Kisah Jandaku

Kisah Jandaku
Part 97


__ADS_3

"kenapa nangis?" tanya Dimas khawatir pada Anna, merangkul seorang wanita yang masih sah menjadi istri Al.


Al menatap tajam adegan tersebut, tapi tak merespon nya tapi tetap memandang remeh dan kesal.


"aku sedih kenapa Dinda sampai segitunya menggambarkan aku" ucap Anna menangis, menyeka air matanya


"padahal akulah yang paling dekat dengannya diantara yang lainnya" ucap Anna


"aku juga... huwaaaa....." Ririn menangis sesegukkan


"kenapa aku bisa jahat banget sama Dinda, lagian aku kan gak kenal sama Mayang, ketemu pun hanya sekali waktu di Dieng, huwaaa.... Dinda..." ucap Ririn menangis kencang


"sabar sabar.. dah cukup nangisnya, anggap saja kita sedang membaca novel sedih, jangan larut dalam ceritanya. Sadarlah ini hanya sebuah cerita belaka" ucap Raka


"maaf ya, jika istri saya salah" ucap lirih Vicky


"gak bro, gak apa-apa... justru dicerita ini bikin gua sadar kalau gua sama Mayang emang gak cocok, prediksi Dinda tentang gua dan Mayang itu benar. Kita memang gak saling mencintai, dan layak untuk berpisah" ucap Juna menyanggah kepalanya dengan tangan kananya


"jangan dong" ucap Raka mencegah


"udah saatnya ka, gua bakal tanya dia untuk yang kedua kalinya. Kalau dia tetap milih kerjaannya dan terus mengabaikan gua, ya maaf... kali ini gua mau tegas..!!" ucap Juna


Anna dan Ririn masih bersedih menatap lembar fotokopian buku Dinda ditangan mereka.


Semuanya merenung satu sama lain.


"Dion itu teman kamu Al?" tanya Vicky


"iya ky, teman kuliahku dulu" jawab Al


Tok..tok..tok... pintu ruangan berbunyi, dan masuklah seseorang dari balik pintu tersebut.


"sudah selesai bacanya?" tanya dr.Lala yang langsung masuk dan duduk di kursinya


Semuanya menganggukkan kepalanya, tampak Anna dan Ririn telah menyeka air matanya dan menahan tangisnya.


"Dok.. istri saya dimana? saya mau ketemu sama istri saya" tanya Vicky


"terus kenapa bisa sama Dion?" tanya Raka


"mamahnya Vicky juga di sana kan? kenapa? kemana?" tanya Juna


dr.Lala tersenyum mendengar pertanyaan yang sudah diprediksi akan dipertanyakan oleh semuanya.

__ADS_1


"Dion adalah dokter internship kejiwaan disini, baru dua hari dia disini dan langsung saya pertemukan dengan Dinda saat itu....


saat saya mempertemukan dr.Dion dan Dinda ternyata Dinda mengenalinya. Dinda yang sudah sejak kecelakaan memilih berdiam diri langsung membuka dirinya saat bersama dengan Dion, dr.Dion yang sudah handal menghadapi seseorang dengan gangguan mental membuatnya tidak sulit untuk menjangkau Dinda, terlebih mereka adalah teman satu sama lain" jelas dr.Lala


"teman? ya bukan berarti teman dan Dinda bisa berinteraksi dengan dia, lalu dia membawa istri saya seenaknya dong dok. Ka... tolong carikan ponsel saya, saya mau telfon ibuku..!" ucap kesal Vicky


"tenang ky.. tenang" ucap Juna yang berada di sisi ranjang mendekat pada Vicky dan menepuk bahu Vicky


"kita denger cerita dr.Lala aja dulu ky, sabar" ucap Raka


(FLASH BACK)


dr.Lala dan dr.Dion sedang berjalan menyelusuri koridor rumah sakit, tampak gagah dengan jas putih bersih di tubuh mereka, bercengkrama dengan serius tanpa menghentikan laju berjalannya.


"pasien ini depresi sejak satu tahun yang lalu karena kematian anaknya dan juga perceraiannya, sebenarnya pasien sudah hampir sembuh dan pasienpun sudah bahagia dengan pasangannya lalu memberanikan diri untuk menikah kembali.


Tapi kecelakaan membuat depresinya bangkit, rasa takut kehilangan dan kesepian menyelimutinya.


