
"hei nda... dari mana?" Raka mendekatiku dan memelukku
"dari kuburan Vicky ka" jawabku bingung tak membalas pelukannya
"gua padahal di rumah sakit, tapi baru ketemu lu sekarang. nda.. lu baik-baik aja kan?" tanya Raka yang melepas pelukannya dan memegangi bahuku
"gak apa-apa ka... ka bisa gak kita ngobrol didalem aja, diliatin tetangga, gak enak nih" ucapku melirik sekumpulan ibu-ibu yang sedang memandangiku dan Raka
"oh oke" jawabnya
kamipun masuk kedalam rumah, kubuatkan minuman segar untuk Raka yang kini berada di meja makan dapur rumahku.
"rumah kamu di renov ya, gila... dah lama banget ya nda gua gak kesini" ucapnya.
Dibanding yang lain Raka lebih sering kesini, alih-alih rumahku adalah markas berkumpulnya para sahabatku, rumahku ini juga menjadi tempat pelarian buat Raka.
Raka adalah anak broken home, orang tuanya kala itu sering bertengkar, Raka yang jika sedang merasa ketakutan atau pun merasa sedihpun datang ke rumahku.
Raka lebih dekat dengan orang tuaku dibanding yang lain, karena Raka sering menginap dirumahku kala itu untuk melarikan diri dari rumahnya. Dan dibanding yang lain aku mengenalnya di SMA, bersama Raka aku mengenal nya sejak masih di bngku SMP.
Saat Raka kuliah di Bandung, orang tuanya resmi bercerai, dan saat ini orang tuanya sudah memiliki keluarga baru.
"ka diminum dulu"
"wihh... seger.. makasih nda... eh seriusan tadinya aku gak tau kalau ini rumah kamu nda, beda banget"
"iya.. ada rezeki jadi direhab ka"
"kamar yang biasa aku tempatin juga udah gak ada ya nda?"
"iya ka, dah gak ada.. dilebarin jadi kamar ayah ibu, kamarku juga udah pindah ke atas, kamu suka liat kan kalau video call"
"ah.. iya iya..."
"kamu kok kesini, bukannya kamu bilang bakal stand by di Jakarta buat nunggu kedatangan kita nanti sabtu?"
"aku mau kasih kejutan Juna nda... dia kan opening kantor barunya besok"
"oh... jadi aku gak usah bilang anak-anak kalau kamu di sini"
"gak usah.. anak-anak itu gak ada yang becus kalau dibuatin rencana, besok kita ke kantor Juna ya, berdua aja gak usah ajak yang lain, ribet... gua juga gak lama, abis dari Juna gua langsung balik ke Jakarta"
"oh.. eh iya, katanya kamu mau pindah ke Cirebon?"
"iya ... udah aku ajuin tinggal nunggu acc CEO aja"
"ngapain sih ka repot-repot, aku jadi gak enak tau"
"gak enak gimana, jangan jadi pikiran nda.. ini tuh gak sepenuhnya keinginan kami, ini juga keinginan Allah. masalahnya Juna emang mau bikin cabang dicirebon, terus si nana nangis mulu ngurusin anak sendirian.. ya udah aja Juna jadiin kantor disini pusatnya, gua juga balik biar bisa bantu ngurusin anak gua, dah nda.. gak usah dipikirin, semua ada hikmahnya"
"oh... kalau ada alasan yang lebih pasti gini sih aku jadi tenang, makasih ya"
"makasih mulu... ayah ibu mana?"
"kemarin pulang ke Makasar ka"
__ADS_1
"lah kamu sendirian dong?"
"ya gitulah..."
"apa mau ditemenin? Anna Ririn gitu?"
"gak usah ka... kaya apa aja, udah tua ini kita, udah harus ngurus keluarga masing-masing, ngapain jadi malah ngurusin aku sih"
"mmmm iya sih, eh gua juga kayanya harus cabut deh nda, gua dari Jakarta langsung kesini tau hahaha abis kalau ke rumah dulu malah nempel terus males keluar, udah aja gua kesini dulu"
"dasar... iya makasih ya udah disempetin mampir"
"besok gua jemput ya"
Akupun mengantar Raka keluar rumah, Raka pamit dan masuk kedalam mobilnya, seperti biasa... suara bisikan tetanggaku atas kedatangan Raka pun terdengar ditelingaku.
"tuhh liat beda lagi aja yang dateng, gila yah janda baru.. hati-hati buk, suaminya dijagain" ucap salah seorang ibu-ibu yang seperti sengaja suaranya keras agar terdengar olehku.
Aku hanya berdiam diri, menghembuskan nafas panjangku dan masuk kedalam rumah. Untuk menghalau semua perkataan ibu-ibu pun aku tak sanggup. Sungguh meninggalkan perdebatan meski kita ada di posisi yang benar adalah tindakan yang paling baik.
**
(Dikantor Juna)
Kantor Juna adalah sebuah ruko 3 lantai. Lantai 1 dan 2 adalah ruangan penjualan, sedangkan lantai 3 adalah kantornya..
