
❄❄❄❄ Kunci kedamaian hidup sebenarnya sederhana ialah dengan menjalaninya, menikmatinya dan mensyukuri setiap prihal yang ada. ❄❄❄❄
🎈🎈🎈🎈🎈
Saat masuk kedalam kamar mandi, tercium aroma yang sangat kuat, dia merasa sangat tidak asing dengan aroma itu. Karena sangat khawatir dengan kondisi Risky, dia tidak terlalu memikirkannya, dia langsung mengambil handuk yang tertata rapi di dalam almari kaca yang ada di sana.
Cyka langsung keluar dan mendekati Risky, Cyka duduk di sudut tempat tidur di dekat Risky, dia mulai mengelap keringat yang ada di wajah Risky lalu ke bagian leher nya.
Cyka berpikir apa yang harus di lakukannya dengan tubuh Risky yang terlihat baju kemeja putuh yang di pakai nya sudah sangat basah karena keringat.
" Aku buka gak ya? Entar kalo dia mikir yang tidak tidak gimana?" gumam Cyka, menarik kembali tangannya yang hampir menyentuh kancing kemeja Risky. " Minta tolong sekertarisnya aja, dia kan cowok, masak iya pak CEO bakal mikir yang tidak tidak pada sekertarisnya?"
Cyka turun ke kabawah dengan sedikit berlari, tapi dia tidak bisa menemukan Zion, dan dia melihat seorang pelayan yang sebelumnya membukakan pintu.
" Maaf bu." Cyka memanggil pelayan itu dengan sopan.
" Iya Non! Ada yang bisa bibi bantu?" jawab sang pelayan dengan sopan juga.
" Apa ibu melihat pak Zion?" Tanya Cyka.
" Maaf non, den Zion nya udah balik ke kantor lagi, dan sebelum den Zion pergi dia pesen, non harus ngerawat den Risky sampe dia balik lagi nanti."
" Apa? Kalau gitu, apa ibu bisa bantu saya!"
__ADS_1
" Bantu apa, Non?"
" Itu, pak CEO, sedang demam, dia mengeluarkan banyak sekali keringat. Dan aku minta tolong ibu untuk mengganti bajunya dengan yang baru. Bisa kan buk?"
Tadi den Zion pesan saya gak boleh bantu apa pun, dia mau nona cantik ini yang merawat den Risky, walau aku gak terlalu paham maksudnya, mungkin den Zion mau deketin nona ini dengan aden.
" Maaf non, bibi lagi banyak kerjaan di belakang, jadi tolong ya non, tolong jagain den Risky dan lakukan apa yang harus di lakukan bibi mohon non." Pelayan itu pun langsung meninggalkan Cyka begitu saja.
Apa apaan ini, kok dia kelihatan gak khawatir gitu sih ma majikannya. Malah minta aku yang rawat, ini gimana ceritanya sih. Bodo ah, aku pergi aja, perduli apa aku pasanya. Pelayan ma sekertarisnya aja gak perduli gitu.
Saat Cyka hampir melangakah keluar, tiba tiba hati nuraninya menolak untuk pergi begitu saja dan pura pura tidak perduli.
" Aissss, aku bisa gila." Richa mengacak rambutnya dan kembali melangkah ke dalam, ia kembali kekamar Risky.
" Apa apan sih, kalau dia sakit bukannya seharus nya ke rumar sakit aja biar bisa dirawat. Kok malah di biarin gini." Gumamnya. " Badannya sepanas ini, apa tidak pa pa tetap dibiarin kek gini?" gerutu nya yang tak henti henti merasa heran dengan tingkah semua orang yang membiarkan Risky begitu saja.
" Aku gak punya pilihan lain. Aku cuma berharap dia gak sadar saat aku mengganti kemejanya." Ucap Cyka.
Dia menguat kan hati nya untuk membuka baju Risky biar dia bisa menyeka keringat di badan atasannya itu. Cyka membuka kancing baju Risky satu persatu ragu ragu denga memalingkan wajah nya.
" Maaf pak, karna pak sekertaris memintaku untuk merawat bapak jadi mau tidak mau aku harus melakukan ini, karna aku tidak mau disalahkan nanti kalau sampe bapak meninggal." Kata Cyka menjelaskan pajang lebar sambil terus membuka kancing itu, dan akhirnya semua sudah terbuka.
Cyka mengambil handuk kecil yqng ada di dalam baskom yang berisi air es, ia memeras air nya terlebih dahulu sebelum dia akhir nya membersihkan tubuh Risky.
__ADS_1
Cyka hanya berani melirik sesekali, agar tidak salah meletakkan handuk nya, Cyka tidak berani melepaskan baju Risky yang seharus nya di ganti karena bajunya sudah sangat basah. Dia tidak besa melakukan itu, cepat cepat Cyka menutup kan tubuh Risky lagi tanpa memasangkan kancing nya kembali, Cyka mulau mengelap kedua tangan risky dan mengganti handuk yang di kening Risky. Selesai membersihkan tubuh Risky, Cyka merasa ingin ke kamar mandi, dia pun masuk ke kamar mandi yang ada di dalam kamar itu, dan saat merasakan aroma di dalam sana membuat nya merasa benar benar sangat tidak asing dengan aroma tersebut.
" Kenapa perasanku selalu terusik setiap kali aku masuk kesini. Iya kali aku jatuh cinta ma toilet, jatuh cinta ma pemilik rumah masih mending walau itu mustahil." Ucap Cyka seorang diri bicara di depan cermin.
" Ini udah kesekian kalinya aku merasa kayak gini, bahkan sejak pertama kali aku ketemu sama pak CEO. Apa cuma perasaanku aja kali ya." Cyka yang terus bertanya tanya.
Cyka mencuci tangan nya dan langsung keluar dan dia melihat Risky yang sedang tertidur, Risky sudah tidak merintih lagi. Cyka duduk di samping Risky sambil berkata.
" Akhirnya dia tenang juga. Kenapa aku merasa kayak pernah ketemu sama bapak. Tapi itu tidak mungkin kan?" Cyka menyentuh kening Risky untuk memeriksa apa panas nya sudah turun, apa belum.
" Syukurlah demam nya udah thrun." Karena merasa sangat lelah cyka membaringkan tubuh nya di atas sopa yg ada di dalam kamar itu.
.
.
.
.
.
Mohon jangan lupa like dan komennya ya kakak kakak semua. -- Terimakasih, salam kasih dari Author Frisca. Semoga sehat selalu......😘😘😘😘
__ADS_1