Sehingga sejak saat kecelakaan itu dia mengarang sebuah cerita tentang orang-orang disekitarnya.


Menjadi bipolar sangat berpengaruh baginya, lalu menjadikan peran ganda pada dirinya sendiri" ucap dr.Lala sambil memberikan berkas medis Dinda


"sudah berapa lama?" tanya dr.Dion


"2 minggu... ini kamarnya, dan maaf saya ada pasien yang menunggu untuk konsultasi, jadi tidak bisa menemani dr.Dion lama" ucap dr.Lala menghentikan langkahnya saat berada di depan pintu kamar perawatan Dinda.


"ini dok, Dinda namanya, sudah lama menjadi pasien saya" ucap dr.Lala yang masuk ke ruangan dan memperkenalkan Dinda


"astaga... dok, dia pacar teman saya dulu waktu di FK, ya tuhan Dinda.. kenapa jadi gini?" ucap Dion mendekat pada Dinda


"wah... bagus kalau gitu, dr.Dion bisa mudah mendekatinya karena sudah mengenalnya"ucap dr.Lala


dr.Lala mendekat dan membelai rambut Dinda "nda... ini ada dr.Dion, dr.Dion akan temani kamu disini selagi saya menangani pasien saya. kamu bisa dengan leluasa untuk menceritakan apapun yang ada difikiranmu, dia teman lama kamu loh, kamu suka kan ketemu sama teman-teman?" tanya dr.Lala


Dinda mengangkat kepalanya yang sedari tadi menunduk, mencoba perlahan memandang ke arah Dion berdiri.


Dan benar saja, Dinda mengenalinya. Tampak senyum tipis terlihat diwajah Dinda yang manis.


"Dion.." ucap Dinda lemah


"hei... kamu apa kabar nda, masih ingat aku kan?" tanya Dion mendekatkan wajahnya pada Dinda


Dinda mengangguk mengiyakan.

__ADS_1


"respon yang bagus, luar biasa Dinda.. saya senang kamu akhirnya merespon kita" ucap girang dr.Lala tersenyum lega


"kalau gitu saya tinggal ya dok" ucap dr.Lala


"iya dok, biar Dinda saya yang tangani dari sekarang" ucap Dion


"Dinda.. saya tinggal ya" ucap pamit dr.Lala pergi meninggalkan ruangan perawatan Dinda


"nda..." sapa Dion yang kini duduk di ranjang Dinda, merapikan rambutnya yang menutupi wajah Dinda


"cantik..." ucap Dion menatap wajah Dinda tersenyum.


"tak ku sangka seseorang seceria kamu dulu, sekarang malah jadi gini nda.." ucap Dion


"kemana perginya kamu sih nda saat Al mencampakkanmu, padahal aku mencarimu setengah mati, karena berharap bisa menggantikan posisi Al saat itu, tapi sayangnya kamu malah menghilang, dan menutup akses komunikasimu bahkan sosial mediamu juga" ucap Dion yang masih merapihkan rambut Dinda


"tapi tak mengapa...atas segala waktu yang telah terlewatkan, sudah terbayar dengan sekarang kamu ada dihadapanku" Dion tersenyum, menyelipkan rambut Dinda di telinganya


"ini buku apa?" tanya Dion melihat Dinda menggenggam erat buku hijau bergambar bunga sakura


"buku ku" jawab Dinda ragu


"boleh aku lihat?" tanya Dion


Dinda mengangguk, dan memberikan bukunya dengan kedua tangannya


Dion membukanya, dan mulai membacanya


"bagus... kamu mau terus nulis?" tanya Dion


"iya" jawab Dinda


"kalau gitu, tolong masukkan aku dalam ceritamu, lalu buat aku menjadi pelindung dan pahlawan untukmu" ucap Dion


"iya" jawab Dinda


"ada hal yang perlu kamu tau...


suamimu ada disini. akan ada suatu waktu dia akan datang, walaupun hanya lewat mimpimu, tapi setidaknya dalam waktu dekat ini" ucap Dion


"Vicky.?" tanya Dinda


"iya, kalau gitu lanjutkan tulisanmu, aku akan memperhatikanmu dari sofa itu" ucap Dion menunjuk sofa di sudut ruangan, kemudian memberikan buku Dinda dan sebuah pena padanya.

__ADS_1


"ingat apa kataku? buatlah aku sebaik mungkin di buku itu" ucap Dion


"iya" jawab Dinda


__ADS_2