Kisah Jandaku

Kisah Jandaku
Part 29 (Syaif)


__ADS_3

3 hari berlalu, tidak ada persiapan yang aku lakukan kecuali olah raga dan luluran badan oleh seseorang yang sudah di sewa Vicky untuk datang ke rumahku setiap sore hari.


Rasanya sama seperti dulu pertama menikah, deg degan menjelang hari H.


Vicky sering meneleponku, dia sekarang sedang sibuk karena sedang menyelesaikan beberapa dokumen supaya nanti saat cuti menikah tidak ada pekerjaan yang mengganggunya.


Akupun sama, mempersiapkan segala kebutuhan pekerjaan yang harus dikerjakan oleh pengganti ku saat aku cuti menikah.


Semua teman kantorku tidak menyangka bahwa aku akan menikah, karena memang aku tidak pernah terlihat punya pacar.


Tentu saja tidak ada yang tau, toh kami pacaran hanya setengah hari saja, habis itu langsung dilamar. Jadilah aku tunangannya bukan pacarnya lagi.


Dirumahku ibu dan ayah sibuk dengan persiapan pengajian yang akan dilangsungkan esok hari. Tidak ada siraman, karena aku tidak menghendakinya. Aku malu karena ini bukanlah pernikahan pertamaku, jadi aku mau sesederhana mungkin.


Anna dan Ririn datang ke rumahku untuk melihat sejauh mana persiapanku.


Anna dan Al kini baik-baik saja, hanya saja Dimas sempat menelponnya menjelaskan kenapa dia tidak datang saat hari pernikahannya.


Kini aku dan Ririn tahu, bahwa Dimas tidak datang karena dikurung oleh ibunya sendiri karena memang orang tua Dimas tidak menyetujui pernikahannya. Dimas juga sempat melakukan percobaan bunuh diri tapi diselamatkan keluarganya dan dilarikan ke rumah sakit. itulah sebabnya Dimas tidak mengabari Anna.


"sabar ya na, mungkin emang kalian bukan jodoh" seru Ririn


"fokus saja pada Al dan Akbar na, karena merekalah yang mengulurkan tangannya untuk kamu saat kamu terpuruk" ucapku memeluk Anna


"iya kalian benar, Dimas masa laluku, aku harus melupakannya walau berat. Sekarang aku punya Al yang harus aku jaga hatinya, karena sepertinya dia sudah membuka hati untukku" ucap Anna sedih


"oh iya waktu di bali saat itu Al dateng ke kamarku berbicara denganku dan Vicky, sepertinya saat itu dia marah padamu na, tapi Vicky menenangkannya ngasih saran gitu, trus si Al langsung kaya berfikir keras gitu terus pergi, kalian gak apa-apa kan?" tanyaku


"oh ya..?.... jadi waktu itu dia ke kamarmu, syukurlah kalau gitu aku berterima kasih pada kalian, karena kalian Al jadi tidak marah lagi padaku" Anna memelukku tersenyum senang


"Emng ada cerita apa?" tanya Ririn heran


"kepo ...hahahaha" ledek Anna


**


Hari ini adalah hari pengajian. Aku masih masuk kantor karena acara akan dimulai sore hari, rencananya Vicky akan datang.


Aku belum bertemu kembali dengannya sejak saat lamaran.


✓ (syaif)


hasil tes DNA nya keluar, dia bukan anakku mah, 100% bukan anak kandungku. Dewi membohongi kita, papah akan menceraikannya. Karena dialah kita berpisah, karena dia papah kehilangan mamah. Maafkan papah ya mah


Pesan dari Syaif membuatku terkejut, jadi selama ini benar dugaan syaif bahwa anak itu bukanlah darah dagingnya.


Tapi kenapa harus bercerai lagi, tidakkah dia mempertahankan pernikahannya demi anak itu, dia tidaklah salah, bagaimana anak itu bisa tumbuh tanpa ayah.


