
Anna, Al dan Juna kini telah pergi.
Aku ditemani oleh Raka yang kini sedang tidur di sofa panjang di sudut ruangan perawatanku.
Aku meraih ponselku yang sudah diberikan oleh Raka padaku agar dapat menghubungi keluargaku.
Aku telah menghubungi keluarga Vicky dengan mengirimkan sebuah pesan pada ibu Vicky.
(mah..Dinda positif hamil)
Hanya itu yang ku ketik dan ku kirimkan pada mamah, belum ada balasan karena aku tau bahwa mamah sedang sibuk mengurusi tokonya, mungkin jika toko sepi atau jika toko sudah tutup barulah mamah membuka pesanku. Itulah alasan kenapa aku lebih memilih mengirimkan pesan dibandingkan menelponnya.
Aku memilih untuk tidak mengabari keluargaku sendiri atas kehamilanku, aku takut mereka langsung menelfonku dan pada akhirnya tau jika aku berada di rumah sakit, itu akan membuat ayah dan ibuku khawatir.
Lebih baik jika saat sudah pulang dari RS barulah kuberitau.
Tak hentinya aku mengelus perut ku yang masih rata dan belum membesar itu.
mencoba memberikan apresiasi atas kuatnya ia di dalam perutku.
Maaf, jika mamah sempat tak mengetahui bahwa kau sudah berada dalam perutku nak, berkembanglah dengan sangat baik, tetaplah sehat dan bahagia didalam situ. Mamah sayang padamu, dan papahmupun demikian. Kelak saat kau lahir... Kita akan berjuang bersama, menjalani hidup untuk mengabdikan diri mendoakan papahmu.
Nak... Terimakasih telah hadir untuk menemaniku, dan maaf jika mamah sempat merasa bahwa kamu adalah cobaan untuk mamah, tidak nak tidak.. maafkan mamah.. kamu adalah anugerah dan juga penopang disaat mamah jatuh.
***
Suara ketukan pintu terdengar, seseorang membukannya dan masuk kedalam.
Seseorang yang kukenali dengan sangat baik, tersenyum manis memegang sebuket bunga ditangannya.
"hei.. gimana? udah mendingan?" tanyanya padaku
Aku tersenyum padanya, menerima bunga tersebut dan mencium bunga tersebut.
"orang aku gak apa-apa kok"
"iya.. aku tau kamu kuat, sembilan bulan akan terasa singkat untukmu mengandungnya, kelahirannya nanti pasti jadi kado terbaik buat mamah dan papah" ucapnya sambil mengelus perutku
"menurutmu dia laki-laki atau perempuan, Al dan Raka taruhan atas hal itu" ucapku girang
"dia cantik sepertimu, raut wajah dan rambut yang sama denganmu" ucapnya
"benarkah..? hahaha berarti Al harus beli sepedah buat Raka" aku tertawa geli
"aku iri saat para sahabatmu dapat memperlakukan dan menjagamu dengan baik" dia mengelus kepalaku
"tapi aku senang melihatnya, berbahagialah bersamanya" ucapnya
"siapa?" tanyaku yang dijawab oleh senyuman manisnya
***
Aku membuka mataku, menatap lampu ruangan di atapnya. tak kusadari bahwa air mataku telah menumpuk di mataku, aku bangun dari tidurku dan duduk di ranjang.
Menutup wajahku dengan kedua tanganku yang di infus agar tak terlihat sedang menangis oleh Raka yang kutau masih tertidur di sofa.
Sungguh mimpi yang amat sangat nyata dan indah.
aa.. terimakasih telah hadir.
Suara ketukan pintu terdengar, seseorang membukannya dan masuk kedalam.
__ADS_1
Seseorang yang kukenali dengan sangat baik, tersenyum manis memegang sebuket bunga ditangannya.
"hei.. gimana? udah mendingan?" tanyanya padaku
Kenapa dia datang dengan bunga dan mengatakan hal yang sama? apa aku masih bermimpi?
"nda.." ucapnya menyapaku dan kini duduk di tempat duduk
"ah.. iya aku gak apa-apa" ucapku menerima bunga darinya tapi tanpa menciumnya
"wah... keren, dari dulu gua tau sih kalau lu kuat hahaha jadi luka segini mah cemen lah" ucapnya
Aku masih tak menyangka bahwa kejadian ini seperti dejavu.
"kalau dari tapsiran persalinan mah lahirnya pas lu ulang taun loh.. wah mantep.. bisa jadi kado terbaik dari tuhan buat lu nda" ucapnya
Kenapa semuanya sama percis, bunga, sapaan, kuat, kado.. ah.. tidak mungkin.
