Kisah Jandaku

Kisah Jandaku
Part 64


__ADS_3

"kamu disini na?"


Anna menghela napas panjang, dari tatapannya aku tau kalau dia tidak menyukai kehadiranku. "ini kan kantor suamiku, emang kenapa kalau aku disini, kamu ngapain disini nda?"


"ah.. aku..."


"na, dokternya udah... eh nda, aku kira kamu siang kesininya" ucap Al yang terkejut melihatku


"kalian janjian?" ucap Anna


"iya, ada yang mau dibicarakan Dinda sama aku, nda bentar ya aku antar Anna dulu, yuk dokternya udah nunggu kamu" Al meraih tangan Anna berlalu meninggalkanku


"apa yang mau kamu bahas sama Dinda?"


"aku juga gak tau, yuk masuk" ajak Al


(diruang dr.lala)


"pagi dok... kenalkan ini istri saya Anna" ucap Al


"selamat pagi mba Anna" sapa dr.lala


"pagi dok" Anna tersenyum meraih tangan dr.lala menjabatnya


"silahkan duduk" ucap dr.lala


"mmm kalau gitu.. saya permisi ya dok, kebetulan ada Dinda juga diruangan saya" ucap Al pamit


"bukannya ini konsultasi masalah keluarga ya, setidaknya kamu harus disini" ucap Anna menatap tajam Al


"tapi yang dibahas privasi kamu na" jawab Al


"aku gak akan konsultasi kalau kamu gak temenin aku disini" ucap Anna kesal


"tidak apa dok, berdua justru lebih baik karena akan mencurahkan keinginan hati masing-masing secara langsung" ucap dr.lala


"oh.. baiklah, aku kabarin Dinda sebentar" ucap Al


"dia kan bisa nunggu Al, sini duduk" ucap Anna menepuk sofa disebelahnya


dr.lala yang dari awal sudah memperhatikan Al dan Anna kini hanya tersenyum tipis dan menghela nafas panjangnya.


30 menit aku menunggu kedatangan Al dan Anna di ruangan Al. Mereka tetap saja belum kembali. Dan ponselku berbunyi


✓hei Jun...


✓kamu baik-baik aja?


✓baik, kamu?


✓baik...


✓kenapa telpon?


✓mmmm ini... mmm.. besok kita langsung kumpul di stasiun ya


✓oh... iya oke


✓gak usah bawa barang banyak nda, kita cuma stay gak kemana-mana

__ADS_1


✓iya, aku tau ko


✓mmm kamu lagi apa?


✓aku lagi di Rumah Sakit, di ruangan Al sih tepatnya


✓hah.. ngapain?


✓kan kamu yang suruh aku cari kerjaan


✓ah...iya iya... udah ngobrol sama Al?


✓belum.. Al sama Anna kayanya tadi ada urusan jadi belum balik ke ruangan


✓kamu ditinggal sendirian di ruangan


✓iya... aku nunggu mereka balik


✓apa aku harus kesana?


✓buat apa? aku bisa atasin sendiri ko, nanti sebentar lagi Al sama Anna juga datang


✓kalau ada apa-apa kabarin aku ya


✓iya.. eh tumben ngomong sopan, kenapa jadi aku kamu?


✓ah... iya.. yaudah gua matiin yah bye


✓bye Jun


"Dinda..." sapa Al


"jadi apa yang mau kamu obrolin nda?" tanya Anna


Aku benar-benar tidak nyaman dengan tatapan mata Anna "apakah Anna cemburu atas kedatanganku?" ucap hatiku


"ah... iya, tadinya aku mau nanyain loker, tapi baru saja temanku telpon, ngabarin kalau lamaran aku diterima" ucapku


"oh ya... dimana? padahal nyaris saja kamu kerja disini ya nda"


"ah iya..." Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal


"kenapa risign kalau sekarang malah cari pekerjaan?" tanya Anna


"mmm Vicky saat itu menyuruhku risign, awalnya aku akan membuka praktek di rumah, jadi aku hanya perlu bekerja dirumah saja, tapi kita lupa kalau itu hanya rencana kita sebagai manusia, semuanya Tuhan yang berkehendak, jadilah aku seperti ini, jauh dari bayanganku sendiri" ucapku menjelaskan


"Vicky ninggalnya dah berapa lama ya nda" tanya Anna


"sekitar 2 minggu na, kenapa? aku tersenyum padanya


"aku heran aja, kamu masih bisa tersenyum manis meski baru beberapa minggu kepergian Vicky, apa kamu bener kehilangan dia nda?" tanya Anna


"apa?" tanyaku


Pertanyaan Anna membuatku terkejut, bukan hanya aku, Alpun merespon sama denganku.


