
Saat dokter keluar perasaan yang di miliki sangat campur aduk, ada rasa lega dan juga khawatir.
Lega karena operasinya sudah berakhir, khawatir dengan hasil yang akan di sampaikan oleh dokter.
" Namun.. ada kabar buruk lainnya".
JDARR!
Seperti sambaran petir, Kalimat yang di ucapkan dokter tersebut membuat semua orang kembali panik.
Semua orang masih menunggu dokter melanjutkan laporannya.
" Saat di tengah pelaksanaan pengangkatan sumsum-sumsum tulang belakang Ayahnya terjadi ensiden kecil yang mengakibatkan pandonor mengalami shock dan saat ini keadaannya tidak terlalu baik, kita tidak bisa mengatakan kapan pasien akan sadar". Mendengar itu tangan Zion yang sudah tak menopang Cyka membuatnya benar-benar teduduk ke lantai.
" Jadi maksud dokter, dia mengalami koma ?". tanya Zion di jawab anggukan dengan dokter tersebut.
" Maafkan saya atas kabar buruk ini". dokter berlalu pergi meninggalkan semua orang.
Fakhri mendekati Cyka dan mencoba mengangkatnya agar dapan ia bawa duduk di kursi.
" Bangunlah".
" Ya...." Suara wanita berteriak dari kejauhan, dua wanita itu berjalan sangat cepat mendekti Cyka dan kedua laki-laki lainnya.
" Riana.. kamu.."
Saat ia sudah berdiri di hadapan Cyka ia hampir melayangkan tamparan padanya dan di cegah oleh Zion.
" Apa yang kau lakukan?". Bentaknya pada ang sumami kesal karena berani menghalanginya.
" Seharusnya aku yang bertanya, apa yang kau lakukan ?".
" Lepaskan aku, aku akan memberi pelajaran pada wanita murahan ini". Riana mencoba melepaskan pegangan suaminya namun tak berhasil, Zion malah menariknya menjauh dari Cyka.
" Apa kau ingin mati, lepaskan aku".
" Hmm, sebelum aku mati, kau tidak akan bisa melakukan apa pun padanya".
" Kau.."
Zion sudah menyeretnya keluar tanpa perduli apa yang di lakukan istrinya itu padanya.
__ADS_1
" Dasar wanita tidak tau diri.." Mia mulai menggantikan posisi Riana untuk menghina Cyka.
" Ya.. jaga bicaramu". ucap Fakhri sedikit geram.
" Bukankah itu julukan yang pantas untukmu ?". Celetuk Cyka.
" Kau.." Saat Mia hampir menapar Cyka Fankhri mengahalaunya, usaha dua orang itu terus saja tak membuahkan hasil.
Dengan kasar Fakhri menepis tangan Mia, yang hampir membuatnya terjatuh.
" Bukankah kau sudah meninggalkannya, lalu untuk apa lagi kau kembali padanya, sekarang kau bahkan memintanya untuk menyelamatkan putrimu".
" Aku rasa itu bukan urusanmu". balas Cyka.
" Bukan urusanku katamu, aku mencintainya tentu saja itu urusanku".
" Benarkah ? lalu apa dia juga mencintaimu, atau apa dia adalah suamimu ?".
" Akan ku pastikan dia menjadi milikku".
Cyka tertawa mengejek.
" Kau.. tidak mengerti sama sekali, jika kau bisa memilikinya itu pasti sudah terjadi sejak lama, di saat aku meninggalkannya bukankah waktu yang cukup bagimu untuk mendapatkannya ?".
" Sudah cukup, nona.. ini adalah rumah sakit jadi jangan keributan disini". Fakhri menengahi.
" Kau akan menyesal telah kembali lagi kesini "
" Jangan mengancamku, aku bukanlah orang yang sama dengan wanita lemah seperti dulu, wanita yang bisa kau tindas dengan mudah, Saat ini aku memiliki harta berharga yang harus aku lindungi dan kau tidak akan ku biarkan begitu saja mengusik kehidupanku lagi, Suamiku mau anakku aku akan melindungi mereka dengan cara apa pun".
" Wuah.. ternyata kau bernar-benar tidak tau diri ya, setelah meningalkannya dan menggandeng pria lain dan punya anak dengannya kau masih berani menyebut Risky suamimu".
" Jaga ucapanmu, dan pergilah dari hadapanku sebelum aku berbuat kasar padamu". Acam Cyka dengan tatapan penuh amarah.
" Kau sudah dengar itu, pergi dari sini sekarang, sebelum aku yang menyeretmu keluar". Fakhri menimpali.
Dengan kesal Mia akhirnya beranjak pergi meninggalkan rumah sakit.
Karena kesal Cyka sampai lupa rasa khawatirnya pada putri dan suaminya.
********
__ADS_1
Setelah menemui putrinya, Cyka masuk ke dalam ruangan Risky. Dari depan pintu ia melihat Risky yang berbaring tak berdaya. Dia duduk di sampingnya dengan ragu-ragu Cyka menggenggan tangan suaminya itu.
" Bukan kah kau bilang kau akan baik-baik saja". Air matanya mulai mengalir, " Aku sudah memintamu untuk tetap hidup kan ? jika kau berani pergi seperti ini aku akan membunuhmu, dan tidak akan pernah memaafkanmu sampai kapan pun, kau bilang kau akan menerima kebencianku dan humumanmu, jadi kau harus bangun, aku mohon.. Mas".
Fakhri yang melihat dari balik kaca pintu tersenyum tipis.
" Sayang..". Cyka terkejud melihat Risky memanggilnya dan mulai membuka matanya perlahan, ia masih tertegun, " Aku pasti.. akan menepati janjiku.. jadi berhentilah menangis". Mendengar ucapannya terlihat senyuman di iringi linangan air mata di wajah Cyka.
" Ahh.." Risky mengerang saat hendak mengangkat tangannya ingin menyentuh wajah Cyka. Membuat Cyka panik.
" Ada apa, apa mas baik-baik saja ? tunggu sebentar aku akan memanggilkan dokter ". Saat Cyka ingin beranjak Risky menghentikannya dengan menarik tangannya.
" Syukurlah".
" Hmm.." Cyka bingung.
" Aku senang kau hkawatir padaku ". Melihat senyuman di wajahnya Cyka merasa sedang di permainkan olehnya.
" Aw.. kenapa kau memukulku sayang".
" Aku membencimu".
" Aku tau, tapi saat ini aku sedang sakit, tidak bisakah aku mendapatkan sedikit obat darimu".
" Aku akan memanggilkan dokter".
" Aku tidak butuh dokter Cyka, aku hanya butuh pelukanmu sayang".
Sontak Cyka bangkit mendengar permintaan suaminya itu.
" Jangan menggodaku, aku tidak akan melakukannya".
" Kau bahkan tidak bisa berbaik hati sedikit saja pada seorang pasien sayang". Wajah Cyka sudah memerah ia sedikit ragu apa dia harus melakukannya.
" Aw.. ah.." Risky berpura-pura kesakitan, dan akhirnya Cyka pun terpaksa memeluknya.
Dengan senyum kemenangan Risky memeluk erat Cyka.
" Sejak kapan kau sadar ?". Risky terkejut dengan pertanyaan Cyka, " Dari tenagamu memelukku sepertinya kau sudah sadah sadar dari sebelumnya kan?".
Risky cengengesan. " Ahh.. sakit sayang, aku ini benar-benar seorang pasien jadi berhenti memukulku".
__ADS_1
Cyka sadar sudah di permainkan oleh suaminya itu, tapi dia bersyukur Risky baik-baik saja dan juga putrinya.