"hei.. ko malah bengong sih"
"ah.. gak kok"
"masih kenal aku kan?"
"dion kan?"
"mantap... kepalamu baik-baik saja kalau gitu"
"dion... boleh aku tanya sesuatu?" ucapku
"boleh.. apaan?"
"Raka sama Al taruhan jenis kelamin anakku, menurutmu apa jenis kelamin anakku?" tanyaku penasaran menunggu jawabannya
"hmmm.. ya ya ya..." dia mengangguk kan kepalanya..
"ok.. fix, dia cantik sepertimu dan percis sama denganmu...dia perempuan..!!" ucapnya yakin
Benar-benar aneh.. situasi macam apa ini, menakutkan.
"jadi siapa yang ikut nebak perempuan kaya gua?" tanyanya
"Raka" ucapku menunjuk Raka yang sedang tidur nyenyak di sofa
"hahaha berarti aku juga lawan Al toh" ucapnya tersenyum bangga
"eh.. teman-teman mu keren ya, aku iri saat teman.."
"dion...!" aku menghentikannya, aku benar-benar takut sekarang. Mengejutkannya dengan nada bicaraku yang sedikit tinggi.
"kenapa?" tanyanya menegakkan duduknya dan memegang kakiku yang terselimuti
"mmm aku mau ketoilet" ucapku yang sebenarnya tidak ingin ke toilet
"oh.. mau ku bantu"
"gak.. aku bisa sendiri ko"
"kamu itu di infusnya kanan kiri loh, aku panggilin perawat perempuan ya, tunggu disini jangan turun dari kasur dulu, yang nurut ya jangan bandel, gini-gini aku dokter disini.. bentar ya" ucapnya berlalu keluar dari ruanganku
Aku kini bisa bernafas lega setelah ketegangan yang kurasakan.
__ADS_1
Dion telah memecahkan sisi indah mimpiku dan Vicky.
Apa ini.. kenapa kenyataan ini sama seperti mimpiku saat bertemu dengan Vicky.
Dion dan suster masuk keruanganku.
"tolong bantu teman saya ke toilet ya" ucap Dion
"baik dok" ucap sang suster yang kemudian mematikan infusanku dan sigap memeganginya sampai masuk ke dalam toilet bersamaan.
"aku cuma mau cuci muka saja kok sus"
"oh baik bu" ucapnya
"maaf ya merepotkan" ucapku
"tidak apa bu, apa ada hal yang bisa saya bantu kembali" tawarannya padaku
"tidak terimakasih, kita kembali saja"
Saat kembali ke kasur, Raka sudah bangun dan sedang berbincang dengan Dion.
"nda.. padahal aku udah nawarin buat gantian jagain kamu agar dia bisa istirahat dirumah tapi dia gak mau loh, teman-teman mu benar-benar tulus padamu, aku jadi iri" ucap Dion
"bukan gitu... gua udah janji sama yang lain kalau akan stay disini sampai keluarga Dinda datang" seru Raka
"iya.. iya..." seru Dion
Aku memilih tak ikut berkomentar, aku tau Raka akan tetap menolak dan teguh pada pendiriannya untuk stay disini meski aku mengusirnya pulang.
Dan lebih aku benar-benar takut pada Dion yang semakin mirip gaya bicaranya dengan Vicky.
***
(Dimobil)
"kamu tidur gih.. biar gak sakit" ucap Al pada Anna
"iya mas" jawab Anna yang kemudian memundurkan sandaran kursi joknya
"Al.. gua turun di halte depan ya" seru Juna membuat Al dan Anna terkejut
"kenapa?" tanya Al
"gua ada urusan, kalian balik berdua aja ya" ucap Juna
"kamu mau ke mba Mayang ya?" tanya Anna
"ya adalah urusan yang mau gua selesein, mumpung masih di Jakarta" jawabnya menggantung
"Jun.. kalau iya lu mau ketemu Mayang, gua minta lu ambil hikmah dari kejadian gua sama Anna saat itu ya" ucap Al
"tenang... gua gak sebodoh lu, dan Mayang gak sepicik Anna sih jadi aman.." jawab Juna
Al pun menghentikan mobilnya.
"Serius turun disini? nanti lu naik apa?"
"gampang.." jawabnya yang turun dari mobil
Al menurunkan kaca jendelanya,
__ADS_1
"hati-hati Jun"
"iya lu berdua juga ya, kabarin kalau sampai di Cirebon" jawab Juna