"mba.. saya teman Juna, Juna ada dimana?" ucap Raka menyapa karyawan Juna
"ada di atas kak, cuma tadi lagi ada tamu juga" jawabnya
"kayanya temannya kak"
"wah... siapa yang berani kesini duluan sebelum kita, yaudah, dilantai 3 kan mba?"
"iya kak.."
Kami pun menuju naik ke lantai 3 untuk menemui Juna. Sampailah kita di lantai 3 dan sudah mendekati pintu ruangan Juna. Belum sempat mengetuk pintu ruangan. Pintunya terbuka duluan.
Keluar seorang wanita muda cantik, berpakaian sexy tapi rambutnya berantakan tak tertata.
"eh.. kaget aku" ucapnya menepuk-nepuk dadanya
"Juna ada?" tanya Raka
"oh.. ada tuh di dalam.. tapi lagi tewas hahaha terpesona atas permainanku, kalau masnya penasaran sama permainan aku, hubungi aku ya.." ucapnya mencolek perut Raka dan berlalu meninggalkan kami
Kami terdiam, saling memandang heran, dari penampilannya dan ucapannya sepertinya kami paham dia siapa..
" ASTAGAA .... JUNAAA...!!!!!" Teriak Raka
Juna yang sedang berbaring di sofanya, tidak memakai sehelai benang yang menutupi tubuhnya. Aku yang sempat melihat pemandangan itupun langsung membalikan tubuhku, Raka menutup pintu ruangan.
"jangan nengok, diem" perintah Raka padaku
"Juna.... yehh si goblok... bangun lu..!!" Raka memukul lengan Juna
__ADS_1
"aw... sakit... lah.. lu ngapain disini" ucap Juna terkejut, Raka menunjuk diriku. Juna lebih terkejut, Juna langsung memungut baju yang berserakan di lantai, dan kemudian memakainya.
"si asu.. kesini kaga bilang-bilang" ucap Juna yang sedang memakai celananya
"ini kita mau kasih kejutan, malah kita yang dapet kejutan, nda.. sini udah"
"Juna stres ih... itu siapa tadi?" tanyaku mendekati Juna dan Raka yang duduk di sofa
"biasa lah... pembantu... yang ngurusin segala kebutuhan biologis hahaha"
"soak... kebiasaan, ini kantor lu ngontrak apa beli Jun"
"Beli lah.. kan ceritanya pusat ka, ya kali gua kontrak, malu sama bulu ketek rafatar dong"
"Juna... apa mayang gak murka nanti kalau tau" Tanyaku penasaran
"justru dia yang rekomendasi nda, rumah tangga dia kan emang aneh" ucap Raka
"hahahaha tenang aja nda... Mayang emang gitu, dia bilang mending gua ma jablai buat muasin gua dari pada gua selingkuh make perasaan, ya gitu lah.. paham gak?"
"emang beda ya..? bukannya sama-sama selingkuh"
"menurut mereka mah beda nda.. udah jangan dipikirin, pusing mikirin pernikahan mereka" ucap Raka yang sedang memakan cemilan
"hahaha.. ka.. nanti di pulau seribu gua bawa minuman ya hehe" ledek Juna
"bawa lah.. yang enak, yang mahal" jawab Raka
"wah ya pasti itu mah"
"kalian...." Aku menggelengkan kepalaku
"Dinda... kalau ada baju yang disuka ambil aja gih, buat Dinda mah apa sih yang gak" ucap Juna
"kalau aku suka semua gimana?" tanyaku
"satu setel baju satu kali cium, kalau semuanya ya Dindanya yang aku ciumin semuanya juga hahaha" ledeknya
"Juna....!!!" aku melempar bantal padanya
"seneng deh bisa liat senyum kamu lagi nda.. dari kemarin gua dateng sampe hari ini, gua belum liat senyum lu tau, parah.. bini Vicky susah banget diajak seneng" ucap Raka
"wait.. wait... lu kemarin ke Dinda? maksudnya gimana?"
"Raka kerumah kemarin sore" ucapku
"waaahhhhh.... waahhhh... mencurigakan" ucap Juna
"emang gua elu, beli makan ke Jun laper gua" ucap Raka
"bentar manggil anak buah dulu"
Pernikahan Juna memang aneh, alih-alih Mayang yang tak kunjung berada di sisi Juna, dia membuat keputusan untuk mencarikan Juna wanita untuk menemaninya.
Semua atas kehendak Mayang, siapa wanita yang akan menemani Juna pun di pilih olehnya. Mayang yang berprofesi di bidang entertainment sangat sibuk, kalaupun ada waktu untuk pulang, Mayang lebih memilih menemui anaknya di Wonosobo.
__ADS_1
Saat ini mereka sudah 7 bulan tidak bertemu satu sama lain. Mereka menerima satu sama lain dengan keadaan seperti ini. Mereka saling bertahan dan melindungi pernikahan mereka hanya karena tidak mau anaknya memiliki orang tua yang bercerai. Mereka punya satu visi misi yang sama, yaitu anak.