
Cyka menghela napas.
Pasalnya ajakan dari atasannya yang menyebutkan kalau dirinya harus ikut dengannya ke perayaan yang di adakan di RISKY HOTEL, kalimat itu terus saja terngiang-ngiang di otaknya.
Pagi ini pelayan memberikan satu set gaun pesta lengkap dengan sepatu dan aksesoris lainnya yang berasal dari Fakhri. Pikirannya kalut menatap kaun yang terletak di atas tempat tidurnya tersebut.
Apa aku harus memakainya ? aku bahkan tidak yakin ingin datang ke sana, bagai mana caraku menolaknya, Itu lah yg ada di pikirannya saat ini.
Dengan tarikan napas panjang, akhirnya ia memakainya.
Gaun yang di persiapkan Fakhri adalah gaun pesta one piece tanpa lengan panjang selutut berwarna biru muda dan sepatu berhak tinggi selaras dengan gaun yang ia pakai, biru laut adalah warna kesukaan Cyka dan yang paling cocok di satukan dengan kulit putih mulusnya.
Cyka hanya merias wajahnya tipis kemudian menggerai rambut panjangnya.
Ia membuka laci meja riasnya, dia mengambil kotak cincin lalu membukanya. Setelah berpisah dengan Risky ia masih tetap menyimpan cincin yang di pasangkan di jari manisnya oleh Risky di hari pernikahannya.
Ia ingin membuang segala yg berhubingan dengan dirinya, berharap bisa menghapus ingatannya tentang sang suami, namun kurasa usahanya tak membuahkan hasil, jangan kan menghapus bayangannya dari hatinya sebatas cincin tersebutpun tak mampu ia singkirkan.
Tok tok.
" Kau sudah siap ?". Suara Fakhri di balik pintu.
Mendengar suara Fakhri serentak Cyka meletakkan kembali kotak cincin tersebut ke dalam laci.
" Sudah pak".
Krek.
Pintu ia buka.
Mata Fakhri seakan tersihir melihat Cyka yg begitu cantik mengenakan gaun yang telah dia berikan.
' Sempurna'. dalam bahasa inggris.
" Ada apa pak ? apa terlihat aneh ?".
__ADS_1
Fakhri seperti salah tingkah.
" Tidak, kau terlihat sangat cantik". ucap Fakhri jujur.
Cyka hanya tersenyum tipis mendengar pujiannya.
Di dalam mobil, Cyka terlihat sangat gugup, ia mengepalkan tangannya. Tanpa dia sadari, kondisinya itu tak luput dari perhatian Fakhri.
" Ada apa ? kenapa kau terlihat gugup begitu ?".
Suara Fakhri membuyarkan lamunan Cyka.
" Tidak, saya baik-baik saja pak". Cyka menjawab lemah, dengan senyuman palsu, terlihat jelas saat ini ia merasa sangat takut.
********
Di depan Hotel langkahnya seakan terasa begitu berat, ia enggan untuk masuk kedalam.
" Cyka...! ada apa denganmu ? apa kau tidak ingin ikut bersamaku kedalam ?"
Fakhri mulai merasa tak nyaman dengan tingkah tak jelas sekertarisnya tersebut.
" Kau gugup, apa ini pertama kalinya kau menghadiri perayaan?".
" Tidak, bukan begitu".
" Tenanglah ada aku, jadi kamu tidak perlu khawatir. "
Cyka mengangguk pelan.
Terdengar suara riuh rendah di dalam aula Hotel. Semua karyawan dan keluarga Risky beserta tamu undangan yang di undang untuk menghadiri peringatan hari ulang tahun Hotel.
Semua mata tertuju menatap ke arah pintu Aula saat Cyka melangkah berdampingan dengan Falhri.
" Lihat itu nyonya Cyka kan ?".
__ADS_1
" Wuah itu istri pak Risky".
" Apa yg terjadi, bukankah dia istri CEO kita ?".
" Kenapa dia bersama pria lain"
" Yg ku dengar dia menghilangkan 4 tahun yg lalu".
" Apa karena dia silingkuh dengannya, dasar tidak tau malu, beraninya dia hadir disini."
Suara bisik-bisik sangat jelas terdengar oleh telinga Cyka yang otomatis di dengar juga oleh laki-laki yang ada di sampingnya saat ini.
Cyka menggigit bibir bawahnya, inilah yang ia takut kan sejak tadi. Tiba-tiba Fakhri menarik lengan Cyka, sontak ia terkejut dan menatapnya.
" Jika kau meyakini tuduhan itu tidak bener, maka berhentilah merasa takut dan tegapkan tubuhmu dan percaya dirilah". Bisik Fakhri tanpa menoleh ke arahnya.
Dari kejauhan Cyka melihat Risky bersama keluarganya sedang berada di tengah-tengah aula, Risky menatap tajam padanya, di setiap langkahnya terasa bagai menginjak sebuah ranjau.
Hatinya begitu sakit dan teriris karena di sampingnya saat ini sedang duduk seoarang wanita yg sangat di kenalnya sejak 4 tahun yang lalu, wajah yang tak dapat ia lupakan.
Fakhri membawanya mendekati sang tokoh utama dari perayaan tersebut.
" Kau....!"
Suara nyonya Kalista, menatap tajam Cyka dengan menaikkan alisnya.
" Selamat suang Tuan dan nyonya Aditama, terimakasih atas undangannya".
Dengan sopan Fakhri menyapa mereka dengan menjabat tangan semua orang yang ada di meja tersebut.
Cyka hanya bisa mematung tanpa berkata apa-apa.
Menyadari tatapan semua orang begitu tajam pada Cyka, Fakhri yakin hal itu sangat membuat Cyka tidak nyaman berlama-lama berada di dekat mereka.
" Saya tidak tau apa kalian saling mengenal atau tidak, tapi akan saya perkenalkan dia adalah sekertaris saya, Cyka Flesia".
__ADS_1
" Benarkah ? tentu saja kita tau siapa dia, karena kita sangat mengenalnya."
Suara Raina terdengar seperti sedang merendahkan Cyka dengan senyuman sinisnya.