Aku sangat ingin mencegah peeceraian itu terjadi, tapi entahlah apa yang harus aku perbuat. Aku tidak ingin masuk dalam masalahnya karena ikut campur. Tapi batinku menangis membayangkan anak itu.


Terlintas di benakku bahwa aku sekarang memiliki calon suami, kenapa tidak aku bicarakan masalah ini padanya, dia berhak tau.


Aku meraih ponselku dan ku telpon Vicky. Aku menceritakan detail pesan Syaif padaku dan bagaimana perasaanku saat ini. Tapi Vicky tidak meresponku, dia hanya berkata akan membahasnya nanti sore setelah pengajian usai.


**

__ADS_1


Pengajian yang dihadiri oleh seluruh keluarga besarku berjalan dengan baik. Ini adalah momen dimana keluarga besarku bertemu pertama kali dengan Vicky.


Vicky tidak canggung sama sekali, Vicky malah lebih terlihat cepat akrab dengan keluargaku.


Pengajian pun telah usai, Aku kini sedang bermain bersama keponakan dan saudara-saudara kecilku di balkon kamar bersama dengan Vicky juga.


Ada suara mobil berhenti di depan rumahku, aku menoleh untuk melihatnya. Ya tuhan... itu adalah mobil Syaif, mau apa dia kesini.


"aa.."


"ya sayang?"


"ada Syaif datang" Aku menunjuk arah mobil yang tiba


"aku harus apa?" tanyaku bingung


"gak harus apa-apa, kamu disini aja main sama anak-anak, biar aku yang temuin dia" ucap Vicky


Aku mengangguk mengerti. Vicky pun meninggalkan kamarku.


Entahlah apa yang mereka bicarakan dibawah, aku takut sekali untuk turun.


Seketika Vicky datang ke kamarku memanggilku untuk turun, aku menolaknya tapi Vicky meyakinkanku bahwa tidak akan terjadi apa-apa.


Syaif menyambutku dengan senyumannya "mah.." sapanya menyodorkan tangannya


Aku menyalaminya dan mencium punggung tangannya, entahlah seperti refleks karena terbiasa saat dulu.


Aku hanya diam tidak berani menatapnya


Aku hanya mengangguk-anggukkan kepalaku meliriknya dan menundukan pandanganku kembali


"papah mau cerai sama Dewi" ucap Syaif


Aku hanya diam mematung, entahlah bagaimana aku harus bersikap, aku bingung.


"mah.. papah mau cerai, mamah liat sini dong" pintanya padaku


Kini aku memandanganya


"Anak itu bukan anaku, Dewi bohong. papah gak terima, papah mau ceraiin dia, keluarga juga udah setuju, Sekarang Dewi udah pulang ke rumah orang tuanya. apa mamah seneng dengar berita ini?" tanya Syaif


"Aku....biasa aja" ucapku ketus


"apa kita gak bisa balik lagi kaya dulu?" tanya Syaif


"hey.. apa maksudnya, tadi lu janji kan gak bakal ngomong macem-macem" jawab Vicky memelototi Syaif


"saya cuma nanya, itu hak saya. kamu belum jadi suaminya" jelas Syaif ketus


Vicky tidak menjawabnya, dia hanya memelototi Syaif saja menunjukan rasa tidak suka padanya.


"mamah.... papah masih sayang sama mamah, walaupun papah nikah sama Dewi, gak sedikitpun rasa sayang papah ke mamah berubah. Papah pengen kita balik kaya dulu, bangun keluarga kaya dulu. Kita bisa punya anak lagi dan kita akan jaga dia sebaik yang kita bisa, papah bakal pindah kerjanya disini biar deket terus sama mamah, banyak impian-impian kita yang belum kita capai mah. Mamah mau kan balik lagi sama papah?" tanya Syaif


"pernikahannya 4 hari lagi kamu jangan macam-macam...!" ucap Vicky berteriak

__ADS_1


"dinda calon istriku sekarang, jangan ganggu dia...!" ancam Vicky yang sudah mengepalkan tangannya


"yang terpenting adalah belum terjadi, 4hari itu waktu yang lama untuk berubah pikiran" ucap ketus Syaif menatap tajam Vicky


"papah tau mamah masih sayang sama papah, mamah gak mungkin ngilangin nama papah di hati mamah gitu aja. Mah... anak kita akan bahagian jika melihat orang tuanya kembali bersama lagi, tolong batalkan pernikahannya dan kembalilah padaku mah..."


