
" Cukup. " bentak Risky.
Ini pertama kalinya ia meninggikan suaranya saat bicara di depan kedua orang tuanya, ia membuat semua orang sangat terkejut.
" Mas, Risky kamu apa-apan cih ! Kamu baru aja ngebentak Papa ?" Tanya Raina yg tak pernah sekali pun bersikap sekasar ini sebelumnya.
" Oh sepertinya, aku akan bener-benar gila, bagaimana bisa kalian melakukan ini padaku ?" terlihat senyuman sinis di wajahnya.
" Kamu kenapa cih, Mas ! Kalau bicara yg jelas, memangnya apa yang sudah di lakukan Papa dan Mama sama kamu ?" tanya Raina, entah dia pura-pura tidak tau saat ini atau memang ia tak tau apa-apa. Mungkin kedua orang tuanya tak memberi tahunya.
" Jawab, Ma ? Jawab pertanyaan Raina, Apa yang sudah kalian lakukan padaku. Menjebakku agar tidur bersama wanita murahan itu, dengan memberiku obat tidur, apa kalian pikir aku sebodoh itu sampai bisa kalian tipu dengan cara seperti ini ? " nada bicara Risky semakin meninggi.
" Sudah Kita katakan, kalau wanita yang kau nikahi itu tidak akan pernah menjadi bagian dari keluarga kita, jadi berhentilah menjadi orang yg keras kepala. Kembali kesini dan tingglkan wanita itu " bentak Papanya.
" Benar Mas, apa cih istimewanya wanita itu, Mas, pikirkan keluarga kita, apa yang akan di katakan orang-orang dan temen bisnis Papa nantinya. " timpal Raina.
" Tutup mulutmu. " bentak Risky.
" Sudah cukup, tidak ada guna nya aku berlama-lama disini. Lakukan saja apa pun yg kalian inginkan, teruslah mencoba untuk menyaningkirkannya dari hidupku, karena sampai kapan pun aku tidak akan melepaskannya. " ujar Risky sembari melangkahkan kakinya meninggalkan semua orang.
Risky membanting pintu mobilnya, dengan cepat ia melajukan mobilnya menuju bandara, sudah tidak ada gunanya lagi ia berlama-lama berada disana.
' Aku merindukanmu Cyka. ' Batinnya.
__ADS_1
Cyka sedang asik berbincang dengan bi Ita, ia tidak ingin terus berada di kamar, rasanya sangat membosankan.
Tiba-tiba telepon genggamnya bergetar di atas meja makan. Dilayar menampilkan nama Zion, dengan segera Cyka meresponnya.
" Hallo, pa Zion!" Sapa Cyka di balik telepon
" Hallo, Cyka , Apa Risky sudah menghubungimu hari ini ? " tanya Zion di balik telepon.
" Belum pa," jawab Cyka
" Benarkah, apa yang terjadi padanya. " Gumam Zion di balik telepon, namun terdengar letelinga Cyka, ia juga mendengar desahannya.
" Maaf pa ! apa terjadi sesuatu ?" tanya Cyka yang mulai merasa sedikit khawatir.
" Bukan, apa-apa kamu tenang saja. Begini saja jika kau sudah mendapat kabar darinya cobalah untuk mengabariku segera. " ujar Zion.
" Baik pa. " jawab Cyka singkat.
Dari nada bicara Zion, Cyka bisa merasakan adanya masalah. Ia mulai merasa khawatir, lalu beberapa kali mencoba menghubungi suaminya, namun tak dapat tersambung. membuatnya semakin khawatir saja.
" Bi, mas Risky pasti baik-baik aja kan bi ?" tanya Cyka pada bi Ita yang sedang berdiri di hadapannya.
" Tenang non, bibi yakin den Risky pasti baik-baik aja. Jadi non harus tenang jangan panik. " kata bi Ita coba menenangkan Cyka.
__ADS_1
" Tapi bi, nomornya nggak bisa di hubungi, Cyka takut bi, kalau sampai terjadi sesuatu padanya. " ucap Cyka, dengan wajah yang sudah mulai pucat.
" Non, jangan berpikir seperti itu, percaya sama bibi aden pasti baik-baik saja. " tambah bi ita.
ting tong
Terdengar seseorang menekan bel rumah, dengan segera Cyka berlari ke arah pintu utama lalu membukanya.
" Mas... " Pangil Cyka, sembari melompat ke tubuh Risky, dengan replek Risky menangkapnya.
Cyka memeluk leher sang suami sangat erat higga Risky sulit bernapas, ia melingkarkan kakinya lalu sudah bergelantungan di tubuh kekar suaminya.
Bi ita yang melihatnya dari dalam rumah terus saja tersenyum melihat tingkaj laku nona muda nya itu.
" Cyka, Sayang, aku tidak bisa bernapas " Kata Risky dengan terbata-bata.
Dengan cepat Cyka melonggarkan pelukannya, lalu menatap Risky dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
" Mas.... " Panggilnya dengan suara lembut.
" Ada apa ! Sayang ? apa kau sangat merindukanku sampai kau jadi semanja ini sekarang ?" goda Risky yang sudah hampir mencium bibir istrinya itu.
Menyadari kedua majikannya itu akan melakukan adegan di atas usia 17 tahun keatas, bi ita berinisiatip melangkah pergi meninggalkan keduanya.
__ADS_1
' Saya rasa pergi dari sini adalah pilihan terbaik. ' batin bi ita