Kisah Jandaku

Kisah Jandaku
Part 24 (Perkelahian)


__ADS_3

Anna dan Al kini duduk di meja akad, ayah Anna tampak berbicara pada sang penghulu.


Tampak mereka mencoret data Dimas dan Digantikan oleh data Al.


Anna tampak tersenyum manis, tapi Al bermuka datar, Al mencoba menghubungi keluarganya untuk mengabari pernikahannya.


"Apa maharnya mas Al" tanya penghulu pada Al


Al membuka dompetnya, diraihnya uang sebesar satu juta rupiah, karena memang hanya itu uang cash yang dia punya.


"siapa saksi dari pihak pengantin laki-lakinya?" tanya penghulu


"biar saya" ucap Juna mendekat


"baiklah kita mulai acaranya" ucap penghulu


Al melantunkan ijabnya dengan baik, dengan satu tarikan nafas dan terdengar merdu.


sekarang mereka resmi menjadi suami istri.


Acara ijab kabul selesai dan diteruskan oleh acara resepsi.


Al dan Anna duduk di pelaminan sekarang, seperti raja dan ratu sehari.



Aku benar-benar tidak menyangka atas kejadian hari ini, sungguh sangat dramatis kisah pernikahan Anna. Tapi aku senang melihat Anna bahagia, dan aku juga tenang karena Anna menikah dengan orang yang aku kenal, walaupun Al sedikit kasar tapi aku tau dia baik. Hanya saja jika dia marah emosinya tidak terkontrol..


Aku melihat Anna tersenyum bahagia menyambut tamu yang datang sedangkan Al masih terlihat kusut.


Aku dan Ririn duduk di meja pemberian souvernir pernikahan Anna dan Al.


Aku cabut ucapan terimakasih yang tertempel di Souvernir pernikahan, karena nama yang tertera di kartu ucapan adalah nama Anna dan Dimas, bukan Anna dan Al.


Raka dan Juna berada di garda depan, menyambut tamu dan menyalaminya.


"Dinda..." suara panggilannya tidak asing bagiku


"aa... ngapain aa disini?" ucapku kaget


Tapi dia tidak menjawab ku dan berlalu meninggalkanku, mukanya terlihat kesal. aku hanya mematung memandangi punggungnya


"Aku yang telpon dia suruh kesini" ucap Ririn


"hah... kenapa?? buat apa??" tanyaku penasaran


"aku ceritain masalah tadi sama dia, aku gak terima kamu disakitin Al, dia harus dapet pelajaran" ucapnya ketus


"hah...?" aku berlari menyusul Vicky


Vicky kini sedang berada di pelaminan.


Mencengkram lengan baju Al.


"ikut gw, ada yang mau gua omongin ama lu" ucapnya tegas


Tangan Vicky ditepis oleh Al "maksudnya gimana bos, ngomong aja gak usah nyolot" jawab Al melotot


"baik, kalau kamu maunya disini" ucap Vicky melirik Anna "jangan salahkan saya kalau nanti bikin keributan disini" ucap Vicky mengancam

__ADS_1


"apaan sih.. jangan disini ayo kedalam" seru Anna menarik tangan Al menuju ke dalam kamar Anna


buggg.... Vicky langsung memukul Al saat sudah berada di kamar


"bisa-bisanya lu nampar dinda, dasar cowok brengsek" bugggg.... Vicky memukul Al kembali


Diraihnya lengan baju Al dan Vicky mendorongnya,


Al pun bangkit, diapun mendorong Vicky sekarang..


mereka sedang adu jotos sekarang.


Anna yang panik mencoba merelai perkelahian mereka tapi tidak kuasa karena tenaga mereka sangat kuat..


Anna hanya bisa berteriak "sudah...aku mohon.. stoppp...!!!"


"Dinda itu cewe murahan, pelacur" Al berteriak


"Brengsekkkkk... Dinda bukan wanita seperti itu..." Vicky semakin membabi buta memukuli Al


"hei.... cukup....!!!" aku berteriak, mencoba memisahkan mereka, cukup sulit karena keduanya bergulat dengan sengit.


buggggg.... Aku terdorong kuat, entah siapa yang mendorongku.


Sekarang aku terjatuh tersungkur kebawah, kepalaku terbentur ujung meja rias Anna, tiba-tiba aku merasa kepalaku pusing, aku mengusap dahiku dan kulihat ada darah di tanganku.. . Akupun terjatuh Pingsan.


