
Dengan tatapan penuh curiga tersebut membuat Fakhri menjadi terpojok.
' Seharusnya aku diam saja. '
"Bagaimana pun intinya aku tidak melihatnya dengan jelas dan tidak bermaksud begitu. " jelas Fakhri.
' Siapa suruh kau membahasnya, padahal aku berusaha keras untuk bersikap biasa saja. '
********
Cyka bersandar di bantalan tempat tidur, walau malam sudah sangat larut namun ia tak juga merasa mengantuk.
4 tahun sudah berlalu namun bayangan tentang dirinya masih terukir rapi di ingatannya.
' Aku membencimu, Risky Aditama. '
Jika waktu bisa di putar kembali, ia akan memilih untuk tidak pernah bertemu dan mengenal laki-laki tersebut.
Cyka menatap lekat wajah putri tercintanya yang sedang tertidur lalap.
' Demi dirimu Sayang, akan Mami lakukan apa pun, bahkan jika harus memberikan nyawa Mami untuk mu, Sayang. '
Darah Risky, itulah yg sangat di butuhkannya saat ini. Entah dengan cara apa agar dia bisa mendapatkannya tampa membuat Risky dan putrinya bertemu.
*******
Ke esokan harinya.
" Dengar Sayang, mulai hari ini Richa akan di temani dengan suster sampai Mami pulang kerja, jadi Richa harus makan dan minum obatnya dengan teratur ya nak, juga harus nurut sama susternya, oke Sayang. " Pesan Cyka pada sang putri seraya mengecup keningnya.
Setelah menyerahkan tanggung jawab pada suster yang akan merawat putrinya Cyka beranjak keluar.
Di meja makan sudah terlihat Fakhri sedang memainkan telepon genggamnya sambil meneguk kopi yang ada di hadapannya.
" Ehem..."
__ADS_1
Entah ia benar-benar sedang fokus atau pura-pura tidak mendengar suara Cyka, Fakhri tidak bergeming sama sekali.
Cyka langsung duduk dan mengabil selembar roti yang tersedia di atas meja, sesekali ia melirik ke arah Fakhri.
' Dia ini persis batu, emang gue semut yang nggak terlihat apa ?' gumam Cyka menggelengkan kepalanya pelan.
" Jika kau sudah siap cepat keluar, aku tunggu kamu di mobil " ucap Fakhri tanpa melirik Cyka sama sekali, di saat Cyka baru saja menggit rotinya.
' Ni orang labil banget cih kayak anak ABG, selalu aja berubah-ubah sikapnya, kayak siang sama malam, kayak langit sama bumi, kayak.... ah tau ah terserah lo aja. '
Cyka meletakkan rotinya kembali di atas piring, bergegas mengikutinya keluar.
Di dalam mobil.
Tak ada suara apa pun begitu sunyi, karena semua orang terdiam seperti patung, hanya suara mesin mobil yang terdengar samar-samar.
Fakhri yang tetap fokus dengan layar hp nya dan pak supir dengan kemudinya, lalu Cyka dengan pikiran kacaunya.
Derrrr derrrr
Ponsel Cyka bergetar.
" Apa kabar cantik ?" ucap tuan Joe dari seberang telepon.
" Baik paman, ada apa paman ?" tanya Cyka
" Apa semuanya baik-baik saja ? apa Fakhri menyulitkanmu ?" Tanya tuan Joe.
Cyka menoleh menatap Fakhri sejenak, saat orang yg di tatap menyadari perbuatan Cyka balik membalas tatapan itu dengan sorot mata yang tajam.
" Ah, tentu saja tidak paman, dia anak yg baik dan perhatian seperti yang paman katakan. " ucap Cyka sembari membalikan badannya mengarah ke kaca mobil membelakangi Fakhri.
Setelah percakapan panjang Cyka mengakhiri panggilan tersebut dengan ucapan terimakasih.
" Apa anak-anak itu adalah aku ?" Tanya Fakhri yg merasa dirinya lah yang sedang di bicarakan Cyka dengan si penelpon, yang Fakhri duga adalah Papanya.
__ADS_1
" Ah, aku tidak menyangka kau mengakui kalau dirimu itu masih anak-anak. " ucap Cyka dengan senyum mengejek.
"Huh, kau berani mengejekku. ?" celetuk Fakhri.
" Kau, kenapa kau selalu bicara santai denganku ?" tanya Cyka, yang sudah sejak lama merasa terganggu dengan cara bicara Fakhri padanya.
" Bukankah kau yang memulainya ?"
" Apa, kapan aku melakukannya ?"
" Saat ini, baru saja kau melakukannya. " ucap Fakhri dengan manaikan alisnya seolah mengejek Cyka.
" Itu karena aku lebih tua darimu. " jawab Cyka menggunakan usia, " Aku bahkan sudah punya seorang putri jadi seharusnya kau bicara sopan padaku, seperti memanggilku Mbak atau kakak. " Lanjut Cyka yang merasa bangga dirinya sudah memiliki seorang anak.
Fakhri tertawa ringan, " Memangnya semua orang yang sudah menjadi ibu itu adalah orang tua. "
" Setidaknya katakan padaku berapa usiamu ?" tanya Cyka.
" Aku yakin 1 tahun lebih tua darimu." ucap Fakhri.
" 1 tahun, berarti 28 ? jangan berbohong padaku, paman bilang kau lebih muda dariku."
' Jadi usiamu 27, sangat mudah menjebakmu nona muda. '
*******
Tiba di perusahaan Fakhri Medwin, perusahaan di bidang perhotelan ternama no 2 dari perusahaan Risky Anggara.
Kedua perusahaan tersebut selalu menjadi rifal abadi sejak lama, namun persaingan kedua perusahaan selalu secara sehat tanpa saling menjatuhkan satu sama lain.
Bruk!
" Ini agenda yg harus kamu pelajari dan mulai sekarang akan menjadi tugasmu sebagai sekertaris pribadiku. " ucap Fakhri seraya meletakkan sebuah buku agenda di atas meja yang sepertinya milik sekertaris sebelumnya.
Deg.
__ADS_1
Mata Cyka terbelalak, ia terkejut saat mendapati sebuah catatan yang tertuliskan, 1 jam lagi ada meeting bersama pak Risky Aditama, Di hotel Risky Hotel.
' Apa ini akan menjadi hari pertemuan kita kembali, Risky Aditama ?'