
"hai gaes.. akhirnya sampai juga kalian" Sapa Raka yang tengah menunggu kedatangan kami, menyapa dan merangkul kami satu persatu.
"eh iya nda.. kenalin ini Nabil temen gua di kantor" ucapnya menatapku dan menoleh ke arah Nabil
"hai aku Nabil" ucapnya menyodorkan tangannya
"hai... aku Dinda" ucapku meraih tangannya dan berjabat dengannya.
Nabil, Bendahara Utama perusahaan Telk** berperan penting dalam perusahaan Swasta terbesar di Indonesia itu adalah rekan kerja Raka. Mereka berteman sejak saat mereka memulai karirnya di kantor tersebut.
Seorang pemuda yang belum menikah dan terlalu sibuk bekerja hingga tak memikirkan tentang wanita.
Meskipun masuk pada tahun yang sama dengan Raka, Nabil usianya lebih tua lima tahun dari kami, kini usianya 36 yg tahun. Usia yang matang dan juga mapan, hingga siap untuk dijadikan calon suami untuk Dinda fikir Raka.
"cie... Dinda ... hai Nabil aku Ririn dan ini suamiku mas Dadang" ucap Ririn berjabat tangan dengan Nabil dan disusul dengan jabatan tangan mas Dadang.
"Dinda ini tas kamu.. hei siapa ini?" ucap Anna penasaran
"saya Nabil.." menyodorkan tangannya
"aku Anna sahabatnya Dinda, kamu temennya Raka ya yang mau dikenalin sama Dinda, oh ya itu kenalkan suamiku mas Al, mas.. sini" Anna memanggil Al yang sedang sibuk mengurusi barang-barang
"Al" ucapnya
"Anna barang kamu banyak sekali" ucap Ririn menatap barang bawaan Anna
"hihihi gak juga kok, yang ini punya Dinda oh iyah Nabil mau bawain nggak kopernya Dinda?" tanya Anna yang kini memegang koper Dinda
"Anna.." ucapku menarik koperku
"tidak apa.. mari saya bawakan" tangannya terbuka meminta koperku
"tuh kan.. ini" Anna hendak memberikan koperku tapi ditahan olehku
"tolonglah... ini hanya koper kecil aku bisa membawanya jangan merepotkan diri kalian, kumohon.." ucapku memelas masih mempertahankan tanganku
"cih.." ucap kesal Anna, Nabil tersenyum mendekatkan dirinya padaku
"kalau begitu mari aku antar ke mobil" ucapnya tersenyum manis padaku
Aku menatap Ririn, Kemudian Ririn menganggukkan kepalanya tanda menyuruhku untuk setuju. Kemudian aku pun mengikuti langkah Nabil menuju parkiran kendaraan di stasiun Gambir ini. Memasuki barang bawaan Dinda ke bagasi belakang mobil.
__ADS_1
"Ka.. " sapa Juna berbisik
"seserius itu lo dengerin kata-kata Ririn kemarin?"
"emang kenapa sih jun.. kan bagus, kita jadi bikin Dinda seneng"
"tadi dia abis ketemu mantan suaminya"
"terus kenapa? kamu maunya Dinda balik sama mantannya?"
"gak lah najis.. jangan..!"
"yaudah.. diem.. jangan bawel, yuk buruan" ajak Raka yang masuk kedalam mobil duduk di belakang kemudi.
Ririn dan Suaminya sudah duduk seperti biasa di bangku mobil belakang. Anna memilih duduk di depan seperti biasa dan kini bersebelahan dengan Raka. Al sudah masuk duduk di kursi tengah. Aku Pun mau masuk kedalam mobil duduk di kursi tengah.
"nda.." lengan ku di tahan oleh Nabil
"iya?" ucapku
"di mobil udah gak muat, kita naik motor aja gak apa-apa kan?" ucapnya
"apa?? kamu gak liat Dinda pakai Rok?" ucap Juna yang belum masuk ke dalam mobil kesal
"apa? bahkan jika kalian berdua masukpun mobil masih bisa muat... awww..." perut Juna dicubit oleh Anna yang berada di samping Juna meski sudah duduk di dalam mobil.
