
"Kalian disini?" ucap Raka menghampiriku dan Nabil yang duduk di sisi pantai
"hei Ka.. sini duduk" ucapku
"serius amat ngobrolin apa?"
"kisah hidupnya Dinda ka haha" jawab Nabil
"oh.. eh mas Nabil gak jadi pulang?" tanya Raka
"kayanya gak deh, acara party sekertaris baru gak seseru obrolan aku sama Dinda" jawabnya tersenyum padaku
"wah.. mantap mas Nabil hahaha, Dinda keren bisa sampe nahan mas Nabil disini" jawab Raka
"ih apaan sih.. kok gak pulang kan gak bawa baju, tapi bentar kok mas Nabil sih emang lebih tua dari kita ya?" tanyaku penasaran
"hahaha emang wajahku tampak seumuran dengan kalian ya" jawab Nabil tertawa
"kalian tuh ngobrolin apa sih sampe sore begini, kalau umur aja gak tau" seru Raka
"mas Nabil beda 8 tahun dari kita nda"
"wah... maaf ya, aku ikutan panggil mas aja deh kalo gitu" ucapku
"panggil nama aja juga gak apa-apa ko, lebih akrab jadinya"
"gak ah... mas mas mas.. mas Nabil oke?"
keduannya tertawa
"mau antar aku beli pakaian gak? aku gak bawa pakaian sama sekali. kayanya disini ada toko souvernir yang jual baju deh, yuk" ajaknya padaku, aku menatap Raka, Raka mengangguk kan kepalanya tanda memerintah kan ku untuk menyetujuinya.
Kemudian aku dan Nabil menyusuri pantai untuk mencari toko souvernir disini. Memilah baju dan aksesoris lucu yang kita temui.
Nabil membelikan ku sebuah celana jeans panjang dan sebuah jaket. Dia berkata membelikannya agar aku tidak menolaknya lagi untuk menaiki motor dengannya dari pelabuhan menuju stasiun.
Semua berjalan normal, Al dan Anna tidak pernah keluar kamarnya bahkan sampai esok hari.
__ADS_1
Aku dan yang lain menikmati malam dihalaman home stay yang kita tempati ditemani dengan jagung bakar dan kopi yang kita nikmatin, dan tak lupa api unggunpun menyertai malam yang sejuk ini dengan desiran ombak pantai menemani.
Tak dipungkiri raut wajah kesal yang ditunjukan oleh Juna mengetahui bahwa Nabil tidak pulang dan memilih menginap karena menemukan semangatnya untuk lebih selangkah maju mendekati Dinda.
Tapi dia tak bisa melakukan apapun, dia menyadari akan posisinya, dan kenyataan rencana mereka untuk mendekatiku dan Nabil.
Kenyataan yang lebih menyakitkan Juna adalah, Nabil lebih dominan sekarang. Semua bertanya akan semua hal tentang Nabil, Juna beranggapan bahwa Nabil benar-benar merusak kebersamaan mereka. Entah sudah berapa banyak alkohol yang dia minum dalam gelas kecilnya. Yang sengaja dia bawa dari rumah.
Ririn dan Mas Dadang masuk ke Homestay lebih dulu, aku yang seperti biasa tidak punya kemampuan untuk mengantuk lebih memilih tetap ditempat. Raka yang sedang menemani Juna yang minum alkohol sedang melakukan panggilan video call dengan istri dan anaknya sambil menyembunyikan botol minuman alkoholnya.
"nda.. kamu itu benar-benar insomnia ya?" ucap Nabil menguap
"mas Nabil kalau mengantuk masuk saja" jawabku
"sedari tadi otakku berperang dengan mataku, otakku ingin tetap ada di sini sedangkan mataku.... hoooammm.. nda aku gak kuat, sesekali aku mirip dengan suamimu yang tak bisa bergadang kan, aku tidur boleh?" ucapnya
Aku tersenyum "masuklah mas." ucapku
"yaudah..aku duluan ya, Sampai ketemu esok hari Dinda, senang hari ini bisa ngobrol denganmu.. ka..jun.. gua duluan"
"ya mas.." jawab Raka. Juna yang sudah mabuk hanya mengangkat tangannya dan tersenyum paksa.
"Dinda..." ucap Juna dengan intonasi nada yang berat
"kenapa Jun?"
"kamu tau gak kalau kamu itu cantik?"