Sekarang Vicky berusaha bangkit dari duduknya dan hendak memukul Syaif, tapi aku menarik tangan Vicky,


"Aku pusing.." ucapku lirih


Vicky pun mengmengurungi niatnya dan menghampiriku memegang pundak ku


"kamu kenapa?" tanya Vicky panik


"mamah pusing? papah antar ke kamar ya?" tanya Syaif menghampiriku


Vicky mendorong Syaif menjauh dari ku


"mba lilis...tolong dong ini dinda bawa ke kamar aja" ucap Vicky sedikit berteriak memanggil kakakku


Orang tuaku tidak ada dirumah, mereka sedang mengantar saudaraku pulang.


Aku dipapah oleh mba lilis ke kamarku, sungguh aku benar-benar merasa pusing, berat rasanya kepalaku, dadaku juga mulai sesak, keringatku bercucuran. Sepertinya aku harus minum obat dr.lala


"kamu tau bahwa dinda didiagnosa depresi?" tanya Vicky berteriak meraih kerah baju Syaif


"maksudnya?" ucap Syaif kaget


"Dia itu gak boleh stress, kamu udah bikin dinda sekarang kumat" Bugggg.... pukulan Vicky melayang ke pipi Syaif, membuat Syaif sedikit terpental


"depresi apa, apa maksudnya?" ucap Syaif bingung


"sejak percerain kalian dinda menjalani pengobatan, dan sampai sekarang pun masih dijalaninya. Dia tidak pernah bisa tidur bahkan saat malam hari, dia terus mencoba menyakiti dirinya sendiri, bahkan dinda pernah mencoba bunuh diri sebanyak 4 kali..... itu semua dimulai saat kalian bercerai" ucap mas Arif menjelaskan, dia adalah kakak iparku suami mba lilis yang sekarang menghampiri Syaif dan Vicky karena mereka terlihat seperti akan memulai keributan


"benarkah???" Syaif tampak sedih mendengar nya


"Dinda hampir gila gara-gara kamu, untunglah dia memiliki kami sebagai pelindungnya. Pergilah dari sini jangan pernah kembali, kamu lihat tadi apa yang terjadi saat kamu kesini?" Vicky masih tegas dalam berbicara tapi tenang dan jelas


"ya tuhan... mamah..." Syaif duduk menutupi wajahnya yang menagis mendengar peryataan Vicky "papah minta maaf mah, papah semakin bersalah, papah minta maaf" ucapnya lirih


"sekarang kamu pulang aja, kondisinya tidka memungkinkan" ucap mas Arif


"iya...pergilah" ucap Vicky


"tidak... aku tidak akan melepaskan dinda sekarang, aku akan tetap mengejarnya, aku akan menebus segala dosaku padanya" ucap Syaif menantang


"sekali kau sentuh calon istriku kau akan berhadapan denganku" ucap Vicky berteriak


"aku tidak takut denganmu" ucap Syaif menantang


"sudah-sudah.. jangan ribut gak enak sama tetangga, Syaif kamu pulang aja dulu ya" ucap mas Arif menengahi


"akan kubunuh kau jika menyentunya" ancam Vicky


"aku lebih baik mati dari pada melihatmu membawanya dariku, aku akan kembali" ucap Syaif lantang dan berlalu meninggalkan rumah

__ADS_1


__ADS_2