"dibelakang ada koper udah gak muat Juna" ucap Ririn setengah berteriak agar suaranya juga terdengar
"nanti aku pangku sekalian Dinda nya" ucap Juna mengelus perutnya dan menatap tajam Anna.
"biar aku aja yang naik motor, Dinda kamu masuklah kamu bisa sakit kalau naik motor dengan pakaian kamu kaya gitu" Al turun dari pintu mobil di arah berlawanan, mengitari mobil dan menghampiri Nabil " ayo" ucapnya mengajak Nabil
"ah.. baiklah" jawab Nabil meninggalkan kami
Aku yang sedari tadi hanya diam mematung menyaksikan perdebatan tadi memilih untuk membiarkannya dan masuk kedalam mobil, dan duduk di kursi tengah bersama Juna.
Tampak dua orang yang kecewa di dalam mobil, Raka dengan kegagalan rencananya dan juga Anna yang mengetahui bahwa Al masih peduli dengan Dinda..
"nda.. kamu masih mikirin mantan kamu gak?" ucap Juna berbisik di telingaku.
Aku memukul kaki Juna "ya gak lah, ngapain" jawabku kesal
__ADS_1
"bagus...." Juna tersenyum penuh bangga "ingat ya nda, mantan itu udah kaya hari jumat kemarin, jadi kamu gak bisa kembali dihari yang sama dengan melewatinya dua kali"
"iya Juna... aku bahkan gak kepikiran untuk kembali padanya kok" ucapku yakin
"anak pintar..!!" Juna mengacak-acak Rambut Dinda tersenyum lebar menampilkan gihinya yang rapih, disaksikan oleh Anna melalui kaca sepion tengah.
"Dinda... Nabil tampan ya?" ucap Ririn dari belakang
"ah.. kurasa begitu?" jawabku
"gantengan juga gua Ririn" jawab Juna
"ah... bisa ngaca gak sih.. Raka nemu dari mana sih, cowo kok udah kaya cewek, kulitnya lebih mulus dari pada aku" ucap Ririn mengerucutkan bibirnya
"iya.. parfumnya wangi sekali, hidungku sakit hihihi" ucapku tertawa kecil
"hahahha" susul tertawa Juna
"Dinda.. kalau sama Nabil pasti cocok banget" tambah Ririn
"hah..? bisanya kaya gitu... eh tunggu... apa ini rencana kalian? maksudku Raka sengaja bawa Nabil buat dikenalin sama aku?" Aku menepuk pundak Raka
"ah... gak kok, kebetulan dia mau liburan ngajak gua, gua udah ada janji ma kalian jadi sekalian aja gua ajak, gak apa-apa kan?" jawab aman Raka melirik ekspresi ku melalui kaca sepion tengah
"ah... gitu ya.. maaf udah ge er aku.. dia ikut nginap juga ka?" tanyaku
"ah apa? benar... apa dia ikut nginap juka ka? males banget sih ada orang asing ikut liburan kita" ucap Juna kesal
"gak nda.. sore dia balik, ada acara kenaikan pangkat sekertaris baru di kantor" ucapnya
"bukannya kalian sekantor? nanti kamu juga bakal balik gitu?" tanya Ririn
"gak.. gua dah izin.. ya kali liburan udah direncanain dari jauh hari gua batalin, aman... gua stay.." ucap Raka.
Perjalanan dari Stasiun gambir menuju pelabuhan hanya sebentar.
Saat tiba kami langsung menaiki kapal feri untuk menuju pulau tidung.
Seperjalanan laut aku mengobrol dengan Nabil, mengetahui latar belakangnya, keluarganya, hobinya, pekerjaannya bahkan kehidupan pribadinya.
Dari percakapan kami, aku mengetahui bahwa Nabil dulu sempat hampir menikah, dulu Nabil belum masuk ke perusahaan Swasta bersama Raka. Kehidupan nya masih belum mapan seperti sekarang, hingga dia tidak dapat memenuhi mahar yang keluarga pihak perempuan inginkan. Jadilah sang perempuan menikah dengan pilihan orang tuanya dan meninggalkan Nabil.
__ADS_1
Maka dari itu Nabil selalu berusaha keras atas pekerjaannya, sampai lupa untuk mencari pengganti wanita itu.