
✓halo..
✓ya Na..?
✓dimana?
✓masih di jalan, kamu udah sampai cirebon? keretaku baru berangkat
✓kalau gitu kita chat aja
✓ok
(Anna)
aku dipulangin kerumah orang tuaku sama Al
(Ririn)
hah..? kok bisa..?
(Anna)
semuanya tuh gara2 Dinda..
(Ririn)
Ah... dia lagi... kenapa sih
(Anna)
ya Al gak terima gitu aku jelekin Dinda
(Ririn)
fyuh... cowo2 kayanya dipelet deh sama Dinda, care banget sih, nyebelin..
ini juga mas Dadang marah sama gua, gara2 gua ngamuk di Rs
(Anna)
bener banget, kalau gak melet ya make susuk..
oh ya? ngamuk kenapa anda.?
(Ririn)
ya gua keluarin uneg2 aja, gua bilang kalau Dinda itu sok... bersembunyi dibalik penyakitnya supaya bisa caper ma yang lain, jadi kita harus lindungin dia lah, jagain dialah..
iuh... emang dia siapa
(Anna)
anjrit... bener banget tu..
sok cantik... bikin rumah tangga gua begini, rumah tangga juna juga ancur, dia tuh sebenarnya mau gimana sih? kalau maunya sama Juna ya Juna aja sana jangan ke laki gua..
kalau mau janda ya janda sendirian aja, jangan bikin gua jadi janda juga
(Ririn)
ya gitu lah.. namanya juga orang gak waras, jadi rada setengah gitu mikirnya juga
(Anna)
hahaha... iya ya..
lagian pake segala depresi...
kenapa gak langsung gila aja sih
(Ririn)
gk boleh gitu, omongan doa tau
(Anna)
ya biarin aja, kesel banget soalnya
(Ririn)
__ADS_1
jadi lu sama Al gimana
(Anna)
ya Al maunya kita introspeksi gitu di rumah masing2, lagian kenapa harus pisah rumah gini coba..
kan jadi ribet nanti gua jelasin kenapa gua dipulangin sama Al ke orang tua gua
(Ririn)
ya gak apa-apa, itu namanya rumah tangga..
baguslah Al masih mau buat introspeksi, setidaknya dia gak langsung nyerein lu
(Anna)
kalaupun Al nyerein gua, gua sih fine aja tuh..
emang cowo cuma dia doang, yang nunggu gua janda juga ada kelus
(Ririn)
gila lu...!!
eh, itu yang di Rs dokter yang temennya Dinda..
kayanya dia juga care deh.
(Anna)
semua cowo kan udah kesihir sama dia,
(Ririn)
yang ini rasanya beda na, dia minta buat gua jauhin Dinda, gak usah nemuin lagi dan gak usah hubungin lagi
(Anna)
ya udah... siapa juga yang mau nemuin sama hubungin Dinda lagi, ge er
(Ririn)
Tapi, perasaan gua gak enak sama tatapan matanya na.
(Anna)
apaan si.? biasa aja tau.. gua udah ngobrol banyak, dan biasa-biasa aja tuh, sama kaya yang lainnya, sok deketin Dinda..
paling dia demen juga ke si Dinda..
(Ririn)
tapi kok gua khawatir ya, apa Dinda baik-baik aja.?
(Anna)
paling sekarang keluarga Vicky udah dateng, terus Raka sama si dokter itu balik.
soalnya gua dapet notifikasi transfer dari Raka, buat pergantian biaya pendaftaran RS Dinda.
(Ririn)
syukurlah kalau keluarganya dah dateng
(Anna)
yaudah, lu hati-hati dijalan
(Ririn)
oke..
****
(Dirumah Sakit)
kedua mertuaku sedang tidur di kasur lantai yang dibawa oleh mertuaku.
Aku yang sulit tidur memilih memainkan ponselku.
__ADS_1
Mendengarkan lantunan ayat suci dengan handset ku, berharap anakku ikut mendengarkannya
Apa kalian sudah sampai dirumah masing-masing?
maaf ya telah merepotkan kalian semuanya, terimakasih atas segalanya dan maaf juga belum sempat mengatakannya..
selamat beristirahat semuanya :)
Sebuah kaliamat manis yang kukirim di grup sahabatku.
Berharao mendapatkan respon baik dari mereka, supaya aku tau kalau semuanya akan baik-baik saja.
Tapi... ternyata yang aku dapatkan hanyalah bayanganku saja.
Anna left ...
Ririn left...