"na.. kamu ngomong apa sih" ucap Al


"aku salah ya, maaf ya mas, maaf ya nda" ucapnya

__ADS_1


"ah.. iya gak apa-apa, aku dengar kalian tidak jadi cerai ya, aku senang dengernya, selamat ya" ucapku mengalihkan


"baguslah kalau kamu senang" ucap Anna


"mm besok kita jadi kan ke pulau tidungnya?" tanya Al mencairkan suasana


"iya.. Juna bilang kita langsung kumpul di stasiun aja" jawabku


"baguslah" ucap Anna


"mmm kalau gitu aku pulang ya, ada urusan" ucapku


"nda.. dd.lala ingin bertemu katanya, obat mu juga habis kan?" tanya Al


"mmm aku gak apa-apa kok, aku ada urusan, jadi titip salam saja sama dr.lala ya, oke aku pulang ya, bye na.. Al.." ucapku dan kemudian berlalu meninggalkan mereka.


Saat ini mengapa rasanya canggung bertemu mereka, kenapa aku gugup sekali, merasa tidak nyaman meski mereka adalah sahabatku.


Apakah Anna benar-benar cemburu padaku?


mengapa dia cemburu padaku?


sedangkan aku tidak pernah mengatakan bahwa aku menyukai Al.


bahwa aku tidak pernah sedikitpun berkata iya pada Al.


tidak pernah memotivasinya untuk bercerai.


Aku pusing, entah mengapa belakangan ini aku mudah sekali pusing dan lelah... sebelum menyusahkan orang lain, aku harus cepat bergegas untuk sampai dirumah dan istirahat untuk mempersiapkan keberangkatanku esok hari.


Kali ini aku memilih untuk pulang kerumah Vicky. Rumah yang seharusnya aku tempati bersamanya, Rumah yang kami impikan menjadi masa depan dan masa tua kami. Menjadikan keluarga yang sakinah, mawadah dan warahmah bersamanya, dan juga anak-anak kita.


"assalamualaikum a... Dinda pulang" ucapku melangkah masuk kedalam Rumah


Rumah yang hangat dan tenang meski berada di tengah kota, saat masuk aku telah di sambut dengan foto pernikahanku dan Vicky.


Potret bahagia kami. Kamupun tampak gagah dalam gambar itu a.


Rumah ini tertata rapih, Vicky sangat menyukai seni, dia adalah pelukis amatir, banyak sekali barang-barang seni disini. Ada salah satu batu hiasan dengan bertuliskan "beruntunglah orang yang mati membawa cintanya"


Aku gak ngerti maksudnya..


Aku menonton videoklip pernikahan kita, sangat menyenangkan dan bahagia kami di situ, sesekali ku teteskan air mataku, mengalir deras mengingat moment tersebut. "a Dinda kangen aa banget" aku menangis tersedu


Apa ini... kenapa Vicky dipertemukan denganku, dipertemukan dengan cinta pertamanya dan meninggalkan nya dengan cinta terakhirnya. "Tuhan... apa sebenarnya rencanamu.'


"Aku merasa bersyukur saat itu tuhan telah memberikanku suami dan anak padaku, tapi seketika tuhan jatuhkan aku dengan perpisahan dengan mereka, tuhan ambil anakku tuhan renggut suamiku Syaif.. Di saat aku terpuruk tuhan angkat aku kembali dengan ke bahagiaan bersama Vicky, belum puas aku berbahagia tuhan jatuhkan kembali aku dengan kepergian Vicky.. apakah ini permainanmu tuhan..?'


"Kenapa rasanya aku membenci tuhan saat ini.. terlalu banyak kah dosa yang kuperbuat hingga tuhan membenciku.. seburuk itu kah diriku? sehina itukah diriku? kalau memang seperti itu harusnya aku yang pergi, aku yang mati, kenapa harus Vicky? tidak iba kah tuhan melihat seorang ibu dan ayah yang kehilangan anaknya? tidak iba kah Tuhan terhadapku, istri yang ditinggal suaminya?"


"Apa yang sebenarnya aku benci? apakah aku benar-benar membenci tuhan? atau aku sedang membenci diriku sendiri?"


Sepanjang hari aku menangisi hal-hal yang aku sesali dalam hidup ini. Menangis sejadi-jadinya, tak memikirkan hal lain selain derita hidupku.


Saat sore datang, Aku tersadar bahwa matahari sudah tenggelam dan mulai menyelimuti kegelapan dalam rumah Vicky ini.


Ingin sekali rasanya bermalam disini karena lelahnya tubuhku ini, tapi mengingat esok pagi aku harus bergegas pergi ke stasiun menyadarkan ku bahwa barang-barang ku masih ada dirumah.


Akupun pulang meski ragaku enggan meninggalkan rumah ini "Dinda pergi dulu ya a, nanti Dinda akan pulang secepatnya" ucapku

__ADS_1


__ADS_2