Ku Hanya Ingin Dicintai

Ku Hanya Ingin Dicintai
Kebenaran


__ADS_3

" Kalau begitu.. selamatkan dia, karena hanya kamu yg bisa menyelamatkannya". Ucap Cyka mengejutkan Risky.


Deg.


Walau dirinya bukan seorang dokter, kalimat yang di ucapkan Cyka bagai sebuah kebenaran yang di utarakan dokter sebelumnya.


' T**idak bisakah kau meminta suamimu untuk memdonorkan darahnya, karena jika darahmu tidak sama dengannya maka ayahnya pasti sama'. Tergiang di ingatannya.


Apa pun kebenaran dari kalimat itu hanya satu orang yang memiliki jawabannya. Namun saat ini bukan waktu yang tetap meminta sebuah penjelasan, yang terpenting adalah keselamatan sang anak.


Risky kembali mendekat, ia mendekatkan wajahnya pada Cyka yang terus menatapnya, " Setelah aku menyelamatkan putrimu, kau harus menjelaskan banyak hal padaku Cyka". Ucap Risky seraya masuk ke dalam ruang perawatan untuk mendonorkan darahnya.


Seorang suster sedang mengambil darahnya, pikirannya seperti hampir meladak.


' Ayah anak itu, darah yang sama, tidak memiliki ayah'. Risky memijat pelipisnya yang terasa sakit.


" Kebenaran apa yang sedang coba kau sembunyikan dariku ?" Gumamnya.


" Apa anda baik-baik saja tuan ?" tanya seorang suster yang sedang mengawasinya.


" Aku baik-baik saja. Oh ya suster bagai mana keadaan anak itu ?".


" Untuk saat ini tidak terlalu baik tuan, karena itu dia harus segera mendapatkan donor darah ini".


" Lalu apa kau tidak bisa melakukannya lebih cepat".


" Maaf tuan, kita tidak bisa melakukan itu".


Cyka terus saja mondar mandir seperti sertikaan, dia terus saja merasa tak tenang.


" Ini sudah terlalu lama, kenapa tidak ada seorang pun yg keluar".


Cyka merasa sangat panik.


Krek!


Pintu terbuka, keluarlah dokter dan Risky.


" Bagai mana putri saya dokter?".

__ADS_1


" Dia sudah mendapatkan darahnya tepat waktu, sekarang keadaannya sudah mulai stabil, kita hanya perlu menunggunya sadar". jelas dokter.


" Terima kasih banyak dokter". Ucap Fakhri, mengiringi langkah sang dokter.


Tatapan Risky melekat pada wajah lesu Cyka.


" Bicaralah ".


Ucapan Risky mengejutkan Cyka dari lamunannya, sontak ia menganggkat wajahnya lalu membalas tatapan Risky.


Fakhri yg merasa harus memberikan ruang untuk kedua orang tersebut, berinisiatip menjauh dari dekat meraka.


" Aku memintamu bicara, kau harus menjawabku sekarang ?".


" Seperti yang ku katakan, dia putriku dan dia tidak memiliki seorang ayah".


" Berhenti bicara omong kosong, apa kau pikir aku sebodoh itu akan percaya dengan kebohonganmu ini..?".


Sejenak Risky menarik napasnya dalam-dalam sambil memejamkan matanya.


" Apa perlu aku lakukan tes DNA padanya?".


Deg.


" Jika kau tidak ingin aku melakukan itu, maka kau yang harus mengatakannya padaku".


Cyka terjatuh kelantai, ia mulai terisak.


" Jika aku bicara, lalu apa yang kau inginkan ?" ucap Cyka terbata.


" Aku hanya ingin mendengar langsung dari mulutmu sayang, apa dia adalah.."


" Hmm, dia adalah putrimu, jika bukan karena keadaan aku tidak akan pernah kembali kesini dan membiarkanmu bertemu dengannya".


" Kenapa? maaf sayang.. maaf ".


Risky menarik Cyka kedalam pelukannya, yang membuat tangisan Cyka semakin terisak.


" Aku membencimu, kau brengsek.. aku membencimu.. huhuhu...."

__ADS_1


" Aku tau, aku memang brengsek, aku telah menyakitumu, aku membiarkanmu menderita sendiri selama ini, maafkan aku, maaf sayang".


Cyka mendorong Risky menjauh dan mulai memukulinya, yang pada akhirnya tangannya lah yang tersakiti karena otot-otot Risky.


" Lepaskan ". Pinta Cyka yg sudah mulai tenang.


" Cyka.."


" Pergi, pergi dari sini, aku tidak ingin melihatmu lagi ".


" Sayang, tolong beri aku kesempatan sekali saja untuk menjelaskan segalanya..aku?".


" Sudah 4 tahun.. waktu yang terlewatkan untukmu untuk memberi penjelasan sudah berlalu selama 4 tahun, lalu kau berharap jika kau menjelaskannya sekarang yang terjadi hari itu bukanlah sebuah kebenaran, apa itu hanya akan menjadi hal yang tidak benar?".


" Bukan begitu.. Sayang, itu tak seperti yang kau bayangkan ! ku mohon dengarkan aku ?".


" Tidak kah kau merasa sudah sangat terlambat untuk itu".


Risky menutup matanya seraya menghembuskan napasnya kasar.


" Hari itu adalah sebuah kesalahan, aku akui itu, tapi yang terlihat di gambar itu bukanlah sebuah kebenaran Cyka, walau dia berbaring di ranjang yang sama denganku tapi tidak terjadi apa pun di antara kita. Percayalah padaku sayang, malam itu Mama dan Papa lalu gadis itu sudah menjebakku dengan memasukkan obat tidur ke dalam makananku".


Mendengar ucapannya Cyka malah tertawa sinis, sulit baginya untuk mencerna ucapan Risky.


" Tidak terjadi apa pun ? jika benar kau di jebak dan tak sadar lalu bagai mana kau bisa yakin tidak terjadi apa pun di antara kalian ?". Ucapan Cyka terdengar dingin.


" Apa saat kau tak sadar tertidur lelap, mungkin bagimu bisa melakukannya ? jika ingin melakukannya bukankah setidaknya kita harus tersadar walau dalam keadaan di pengaruhi alkohol, namun yang ku minum malam itu bukan anggur melainkan air putih".


" Lalu apa yang kulihat hari ini, apa itu juga buakan sebuah kenaran ?".


" Aku sudah menjelaskan hal itu sebelumnya, dia datang bukan atas undanganku Cyka.."


" Namun kau juga tak menolak kehadirannya kan ? seseorang yang sudah menghancurkan hubunganmu dengan ku, kau biarkan dia berkeliaran dan gentayangan di dekatmu, bukankah itu terlihat klise begimu".


Risky hanya bisa mematung tanpa mampu membalas ucapannya.


Entah ia harus percaya ucapannya atau itu hanya sebuah drama yang sedang ia mainkan Cyka tetap kekeh dengan pendiriannya.


Percaya setelah di hianati adalah hal tersulit yang tidak mampu kita lakukan.

__ADS_1


__ADS_2