
Sejak pagi Cyka terus saja mengikuti Meeting bersama atasannya. Selesai memberikan laporan pada Fakhri ia bertanya pada atasannya itu ingin makan siang apa.
" Em... bagai mana kalau kita makan di luar saja ".
" Huh !". Fakhri tertawa melihat espresi bingung Cyka.
" Aku ingin makan di luar denganmu, apa tidak masalah ?".
" Oh, baiklah pak".
Keduanya keluar dari ruangan bersama, banyak kariawan yang memperhatikan dan mulai berbisik-bisik.
" Lihat, bukankah pak CEO sangat dekat dengan sekertaris barunya itu ?".
" Kau benar, dia bekerja di sini karena pak CEO yang merektutnya, apa mereka punya hubungan khusus ". Bisik-bisik beberapa kariawan yang melihat keduanya berjalan di lobi.
" Jangan merasa takut jika kau tidak berasa melakukan kesalahan ". Ucap Fakhri yang menyadari Cyka mulai menajuhi langkahnya.
Cyka tersenyum, " Bapak benar, kenapa aku selalu saja tidak terbiasa dengan hal ini ".
******
Keduanya tiba di restoran terdekat, supir membukakan pintu mobil untuk keduanya. Sebelum Cyka masuk Fakhri membukakan pintu untuknya.
Tanpa mereka sadari dua pasang mata terus menatap keduanya sembari masuk tadi.
" Fakhri...". batin dari si pemilik mata itu.
Setelah makanan di hidangkan keduanya pun menyantap makan siangnya itu dengan perlahan.
" Apa kalian baik-baik aja ?". Tanya Fakhri tiba-tiba saat keduanya sedang menyerubut minuman mereka.
" Hmm, aku dan Richa baik-baik aja pak". Jawab Cyka dengan senyum ringan.
" Kita ada di luar kantor, jadi kau bisa bicara santai dengan ku ". Cyka hanya mengangguk menjawabnya.
" Apa kau dan paman baik-baik aja ?". tanya Cyka balik.
" Hmm, kau tau hubungan kami kan ?".
" Sepertinya begitu, kau dan paman sangat lah mirip ".
__ADS_1
" Apa ? kau bercanda Cyka ".
" Tidak, aku serius mengatakannya", Fakhri menggeleng-geleng, " Paman selalu membicarakanmu saat aku bersamanya dulu". lanjut Cyka.
" Apa yang di katakannya ? kalau aku anak yang baik, dan juga sopan ".
" Hmm ".
" Kau percaya itu ?".
" Awalnya aku ragu, karena sipat kasar dan tidak sopanmu saat pertama kali kita bertemu ".
" Itu karena..".
" Hmm, aku tau, karena kau salah paham berpikir kalau paman sudah menikah lagi",
" Hmm, tapi pak tau itu ternyata...".
" Dia masih tetap setia pada ibumu kan ? Paman mengatakan padaku, saat dia membawaku kerumah sakit tubuhnya bergetar, dia membayangkan yang ada di hadapannya saat itu adalah ibumu, dia takut hal serupa akan terjadi lagi, paman takut tidak bisa menyelamatkanku seperti yang terjadi pada ibumu". jelas Cyka.
" Aku tau itu, aku tau papa sangat terluka saat kehilangan mama tapi... aku melimpahkan kemarahanku padanya, karena rasa kecewaku..".
" Paman memahami itu, dia tidak membencimu sama sekali, paman tau sebesar apa rasa sayangmu pada ibumu".
" Jika terasa jauh, kita hanya perlu mendekat lagi kan, kalau sulit melakukannya sekali gus, kita bisa melakukannya secara perlahan ".
" Seperti hubunganmu dengannya !!".
" Hmm, bapak benar". keduanya malah tertawa bersama.
Disisi lain sebuah sorot mata menatap keduanya dengan rasa tidak suka.
Drrrr drrrrr.
Fakhri menatap layar HP nya, dia terlihat bingung dan enggan menerima panggilan itu.
" Ada apa ? kenapa bapak tidak mrnajawabnya ?". tanya Cyka bingung.
" Aku tidak mengenal nomornya".
" Hmm... tapi bukankah papak harus menjawabnya, kita tau kan mungkin ada hal penting ". Fakhri melirik jam yang melingkar di lengannya.
__ADS_1
" Aku rasa kita masih punya waktu ", Cyka mengangguk.
" Halo... Selamat siang ".
" Halo pak bos, apa kabar ?". jawab si penelpon. Fakhri mengerutkan keningnya coba mengenali suara laki-laki itu.
" Juan !! Lo !". Ucap Fakhri setelah mengingat orang tersebut. Sebutannya terdengar akrap, Cyka berpikir sepertinya temannya.
" Akhirnya lo inget juga sama gue ".
" Gue nggak niat inget sama lo, tapi lo sendiri yang nelpon gue minta di inget". Celetuk Fakhri cukup kasar.
" Sialan lo bro, setelah jadi bos besar lo jadi ngelunjak banget cih Fak". balas si penelpon tak sopan juga.
" Jadi, buat apa lo nelpon gue !".
" Hia.. ampun deh gue sama lo, sikap es batu lo itu nggak pernah berubah ya ! emang apa salahnya temen ngububgin temennya ".
" Dan sejak kapan gue jadi temen lo ". Cyka tertawa, dia yakin orang yang menelponnya itu sedang kesal sekarang dan menyesal sudah menghubungi Fakhri.
" Haah, Bro.... lo udah kelewatan, puluhan tahun gue kenal lo dan...".
" Udah ngomong aja intinya, kenapa lo nelpon ?".
" Ok, gue denger lo udah punya pacar, apa itu bener ?".
" Apa ?", Fakhri menatap Cyka, Cyka menaikkan alisnya seperti sedang bertanya, Fakhri hanya menggeleng dan tersenyum.
" Bener lo udah punya pacar sekarang ".
" Lo itu kayak cewek, kepo lo...".
" Hai... gue bukan kepo, cuma pengen tau aja ".
" Sama aja dodol ". Cyka terkejut, ini pertama kalinya Fakhri bicara sesantai itu dengan seseorang.
' Kayaknya bener-bener sahabatnya ' Batin Cyka.
" Jawab aja kenapa sih, dasar pelit ". celetuk cowok yang bernama Juan tersebut.
" Dasar mak-mak, udah deh gue sibuk sekarang ".
__ADS_1
" Kalau lo nggak jawab gue anggap bener nih ". ancamnya.
" Hmm, lo bener ". Cyka bingung sebenarnya apa yang sedang di bahas oleh bosnya itu, dan kenapa saat ucapan terakhirnya pada si penelpon Fakhri menatapnya dengan tatapan yang tidak dapat ia pahami.