"Dinda..." Vicky berteriak, meninggalkan pergulatannya dengan Al dan mendekat padaku


Anna kini menyanggah tubuh Al dan menyenderkan tubuh Al di pangkuannya


Aku di gendong oleh Vicky ke atas ranjang,


"cepat ambil air dan handuk" perintah Vicky pada Ririn


"Dinda.... bangun" ucap Vicky panik


"hahaha, lihatlah sepasang kekasih sedang merana" Al tertawa


"dasar brengsek, tidak akan kubiarkan kau menyakiti dinda" ucap Vicky


"sudah Al... tidak seharusnya kamu begini" ucap Anna menangis "kasihan dinda.."


"Dinda jahat sama aku na.." ucap Al menyengir kesakitan


"tapi tetap saja kamu gak bisa memperlakukannya seperti itu, nanti dinda depresi Al, dia belum sembuh" ucap Anna menangis


Tampak wajah Al menyesal, dia memegang pipinya yang kini membiru karena pukulan Vicky


Ririn datang dengan membawa baskom berisikan air dan handuk, diberikannya kepada Vicky..


Vicky pun langsung sigap mengambil handuk, dan membersihkan lukaku


"Vicky kamu juga terluka, aku ambil air lagi ya buat kamu, aku juga akan cari betadine" Ririn berlalu dan berhenti di hadapan Anna dan Al


"Al... kamu juga terluka, Anna ayu ambil air buat suamimu" ucap Ririn mengajak Anna


"bangun nda.." ucap Vicky menepuk-nepuk pipiku


Anna mencoba membersihkan luka Al,

__ADS_1


dan Ririn mencoba membersihkan luka Vicky tapi ditepis oleh Vicky "aku gak apa-apa" ucapnya ketus


"tapi muka kamu biru ky..." ucap Ririn


Vicky hanya diam saja, dan terus membangunkan ku


"Aku akan bilang pada bupati untuk mengeluarkan mu dari rumah sakit" ancam Vicky pada Al


Al menunduk, ia mencerna perkataan Vicky.


Vicky memanglah punya koneksi besar di kabupaten ini, dengan mudah Vicky bisa menyingkirkan Al, bahkan untuk pergi dari kota ini.


"tidak...." Anna berteriak, "tolong maaf kan Al Vicky, dia sedang emosi saat itu" ucap Anna lirih


"kamu menyakiti wanitaku" ucap Vicky


"jangan a" ucapku lirih, yang mulai tersadar...


"Dinda...." Vicky membantuku untuk duduk


"diminum dulu" Vicky menyodorkan satu buah gelas berisikan air minum


Al mendekatiku, "kamu gak apa-apa?" ucapnya panik


"pergi" ucap Vicky ketus


"aku minta maaf sama kamu nda.. gak seharusnya aku berkata seperti itu dan menyakitimu, maafkan aku" ucap Al lirih


"ncuh.. setelah menyakiti dinda kau hanya minta maaf?" tanya Vicky


"terus lo mau gw gimana, hah??" tantang Al


"cukup.. udah... kalian ini apa yang kalian ributkan sih" aku menghela nafas panjang


"Al aku sudah memaafkan mu, aku tau posisimu, aku tau kamu kesal, aku sudah memaafkan mu, dan Vicky please jangan memutus rezeki Al, dia punya anak dan sekarang dia sudah menikah, apakah kamu tidak memikirkan kehidupan ekonomi mereka"


"tapi din" ucap Vicky memandangiku


"makasih nda" potong Al meraih tanganku "aku janji aku gak akan menyakitimu lagi" Tangan Al di lepas paksa oleh Vicky


"hargailah istrimu sekarang, jangan pernah menyentuh yang bukan milikmu, aku melepaskan mu kali ini, tapi jika kamu menyakiti dinda lagi, gak akan aku biarkan kamu bahkan untuk bernafas sekalipun" ancam Vicky pada Al


Al melangkah mundur.. Ririn mengajak Anna dan Al untuk keluar karena pesta resepsi masih berlangsung dan para tamu sudah mempertanyakan keberadaan pengantinnya.


dikamar tinggallah aku dan Vicky berdua.


Vicky memelukku, bersedih melihatku lemas


"aa..." ucapku lirih berusaha melepas pelukannya


"aa nanti dilihat orang gak enak" Vicky pun melepaskan pelukannya, menyeka air matanya yang sudah ditahannya untuk jatuh sedari tadi.


"apakah sakit..?" dia memegang kepalaku


"sedikit a, gak apa-apa" ucapku


"ayu kita keluar" ajakku padanya


"apa tidak kerumah sakit untuk diperiksa?" ucapnya

__ADS_1


Aku menggelengkan kepalaku


__ADS_2