Anna dan Ririn kompak keluar dari grup tanpa mengucapkan apapun seiring terbacanya pesanku oleh mereka.
Kenapa kalian keluar? apa ada salah yang kuperbuat lagi? kenapa jadi begini... jangan dong.. please.. jangan keluar.. jangan tinggalin aku.. udah cukup tuhan mengambil semua orang dariku, kali ini saja tuhan... tolong jangan kau ambil juga sahabatku. Dinda
****
Tinggalkan Dinda..
Satu kalimat yang tak bisa Raka jawab dengan spontan, hati dan kepalanya kini sedang bertengkar hebat dalam dirinya.
"bagaimana caranya aku meninggalkan seorang sahabat yang jelas-jelas sedang membutuhkan sebuah pertolongan ku untuk dapat mengangkatnya dari keterpurukan" ucap Raka lemas
"memberikan ruang untuk Dinda bernafas dari persahabatan toxic mu adalah bantuan darinya?" timpa Dion
"toxic.?"
"intinya adalah, kalau kalian gak bisa bahagiakan Dinda, minimal kalian gak nyakitin Dinda, jadi please... tinggalin dia"
"kenapa terdengar seperti anda sedang menyingkirkan saya ya?" tanya Raka
"wah.. akhirnya seorang Raka dapat berfikir negatif juga hahaha" jawab Dion tertawa geli
Raka hanya melihat tingkah Dion yang tertawa, menyeruput sebuah kopi yang sudah dingin karena dibiarkan oleh serunya suasana perbincangan Raka dan Dion.
Raka masih terdiam, mencoba mendamaikan hati dan isi kepalanya.
Hatinya ingin sekali selalu berada disisiku, menjaga dan melaksanakan permintaan terakhir Vicky.
Dan isi kepalanya sedang berfikir keras, bagaimana caranya agar dapat berada disisiku tanpa menyakitinya.
"atas segala tingkah kalian yang menyebalkan, apa kalian fikir Dinda sesabar itu.? selemah itu.?
tidak ka... dia adalah sosok introvert dengan riwayat depresi.. seorang introvert lebih memilih diam berfikir dari pada menunjukkan kemarahannya. Dan jika saat Dinda berfikir keras, depresinya akan datang. Akan lebih baik jika Dinda mengalami serangan panik dibandingkan Dinda diam saat ada masalah" seru Dion
"apa yang dia coba fikirkan.?" tanya Raka
"Dia tidak berfikir tentang masalahnya, seseorang dengan riwayat depresi, lebih memikirkan bagaimana masalah ini terjadi, dan cenderung akan menyalahkan dirinya sendiri. Itulah kenapa dia lebih mudah memaafkan seseorang, bukan karena dia lembek atau lemah.. tapi karena dia menganggap bahwa semuanya adalah kesalahannya,
Saat Vicky kecelakaan, dialah yang salah..
Saat Anna cemburu padanya, dialah yang salah..
Saat Juna menciumnya, dialah yang salah..
Saat Mayang memakinya, dialah yang salah..
Saat Al menyukainya, dialah yang salah..
Saat Ririn mengkhianati nya, dialah yang salah..
Dan akan selalu berfikir seperti itu seiring masalah hidup yang datang padanya"
"astagfirullah..." Raka menyandarkan punggungnya dikursi besi kafe, mengusap kasar wajahnya dengan kedua telapak tangannya
"jangan anggap remeh penyakit depresi, apalagi disertai dengan dia yang introvert..
ka.. dalam 9 bulan lamanya masa kehamilan Dinda, coba bayangkan bagaimana dia melewatinya. Bagaimana dia memeriksakan kandungannya sendiri, memenuhi semua keinginan ngidam sang jabang bayi sendirian, menangisi segala keluhan kehamilannya sendirian dan yang lebih parah dia akan melewati masa persalinannya sendirian"
"terus maksud lu apaan..?? apa Dinda harus nikah lagi gitu biar ada yang nemenin..??!!" tanya Raka meninggikan suaranya.
Dion tak menjawabnya, tapi dia tersenyum pada Raka mengiyakan pernyataan Raka.
__ADS_1
"bahkan.. saat gua mencoba mengenalkan Nabil padanya pun gagal, rasanya sulit mencari seseorang yang dapat menerima segala kekurangan Dinda, terlebih dia sedang hamil sekarang.. mencari jodoh untuknya tak semudah dan secepat itu" ucap Raka
"kenapa bukan kau saja yang menikahinya.?" ucap Dion