Kisah Jandaku

Kisah Jandaku
Part 31 (Syaif)


__ADS_3

Kini aku mulai sadar, kubuka mataku meski terasa berat. Aku langsung bangkit duduk dari tidurku karena terkejut bahwa sekarang aku ada di kamar yang aku kenal, kamar yang tak asing bagiku. Ini adalah kamar ku dan Syaif.


Aku langsung keluar dari kamar, kudapati Syaif sedang duduk merenung di sofa dan terkejut melihatku yang sudah sadar berdiri di depan pintu kamar.


"mah.. kamu udah sadar?" ucap Syaif menghampiriku


"stop..berenti disitu, jangan dekati aku" ucapku berteriak


"kenapa aku disini??? aku mau pualng...!!!" aku masih berteriak


"tenang mah..kamu sekarang di rumah kita" dia berusaha mendekatiku perlahan


"gak aku gak mau, aku mau pulang..!!" aku berlari menghindarinya ke arah pintu keluar.


Aku coba membukanya tapi terkunci


"mamah... tenang... ini papah mah, kenapa mamah takut sama papah" Syaif mencoba mendekatiku lagi


"Stoppp..... aku bilang jangan dekati aku" aku berteriak sekuat tenagaku.


Syaif menghentikan langkahnya, terkejut dengan suaraku "iya iya mah.. papah diem papah diem, mamah tenang yah.. papah disini papah gak akan deketin mamah" ucapnya menenangkan


Aku masih mencoba membuka pintu keluar "Tolong...Tolong.....!!!" ucapku berteriak memukul-mukul pintu


"mah... tidak ada orang, tidak akan ada yang denger, kamu yang milih rumah ini dulu, kita gak punya tetangga" jelas Syaif


"kamu mau apa??" ucapku lirih yang kini sedang menangis


"papah gak ngapa-ngapain mah... mamah yang tenang papah mohon" ucap Syaif


"aku mau pulang.....!!!!." ucapku masih menangis histeris


"iya mah, nanti kita pulang.. tapi mamah tenang dulu papah mohon" ucapnya yang masih berdiri tak bergerak jauh dari jangkauanku


Aku masih menangis histeris, aku duduk bersandar pada pintu "kamu mau apa? aku mau pulang...!" ucapku lirih


"iya mamah.. nanti papah antar mamah pulang, tapi mamah tenang dulu ya, jangan nangis, papah gak bakal ngapa-ngapain mamah, papah janji" jelasnya padaku


Aku masih menangis


"papah ambil minum buat mamah ya.." Syaif berlalu pergi kedapur untuk mengambil minuman.


Syaif mencoba mendekatiku perlahan untuk memberikan minuman padaku


"diminum dulu mah biar mamah tenang"


Aku yang masih menangis menatap Syaif, dan kuraih gelasnya dengan tangan bergetar.


Aku meminumnya kasar, "mana tasku..?" aku berteriak padanya


"apa mamah nyari ini?" Syaif memegang obatku


"kemarikan...!!"


Syaif memberikanku obat, dan akupun meminumnya tapi tidak dengan obat tidurnya, aku tidak meminumnya.. Beberapa saat kemudian aku pun mulai tenang.


Aku hanya diam, Syaifpun diam memandangiku. Kami saling duduk di lantai. Aku duduk di balik pintu dan Syaif duduk di hadapanku dengan jarak 3 meter dariku.


Meski aku tidak bersuara tapi aku sekarang masih menangis, kuseka air mataku sendiri dengan tanganku "aku mau pulang ..!" ucapku lirih


"iya mah, nanti papah antar mamah pulang"


"tapi aku mau sekarang" aku benar-benar ingin pulang saat ini, karena haripun sudah malam pasti orang tuaku mengkhawatirkanku


"papah mau ngobrol dulu sama mamah" ucap Syaif


"kamu mau apa lagi? belum puaskah kamu menyakitiku?"


"mamah ngomong apa sih, papah gak nyakitin mamah mah, itu kecelakaan, papah di jebak Dewi papah mabok" jelas Syaif


"tapi tetap saja, kalau kau tidak mendatangi tempat kotor itu, ini semua tidak akan terjadi" ucapku

__ADS_1


"papah minta maaf mah, papah terus minta maaf sama mamah, tapi mamah gak pernah mau dengerin papah"


"iya sudah aku maafkan kamu, tapi aku mau pulang"


"bukan begitu mah, tolong tenangkan dulu mamahnya, papah ikut gak tenang kalau mamah maafin papah dengan cara kaya gitu"


Aku menghela nafasku, teringat perkataan dr.lala bahwa aku harus memaafkan nya, melupakan masa laluku dan berdamai dengannya


"baiklah..." kuseka air mataku dan mengusap pipiku agar kering "aku sungguh-sungguh memaafkanmu"


"benarkah?"


"iya..lupakan masalah itu anggap tidak terjadi apapun walau berat untuk melupakannya, tapi aku akan mencobanya"


"terima kasih mah... tapi masalahnya sekarang papah mau balik lagi sama mamah, papah masih sayang sama mamah"


"untuk apa kita kembali?"


