
Richa yang sedang asik bermain bersama Fakhri terlihat sangat akrap sekarang.
" Richa menyukai paman atau papi ?". Richa dengan gemasnya seperti sedang berpikir.
" Hmm !". Lanjut Fakhri penuh harap.
" Pa.. pi..".
" Huh..! ". Cyka tertawa, ia yang memperhatikan kedua orang itu dari balik pintu kamar merasa sangat bahagia ada sosok lain yang menyukai keberadaannya dan putrinya.
" Richa memang sangat pintar". Fakhri mengelus rambut panjang gadis kecil itu, " Apa kau tau sayang, paman berharap kau dan mamimu bisa hidup bahagia dan selalu tersenyum, paman punya satu rahasia, saat mamimu tersenyum dia terlihat sangat cantik, wajah polosnya bak malaikat, sama persis sepertimu". Ucapnya sedikit berbisik.
" Jadi, Richa harus menjaga mami dengan baik, dan pastikan papi Richa mebuatnya bahagia, apa kau mengerti sayang".
Dengan menggemaskan anak kecil itu mengangguk-angguk seolah ia mengerti ucapan pria dewasa tersebut.
' Seberapa besarpun keinginanku dan rasa sukaku pada mamimu dan kamu, paman tidak bisa memaksa kalian untuk tetap tinggal di sini, karena hatinya ada di tempat lain '.
Tok tok tok.
" Apa mami mengganggu !".
" Hmm, Oh ya, Richa! karena mamimu menolak paman, apa paman tunggu Richa besar saja ?".
" Apa ? Saat putriku dewasa, kau sudah jadi seorang kakek-kakek pak". Ledek Cyka.
Ting tong.
Suara bel berbunyi, Cyka dan Fakhri saling tatap.
" Apa bapak mengundang seseorang ?". Fakhri menggeleng.
Mereka turun bersama ke lantai bawah, Fakhri menggendong Richa.
" Pak tua !".
" Paman Joe !". Ucap keduanya bersamaan.
Tuan Joe langsung masuk setelah bibi membukakan pintu. Cyka dan Fakhri terlihat sangat terkejut.
" Apa yang kau lakukan ?". Bentak tuan Joe pada Fakhri.
" Sini non Richa nya Tuan". pinta si bibi.
" Paman, ada apa ? kenapa paman terlihat sangat marah ?". Tanya Cyka bingung melihat reaksi tuan Joe yang sangat berbeda dari biasanya.
__ADS_1
" Apa kau baik-baik saja nak ?". tanya tuan Joe seraya membolak balik tubuh Cyka.
" Apa Papa sudah gila, apa maksudnya sikap papa ini ?". Ucap Fakhri dengan nada suara sedikit meninggi.
" Apa kau pikir kau pantas bicara seperti itu pada papa ?".
" Paman, tenanglah, jika ada masalah kita bisa membicarakannya dengan kepala dingin". lerai Cyka.
" Bagai mana saya bisa tenang jika mendengar apa yang terjadi padamu kemarin".
Mata Cyka dan Fakhri terbelalak.
" Papa tau kau tidak menyuakai papa, tapi papa berharap kau bisa menjaga gadis malang ini, dia cuma punya kamu dan papa untuk melindunginya, apa itu pun tidak bisa kau lakukan huh ?".
" Paman, tolong jangan bicara seperti itu, pak Fakhri sudah menjagaku dan putriki dengan baik, jika tidak ada beliau kemarin aku tidak tau apa yang akan terjadi".
" Hmm, dan seharusnya dia bisa mencegah hal itu terjadi".
" Berhenti bicara omong kosong, jika papa begitu menghawatirkannya kenapa papa tidak menjaganya sendiri, tapi malah mengirimkannya padaku ?" Balas Fakhri yang tak mau kalah.
Ting tong.
" Saya yang akan bukakan pintunya". ucap Cyka yang langsung beranjak menuju pintu utama.
Cklek!.
" Ada apa mas..?".
" Tetap seperti ini sebentar saja ". Setelah beberapa menit Risky melepaskan pelukannya, " Kenapa tidak menjawab panggilanku ?".
" Hmm!". Cyka terlihat bingung, " Ah.. apa mas menelponku ? maaf sepertinya aku kehilangan HP ku kemarin ".
Risky mendesah, " Kau ini, membuatku khawatir saja ".
" Masuklah, bicaralah di dalam ". ucap Tuan Joe yang tiba-tiba sudah berdiri di belakang mereka.
" Ah.. mas, kenalin ini tuan Joenathan, papanya pak Fakhri". Jelas Cyka memperkenalkan laki-laki yang sudah menyelmatkannya itu.
" Risky Aditama".
" Joenathan.".
Setelah saling berkenalan mereka semua masuk ke dalam rumah, di ruang tamu terlihat Fakhri yang sedang duduk di sofa dengan wajah kesal.
" Selamat malam pak Fakhri". Sapa Risky sopan.
__ADS_1
" Malam, silahkan duduk ". Fakhri mempersilahkan.
" Jadi apa yang membawamu kesini malam ini pak Risky". tanya tuan Joe.
" Sebelumnya say minta maaf karena sudah menggangu kenyamanan semua orang di rumah ini".
" Jangan khawatir, tidak ada yang merasa terganggu sama sekali". ucap tuan Joe.
" Apa saya bisa bicara dengan istri saya sebentar ". ujar Risky meminta ijin.
" Tentu saja, kau bisa membawanya ke kamarmu nak". ucao tuan Joe mempersilahkan.
" Saya permisi paman". di jawab anggukan oleh tuan Joe dan Fakhri.
" Pa..pi.." Richa langsung berlari begitu melihat Risky masuk kedalam kamar.
" Aww,,," Risky langsung mengankat tubuh kecil putrinya itu dengan satu lengannya. " Anak papi apa kabarnya, kau baik-baik saja sayang ?".
" Hm,,". seraya menggangguk kegirangan.
Bibi terlihat mematung matanya tak luput dari wajah Risky, tatapannya seperti rasa kagum.
" Bibi, ada apa ?".
" Oh.. maaf nyonya, saya permisi dulu ".
Bibi langsung keluar dan menutup pintu kamar.
' Ya tuhan, ternyata suami nyonya Cyka setampan itu, pantas saja anak mereka bisa secantik itu, bibitnya sama-sama bening sih ' batin si bibi.
" Kenapa menatapku begitu ?". Tanya Cyka yang merasa salting di tatap tajam oleh Risky.
Risky mendekat lalu mendekatkan wajahnya pada wajah Cyka, saat Cyka menutup matanya Risky malah berbisik.
" Ingin rasanya aku memakanmu sayang". Kalimat mengelikaan itu membuat jantung Cyka seketika berdegub kencang.
" Jadi mas mau bicara apa ?". Alih Cyka.
" Kembalilah bersmaku sayang ?". Cyka tertegun, " Kita mulai lagi dari awal bersama putri kita, apa kau bersedia memberiku kesempatan sekali lagi Cyka !!".
Melihat sorot mata Risky yang begitu sendu seakan meluluhkan hati Cyka yang selama ini sudah hampir mengeras.
Dengan senyuman tipis, Cyka mengangguk pelan, mengiakan permohonan Risky.
Seketika Risky langsung menarik Cyka ke dalam pelukannya, berkali-kali ia memcium keningnya.
__ADS_1
" Terima kasih sayang". Cyka membalas pelukan suaminya itu.
Tak ada kata perceraian di antara mereka jadi keduanya masih sah sebagai suami istri.