"kamu mabuk ya? udah minumnya jun, aku gak bisa gendong kamu kalau kamu tepar disini, aku tinggalin ya" ucapku
"hahaha.. mampus" ucap Raka yang juga sedang mabuk
"hah.. kalian menyebalkan aku masuk aja" ucapku berdiri ingin meninggalkan mereka. Tapi tanganku di tahan dan ditarik oleh Juna, mengakibatkan aku terjatuh duduk didekatnya.
Bahuku dirangkul oleh juna, aku mencoba melepaskannya tapi tenaga Juna meski sedang mabuk sangat kuat. Membuat tubuhku yang kecil tak kuasa bergerak.
"nda.. sssttt.. diem ya.. dengerin aku" Aku yang tadi memberontak memintanya melepaskanku kini tenang dan mencoba mendengarkannya.
__ADS_1
"kamu itu kasian banget, aku gak suka liat kamu menyedihkan kaya gitu" ucapnya
"Juna.. aku baik-baik aja, bisa lepasin aku gak?" ucapku mencoba melepaskan tangannya di bahuku.
"Ssstttttt..... kamu bisa diem gak sih.. aku tuh mau ngomong, pelit banget sih buat dengerin doang, hari ini kamu terlalu banyak dengerin si Nabil, jadi dengerin aku sekarang...!!!"
"yaudah apa?"
"kamu itu harus cepat menikah, kamu itu harus bahagia, kamu itu..... ah... Dinda.. kamu menyita waktuku saja, menjagamu, memikirkanmu itu melelahkan. Kamu hadir terus di otakku setiap hari dan itu menyebalkan, kamu udah cukup bikin repot aku disini, kenapa kamu juga masuk dalam mimpiku.. sejahat itu ya kamu nyiksa aku.. kalau kamu mau kamu tinggal lakukan, kenapa harus di dalam mimpi. sini.. aku disini..." ucapnya menyodorkan bibirnya
"Juna...!!!!" aku terkejut menahan tubuhnya panik
"Sssttt.... Dinda.. Dinda.. Dinda... kamu itu cuma temanku, yakan nda... kamu cuma teman aku, aku gak boleh suka sama kamu.. gak boleh kan?" Juna menangis sekarang
"Juna maaf kalau aku merepotkan kalian semua" ucapku lirih
"ssssttttt.... kamu diem, kamu cuma cukup dengarkan aku aja...!
Dinda.. gua itu cowo yang gak percaya sama hubungan, gua sama mayang cuma partner buat anak kita, aku butuh dia saat sama anak aja, tapi kamu... kenapa aku gelisah kalau gak ketemu kamu... kamu itu siapa sih, kamu dukun ya, kamu guna-guna in aku ya..!!"
"Juna kamu kenapa sih... Raka..!!!" aku memanggil Raka yang sudah tepar dengan menendang kakinya
"SSssttttt........ Dinda i love you... hahahaha... i love you Dinda... AKU SUKA SAMA KAMU... hahahaha" ucapnya berdiri berteriak menghadap pantai.
Aku terkejut tentang apa yang Juna ucapkan.
Aku diam mematung bengong.
"Dinda..." ucapnya mendekatiku dan kini berhadapan denganku.. aku memundurkan dudukku, susananya sangat sepi tak ada orang disini, aku takut.. kini tubuhnya sudah memojokkanku, aku sudah tak bisa mundur karena ada api unggun dibelakangku.
"Juna... stop Juna... kamu kenapa?" aku mulai ketakutan. Aku paham bahwa dia akan menciumku.."Juna...!!!" aku membentak nya.
Juna tetap mendekat.. memegang kepalaku dengan kedua tangannya, mendekatkan wajahnya dengan wajahku dan menempelkan bibirnya pada bibirku, membukannya dan memainkannya dengan lembut meski sedang tak sadarkan diri.
Sekuat tenaga aku mendorong bahu Juna, tapi dia tetap tak bergeming sedikitpun.
Teriakkan ku tak terdengar besar karena tertahan oleh bibir Juna.
__ADS_1
Juna benar-benar melakukannya, lama dia menciumku sampai tenagaku lemas karena mendorong dan memukuli tubuhnya. Sampai seseorang datang menarik paksa tubuh Juna hingga tersungkur dan menarik tanganku kemudian mengajakku pergi dari tempat itu.
Al datang menolongku, entah bagaimana jadinya jika Al tak datang. Terimakasih Al, kau menyelamatkan ku kali ini.