"supaya anak kita juga bahagia liat kita bersama lagi mah"


"bagaimana dengan kebahagiaanku, apa kau menjaminnya? jangan sebut-sebut anakku karena dia sudah bahagia disurga bersama tuhan" jelasku mengcopy ucapan dr.lala


"papah janji gak akan mengulangi kesalahan papah mah, papah akan cepat menceraikan Dewi dan pindah kerja kesini" ucapnya


"bagaimana dengan Dewi dan anaknya?"


"aku tidak perduli dengannya"


"bagaimana bisa kamu gak perduli, anak itu akan tumbuh tanpa ayah, tidak kah kau yakin bahwa Dewi akan kembali kekehidupan gelapnya hanya untuk membesarkan anaknya"


"itu resikonya mah, yang penting papah balik lagi sama mamah"


"aku gak bisa, aku udah sama Vicky.."


"apa papah udah gak ada dihati mamah?"


"masih, tapi hanya sebatas mantan suami dan papah dari anakku.. aku sudah menerima pernikahanmu dan Dewi, cobalah untuk menerima pernikahanku dan Vicky"


"aku juga sama gak bisa"


Syaif sekarang menangis


"kenapa nasibku seperti ini, tuhan tidak adil padaku. aku kehilangan anak dan juga dirimu, dipaksa menikah dengan Dewi dan juga sekarang harus menerima kenyataan bahwa anak itu bukanlah anakku, dan kau... sekarang akan menikah dengan orang lain"


"dokterku bilang kita harus mencoba berdamai dengan masalah kita agar kita bisa memaafkan dan melupakannya" ucapku lirih padanya


Syaif masih menangis, mencoba menyeka air matanya yang membasahi pipinya agar terlihat tegar


"apa mamah cinta sama si Vicky itu? papah tau dia mantan mamah"


Aku mengangguk


"yaudah kalau mamah mau nikah sama dia, silahkan"


"tapi kamu jangan cerai sama Dewi, kasian anaknya"


"gak mah maaf aku tetap ingin bercerai"


Aku menyapu pandanganku di segala ruangan, kulihat tasku berada di atas meja. Aku berlari menunju tasku berada, kuraih ponselku banyak panggilan tak terjawab dari Vicky dilayar. Aku coba untuk menghubunginya, sesekali ku lihat Syaif yang masih duduk termenung menundukan wajahnya.


✓Halo Dinda kamu baik-baik aja?


✓iya a.. aa bisa jemput dinda


✓kamu dimana


✓di rumah syaif


✓kenapa bisa?


✓tadi aku pingsan terus dibawa kesini

__ADS_1


✓apaaa....?


✓cepet a dinda mau pulang


✓aku berangkat sekarang, jangan matikan telponnya


✓iya a


"apa mamah selama ini menglami depresi?"


aku hanya mengangguk tak menjawabnya


"apa karena papah?"


Aku pun mengagguk kembali


"apa sekarang sudah sembuh?"


aku menggelengkan kepalaku


"maafkan papah mah, papah gak tau kalau mamah selama ini menderita"


"gak apa-apa depresiku sudah lebih jauh membaik" jawabku


"menikahlah kalau itu membuat mamah bahagia" ucapnya menatapku dalam


Aku menggauk mengiyakan.


Aku tau saat ini Vicky mendengarkan percakapanku dengan Syaif melalui telpon yang masih tersambung.


"boleh papah datang nanti pas mamah nikah?"


Aku mengangguk "iya dateng aja" jawabku


"boleh gak kalau papah meluk mamah buat yang terakhir kalinya"


"aku.... akan tanya Vicky saat dia datang, dia yang berhak atasku sekarang" ucapku yang berharap di dengar oleh Vicky lewat ponsel


"baiklah.. kita tunggu dia datang"


15menit kemudian Vicky pun datang, dia menggedorkan pintu dengan keras dan kencang. Syaif membuka pintunya dan kerah bajunya langsung dicengkram oleh Vicky.


"beraninya kau membawa dinda kesini" Vicky berteriak


Buggghh... Vicky memukul pipi Syaif


"sudah kubilang jangan berani menyentuh dinda, dan kau menggendongnya" Buggg... pukulan Vicky si pipi Syaif kembali


"akan kubunuh kau ********....!!!!!


Vicky tidak memberi ampun sekalipun pada Syaif, Vicky terus saja memukuli syaif.Tapi entah kenapa Syaif hanya diam menerima pukulan Vicky begitu saja.


Aku mencoba menarik Vicky untuk memisahkannya, tapi kali ini Vicky benar-benar kuat, berbeda dengan pertengkrannya dengan Al saat itu.


Saat sudah terlihat Syaif lemah dan tidak berdaya barulah Vicky melepaskannya.


"sudah a nanti dia mati" ucapku lirih menarik tangan Vicky


"tidak apa mah, papah pantas menerimanya" jawab Syaif


"matilah kau kalau begitu" ancam Vicky


"aa..." ucapku


"dia sudah membuat keluargmu khawatir dinda, aku juga... terlebih dia malah bawa kamu kesini"


"tapi dia hanya...."


"sudah...ayu kita pulang" Vicky menarik tanganku


Kamipun meninggalkan Syaif yang tergeletak kesakitan menahan pukulan dari Vicky padanya

__ADS_1


__ADS_2