"


"ah.. terserahlah, giliran Dinda malah ngeles"


"apaan sih, apa coba kamu nanya apa sok.."


"kamu masih mau deketin Dinda kan?"


"gak"


"bohong, tadi aja di UGD kamu keliatan panik banget"


"apaan sih, gimana gak panik coba kalau teman sakit kaya gitu, lukanya tuh di kepala Anna...itu fatal banget, emang kamu gak khawatir?"


"aku khawatir, tapi gak berlebihan kaya kamu"


"apanya yang berlebihan sih?"


"ya paniknya kamu tuh ekspresi nya beda banget"


"apaan sih, kamu tuh aneh tau gak sih, menyalahkan ekspresi orang, emang kamu pernah lihat aku panik sebelumnya sampai kamu bisa bedain mana ekspresi aku yang biasa saja sama yang berlebihan?"


Anna terdiam, memegangi sabuk pengamannya menatap lurus kearah jalanan depan.


"kita itu dari SMA hanya teman na, kamu gak kenal baik aku ya, bahkan ketika saya jadi suami kamu.. kamu masih tetap belum bisa mengenali saya" ucap Al


"emang kamu mengenali aku?"


"aku lagi berusaha na, dari awal pernikahan sampai detik inipun saya sedang berusaha untuk mengenal dan mengerti kamu na.. dan saya rasa dari awal pernikahan ini hanya saya yang berjuang untuk keharmonisan rumah tangga kita, dan kamu... kamu benar, kalau kamu itu hanya mencoba untuk profesional, bukan untuk bahagia bersama saya"

__ADS_1


Anna kembali terdiam, mendengar kan dengan sangat teliti apa perkataan Al padanya.


tidak menjawab karena tidak ada pertanyaan dan tidak ada yang bisa dibantah.


"professional.. hah... Anna.. Anna... banyak-banyak denger kajian sana, biar tau gimana jadi istri yang baik, bukan malah jadi istri yang profesional... ini rumah tangga, bukan kantor"


"kalau kamu gak nyaman yaudah hayu kita cerai saja, kan sudah sepakat juga waktu itu"


"tuh.. lihat... ini adalah contoh bahwa kamu emang gak mau memperjuangkan pernikahan kita"


"ya terus kamu maunya gimana sih Al?"


"kali ini kamu pulang kerumah orang tua kamu, sesekali kamu butuh waktu buat introspeksi"


"intropeksi..? emang aku salah apa?"


"bukan hanya kamu, aku juga bakal introspeksi"


"kamu paham gak sih, kalau mulangin istri ke rumah orang tuanya itu seperti menjatuhkan talak satu"


"kenapa kamu takut.? bukannya kamu tadi bilang cerai.? terus kamu juga bangga tidak memohon padaku atas kesalahanmu"


"ah.. terserah... terserah...!!! terserah kamu mau apa, suka-suka kamu.. kita masing-masing aja sekalian, gak usah peduliin aku, gak usah mikirin aku, gak usah hubungin aku, kalau perlu turunin aja aku disini, biar jadi gelandangan sekalian aku disini" ucap Anna meninggikan volume suaranya


"serius mau turun.?" tanya Al


"ya kalau mau turunin aku ya turunin aja, aku tinggal hubungin Dimas"


"ya kan kamu tega mau nurunin aku disini, kalau Dimas gak akan mungkin setega kamu.!"


"APA..!!! Kan kamu yang minta sendiri tadi..!"


"ya harusnya kamu gak ngerespon kaya gitu dong, harusnya sebagai suami kamu tetap mertahanin aku disini.!"


"astaga na... bahkan kamu masih disini sekarang, aku cuma nanya sama kamu bukan nyuruh, kalau kamu kaya gini mending beneran aja kamu turun"


"AL..!!!"


"KAMU MAUNYA APA SIH..!"


"ah.. terserah lah..."


"gak jelas...!"


***


(dirumah sakit)

__ADS_1


"siapa Di..?" tanyaku lemah terbangun dari tidurku atas suara bising Dion saat melakukan panggilan dengan Juna


"ah.. kamu bangun... ini Juna telfon kamu, maaf ya aku angkat, panggilan tak terjawabnya banyak banget, aku takut penting jadi aku angkat" Dion memberikanmu ponselku


ah.. Juna menelfonku sampai 7 kali ada apa.


"terus Juna bilang apa?"


"ya nanyain keadaan kamu, gimana udah sehat belum, ya gitu-gitu lah seputar perkembangan kesehatan kamu, atau gak kamu telpon balik lagi aja"


"ah... gak usah Di" ucapku


Menelfonnya akan membuat masalah semakin besar, data panggilanku akan ada di pomselnya, dan akan menjadikan bukti kuat kalau aku suka pada Juna dan punya hubungan dengannya.


"kalau boleh ngasih saran sih kamu gak usah hubungin dia lagi nda dan menghindarinya dengan tidak mengangkat telpon darinya, ya... untuk sementara waktu saja dulu, sampai masalah nya kondusif"


"iya.. aku juga mikir gitu... ah... rasanya sayang sekali mengorbankan persahabatan yang bagiku ini indah, Di... kamu tau kan aku ini introvert, aku gak punya teman banyak, hanya di kantor saja, yang kamu juga paham kalau pertemanan dikantor gak ada yang sehat, semuanya saling berbicara dibelakang dan saling menjatuhkan. Tapi dengan mereka... aku merasakan hubungan pertemanan yang kuat, aku menyayangi semuanya"


"hahaha...persahabatan kamu juga gak sehat nda, Anna selalu menjelekkanmu saat bersama Al, dan Ririn berbicara buruk dan menjatuhkanmu kepada Mayang, tidak kah kau menyadarinya?"


"aku tau... aku sadar... aku juga kesal dan marah, tapi... kalau aku menjauh, aku takut kehilangan mereka"


"apalagi ditambah ada yang make perasaan sama kamu.. haduhh persahabatan kalian jauh lebih gak sehat dibandingkan pertemanan kantor"


"ah... justru itu... simalakama, ditinggal sayang, di biarkan malah begini"


"justru kamu terjebak namanya.... lebih baik kehilangan mereka yang tidak menghargaimu untuk mendapatkan seseorang yang jauh lebih menghargaimu, kalau kamu masih sama orang yang gak menghargaimu, nanti kapan orang yang menghargaimu akan datang?"


"hmmmm Di... jangan ngomong terus lah, kamu mah kalau ngomong suka bener soalnya"


"lah.. ya bagus dong hahaha, tapi beneran deh pikirin saranku ya"


"iya Dion..."


Suara ketukan pintu terdengar, orang tua Vicky telah tiba di iringi dengan Raka yang sudah menjemputnya.


"Assalamualaikum... masyallah menantu mamah hamil" ucap ibu Vicky yang langsung memelukku seketika masuk kedalam ruangan


"walaikumsalam.... iya mah... nih dedenya" ucapku menunjukan fito hasil USG


"wah.. lihat pah..Vicky junior" ucap ibu Vicky


"masyallah.. masih kecil ya, ini laki-laki atau perempuan.?" tanya ayah Vicky


"belum terlihat dong pah kan masih 6 minggu kan nda?" tanya ibu Vicky


"iya mah, belum terlihat, tapi tadi Dinda sempat mimpiin aa... aa bilang ini perempuan" ucapku mengelus perutnya

__ADS_1


"wah... Alhamdulillah.. senangnya bisa ketemu aa" ucap ayah Vicky


"gimana cerita mimpinya... ceritain dong" ucap ibu Vicky menggenggam kedua tanganku


__ADS_2